Beranda Tafsir Tematik Zuhud yang Sejati

Zuhud yang Sejati

Ketika seseorang menghindari mengonsumsi gula dan memilih buah pare yang pahit, misalnya karena dia seorang pengidap diabetes, maka dia dikatakan sebagai seorang yang zuhud terhadap gula.

Zuhud bukanlah meninggalkan sesuatu dengan landasan ketidaksukaan. Tidak juga dikatakan zuhud jika seseorang meninggalkan sesuatu kemudian lebih memilih yang lebih baik baginya. Namun, mengerti bahwa yang ditinggalkan adalah sesuatu yang tidak berharga dibandingkan dengan yang dipilih adalah pondasi zuhud.

Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Allah menjadikan segala keburukan di dalam suatu rumah dan menjadikan cinta terhadap dunia sebagai kuncinya. Allah menjadikan segala kebaikan di dalam suatu rumah dan menjadikan zuhud terhadap dunia sebagai kuncinya.”

Hanya yang Halal

Berbicara tentang zuhud adalah berbicara tentang dunia yang halal, bukan yang haram atau syubhat. Sebab, zuhud hanya ada pada yang halal saja. Saat dunia datang membawa dua pilihan kepada seseorang, misalnya berkesempatan untuk mendapatkan jabatan atau meninggalkannya, maka saat itulah dia dihadapkan pada dua pilihan. Jika dia meninggalkannya karena khawatir mencintai sesuatu selain Allah dan menyekutukan-Nya atau karena mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah, maka dia telah berzuhud terhadap dunia.

Perumpamaannya seperti seseorang yang dipersilakan memilih es batu atau permata. Jika dia memilih es batu, apalah yang bisa dilakukannya dengan es batu? yang dalam sekejap akan sirna oleh panas matahari. Paling-paling dia bisa memanfaatkannya untuk mengusir dahaga yang segera disusul oleh dahaga berikutnya yang sangat mungkin lebih dahsyat lagi. Jika dia memilih permata, dia bisa meraih lebih banyak hal dengan permata di tangannya, meskipun harus bersabar menahan dahaga beberapa saat lamanya; dan itu tidak akan lama.

Saat Ada dan Tiada

Zuhud yang sejati adalah saat seseorang memiliki. Namun perlu dicatat, saat tidak memiliki pun bisa tidak zuhud. Maksudnya, jika hatinya senantiasa bergantung kepada sesuatu yang tidak dimilikinya itu. Sesuatu itu bisa berupa kekuasaan atau pemerintahan, kedudukan di hadapan penguasa, makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Zuhud juga bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali. Orang yang menduga demikian telah salah paham terhadap zuhud yang sejati.

Zuhud adalah amalan hati yang niscaya termanifestasikan dalam perkataan dan perbuatan. Seseorang yang memiliki sifat ini sangat paham perbedaan nilai akhirat dan nilai dunia. Jika dia zuhud, dia akan mudah memberikan dunia kepada orang lain demi mendapatkan akhirat.

Baca juga: Ketika Alquran Berbicara tentang Miskin dan Kaya

Tiga Tanda

Lebih jelasnya, para ulama menyebutkan tiga pertanda zuhud ada pada diri seseorang. Pertama, tidak bergembira dengan yang ada dan tidak bersedih dengan yang luput. Ini seperri yang difirmankan oleh Allah;

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang (Allah) berikan kepada kamu” (Q.S. Alhadid: 23).

Saat ditanya tentang apakah orang yang kaya bisa zuhud, Imam Ahmad bin Hambal menjawab, “Apabila dia tidak bangga ketika hartanya bertambah dan tidak bersedih jika ia berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud.”

Kedua, saat dia berada di atas kebenaran, pujian maupun celaan tidak akan mempengaruhinya. Seorang yang mengagungkan dunia pastilah memilih pujian dan membenci celaan. Padahal mestinya di hatinya hanya bertahta cintanya kepada kebenaran.

Ketiga, hari-harinya diisi dengan kesabaran dan kesyukuran. Sabar saat ditimpa musibah dan syukur saat mendapatkan nikmat dengan memanfaatkannya untuk berbakti dan taat kepada Allah. Ali bin Abi Thalib bertutur, “Barangsiapa zuhud terhadap dunia, maka segala musibah yang menghampiri akan terasa ringan.

Petunjuk dari Alquran

Disamping memerintahkan zuhud terhadap dunia, Allah juga menjelaskan kepada kita tentang hakikat nilai dunia. Inilah yang akan membuat kita sadar dan mudah menanamkan sifat ini di hati kita. Dunia adalah perangkap yang bisa menjerat dan menjauhkan kita dari iman, ibadah, serta taat kepada Allah, lalu menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan. Karenanya, dalam banyak ayat, Allah mengingatkan kita dari fitnah dunia seperti Allah Swt. mengingatkan kita dari tipu daya setan. Allah berfirman;

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megah di antara kamu, serta berbangga-bangga tentang kebanyakan harta dan anak; seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menjadi kuning dan kemudian menjadi hancur. Di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Alhadid: 20).

Akhirnya, tersisa satu pertanyaan. Setelah mengerti semua ini, mengapa kita masih saja lebih mencintai dunia daripada akhirat? Jawabnya: karena ilmu dan keyakinan kita belum mantap, masih dikuasai syahwat dan setan, atau kita seringkali menunda untuk zuhud di kemudian hari.

Baca juga: Tiga Pola Hidup Minimalis yang Bernilai Qur’ani

Alfathan
Mahasiswa PTIQ Jakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...