Ketika perhelatan acara pernikahan, kita seringkali mendengar ucapan sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tiga kata ini hampir selalu kita lihat dalam setiap undangan pernikahan. Ketiga kata tersebut hampir selalu dibaca dalam satu napas seolah ketiganya satu hal yang diulang tiga kali. Kendati sering diucapkan, banyak orang yang masih belum mengetahui apa makna sebenarnya dari tiga kata yang sering kita singkat menjadi SaMaRa ini.
Satu Ayat yang Berlapis
Dalam Al-Qur’an, kata sakinah, mawaddah, dan rahmah disebutkan dalam QS. Ar-Rum [30] ayat 21:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٢١
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini, menurut Ibn Ashur, bukan hanya satu tanda melainkan menyimpan banyak tanda sekaligus, yang satu melahirkan yang lain dan hanya terungkap melalui perenungan (Ibnu ’Âsyûr, 1981, hlm. 71). Rupanya, cara Alquran memandang kebahagiaan dalam pernikahan dengan demikian tidak sederhana dan tidak bisa diringkas dalam satu formula. Ayat ini pun tidak berdiri sendirian. Ada ayat lain yang berbicara tentang tema serupa, QS. Al-A’raf: 189, yang juga menyebut liyaskuna ilayhaa, agar ia tenteram kepadanya.
Bagi Ibn Katsir, dua ayat ini saling menerangi; yang satu berbicara tentang asal penciptaan pasangan dari jenis yang sama, yang lain berbicara tentang apa yang Allah letakkan setelah pertemuan itu terjadi (Ibnu Katsîr, 1998, hlm. 227). Ketenangan, cinta, dan kasih sayang dalam ayat Al-Rum bukan berdiri sendiri. Ia adalah kelanjutan (tematis) dari desain yang sudah dimulai jauh sebelum dua orang itu bertemu.
Baca juga: Ingin Memiliki Keluarga Sakinah? Amalkan Doa Surat Al-Furqan Ayat 74
Sakinah
Yang datang pertama dalam ayat ini bukan cinta (mahabbah). Tapi, rasa tenteram, Litaskunuu ilayhaa. Agar kamu tenteram kepadanya. Ibn Ashur membaca ini bukan dalam makna literalnya, diam atau tidak bergerak, melainkan sebagai gambaran untuk hilangnya rasa asing dan kesepian yang menekan, sesuatu yang dalam bahasa Arab disebut wahshah. Pernikahan pertama-tama adalah tentang menemukan seseorang yang membuat wahshah itu pergi (Ibnu ’Âsyûr, 1981, hlm. 72).
Tetapi di sini perlu berhenti sebentar. Menurut Al-Qurthubi, manusia membawa gejolak dalam dirinya, dan perempuan diciptakan sebagai tempat menetap dari gejolak laki-laki itu (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 18). Pembacaan itu terasa wajar di masanya, tetapi perlu diperiksa ulang. Dalam pandangan Al-Qurthubi, perempuan adalah objek ketenangan laki-laki, pelabuhan dari gejolak yang bukan miliknya.
Masalahnya, ayat ini tidak berbicara seperti itu. Ia berbicara kepada lakum, kepada kalian semua, dan menyebut baynakum, di antara kalian. Ketenangan itu bukan arus satu arah dari perempuan ke laki-laki. Ia tumbuh di antara dua orang, yang satu menemukan tempat menetap pada yang lain, dan yang lain juga menemukan hal yang sama. Pernikahan yang hanya memposisikan satu pihak sebagai pemberi dan pihak lain sebagai penerima ketenangan telah salah membaca dari mana ayat ini berbicara.
Sakinah berbeda dari kebahagiaan. Kebahagiaan bergantung pada kondisi, bisa hadir dan bisa pergi. Sakinah bekerja lebih dari itu, ia adalah rasa bahwa ada seseorang yang mengenalmu dari dalam dan tidak pergi, bahwa kamu tidak perlu berperforma di hadapannya, bahwa kehadirannya menenangkan bukan karena ia selalu menyenangkan, melainkan karena ia sudah tahu yang terburuk darimu dan memilih untuk tetap tinggal.
Mawaddah
Di sinilah para ulama ternyata tidak berbicara dengan satu suara, dan perbedaan itu justru memperkaya. Secara leksikal, akar kata mawaddah dalam Lisan Al-Arab ditempatkan Ibn Manzur berdekatan dengan makna kerinduan dan harapan, cinta yang meresap ke semua pintu kebaikan, bukan cinta yang terbatas pada satu dimensi (Ibn Manzhûr, 1431, hlm. 453). Lebih jauh dari itu, Fairuzabadi dalam Al-Qamus Al-Muhit memasukkan entri habbat al-qalb sebagai suwayda’uhu aw muhjatuh, inti terdalam atau nyawa hati itu sendiri (Al-Fayrûzâbâdî, 2005, hlm. 71). Dua kamus klasik, dua entri yang berbeda, tetapi keduanya mengarah pada satu kesimpulan; cinta dalam tradisi bahasa Arab tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang tinggal di permukaan. Ia turun sampai ke dasar hati.
Sementara itu, ada riwayat dari Ibn Abbas yang jarang dikutip di mimbar. Bersama Mujahid, ia menafsirkan mawaddah sebagai keintiman fisik antara suami istri, dan rahmah sebagai anak-anak yang lahir dari pernikahan itu, semuanya dikumpulkan Al-Qurthubi tanpa memilih (Al-Qurthubî, 1432, hlm. 18). Tafsiran itu perlu dibaca dengan hati-hati. Jika mawaddah semata-mata adalah keintiman fisik, ia menjadi sesuatu yang mudah habis, bergantung pada tubuh yang terus berubah. Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang Allah letakkan, wa ja’ala, bukan sesuatu yang sekadar hadir lalu pergi mengikuti hasrat.
Yang lebih tepat kiranya membaca keintiman fisik itu sebagai salah satu pintu masuk mawaddah, bukan keseluruhan isinya. Yang paling menggugah justru bukan perdebatan tentang apa mawaddah itu, melainkan dari mana ia berasal. Dua orang yang sebelumnya saling tidak mengenal, setelah menikah tiba-tiba mendapati diri mereka saling mencintai. Transformasi itu, menurut Ibn Ashur, tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh faktor manusiawi semata. Ada sesuatu yang ditempatkan di antara mereka, bukan sekadar diusahakan (Ibnu ’Âsyûr, 1981, hlm. 71). Ayat ini menyebutnya dengan jelas, wa ja’ala, Dia yang menjadikan, Allah yang meletakkan cinta itu sampai ke biji hati, bukan kita.
Ini penting untuk dipahami secara praktis. Banyak orang masuk ke pernikahan dengan keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus terus-menerus dipertahankan oleh usaha mereka sendiri, dan ketika perasaan itu surut, kesimpulan pertama yang muncul adalah bahwa ada yang salah. Padahal surut dan pasangnya perasaan bukan selalu tanda kegagalan. Kadang ia memang hanya sedang beristirahat.
Baca juga: Pernikahan Perspektif Alquran: Bersatu dari Perbedaan
Rahmah
Seorang suami, tulis Ibn Kathir, mempertahankan istrinya bisa karena cintanya kepadanya, atau karena kasih sayangnya, bisa juga karena ada anak di antara mereka, atau karena kedekatan yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Kata atau, bukan dan (Ibnu Katsîr, 1998, hlm. 278). Atau di sana tidak boleh dibaca sebagai pembenaran untuk pernikahan yang berdiri di atas kalkulasi semata. Sehingga Rahmah bukan sekadar alasan untuk tidak pergi. Ia aktif dan terus bekerja, dan akar leksikalnya sudah berbicara sebelum definisi manapun diberikan.
Rahmah berakar dari kata yang sama dengan rahim, kandungan. Yang menarik dari hubungan leksikal ini adalah cara kerjanya yang oleh Ibn Ashur disamakan dengan kasih sayang orang tua kepada anak, kasih sayang yang tidak menunggu anak menjadi baik dulu untuk hadir (Ibnu ’Âsyûr, 1981, hlm. 71–72). Ia hadir justru karena ada kerentanan di hadapannya, karena ada ketidaksempurnaan yang bukan alasan untuk menjauh melainkan justru alasan untuk semakin dekat.
Rahmah dan mawaddah dengan demikian berbeda bukan hanya secara kamus, melainkan secara cara kerjanya dalam kehidupan yang konkret. Mawaddah bisa terasa mudah di awal pernikahan, ketika segalanya masih segar dan belum banyak yang diuji. Rahmah justru paling terlihat ketika kondisi tidak sedang baik, ketika seseorang tetap hadir bukan karena sedang merasakan cinta yang meluap, melainkan karena ada sesuatu yang lebih dalam dari perasaan yang membuatnya tidak bisa pergi.
Nabi Saw. pernah menjawab pertanyaan Aisyah yang tidak pernah benar-benar diajukan dengan lantang tentang mengapa beliau masih menyebut nama Khadijah lama setelah wafatnya, “Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia meringankan bebanku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangi aku, dan Allah mengaruniaiku anak darinya.” (HR. Ahmad, No. 24864).
Itu bukan kenangan yang hidup karena perasaan yang menggebu. Itu rahmah yang sudah mengendap jauh lebih dalam dari perasaan, sesuatu yang tidak bisa habis hanya karena waktu telah berlalu.
Baca juga: Isyarat Al-Qur’an tentang Relasi Silih Asah Asih Asuh antara Suami Istri
Penutup
Bagi kaum yang berpikir bukan sekadar penutup puitis. Ia petunjuk bahwa ayat ini perlu dibaca ulang berkali-kali, di titik-titik yang berbeda dalam perjalanan pernikahan, karena lapisan-lapisan maknanya baru terlihat justru ketika kita sudah benar-benar hidup di dalamnya. Karena Sakinah datang pertama karena tanpa rasa aman yang mendasar, cinta tidak punya tanah untuk berakar. Lalu Mawaddah datang kedua sebagai sesuatu yang turun sampai ke dasar hati. Dan rahmah datang terakhir, bukan karena ia kurang penting, melainkan karena ia yang paling tahan lama dan paling terlihat justru ketika yang lain sedang tidak di puncaknya.
Adapun Wa ja’ala baynakum. Allah yang meletakkan itu di antara kalian, bukan di dalam salah satu dari kalian saja. Tugasnya bukan menciptakannya dari nol, melainkan mengenalinya ketika ia ada, merawatnya ketika ia hadir, dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa ia telah pergi hanya karena sedang tidak terasa. Wallahu a’lam.












