Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Tiga Niat dalam Menuntut Ilmu

Tiga Niat dalam Menuntut Ilmu

“Segala perbuatan bergantung pada niat,” begitulah ungkapan sebuah hadis. Salah satu yang harus diperhatikan oleh pelajar adalah meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari memaparkan bagaimana pentingnya menata niat dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Dalam sebuah hadis yang dia kutip dikatakan, “Barang siapa yang mencari ilmu, bukan karena mencari keridaan-Ku, maka ambillah tempatnya di neraka.”

Oleh karenanya, wajib bagi pelajar untuk menata niatnya dalam menuntut ilmu. Sebab apa yang diniatkan itu pula yang akan ia dapatkan. Kalau niatnya salah, semisal, untuk mencari popularitas, mencari kepintaran dan dengan kepintaran itu melakukan koruptor, kolusi dan nepotisme (KKN), atau mencari jabatan tinggi, mengincar seorang wanita cantik dengan bekal ilmunya, maka hal-hal semacam itu dilarang oleh agama.

Baca juga: Tiga Fase yang Harus Dilalui Pelajar dalam Menuntut ilmu

Dengan demikian, sekurangnya ada tiga hal yang harus diniatkan oleh pelajar dalam menuntut ilmu supaya ilmunya berkah dan meneranginya menuju jalan kebaikan.

Mencari rida Allah

Niat pertama adalah mencari rida Allah. Belajar tidak boleh diniati untuk tujuan keduniaan, namun memperoleh keridaan Allah swt. Dalam Q.S. Albaqarah [2]: 272, Allah swt. berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۗوَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi. (Q.S. Albaqarah [2]: 272)

Quraish Shihab menuturkan bahwa sebab penurunan ayat ini berkaitan dengan tuntunan nafkah dan sedekah, baik kepada umat Islam maupun umat beragama lain. Dalam konteks pelajar, ayat ini memberi tuntunan bagaimana seorang pelajar dalam menata niat. Niat yang dimaksud adalah mencari ilmu harus diniatkan untuk meraih keridaan Allah swt. Ayat ini menegaskan bahwa membelanjakan harta, berinfak, bersedekah, dan berjihad di jalan Allah (termasuk menuntut ilmu) hendaknya bertujuan meraih rida Allah, dan bukan diniatkan untuk sesuatu yang bertentangan dengan rida-Nya, demikian penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah.

Baca juga: Tiga Lingkungan Belajar yang Harus Diperhatikan Oleh Pelajar

Tidak jauh berbeda dengan Shihab, Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Quran al-Adzhim memaknai rida Allah swt dengan mengutip riwayat Atha’ al-Khurasani bahwa yang dimaksud dengan rida Allah swt adalah ketika kamu mengeluarkan sedekah atau berjihad di jalan Allah (baca: menuntut ilmu), maka kamu tidak akan dibebani oleh apa yang telah engkau amalkan. Dalam arti lain, seseorang akan memperoleh sesuatu berdasarkan niat. Dalam suatu hadis dikatakan “Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.”

KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim mengatakan bahwa seorang pelajar harus memperbaiki niat dalam mencari ilmu dengan tujuan untuk mencari rida Allah swt serta mampu mengamalkannya, menghidupkan syariat untuk menerangi hati, menghiasi batin dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, dia tidak semestinya bertujuan untuk memperoleh hal keduniawian, misalnya, pimpinan, jabatan, harta benda, mengalahkan teman saingan, maupun agar dihormati (Jawa: disungkemi) masyarakat dan semacamnya. Hal ini karena keridaan Allah swt adalah segala-galanya bagi pelajar.

Menghilangkan kebodohan

Niat kedua adalah menghilangkan kebodohan. Dalam artikel yang lalu dijelaskan bahwa kebodohan, kedunguan, ketidaktahuan, dan keraguan adalah hal yang harus dimusnahkan dalam peradaban manusia. Kebodohan juga dilarang oleh agama. Perintah untuk menghilangkan kebodohan secara tersirat termaktub dalam Q.S. Annahl [16]: 43,

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Annahl [16]: 43)

Menurut al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan ahl al-dzikr diartikan secara berbeda-beda. Ada yang menafsirkan sebagai ahlul kitab, orang yang mendalami ajaran kitab Taurat dan Injil, ahlul Quran, dan orang yang berilmu. Dalam Tafsir Kemenag, ahl al-dzikr adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab. Hal senada juga dikemukakan Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa ahl al-dzikr dipahami oleh banyak ulama sebagai pemuka agama Yahudi dan Nasrani. Ada juga yang menafsirkan sebagai sejarawan baik muslim maupun non-Muslim.

Dalam konteks pelajar, makna ahl dzikr dapat ditafsiri dengan orang yang berilmu dan tidak lalim. Dalam ayat yang lain dikatakan, “qul hal yastawi al-ladzina ya’lamuna wa al-ladzina la ya’lamuna” (apakah sama orang yang berpengetahuan dan yang berilmu dengan orang yang tidak berpengetahuan atau berilmu?). Tentu jawabannya, “tidaklah sama.” Ketika menyikapi persoalan, misalnya, akan beda respons dari orang yang berilmu dan yang tidak. Jadi, pelajar semestinya dalam menuntut ilmu diniatkan untuk menghilangkan kebodohan. Kebodohan itu adalah tidak mengetahui atas apa yang dia katakan, dan perbuat.

Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebut kebodohan ini sebagai pangkal keburukan dan epistentrum kemudaratan. Tak heran, Syekh Ali bin Abu Bakar melukiskan kebodohan dalam senandung syair,

الجَهْلُ نَارٌ لِدِينِ الْمَرْءِ يَحْرِقُهُ  #   وَالْعِلْمُ مَاءٌ لِتِلْكَ النَّارِ يُطْفِيهَا

“Kebodohan atau kedunguan adalah api bagi agama seseorang yang membakarnya. Sedangkan ilmu merupakan air yang memadamkannya.”

Menghidupkan agama

Niat ketiga adalah menghidupkan agama Allah swt. Bagi pelajar, ia harus meniatkan proses menuntut ilmu untuk menghidupkan agama Allah, karena barang siapa yang menolong dan menghidupan agama Allah, maka pasti Allah akan menolongnya dan memberi kedudukan yang mulia sebagaimana Allah tegaskan dalam Q.S. Muhammad [47]: 7 di bawah ini,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Q.S. Muhammad [47]: 7)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri ayat ini dengan beberapa bagian. Bagian pertama, yang dimaksud “jika kamu menolong agama Allah” adalah melalui niat-niat baik dan amal perbuatan. Bagian kedua, kata “in” sebelum tanshuru Allaha, menunjukkan sesuatu yang biasanya diragukan oleh manusia, bukan tertuju pada janji Allah menolong kaum beriman. Artinya, biasanya ketika manusia mendapati suatu persoalan, dan cenderung ragu apakah ia bersedia untuk menyelesaikan atau acuh tak acuh, dan kemudian dia memilih untuk menyelesaikan meski disertai rasa berat, maka Allah akan menolongnya.

Baca juga: Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran

Inilah yang dimaksud kata yanshurkum. Allah akan menyelesaikan beragam persoalan dalam kehidupan orang yang menolong agama-Nya. Dalam arti, mengilhami mereka jalan keluar dan mengarahkannya untuk menemukan cara dan sebab-sebab yang relevan dengan sunatulllah dalam meraih keberhasilan. Namun Shihab menggarisbawahi, hal ini bukan berarti Allah “turun gunung” secara langsung menolong mereka yang membantu agama-Nya.

Dalam konteks pelajar, belajar adalah bagian daripada menolong agama Allah. Maka barang siapa yang belajar bersungguh-sungguh dengan niat untuk menolong dan menghidupkan agama-Nya, maka Allah akan memberikan petunjuk dan jalan keluar serta rezeki yang tidak disangka-sangka. Dia senantiasa terus dibimbing dan diarahkan oleh-Nya sehingga tidak ada kesulitan yang berarti untuknya.

Sebagai penutup, kami ingin mengutip kalam Syekh al–Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim. Beliau menjelaskan perihal bagaimana seharusnya pelajar menata niatnya saat belajar,

وَيَنْبَغِيْ اَنْ يَنْوِيَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللهُ تَعَالَى وَالدَّارَ الْأَخِرَةَ وَاِزَالَةِ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ وَإِحْيَاءِ الدِّيْنِ وَإِبْقَاءِ اْلإِسْلاَمِ فَإِنَّ بَقَاءَ الْإِسْلَامِ بِالْعِلْمِ وَلَا يَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ الْجَهْلِ

“Sebaiknya setiap pelajar mempunyai niat yang sungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan keridaan Allah swt agar mendapat pahala kelak di akhirat, menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan kebodohan orang-orang yang masih bodoh, serta niat menghidupan dan melestarikan agama Islam. Karena kelestarian agama itu sendiri dapat terjaga hanya dengan ilmu. Tidak sah bagi orang yang meakukan zuhud dan takwa tanpa dilandasi ilmu.”

Wallahu a’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34

0
Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34 berbicara mengenai dua hal yang saling berkelindan. Pertama mengenai penyesalan orang-orang kafir di akhirat. Kedua mengenai ketakutan mereka pada...