Beranda Tafsir Tahlili Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9

Setelah sebelumnya berbicara mengenai orang beriman dan orang kafir, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9 ini membicarakan tentang golongan ketiga, yaitu golongan orang munafik. Mereka adalah orang yang pura-pura masuk Islam. Islam hanya dijadikan kedok untuk menyembunyikan kekafiran mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4-7


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 8-9 juga dipaparkan juga kaum yang pada waktu itu termasuk golongan munafik. Mereka adalah kaum ‘Aus dan kaum Khazraj. Salah satu orang munafik dari pemuka kaum Khazraj adalah Abdullah bin Ubay. Selain menjadikan Islam sebagai kedok, mereka juga menjadi mata-mata bagi orang-orang kafir.

Pembahasan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 8-9 ini diakhiri dengan pernyataan Allah swt bahwa pada kenyataannya tidak menipun Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin. Mereka menipu diri mereka sendiri dan mencelakakan dirinya sendiri tanpa membuahkan hasil apapun.

Ayat 8

Pada ayat ini diterangkan golongan yang ketiga yaitu golongan munafik, golongan yang mengaku bahwa mereka beriman, tetapi sebenarnya tidak beriman. Pengakuan mereka tidaklah benar. Mereka mengakui demikian itu untuk mengelabui mata dan mempermainkan orang Islam.

Sewaktu Rasul saw hijrah dari Mekah ke Medinah, banyak penduduk Medinah masuk Islam dari kabilah ‘Aus dan Khazraj dan beberapa orang Yahudi. Pada mulanya masih belum tampak golongan ini. Tetapi sesudah perang Badar tahun kedua Hijri, yang membawa kemenangan bagi kaum Muslimin, mulailah timbul golongan munafik ini.

Abdullah bin Ubay, seorang pemimpin di Medinah dari kabilah Khazraj, anak dari seorang yang pernah menjadi pemimpin suku Aus dan Khazraj, oleh pengikut-pengikutnya dijadikan calon raja di Medinah. Dia berkata kepada pengikut-pengikutnya, “Situasi sekarang jelas menunjukkan kemenangan bagi Muhammad”.


Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 66: Indonesia Adalah Rumah Kita Bersama


Kemudian Abdullah bin Ubay dan pengikut-pengikutnya menyatakan masuk Islam tetapi hati mereka tetap membenci. Tujuan mereka hendak menghancurkan kaum Muslimin dari dalam, dengan berbagai macam usaha dan tipu daya. Di antara mereka banyak pula orang Yahudi.

Sabda Nabi saw:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيْرُ اِلَى هٰذَا مَرَّةً وَاِلَى هٰذَا مَرَّةً

(رواه مسلم عن ابن عمر)

Perumpamaan orang munafik seperti seekor anak kambing (yang bingung dan ragu) di antara dua kambing, bolak-balik, kadang-kadang mengikuti yang satu ini, kadang-kadang mengikuti yang lainnya. (Riwayat Muslim dari Ibnu Umar)

Mereka bukan termasuk orang-orang yang beriman yang benar dan yang merasakan keagungan Allah swt, mereka tidak pula menyadari bahwa Allah sebenarnya mengetahui perbuatan mereka lahir dan batin.

Sekiranya mereka beriman dengan iman yang benar, tentulah mereka tidak melakukan perbuatan yang menyakitkan hati Nabi saw dan kaum Muslimin. Mereka melakukan ibadah salat dan puasa, hanya untuk mengelabui mata umum, sedang hati dan jiwa mereka sesungguhnya tidak menghayati ibadah-ibadah tersebut.

Ayat 9

Orang munafik itu menipu Allah, dengan cara menipu Rasul-Nya yaitu Muhammad saw. Menipu Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin ialah dengan memperlihatkan iman, kasih sayang dan menyembunyikan permusuhan dalam batin. Mereka bergaul dengan kaum Muslimin, untuk memata-matai mereka dan kemudian menyampaikannya kepada musuh-musuh Islam. Mereka menyebarkan permusuhan dan fitnah, untuk melemahkan barisan kaum Muslimin.

Usaha kaum munafik itu gagal dan sia-sia. Hati mereka bertambah susah, sedih dan dengki, sehingga pertimbangan-pertimbangan yang benar dan jujur untuk menilai kebenaran semakin lenyap dari mereka.

Mereka sejatinya bukanlah menipu Allah, Rasul-Nya dan para mukminin, tetapi mereka menipu diri mereka sendiri. Akibatnya, perbuatan mereka itu akan menimpa diri mereka sendiri, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Kesadaran merupakan daya jiwa untuk menanggapi sesuatu yang tersembunyi, yang tersirat dari yang nyata atau yang tidak nyata.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 10-13


(Tafsir Kemenag)

Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Ilustrasi stunting

Stunting dan Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 233

0
Surah Al-Baqarah ayat 233 yang berbicara tentang cara merawat dan membesarkan seorang anak tidak hanya terbatas pada hukum menyusui seorang anak, wajib atau sekadar...