Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi: Lika-Liku dalam Menuntut Ilmu

Tafsir Tarbawi: Lika-Liku dalam Menuntut Ilmu

Lika-liku dalam menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah swt dan menjadi dekat dengan-Nya. Ia pun memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal.

Menuntut Ilmu atau mencari ilmu menimbulkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Hal demikianlah setidaknya yang memotivasi ulama kita di Nusantara mengembara ke berbagai negara demi meraih ilmu. Sangking mulianya, ilmu meniscayakan perjalanan panjang yang penuh lika-liku sehingga tidak jarang seseorang yang berputus asa dan gugur di tengah jalan.

Beruntunglah bagi mereka yang telah sampai pada tujuan. Lika-liku dalam menuntut ilmu seperti kekhawatiran akan kekurangan bekal, keamanan, masalah finansial, kecemasan hati inilah sebagaimana yang dilukiskan dalam firman-Nya Q.S. al-Baqarah [2]: 155,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Baqarah [2]: 155)


Baca juga : Ciri Khas Tafsir Era Sahabat Menurut Husein Adz-Dzahabi


Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 155

Allah swt pasti akan menguji hamba-Nya sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwa Dia pasti menimpakan cobaan kepada hamba-hamba-Nya melalui ujian. Adakalanya ujian itu berupa kesenangan dan kenikmatan.

Adapula yang berupa kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta, meninggalnya kaum kerabat dan teman-teman tercinta, kebun dan lahan pertanian. Serta bisa diartikan usaha yang dimiliki tidak membuahkan keuntungan bahkan gulung tikar.

Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-khauf adalah takut kepada Allah. Al-ju’u ialah puasa di bulan Ramadhan, naqshul amwal adalah zakat harta benda, al-anfus adalah berbagai macam sakit, dan tsamarat (anak-anak).

Penafsiran serupa juga disampaikan oleh Muhammad ‘Ali as-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir bahwa mereka pasti diuji dengan berbagai ujian di antaranya adalah rasa takut, kelaparan, kekurangan harta benda, meninggalnya sebagian orang yang kita cintai, dan kerugian atas usahanya.

Al-Qurthuby misalnya sebagaimana dikatakan oleh al-Syafi’i bahwa al-khauf adalat takut kepada Allah swt. Kata al-ju’u dimaknai dengan al-maja’ah (kelaparan), al-jadb (kegersangan, ketidaksuburan), dan al-qahth (kekeringan atau paceklik).

Dan redaksi wa basyyiris shabirin bermakna tsawab a’la shabri (pahala atas kesabarannya). Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wa at-Tanwir menambahkan makna wa basyiris shabirin yakni keselamatan, rahmat, petunjuk bagi orang yang bersabar atas ujian-Nya melalui syafaat Rasul saw.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 144: Cinta Tanah Air Itu Fitrah Manusia


Lika-Liku dalam Menuntut Ilmu

Setiap jalan kebaikan meniscayakan pengorbahan dan kesungguhan dalam memperolehnya. Ia tidak diperoleh secara gratisan apalagi dengan cara instan, ia membutuhkan mujahadah (ketekunan diiringi ibadah spiritual) dan istiqamah dalam menjalankannya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Allah swt sendiri dalam ayat di atas bahwa Ia pasti akan menguji seseorang dalam konteks ini adalah para penuntut ilmu, ia diuji dengan berbagai cobaan seperti rasa takut, kelaparan, meninggalnya sebagian kerabat yang dicinta, kekurangan harta, usahanya tidak menghasilkn keuntungan.

Ujian pertama, rasa takut. Bagi penuntut ilmu, rasa ini kerap kali menghinggapi. Rasa takut ini tidak bisa diganggu gugat dan bagian dari fitrah manusia. Rasa takut ada membuktikan bahwa manusia butuh perlindungan kepada-Nya sebagai Dzat Pencipta semesta alam.

Ujian kedua, kelaparan. Haus dan lapar adalah satu kesatuan. Bagi penuntut ilmu, haus dan lapar adalah hal yang harus ia terima secara lapang dada. Karena memang demikianlah menuntut ilmu itu. Riyadah (tirakat, baca: puasa atau menahan nafsu, beribadah secara tekun) dan mujahadah (kesungguhan) adalah sebuah keharusan.

Seperti kisah al-Ghazali dalam kitab Tadzkiratul Huffadz, tatkala menuntut ilmu, al-Ghazali menghabiskan waktu selama empat belas tahun untuk pengembaraan pertama. Sementara pengembaraan kedua ia lakoni dari Hijaz (sekitar Makkah) menuju Baghdad, Irak. Episode ini menelan waktu dua puluh tahun usianya (hlm. 630).

Ujian ketiga, kekurangan harta dan jiwa. Menuntut ilmu membutuhkan biaya. Maka harta yang dikeluarkan secara kasat mata berkurang, namun secara esensi sejatinya bertambah. Ilmu adalah investasi jangka panjang. Dengan ilmu engkau bisa meraih segalanya.

Sebagaimana perkataan Imam Syafii yang terkenal, “Barang siapa yang ingin mengingikan dunia adalah dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat adalah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya adalah dengan ilmu”. Tidak dapat dipungkiri terkadang kita juga harus merelakan sebagian teman atau kerabat yang dicinta meninggal dunia di tengah pengembaraan keilmuan.

Demikianlah lika-liku dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, tidak heran apabila Allah swt mengapresiasi dengan meninggikan derajat orang yang berilmu setinggi-tingginya dikarenakan perjuangan, pengorbanan, kesabaran serta kesungguhannya demi memperoleh ilmu yang bermanfaat dan barakah bagi dirinya, keluarganya, lingkungan sekitarnya, agama, bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...