BerandaTafsir TematikTafsir Surah Alqari’ah: Visualisasi Kiamat Perspektif Ibnu Asyur

Tafsir Surah Alqari’ah: Visualisasi Kiamat Perspektif Ibnu Asyur

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang fokus pembahasannya pada Ibnu Asyur dan Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Tulisan ini membahas tafsir surah Alqari’ah dari kitab tafsir yang dinilai mengandung maqashid di dalamnya.

Ayat Alquran

اَلْقَارِعَةُۙ مَا الْقَارِعَةُ ۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗۙ فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ

Al-Qāri‘ah (hari Kiamat yang menggetarkan). Apakah al-Qāri‘ah itu?. Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu?. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya. Dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan. Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya. Tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah. Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu?. (Ia adalah) api yang sangat panas.

Ibnu Asyur  memulai analisisnya dengan menampilkan kategorisasi Makkiyah dan Madaniyah. Karena setiap tafsir yang masuk dalam bentuk tahlily akan menampilkan banyak aspek yang terkandung dalam Alquran, termasuk juga pengenalan surah secara umum. Menurutnya, surah Alqari’ah merupakan surah Makkiyah. Selanjutnya, baru ia menganalisis satu persatu ayat dari surah tersebut. Dalam hal ini, penulis membagi pada dua bagian:

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 1-6: Hari Kiamat itu Pasti, Inilah Visualisasinya

Visualisasi Kiamat

Visualisasi kiamat dalam surah Alqari’ah ada pada ayat 1-5, karena ayat selanjutnya berbicara tentang eskatologi manusia setelah mengalami berbagai proses menuju pengadilan terakhir. Agar lebih sistematis, tulisan ini dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, tafsir ayat 1-3. Permulaan penafsiran yang dilakukan oleh Ibnu Asyur  memberikan analisis dari sisi kebahasaan dengan menampilkan makna dari permulaan kata yang diawali dengan lafal al-Qari’ah. Ia menjelaskan bahwa alasan paling sentral dalam susunan ayat tersebut karena lafal tersebut mengandung makna tahwil (gertakan). Lafal  tersebut di rafa’kan karena menjadi permulaan kata, sehingga lafal ma al-qari’ah menempati posisi rafa’, karena menjadi khabar dari lafal al-Qari’ah (Ibnu Asyur , al-Tahrir wa al-Tanwir, 30:509).

Sedangkan makna al-Qari’ah yang pertama mempunyai makna gertakan dan bentuk majas dari suara yang timbul karena pukulan yang keras. Makna al-Qari’ah yang kedua ialah tambahan gertakan yang dilakukan Allah Swt kepada hamba-Nya. Artinya, dengan adanya pengulangan kata yang sama, maka sesuatu tersebut semakin benar-benar akan terjadi. Penamaan al-Qari’ah sendiri ialah nama lain dari yaum al-hasr (Hari kebangkitan), seperti kiamat.

Kedua, tafsir ayat 4 dan 5. Kelanjutan ayat di atas, Ibnu Asyur  menjelaskan bahwa jumlah (kalimat) yauma yakunu al-nas… menjadi masdar dari dua ayat sebelumnya. Oleh karena itu, maksud dari waktu yang tertulis dalam ayat tersebut adalah bentuk gertakan Allah Swt kepada hamba-Nya. Waktu yang tertulis dalam ayat tersebut juga merupakan waktu yang tidak diketahui kapan akan terjadi.

Sehingga, ayat tersebut mempunyai makna gertakan yang serius dengan beberapa alasan, yaitu; 1) karena dimulai dari penyebutan al-Qari’ah 2) Penggunaan istifham dalam kalimat tahwil 3) Menampakkan dhamir di tempat dhamir yang disimpan, dan 4) Adanya khitab pada sesuatu yang tidak tertentu waktunya (Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 30:512).

Baca Juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat

Makna kata al-farash adalah perumpamaan seperti keluarnya belalang dari telur dalam keadaan tumpang tindih. Sedangkan makna kata al-mabtsuts ialah bertebaran di bumi. Makna al-‘ihn ialah bulu yang mempunyai banyak warna. Karena gunung mempunyai banyak batu dan tumbuhan yang bermacam-macam warnanya. Makna al-manfush sendiri ialah terpisahnya bagian satu dengan bagian yang lainnya.

Menurut Wahbah al-Zuhaili, ayat yauma yakunu al-nas… ialah hari manusia dibangkitkan dari kubur dan berjalan tanpa tahu arah. Perumpamaan tersebut sama seperti serangga yang terbang dan bertebaran. Perumpamaan terhadap lafal al-farash karena banyaknya manusia, bertebarannya, lemah, hina dan datang kepada penyeru dari berbagai arah, seperti hewan-hewan yang terbang ke arah cahaya. Dua ayat tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu sama-sama memberikan peringatan kepada manusia (Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, 30:377).

Eskatologi After Life

Dalam kepercayaan umat Islam, adanya kehidupan setelah kematian merupakan satu kewajiban yang wajib diyakini adanya, meskipun belum pernah dialami. Akan tetapi mempercayai hal sedemikian menjadi sebuah konstruksi yang tetap harus ada dalam keyakinan manusia. Dalam ayat ini juga menyinggung bagaimana perjalanan manusia setelah mengalami kematian. Proses ini dijelaskan dari ayat 6-11 dengan masing-masing ending yang berbeda.

Ayat 6-11 merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang masih mempunyai hubungan pembahasan. Dalam ayat ini menjadi penjelas lebih detail hal yang akan terjadi setelah adanya kiamat. Ketika Ibnu Asyur  menafsirkan ayat tersebut, ia menyebutkan maksud dari lafal al-nas di ayat sebelumnya, karena mencakup semua manusia yang akan masuk dalam surga dan neraka. Perincian ini terbagi menjadi dua bagian, keadaan baik dan keadaan mengerikan.

Beratnya timbangan amal manusia yang dilakukan selama di dunia yang tertulis dalam surah tersebut merupakan kinayah dari rida dan ketidakridaan Allah Swt kepada hamba-Nya. Karena setiap timbangan yang berat pasti akan memuat sesuatu yang disenangi Allah Swt. Begitu pun sebaliknya, timbangan yang cenderung ringan menandakan bahwa amal perbuatan baik manusia sedikit (Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, 30:513).

Baca Juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya

Alasan menggunakan lafal ummuhu karena pada masa itu, orang Arab memberikan kinayah pada seseorang dengan keadaan ibunya, baik dalam keadaan baik dan jelek. Ibu yang mempunya cinta yang luar biasa kepada anaknya menjadi alasan dibalik penggunaan lafal ummuhu. Karena ketika seorang anak bahagia, maka sang ibu juga pasti akan bahagia. Begitu pula sebaliknya. Sedangkan makna wama adrakama hiyah ialah bentuk gertakan Tuhan kepada hamba-Nya sama seperti ayat pertama.

Kesimpulan

Analisis tafsir yang ditampilkan oleh Ibnu Asyur berangkat dari sisi kebahasaan yang menganalisis bentuk kata dan kalimat dari gramatikal bahasa. Dari analisis kebahasaan tersebut esensi dari surah al-Qari’ah ialah tahwil atau gertakan.

Allahu A’lam.

- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...