Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Tiga Kecerdasan Sosial yang Harus Dimiliki Guru

Tiga Kecerdasan Sosial yang Harus Dimiliki Guru

Sebagai Rasul penebar rahmat, Nabi Muhammad saw selalu menekankan bagaimana umatnya untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi (social sensitivity). Hampir semua sabda Nabi saw, jika kita kaji secara mendalam, lebih banyak mengaksentuasikan pada dimensi kemanusiaan (ukhuwah basyariyah). Sensitivitas sosial menggambarkan kemahiran di mana seorang individu dapat mengidentifikasi, memahami, dan memahami isyarat dan konteks dalam interaksi sosial bersama dengan sikap saling menghargai secara sosial kepada orang lain. Inilah yang disebut oleh Howard Gardner dalam Frames of Mind sebagai kecerdasan sosial (social intelligence).

Dalam konteks pendidikan Islam, kecerdasan sosial ini penting dimiliki oleh guru dan murid, di samping kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Kecerdasan sosial ini menjadi penanda dari kematangan manusia, tak terkecuali guru dan murid. Karenanya, Artikel ini akan mengulas tiga ciri kecerdasan sosial yang harus dimiliki dan ditumbuhkan oleh guru dan murid dengan melandaskannya pada ayat-ayat Al-Quran.

Sekilas Kecerdasan Sosial

Menurut Gardner, Kecerdasan sosial (social intellegence) adalah kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam berinteraksi sosial dengan orang di sekitarnya serta menjalin hubungan dengan kelompok masyarakat yang ditandai dengan kematangan emosional sehingga ia mampu memahami dan bekerjasama secara baik kepada sesama. Intelegensia atau kecerdasan, lanjut Gardner, memiliki manifestasi yang berbeda-beda dan konteks sosial budaya yang berbeda pula. Dengan kata lain, kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami orang lain, mengelola perbedaan dan mampu menyelesaikan permasalahan secara solutif.

Dalam konteks ini, pengembangan kecerdasan sosial pendidik dan peserta didik haruslah mengaksentuasikan pada tiga aspek; social sensitivity (sensitivitas sosial), social insight (pengetahuan sosial), dan social communication (komunikasi sosial). Trilogi komponen ini yang menurut pakar Psikologi sosial, Thomas Amstrong dalam perkembangannya akan bekerja secara terintegrasi ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Kepekaan Sosial

Pertama, kepekaan sosial atau sensitivitas sosial ditandai dengan  sikap empati dan sikap pro-sosial . Kedua sikap ini merujuk pada sejauh mana seorang guru memiliki keterampilan untuk dapat mendengarkan dan memahami maksud pemikiran dan gagasan anak didiknya. Acapkali, anak didik hanya ingin didengarkan pendapatnya oleh guru dibanding ceramahnya. Hal-hal semacam ini terkadang luput dari perhatian sang guru. Rajutan empati berbalut harmonika kesejukan interaksi sosial barang kali menjadi kebutuhan di era kekinian. Sikap empati inilah yang juga dimiliki oleh Nabi Muhammad saw sebagaimana terdokumentasi dalam firman-Nya,

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. Al-Taubah [9]: 128)

Sikap empati nabi saw ini ditunjukkan dengan ungkapan harisun ‘alaikum, yaitu Nabi itu sangat menginginkan umatnya selamat dan berperilaku baik. Ibn Katsir mengungkapkan, kepribadian nabi itu sangat menginginkan kita semua memperoleh hidayah sehingga senantiasa mampu bermanfaat untuk orang lain, baik di dunia maupun akhirat.

Baca Juga: Inklusivitas Kebenaran dalam Islam

Selanjutnya, sikap pro-sosial. Sikap pro-sosial yaitu segala tindakan yang lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingannya sendiri. Hal ini ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْاۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

…Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (Q.S. Al-Maidah [5]: 2)

Dalam Tafsir al-Misbah disebutkan bahwa jangan sampai puncak kebencian kita terhadap satu kelompok menghalangi untuk bersikap adil. Kata sya’nan di sini, menurut Shihab, adalah kebencian yang telah mencapai puncaknya. Ayat tersebut menjadi bukti nyata betapa al-Qur’an menekankan keadilan. Musuh yang dibenci — walau telah mencapai puncak kebenciannya sekalipun — lantaran menghalang-halangi pelaksanaan tuntunan agama, masih harus diperlakukan secara adil, apalagi musuh atau yang dibenci tapi belum sampai ke puncak kebencian dan oleh sebab lain yang lebih ringan.

Sikap pro sosial ini juga meniscayakan penguluran tangan kepada sesama yang membutuhkan, dan menjadi bagian dari hamba Allah yang paling dicintai sebagaimana sabda Nabi saw,

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا

Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR ath-Thabrani)

Pengetahuan Sosial

Ciri yang kedua adalah mereka berpengetahuan sosial (social insight). Adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan menelusuri penyelesaian masalah secara efektif dan efisien, sehingga masalah tersebut terselesaikan dan tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah dibangun. Indikatornya adalah kesadaran diri (self-awareness), pemahaman situasi dan etika sosial, dan keterampilan pemecahan masalah.

Di samping guru harus memiliki kompetensi spritual, pedagogik, kepribadian, ia juga harus membekali diri dengan pengetahuan sosial akan kondisi peserta didiknya. Pemahaman ini tidak berhenti hanya pada – meminjam istilah Erving Goffman – front stage (panggung depan, yang tampak) melainkan back stage (panggung belakang, naluri alamiah). Dalam hal ini, Sayyidah Khadijah memberi contoh bagaimana memahami takdir Allah sekalipun bagi kita itu buruk seperti yang disampaikan Sayyidah Khadijah,

قَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ،

Khadijah berkata, “Jangan berfikir buruk begitu. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakan engkau selamanya. Karena engkau tekun menyambung tali silaturahim, menanggung kesulitan orang lain, memberi pekerjaan pengangguran, menjamu tamu, dan memberi pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. (HR Al-Bukhari).

Makna menyambung tali silaturrahim adalah Nabi Muhammad saw mengunjungi saudara-saudaranya. Tidak hanya sebatas kunjungan belaka (misalnya, pencitraan), namun Nabi mengulurkan tangannya untuk mengentaskan kesusahan saudara dan orang lain yang dikunjungi tersebut. Dari sini, kita dapat melukiskan bagaimana pribadi Nabi saw yang mencurahkan perhatian dan kepeduliannya terhadap sesama.

Di sinilah letak sifat fathanah (kecerdasan) Nabi saw itu. Dalam peradaban Jawa, fathanah atau cerdas disebut lantip. Kecerdasan nabi saw itu bersifat taktis-strategis, jenius hingga futuristis. Menunjukkan betapa Kanjeng Nabi Muhammad itu, kata Emha Ainun Nadjib, adalah individu yang multidimensional. Penyebutan ini setidaknya menurut istilah orang sekarang. Kelengkapan pengetahuan dan kecerdasan sosial Nabi saw begitu lengkap dan substansial. Dalam konteks ini, peneladanan kepribadian Nabi SAW adalah suatu keniscayaan bagi guru.

Komunikasi Sosial

Ciri ketiga yaitu piawai dalam melakukan komunikasi sosial (social communication). Nabi itu menggunakan komunikasi transendental. Bentuk komunikasi transendental ini – dalam istilah Emha Ainun Nadjib – acapkali luput diuraikan secara sistematis dan komprehensi oleh guru. Ini disebabkan kerumitan epistemologis posisi transendental sebagai subjek kajian. Preferensi pelik ini ditampik Erik Setiawan, dalam bukunya, Gamelan Langit: Dialog Transendental KiaiKanjeng. Nabi itu justru membumikan makna transendental ke dalam situasi sehari-hari (everyday life).

Menurut Erik, komunikasi transendental adalah sesuatu yang privat karena memposisikan Tuhan sebagai komunikan (lawan bicara). Manusia memiliki dorongan batin untuk melakukan dialektika kepada Yang Maha Kuasa. Tuhan, menurut cakrawala Erik, bukan sekadar pihak yang menerima keluh-kesah manusia secara satu arah. Tetapi Dia juga memberi pesan (balik) simbolik yang diwakilkan secara visual, penciuman, pendengaran, dan desiran intuitif.

Ringkasnya, komunikasi transendental adalah hubungan komunikasi antara Tuhan dan manusia berlangsung resiprokal (berbalasan). Artinya, kedua belah pihak saling menyahuti dan berbalas. Bentuk komunikasi sosial semacam inilah yang selalu diarusutamakan Nabi saw dalam mendakwahkan Islam sehingga bisa diterima oleh masyarakat Arab dan seluruh penjuru dunia sebagaimana terekam dalam firman-Nya,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ

Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). (Q.S. Ali Imran [3]: 159)

Ayat tersebut ingin menegaskan, dalam penafsiran Quraish Shihab, seandainya Nabi itu berlaku keras, berperangai arogan cum represif, berkata dan berhati kasar, tidak sabae, tidak peka terhadap keadaan orang lain, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling Nabi, disebabkan oleh antipati terhadap Nabi. Menjauh dari sekeliling nabi itu artinya menjauhi circle Nabi, ajaran Nabi, sahabat Nabi dan segala sesuatu yang terpaut dengannya. Tentu itu sangat tidak diinginkan oleh Nabi.

Maka, sikap nabi yang demikian itu adalah berkat rahmat Allah (fabima rahmatin) sehingga menjadi salah satu bukti bahwa Allah swt. sendiri yang mendidik dan membentuk kepribadian Nabi Muhammad saw., sebagaimana sabda beliau, yang dikutip Shihab: “Aku dididik oleh Tuhanku, maka sungguh baik hasil pendidikan-Nya.” Kepribadian beliau, lanjut Shihab, dibentuk sehingga bukan hanya pengetahuan yang Allah limpahkan kepada beliau melalui wahyu-wahyu al-Qur’an, tetapi juga kalbu beliau disinari, bahkan totalitas wujud beliau merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga: Lima Tanda Kepahlawanan Perspektif Alquran

Penyampaian tutur kata yang santun dan sikap lemah lembut ini dulunya juga pernah diperintahkan Allah swt kepada Nabi Musa untuk mendakwahkan ajaran tauhid kepada Raja Fir’aun. Allah swt berfirman,

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (Q.S. Taha [20]: 44)

Dalam penafsiran Ibn Katsir, ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu sekalipun Fir’aun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabur, sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu. Nabi Musa tetap diperintahkan agar dalam menyampaikan risalah-Nya kepada Fir’aun memakai bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dan sopan santun.

Dengan demikian, ketiga ciri kecerdasan sosial di atas penting dimiliki oleh seorang guru, peserta didik dan seluruh lapisan masyarakat di mana memungkinkan kita untuk dapat berkomunikasi dan memahami secara baik karakteristik orang lain dalam melihat karakter, latar belakang, kapabilitas dan konteks sosial yang mengitarinya, termasuk juga membentuk penilaian orang lain terhadap diri kita, apakah kita mampu berperan aktif dalam keterlibatan sosial kemasyarakatan, atau justru menjadi pelengkap dari realitas sosial yang semakin pelik. Wallahu a’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...