Beranda Tafsir Tahlili Tafsir Surah Muhammad Ayat 4 (3)

Tafsir Surah Muhammad Ayat 4 (3)

Tafsir Surah Muhammad Ayat 4 (3) masih berbicara tentang adab dan ketentuan dalam berperang, khususnya terhadap tawanan. Berikut adalah contoh konkret yang dinarasikan melalui kisah akhlak Nabi Muhammad terhadap para tawanan perang.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Muhammad Ayat 4 (2)


Ayat 4 (3)

Terhadap tawanan perang, sikap Rasulullah saw baik sekali. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari diterangkan sikap beliau. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw mengirimkan pasukan berkuda ke Nejed, maka pasukan berkuda itu menawan seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal, ia diikat pada salah satu tiang masjid.

Maka Rasulullah saw datang kepadanya, lalu berkata, “Apa yang engkau punyai ya Tsumamah?” Tsumamah menjawab, “Aku mempunyai harta, jika engkau mau membunuhku, lakukanlah, dan jika engkau mau membebaskanku maka aku berterima kasih kepadamu, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah berapa engkau mau.”

Esok harinya Rasulullah saw pun berkata kepadanya, “Apakah yang engkau punya ya Tsumamah?” Ia menjawab, “Aku mempunyai apa yang telah kukatakan kepadamu.” Rasulullah saw berkata, “Lepaskanlah ikatan Tsumamah.”

Maka Tsumamah pergi ke dekat pohon kurma yang berada di dekat masjid, lalu mandi kemudian ia masuk ke masjid, lalu menyatakan, “Aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasul-Nya.”

“Demi Allah, dahulu tidak ada orang yang paling aku benci di dunia ini selain engkau, sekarang jadilah engkau orang yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agama engkau, maka jadilah sekarang agama engkau adalah agama yang paling aku cintai.”

“Demi Allah, dahulu negeri yang paling aku benci adalah negerimu, sekarang jadilah negerimu negeri yang paling aku cintai. Sesungguhnya pasukan berkuda telah menangkapku, sedang aku bermaksud umrah, apa pendapatmu?”

Maka Rasulullah memberi kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya melakukan umrah. Tatkala ia sampai di Mekah, seseorang mengatakan kepadanya, “Engkau merasa rindu?” Tsumamah menjawab, “Tidak, tetapi aku telah memeluk Islam bersama Muhammad saw.”

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa Rasulullah saw bersikap lemah-lembut kepada “umamah, seorang tawanan perang. Beliau memberi kebebasan kepadanya, sehingga ia tertarik kepada Rasulullah saw dan agama Islam, karena itu dia menyatakan dirinya memeluk Islam.”

Seandainya Rasulullah bersikap kasar kepadanya, tentulah Tsumamah tidak akan mengatakan pernyataan tersebut di dalam hadis itu. Ia akan menyimpan dendam kepada Rasulullah saw dan pada setiap kesempatan ia akan berusaha membalaskan dendamnya itu.

Agama Islam datang untuk menegakkan prinsip-prinsip yang harus ada dalam hidup dan kehidupan manusia, baik ia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial.

Di antara prinsip-prinsip itu ialah ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, dan musyawarah. Dengan menegakkan prinsip-prinsip itu manusia akan berhasil dalam tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi.

Atas dasar semuanya itulah segala persoalan diselesaikan, termasuk persoalan peperangan dan tawanan perang.

Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan balasan apa yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan mengatakan, “Bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah untuk membela agama Islam, sekali-kali Allah tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun, bahkan dia akan membalasnya dengan pahala yang berlipat-ganda. Mengenai pahala berjihad di jalan Allah disebutkan dalam suatu hadis sebagai berikut:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيَكْرِبَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ لِلشَّهِيْدِ تِسْعَ خِصَالٍ-أَوْ قَالَ عَشْرَ خِصَالٍ-يُغْفَرُ لَهُ فِيْ أَوَّلِ دُعْفَةٍ مِنْ دَمِهِ وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُحَلَّى حِلْيَةَ اْلإِيْمَانِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ وَيَأْمَنُ يَوْمَ الْفَزَعِ اْلأَكْبَرِ وَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوْتَةُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَتِسْعِيْنَ زَوْجَةً مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ وَيُشَفَّعُ فِيْ سَبْعِيْنَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ. (رواه الطبراني)

Diriwayatkan al-Miqdam bin Ma’diyakrib, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid itu memperoleh sembilan hal–atau sepuluh–yaitu akan diampuni pada saat darahnya pertama kali mengalir, melihat tempat tinggalnya di surga, dihiasi dengan perhiasan iman, dihindarkan dari azab kubur, dinikahkan dengan bidadari, memperoleh keamanan pada saat hari ketakutan yang besar (hari Kiamat), di atas kepalanya diletakkan mahkota kemuliaan dari bahan permata yang lebih baik daripada dunia dan isinya, dinikahkan dengan 92 istri dari golongan bidadari, dan diberi hak syafaat bagi 70 orang kerabatnya.” (Riwayat at-Thabrani)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Muhammad Ayat 5-10


Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...