Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan bahwa wajib bagi seorang pelajar untuk riyadah atau tirakat dalam menuntut ilmu agar muncul keberkahan dan  manfaat. Tirakat merupakan laku perbuatan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu dalam bentuk apa pun, baik dalam bentuk puasa, menahan emosi, menahan hawa nafsu dan segala keinginan yang menggebu, tidak melihat hal-hal yang diharamkan dan lain sebagainya.

Baca Juga: Tiga Metode Pendidikan Para Rasul dalam Al Quran

Perintah tirakat dalam menuntut ilmu

Dalam hal ini, Alquran telah memberikan tuntunan tirakat yang harus dilakukan seorang pelajar, di antaranya adalah menyedikitkan tidur dan mendirikan salat malam sebagaimana ditegaskan-Nya dalam Q.S. al-Sajdah [32]: 16,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Sajdah [32]: 16)

Tirakat yang dimaksud dalam artikel ini berfokus pada kata menjauhi tempat tidur (tatajafa junubuhum), berdoa kepada Allah (yad’una rabbahum) dan menginfakkan sebagian rizki di jalan-Nya (mimma razaqnahum).

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri makna lambung mereka jauh dari tempat tidur dengan menyitir adalah mereka istikamah mengerjakan ibadah sunnah antara magrib dan isya’ (كانوا يتنفَّلون فـيـما بـين الـمغرب والعشاء) sebagaimana penafsiran Ibn Mutsanna, Yahya bin Said, dari Abu ‘Urwah, Qatadah dan Anas. Sedikit berbeda dengan Ibn Mutsanna, bahwa yang dimaksud tatajafa junubuhum ialah mereka mendirikan shalat atau berdoa di antara dua waktu ini (antara magrib dan isya) (يصلون ما بـين هاتـين الصلاتـين).

Selain itu, pakar tafsir kenamaan Indonesia, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri ayat tersebut bahwa ayat di atas masih merupakan lanjutan uraian tentang ciri-ciri orang-orang mukmin sejati. Ayat ini melukiskan amal perbuatan mereka, sedang ayat sebelumnya, yaitu ayat 15 melukiskan sifat-sifat batin mereka.

Penggalan ayat “menjauh lambung mereka dari tempat tidur mereka” dimaksudkan bahwa orang yang beriman itu tidak banyak tidur. Mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat, mereka senantiasa berdoa kepada Allah diiringi dengan rasa takut (khauf) akan siksa-Nya dan penuh harap (thama’an) kepada ridha-Nya.

Baca Juga: Empat Falsafah Pendidikan Islam dalam Q.S. Al’alaq: 1-5

Penggalan ayat ini, menurut Quraish Shihab menggambarkan keadaan kaum mukmin sebagaimana dalam surah yang lain, Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18,

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). (Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18)

Masih dalam penafsiran Quraish Shihab, pada ayat di atas terlukiskan sekali lagi sifat kejiwaan orang yang beriman, yakni kendati keimanan mereka bertambah dari waktu ke waktu dan sekalipun mereka bangun tengah malam di saat yang lain terlelap tidur, mereka bergegas bangun untuk berdoa, namun itu tidak menjadikan mereka terbuai atau merasa tenang. Mereka selalu takut kepada Allah, namun tetap dibarengi dengan optimisme dan berprasangka baik kepada-Nya.

Jika dibawa pada konteks pelajar, ciri-ciri pada ayat di atas termasuk salah satu tirakat yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asyari, yakni menyedikitkan tidur. Menurut pendiri Nahdlatul Ulama ini, pelajar harus mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Persoalan tidur ini, menurut kiai asal Jombang tersebut tidak boleh melebihi dari delapan jam dalam sehari semalam. Artinya, dari 24 jam sehari, sepertiganya untuk tidur itu sudah cukup.

Inilah yang dikatakan oleh KH. Hasyim Asy’ari bahwa tirakatnya pelajar di antaranya adalah mensucikan hatinya dari tujuan keduniawian, menyedikitkan makan, minum dan tidur, mengekang hawa nafsu dan mendirikan salat malam,

Karena itulah, tidak heran jika Allah swt mengganjar orang yang bersedia tirakat dalam menuntut ilmu dengan ganjaran yang mulia, dan mengangkat levelnya menuju tahapan kemuliaan. Semoga kita semua mampu menirakati proses demi proses dalam menuntut ilmu. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Fakir dan Miskin

Ulasan Mengenai Perbedaan Fakir dan Miskin dalam Al-Qur’an

0
Dalam Surah Al-Taubah : 60 disebutkan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah orang fakir dan orang miskin. Dalam bahasa Indonesia, kata...