Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 26: Ibrah dari Penciptaan Nyamuk dalam Al-Quran

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 26: Ibrah dari Penciptaan Nyamuk dalam Al-Quran

Al-Quran adalah petunjuk dalam kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat banyak perumpamaan-perumpamaan yang menjadi petunjuk untuk kehidupan manusia. Sehingga Allah menyeru kepada manusia untuk memperhatikan perumpamaan-perumpamaan tersebut. (QS. Az-Zumar [39]: 27). Salah satu petunjuk yang disampaikan dalam wujud perumpamaan dalam Al-Quran adalah binatang nyamuk. Apa dan bagaimana ibrah dari penciptaan nyamuk dalam Al-Quran?

Saat ini kita sudah berada dalam ruang lingkup kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak salah bila kita menggunakan kacamata ilmu pengetahuan untuk memperhatikan perumpamaan firman Allah tersebut. Mari kita ambil satu contoh ayat Al-Quran, misalnya tentang penyebutan nyamuk dalam Al-Quran.

Nyamuk adalah salah satu hewan yang disebutkan dalam Al-Quran, tepatnya pada surah Al-Baqarah ayat 26 yang dijadikan sebagai perumpamaan untuk merefleksikan kehidupan manusia. Turunnya ayat ini adalah sebagai jawaban terhadap pertanyaan orang-orang kafir untuk menguji, siapa di antara mereka yang beriman dan yang mengingkari ayat-ayat Allah.

Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Tafsir Ilmi: Pengertian dan Perkembangannya

Melalui perantara ayat-ayat perumpamaan tersebut kemudian ada yang mendapat petunjuk, dan dengan perumpamaan itu juga ada yang tersesat. Mari kita ulas apa petunjuk dan hal yang menyesatkan manusia dibalik ayat penciptaan nyamuk dalam Al-Quran. Allah Swt berfirman dalam Al-Quran,

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ ٢٦

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik” (Al-Baqarah/2:26)

Dalam kitab Jami’ Al Bayan an Ta’wil Ayi Al-Quran, At-Thabari mengutip sebuah hadis di mana Yazid bin Zura menceritakan perihal penyebutan nyamuk pada ayat diatas. Menurutnya, maksud dari perumpamaan nyamuk itu ialah sesungguhnya Allah tidak segan menyebutkan kebenaran, baik kecil maupun besar, dan ketika Allah menyebutkan tentang lalat dan nyamuk dalam kitab-Nya, orang-orang yang sesat berkata “apa maksud Allah menyebutkan lalat dan nyamuk dalam kitab-Nya?” maka turunlah ayat ini.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengemukakan pendapat dari As-Sa’adi, bahwa orang yang disesatkan dalam ayat tersebut adalah merujuk kepada orang-orang munafik. Perumpamaan ini dibuat oleh Allah untuk menggambarkan keadaan mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak mau percaya ketika perumpamaan itu sesuai dengan keadaaan mereka.

Baca Juga: Menilik Kehadiran Tafsir Ilmi

Di situlah Allah menyesatkan mereka dengan perumpamaan yang telah dibuat-Nya. Berbeda halnya dengan orang dari kalangan ahli iman, mereka mendapat petunjuk karena mempercayai dan mengakui setelah tahu bahwa perumpamaan yang Allah buat sesuai dengan kondisi yang mereka alami.

Nyamuk pada umumnya dikenal sebagai hewan yang menghisap darah manusia dan hewan. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena setelah diteliti, ternyata hanya nyamuk betina-lah yang menghisap darah, sedangkan yang jantan menghisap nektar bunga.

Dalam buku Ensiklopedia Mukjizat Ilmiah Al-Quran, Harun Yahya menjelaskan secara detail perihal bagian-bagian nyamuk. Khusus pada nyamuk betina, terdapat 6 buah pisau pengiris di belalainya dan mempunyai fungsi yang berbeda-beda, memiliki seratus mata, 48 gigi dimulutnya, 3 jantung yang terletak di bagian perutnya, 3 buah sayap di setiap sisinya, bahkan memiliki kemampuan untuk mendeteksi panas sehingga dengan kemampuan itu ia dapat melihat manusia dan hewan meskipun berada dalam kegelapan.

Coba kita renungkan, bagaimana mungkin susunan organ-organ yang begitu rumit dapat berfungsi secara efisien dalam tubuh seekor nyamuk yang sangat kecil? Bukankah ini suatu pelajaran yang patut diperhatikan oleh manusia?

Baca Juga: Belajar Organisasi dari Semut dalam Surat An-Naml Ayat 18-19

Abdul Muta’ali mengatakan, “makin maju pencapaian seseorang, produk yang ditemukannya makin kecil. Pada 1947, CPU komputer berbentuk sangat besar, tapi dalam pengembangannya, justru prosesor dikembangkan dalam bentuk yang kian kecil”. Artinya seekor nyamuk yang menjadi perumpamaan dalam Al-Quran sejak beberapa abad yang silam adalah suatu rancangan yang sangat canggih untuk ukuran ilmuan modern saat ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan nyamuk adalah salah satu hewan yang melahirkan inspirasi dalam penciptaan nano teknologi.

Seperti yang sudah kita saksikan sekarang, telah banyak bermunculan alat-alat yang menggunakan konsep nano teknologi, contohnya komputer, alat-alat dibidang medis, farmasi, kosmetik, tekstil, otomotif, dan alat-alat kemiliteran. Dengan adanya teknologi tersebut, manusia dapat menyelesaikan berbagai pekerjaannya dengan sangat cepat efisien, hemat dan ramah lingkungan.

Itu baru seekor nyamuk yang sangat kecil, bagaimana dengan ciptaan Allah yang lain? Singkatnya, ayat penyebutan penciptaan nyamuk dalam Al-Quran ini mengajarkan kepada manusia agar tidak meremehkan ciptaan Allah yang kecil dalam penglihatan mata. Sebab bisa jadi sesuatu yang kecil itu lebih bermanfaat bahkan bisa saja lebih berbahaya dibandingkan dengan sesuatu yang kelihatan besar dan kuat.

Harfin
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, aktif di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...