Beranda Kisah Al Quran Teladan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Nabi Ibrahim yang Elegan, Tanpa Kekerasan

Teladan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Nabi Ibrahim yang Elegan, Tanpa Kekerasan

Menyeru kebenaran dan mencegah kemunkaran merupakan narasi yang seringkali muncul di permukaan ketika berhadapan dengan hal yang menyimpang dari agama. Perintah untuk mewujudkannya banyak ditemui dalam Al-Qur’an, baik secara tersurat maupun tersirat dalam teladan kisah para nabi dan orang-orang saleh. Masing-masing mereka memiliki gaya dan pendekatan tersendiri dalam menerapkan amar ma’ruf nahi munkar. Salah satunya adalah gaya analogi (kiasan) yang digunakan oleh Nabi Ibrahim a.s. untuk menyadarkan sesat pikir umatnya.

Identifikasi Ayat

Setidaknya dalam Al-Qur’an terdapat dua penggalan surah tentang gaya analogi yang digunakan oleh Nabi Ibrahim a.s., yakni QS. Al-Anbiya’ [21]:  51-70 dan QS. Ash-Shaffat [37]: 83-90. Kedua surah ini tergolong sebagai surah makiyyah yang tak heran jika kandungan ayatnya memuat aspek tauhid dan kisah-kisah umat terdahulu untuk diambil hikmah (pelajaran) di masa mendatang. Penggalan surah tersebut mengisahkan tentang dua skenario saat Nabi Ibrahim a.s. menyeru umatnya untuk meng-Esa-kan Allah, berhenti menyembah berhala yang tentunya ayat ini memuat pesan tersirat untuk dapat dikontekstualisasikan pada masa kini.

Kronologi dan Munasabah

Tinjauan munasabah (keterkaitan) ayat merupakan hal yang tak dapat dikesampingkan untuk mendapatkan pemahaman lebih komprehensif terhadap kedua penggalan surah tersebut. Secara historis, Surah Ash-Shaffat (urutan ke 37 dalam mushaf Utsmani) justru lebih dahulu turun dari Surah Al-Anbiya’ (urutan ke 21 dalam mushaf Utsmani). Ini diketahui dari sistematika tartib nuzuli (sesuai urutan waktu turunnya surah) yang diinisiasi oleh M. ‘Izzat Darwazah dalam al-Tafsir al-Hadis Tartib al-Suwar Hasb al-Nuzul.

Ar-Razi mengutip riwayat Al-Kalby menjelaskan bahwa skenario dalam Surah Ash-Shaffat terjadi pada hari sebelum perayaan ritual hari raya besar umat Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim melontarkan alasan ‘sakit’ untuk sekadar menolak ajakan umatnya merayakan ritual hari raya keluar wilayah. Padahal, konon Nabi Ibrahim saat itu secara jasmani tak benar-benar sakit. Beliau dalam hal ini tidaklah berdusta, hanya menerapkan sebuah siasat. Terkait hal ini, penulis sempat sedikit menyinggungnya dalam tulisan sebelumnya.

Baca juga: Retorika Bahasa, Siasat Nabi Ibrahim a.s. Menghindari Dusta

Pada Surah Al-Anbiya’ ayat 51-70, dikisahkan skenario pelengkap dan lanjutan yang terjadi saat umat Nabi Ibrahim a.s. pulang dari merayakan ritual dan menjumpai berhala mereka telah hancur, hanya tersisa satu berhala terbesar. Apa yang terjadi kala itu terekam dalam terjemahan berikut.

Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan kepada Ibrahim petunjuk sebelum (Musa dan Harun) dan Kami telah mengetahui dirinya. (51). (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (52). Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menjadi para penyembahnya” (53). Dia (Ibrahim) berkata, “Sungguh, kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (54). Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau (hanya) bermain-main?” (55). Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya, Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya dan aku adalah salah satu saksi atas itu.” (56). (QS. Al-Anbiya’ [21]: 51-56).

Ar-Razi (w. 606 H.) dalam Mafatih al-Ghaib menyebut bahwa dalam kisah ini, Nabi Ibrahim menggunakan dua tahapan pendekatan dalam amar ma’ruf nahi munkar. Pendekatan pertama sebagaimana terekam dalam penggalan terjemah ayat di atas, yakni pendekatan diplomatis melalui nasihat lisan. Adapun pendekatan kedua berupa tindakan penghancuran berhala yang didahului oleh sumpah pada ayat;

وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ

(Nabi Ibrahim berkata,) “Demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 57).

Perlu diperhatikan bahwa tindakan penghancuran yang dilakukan Nabi Ibrahim tersebut tetap berorientasi pada upaya meluruskan logika umat yang keliru. Upaya tersebut sama sekali bukanlah sebuah upaya mencederai mereka yang tersesat. Demikianlah muncul kearifan beliau dalam amar ma’ruf nahi munkar yang terlihat dari ayat berikut.

قَالُوْٓا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۗ قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ

Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”. (62) Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar ini yang melakukannya. Tanyakanlah kepada mereka (patung-patung lainnya) jika mereka dapat berbicara.” (63). (QS. Al-Anbiya’ [21]: 62-63).

Baca juga: Tiga Posisi Amr Ma’ruf Nahi Munkar dalam Tafsir Ar Razi

Menurut Al-Baghawi (w. 516 H.) dalam Ma’alim al-Tanzil, mengutip pendapat Al-Qutaiby, pernyataan tersebut memuat suatu kebenaran bersyarat, yakni berbicara. Artinya, tidak mungkin berhala terbesar dapat menjawab sebab ia sendiri tak dapat berbicara. Pun, umat Nabi Ibrahim sadar akan ketidakmampuan tersebut sehingga kalimat ini juga mengisyaratkan pengakuan bahwa Nabi Ibrahim sendiri yang menghancurkan para berhala saat beliau ditinggalkan oleh umatnya yang sedang berhari raya. Nabi Ibrahim dalam hal ini menggunakan analogi yang seakan-akan beliau berkata begini;

“Berhala terbesar itu marah besar dengan menghabisi berhala lainnya sebab kalian (umat) menyembah berhala lain selain dirinya. Demikian pula Allah akan murka jika kalian (umat) menyekutukan-Nya. Jika kalian masih ragu, coba tanyakanlah secara langsung padanya (berhala terbesar) kalau saja ia benar-benar mampu menjawabnya.”

Gaya analogi Nabi Ibrahim tersebut cukup membuat sebagian umat tersadar akan kekeliruan mereka. Sebagian lagi tetap dalam egonya menolak kebenaran karena pimpinan mereka (Raja Namrud) justru murka dan meminta agar Nabi Ibrahim dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Kendati demikian, Allah senantiasa menjaga para kekasihnya, terlebih Nabi Ibrahim sang Khalilullah.

Hikmah dan Penerapan

Salah satu hikmah dari kisah di atas adalah hal yang tak tepat jika terdapat unsur mencederai dalam upaya amar ma’ruf nahi munkar. Sejatinya, mereka yang tersesat membutuhkan penuntun ke jalan yang benar, bukan kutukan, cacian, atau bahkan tindakan-tindakan arogan yang berujung pada jatuhnya korban.

Mengajak kebenaran dan menolak kemunkaran bukan dengan mengutuk keberadaan pelakunya di dunia tanpa adanya upaya meluruskannya. Elegan dalam mengajak kebaikan dan tak arogan dalam menolak kemunkaran mutlak diperlukan. Nyatanya, karena cara dakwah yang salah, tak sedikit dari mereka segan dengan ajakan kebaikan. Bukankah menjalin kasih sebagai saudara se-anak-cucu Nabi Adam adalah tuntutan? Lakum diinukum wa liya diin.

Baca juga: Religious Hate Speech dan Perlunya Model Dakwah Qaulan Layyina Nabi Musa

Moh. Jamalul Lail
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang, bisa disapa di @jamal_lail22
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...