Beranda Tafsir Tematik Ucapan Belasungkawa Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun kok Disingkat IWIR, Berikut...

Ucapan Belasungkawa Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun kok Disingkat IWIR, Berikut Seharusnya!

Dalam bahasa media-sosial terkini, banyak sekali singkatan-singkatan baru. Kalau beberapa tahun yang lalu penulis familiar dengan istilah BTW (by the way) dan OTW (on the way). Kini penulis merasakan banyak sekali istilah yang disingkat, misalnya CMIIW (correct me if i’m wrong) sampai TBL (takut banget loh). Di antara banyaknya singkatan, penulis sangat terusik dengan singkatan IWIR, singkatan ini katanya kepanjangan dari Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun .

Sebelum membahas mengenai makna kalimat tersebut dalam konteks tafsir, penulis ingin menyebut alasan mengapa hal ini perlu dibahas. Semula, penulis menonton sajian Youtube Malam Malam Net. dalam acara Talkpod pada tangga 25 Desember 2021. Dalam acara tesebut hadir Oza Rangkuti, Standup Comedian yang viral karena konten penggunaan bahasa ‘Anak Jaksel’. Pada menit ke-9, Oza menyebut bahwa ia resah karena sebagian pengguna medsos justru menyingkat ucapan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun menjadi IWIR. Oza menyayangkan penggunaan singkatan tersebut karena makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun sesungguhnya dalam. Namun karena istilah tersebut dekat dengan pembahasan keagamaan, Surya sebagai host pun menyebut bahwa mereka tidak memiliki kapasitas untuk membahas hal tersebut. Pembahasan pun beralih.

Untuk melengkapi pembahasan tersebut, maka artikel ini saya tulis.

Baca juga Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 199: 3 Konsep Kesalehan dalam Harmonisasi Sosial

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun itu Kalimat Istirja’

Dalam konteks kalimah thayyibah yang panjang, terdapat istilah tertentu yang digunakan untuk menyingkatnya, hal ini pun biasa disebut sebagai akronim Arab. Misalnya ucapan Alhamdulillah, disebut bacaan tahmid. Kemudian ucapan La ilaha Illallah disebut bacaan tahlil, Astaghfirullahal Adhim disebut bacaan istighfar, dan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun disebut sebagai bacaan istirja’.

Menurut Kamus Lisan al-Arab,  istirja’ ini berasal dari kata raja’a رجع . Kata tersebut bermakna kembali dan menyerahkan diri. Dalam Kamus Al-Ma’ani, kata istarja’a- yastarji’u- istirja’an  ada beberapa makna di antaranya memulihkan dan menerima kembali. Pemaknaan secara bahasa ini pun senada dengan ungkapan yang terdapat dalam Al-Qur’an, bacaan istirja’ ini terdapat pada QS. Al-Baqarah 156.

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦

  1. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

Menurut penafsiran para mufassir, konteks ayat ke-156 ini masih berhubungan dengan ayat sebelumnya yakni ayat ke-155.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥

  1. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

Dari sini setidaknya terdapat dua pembahasan pokok. Pertama, Allah menguji kaum muslimin dengan beragam musibah, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Kedua, kaum muslimin yang menyadari bahwa setiap ujian itu untuk menguatkan mental, melatih kesabaran dan justru meningkatkan keimanan maka akan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Baca juga: Menimbang Urgensitas Antara Adopsi Anak Yatim dan Spirit Doll

Dua pokok pembahasan ini turut diuraikan oleh para mufasir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Sya’rawi, Tafsir Al-Qurthuby, hingga Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia. Namun, salah satu yang patut menjadi perhatian bersama adalah pengucapan bacaan istirja’  di masyarakat umum. Bacaan ini sering kali hanya digunakan untuk berbelasungkawa atau untuk menyebut ketika ada kematian. Padahal, ucapan tersebut digunakan untuk berbagai musibah.

Rasulullah Saw. memberikan contoh lainnya, bahkan dalam konteks musibah yang kecil. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan kisah pada suatu malam. Hadis ini diriwayatkan oleh Ikrimah bahwa suatu malam lampu rumah Rasulullah padam, beliau pun mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Ikrimah bertanya, “Apakah ini musibah, wahai Rasulullah?” Beliau pun menjawab, “Ya! setiap yang menyakitkan kaum muslim adalah musibah.”

Dalam berbagai tafsir, ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun  bukan hanya mengingat bahwa semua yang ada di dunia akan kembali kepada Allah. Akan tetapi, ucapan ini juga mampu mengangkat derajat orang yang mengucapkan. Didi Junaidi, penulis Quranic Interpretation: Meresapi Makna Ayat-Ayat Penggugah Jiwa mengutip Tafsir Al-Maraghi menyebutkan bahwa bacaan istirja’ merupakan manifestasi orang yang sabar. Bahkan istirja’ ini semakin menunjukkan rasa keimanan yang tinggi karena mengimani segala ketetapan (qada) dan takdir (qadar) sepenuh hati.

Baca juga: Tafsir Surah Fussilat Ayat 34: Balas Dendam Terbaik Versi Al-Qur’an

Jangan Lagi Menyingkat IWIR

Dari uraian di atas, disebutkan bahwa kalimat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun sudah memiliki akronim tersendiri yakni istirja’. Akronim ini pun hanya untuk menyebutkan istilah penamaannya saja, namun dalam konteks prakteknya tetap harus disebutkan seutuhnya yakni inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Maka, alangkah baiknya jika kawan-kawan yang menggunakan singkatan IWIR untuk berbelasungkawa agar tidak melakukannya lagi. Karena singkatan tersebut jelas menghilangkan makna asalnya.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Zainal Abidin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di kajian Islam Nusantara Center dan Forum Lingkar Pena. Minat pada kajian manuskrip mushaf al-Quran.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...