BerandaTafsir TematikTiga Sarana Utama Untuk Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Tiga Sarana Utama Untuk Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Rahmat Allah swt adalah hal yang paling diidam-idamkan manusia terutama umat Islam. Sebab ia merupakan faktor utama untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa kehadirannya, seseorang tidak akan mampu mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan apapun. Misalnya, seseorang lahir ke dunia – hanya – karena rahmat Allah swt, begitu pula masuk surga.

Manusia sebagai hamba Allah tidak seyogyanya mendengarkan bisikan setan yang membangga-banggakan amal ibadah. Karena sesungguhnya bukan hanya amal ibadah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka kelak.  Dalam sejumlah hadis, nabi Muhammad saw menegaskan faktor penentu masuk neraka atau surga seorang hamba adalah rahmat Allah swt.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim dijelaskan bahwa manusia tidak bisa dimasukkan ke surga oleh amalnya. Manusia bisa dimasukkan ke dalam surga jika mereka mendapatkan rahmat Allah swt sebagaimana sabda nabi Muhammad saw yang berbunyi:

عن عائشة – رضي الله عنها -: أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: سدِّدوا وقارِبوا وأبشِروا؛ فإنه لا يُدخِل أحدًا الجنةَ عملُه ، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا، إلا أن يَتغمدَني اللهُ بمغفرة ورحمةوأنَّ أحبَّ الأعمالِ إلى الله أدومُها وإن قلَّ.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha – istri Nabi Muhammad saw – berkata, sesungguhnya rasulullah saw pernah bersabda, “Tujulah (kebenaran), mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga amalnya.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, tidak juga aku, kecuali bila Allah swt melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa syarat utama masuk surga bukan hanya amal, tetapi juga rahmat Allah swt. Lantas apakah amal ibadah tidak penting? Tentu tidak, sebab amal ibadah adalah perkara yang sangat penting dan bahkan wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai kewajiban melaksanakan amal ibadah.

Kewajiban-kewajiban tersebut harus dilaksanakan sebaik mungkin sebagaimana petunjuk nabi Muhammad saw kepada para sahabat (hadis). Oleh karena itu, amal ibadah tidak bisa ditinggalkan dengan dalih bahwa masuk surga adalah berkat rahmat Allah swt. Di sisi lain, amal ibadah memiliki segudang manfaat bagi pelaku dan orang di sekitarnya.

Tafsir Surat Al-Baqarah [2] Ayat 218: Tiga Sarana Utama Untuk Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara bahwa amal ibadah merupakan syarat utama mendapatkan rahmat Allah swt adalah surat al-Baqarah [2] ayat 218 yang berbunyi:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢١٨

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah [2] ayat 218).

Menurut Quraish Shihab, surat al-Baqarah [2] ayat 218 mengisyaratkan – melalui kata yarju – bahwa rahmat Allah adalah hak prerogatif-Nya. Manusia hanya bisa melaksanakan tuntunan agama dengan sebaik-baiknya seraya berharap-harap cemas bahwa amal-amal ibadahnya akan diterima oleh Allah swt dan ia akan mendapatkan rahmat serta ampunan-Nya (Tafsir Al-Misbah [1]: 465).

Dalam pandangan beliau, ayat di atas seakan berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dengan iman yang benar, dan orang-orang yang berhijrah ke tempat yang lebih baik dan menjadi lebih baik, dan berjihada, yakni mereka yang berjuang tiada henti dengan mencurahkan segala yang dimilikinya di jalan Allah yang mengantarkan kepada rida-Nya, mereka itu yang senantiasa mengharap rahmat Allah, dan Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Berkenaan dengan ayat ini, syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya, Marah Labid, menyebutkan bahwa surat al-Baqarah [2] ayat 218 turun setelah Abdullah bin Jahasy berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak terlarang untuk mempertahankan diri (berperang pada bulan haram), namun apakah kami boleh mengharapkan ganjaran dan pahala atas tindakan tersebut?” Kemudian ayat ini menunjukkan bolehnya berharap ganjaran atas kebaikan yang dilakukan.

Sedangkan as-Sa’adi menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan tentang tiga sarana untuk mendapatkan rahmat Allah swt dan pondasi utama penghambaan, yakni iman, hijrah, dan jihad. Iman adalah dasar keislaman seseorang dan memiliki banyak keutamaan. Lalu hijrah menuju ke-rida-an Allah swt sebagai langkah dan bukti nyata meninggalkan kecintaan duniawi. Kemudian berjihad di jalan Allah dalam rangka menyebarluaskan ajaran Islam.

Menurutnya, siapa yang mampu menegakkan tiga langkah tersebut secara komprehensif, maka sesungguhnya ia sedang berharap dan berusaha menggapai rahmat Allah swt. Sebab ia telah melakukan hal yang menjadi penyebab datangnya rahmat dari-Nya. Di sisi lain, ayat ini juga mengindikasikan bahwa mengharap rahmat Allah harus dibarengi dengan usaha mendapatkannya. Tanpa usaha, harapan hanya akan menjadi angan-angan semata. (Tafsir as-Sa’adi: 34).

Sementara penulis memahami, surat al-Baqarah [2] ayat 218 seakan-akan berkata bahwa, “orang-orang yang benar-benar mengharapkan rahmat Allah swt adalah mereka yang beriman, berhijrah (menjadi lebih baik) dan berjihad (berjuang) di jalan Allah. Harapan-harapan mereka itu akan didengar oleh-Nya, ketahuilah Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Dengan demikian, meskipun rahmat Allah merupakan hak prerogatif-Nya, bukan berarti manusia boleh berpangku tangan dan tidak melaksanakan amal ibadah apapun, baik itu ibadah ritual maupun sosial. Jika dianalogikan, maka amal ibadah bisa dikatakan sebagai sarana manusia untuk melobi Allah agar mendapat rahmat dan ampunan-Nya. Sedangkan hasil akhirnya merupakan ketentuan bebas dari-Nya. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Larangan di Bulan Haram

Maksud Larangan Menzalimi Diri Sendiri pada Bulan-Bulan Haram

0
Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) merupakan bulan-bulan yang dimuliakan dan memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Dari dua belas bulan terdapat empat bulan haram; Zulkaidah, Zulhijah,...