Siapa yang sebenarnya menciptakan perbuatan manusia, Allah atau manusia itu sendiri? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sudah diperdebatkan para ulama selama berabad-abad. Dua aliran teologi Islam, Jabariyah dan Qadariyah, punya jawaban yang bertolak belakang. Dan menariknya, keduanya sama-sama merujuk pada satu ayat yang sama untuk membenarkan posisi mereka masing-masing yaitu QS. Ash-Shaffat ayat 96.
وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ ٩٦
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. (Q.S. Ash-Shaffat : 96)
Ayat ini sekilas tampak jelas. Tapi begitu masuk ke ranah teologi, perdebatannya tidak sesederhana terjemahannya. Jabariyah menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa manusia tidak punya kehendak bebas sama sekali, sementara Qadariyah menolak keras pemahaman itu. Lalu bagaimana Al-Qurtubi, mufassir besar dari Andalusia, membaca ayat ini dan memposisikan dirinya di tengah dua kutub tersebut?
Baca Juga: Surah Ash-Shaffat Ayat 96: Apakah Allah Swt Mengatur Seluruh Tindakan Manusia?
Jabariyah: Manusia Hanya Wayang
Jabariyah adalah aliran yang berpandangan bahwa manusia tidak punya andil sama sekali dengan perbuatannya. Semua gerakan, ucapan, bahkan niat manusia sudah di tentukan oleh Allah Manusia ibarat wayang yang di gerakan oleh dalang tampak bergerak tapi sejatinya tidak mempunyai pilihan.
Dalam membaca QS. Ash-Shaffat ayat 96, Jabariyah langsung menangkap frasa “Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” sebagai bukti yang paling nyata: kalau perbuatan manusia juga diciptakan oleh Allah, berarti manusia tidak punya peran apa pun dalam menghasilkan perbuatan itu. Mereka menegaskan bahwa kata مَا تَعْمَلُونَ (apa yang kamu kerjakan) sudah mencakup seluruh perbuatan manusia tanpa terkecuali, dan semuanya adalah ciptaan Allah.
Bagi Jabariyah, kesimpulannya cukup sederhana: kalau Allah yang menciptakan perbuatan manusia, maka manusia tidak bisa disalahkan penuh atas apa yang ia lakukan. Manusia tinggal menjalani apa yang sudah Allah tetapkan sejak awal.
Qadariyah: Manusia Punya Kehendak Bebas
Berbeda jauh, Qadariyah justru berpandangan bahwa manusia punya kemampuan dan kehendak bebas (qadar) untuk memilih dan menciptakan perbuatannya sendiri. Aliran ini yang sering diasosiasikan juga dengan Mu’tazilah dalam beberapa aspeknya menolak gagasan bahwa Allah menciptakan perbuatan buruk manusia, karena menurut mereka, itu sama saja dengan mengatakan Allah tidak adil. (Abdus Shomad, dkk, Aliran Jabariah dan Qodariyah…, 17)
Menghadapi ayat ini, Qadariyah menawarkan pembacaan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa kata مَا dalam frasa وَمَا تَعْمَلُونَ bukan bermakna مَا المَوْصُوْلَة (kata penghubung, “apa yang”), melainkan مَا المَصْدرَِيَّة (kata benda verbal). Sehingga terjemahannya bukan “apa yang kamu perbuat,” melainkan “perbuatan kamu” Artinya, yang dicipta Allah bukan perbuatannya, melainkan manusia itu sendiri beserta kemampuannya untuk berbuat
Dengan kata lain, Allah menciptakan manusia lengkap dengan daya dan kemampuan, tapi perbuatan yang muncul dari kemampuan itu tetap menjadi pilihan dan kreasi manusia sendiri.
Baca Juga: Tinjauan Teologi al-Alusi dalam Tafsir Ruh al-Ma’ani
Bagaimana Al-Qurtubi Membaca Ayat Ini?
Al-Qurtubi, dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, tidak serta-merta memilih salah satu pihak tanpa pertimbangan. Ia mendekati ayat ini dengan cermat, memperhatikan aspek kebahasaan sekaligus konsekuensi teologisnya.
Pertama, Al-Qurtubi membahas perdebatan gramatikal soal kata مَا. Ia mencatat bahwa ulama berbeda pendapat, sebagian membaca مَا sebagai المَوْصُوْلَة (penghubung, artinya “apa yang kamu perbuat”) dan sebagian lain membaca sebagai المَصْدرَِيَّة. Namun, Al-Qurtubi cenderung memahami مَا di sini sebagai المَوْصُوْلةَ yakni bahwa Allah memang menciptakan perbuatan manusia.
Kedua, meski mengakui Allah sebagai pencipta perbuatan, Al-Qurtubi tidak lantas setuju dengan Jabariyah yang menggugurkan kehendak manusia sama sekali. Bagi Al-Qurtubi, penciptaan Allah atas perbuatan manusia tidak berarti manusia kehilangan كَسْب (usaha dan ikhtiar). Perbuatan itu dicipta oleh Allah, namun dilakukan oleh manusia dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan..
Posisi ini sebenarnya lebih dekat ke pandangan Asy’ariyah yang menjadi mainstream Ahlussunnah, di mana perbuatan manusia dicipta Allah (khalq Allah) tapi dinisbatkan kepada manusia melalui usaha dan ikhtiarnya. Sehingga tanggung jawab moral tetap ada di tangan manusia, meski pada hakikatnya Allah yang menjadi pencipta.
Al-Qurtubi Menolak Ekstremisme Dua Aliran
Yang menarik dari pendekatan Al-Qurtubi adalah sikapnya yang menolak kedua ekstrem
sekaligus ‘‘وَفِي هَذَا إبِْطَالُ مَذاَهِبِ الْقَدِرِيَّةِ وَالْجَبْرِيَّة ‘’ (“Dan dalam ayat ini terdapat pembatalan terhadap mazhab Qadariyah dan Jabariyah.” ). Ia tidak setuju dengan Jabariyah yang menjadikan manusia seperti batu tanpa kehendak, tanpa usaha, dan tanpa tanggung jawab. Pemahaman semacam itu, menurut Al-Qurtubi, bertentangan dengan banyak ayat lain yang secara eksplisit memerintah manusia beramal dan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Di sisi lain, ia juga menolak Qadariyah yang terlalu jauh mengklaim bahwa manusia bisa “menciptakan” perbuatannya sendiri secara mandiri tanpa keterlibatan Allah. Bagi Al-Qurtubi, pandangan ini bertentangan dengan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Khaliq (Pencipta). Tidak ada satu pun perbuatan di alam semesta ini yang benar-benar lepas dari kehendak dan penciptaan-Nya.
Dengan memposisikan diri di tengah mengakui penciptaan Allah atas perbuatan sekaligus mempertahankan tanggung jawab manusia Al-Qurtubi menunjukkan bahwa tafsir bukan sekadar soal memilih makna kata, tapi juga menjaga keseimbangan antara tauhid dan keadilan Tuhan.
Baca Juga: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 79: Manusia Bertanggung Jawab Atas Perbuatan Dosa
Masihkah Relevan Sampai Sekarang?
Mungkin kita bertanya: apa relevansinya perdebatan berabad-abad lalu ini dengan kehidupan kita sekarang?
Ternyata cukup banyak. Cara pandang kita soal nasib, usaha, dan tanggung jawab sangat dipengaruhi oleh posisi teologis kita dalam soal ini. Orang yang terlalu “jabariyah” cenderung pasrah dan menyerah pada keadaan, karena merasa semua sudah ditentukan. Sementara yang terlalu “qadariyah” bisa jatuh pada kesombongan, merasa mampu mengatur hidupnya sendiri tanpa bergantung pada Allah.
Pembacaan Al-Qurtubi atas QS. Ash-Shaffat: 96 menawarkan jalan tengah yang lebih sehat secara spiritual: berusaha sepenuh hati (kasb), tapi menyadari bahwa hasil akhir tetap di tangan Allah yang menciptakan segalanya.
Penutup
QS. Ash-Shaffat ayat 96 bukan sekadar persoalan linguistik tentang makna kata مَا . Di baliknya tersimpan pertanyaan besar tentang kebebasan manusia, tanggung jawab moral, dan hubungannya dengan kekuasaan Allah. Al-Qurtubi, dengan kekayaan metodologinya, tidak terjebak dalam pilihan antara Jabariyah dan Qadariyah. Ia memperlihatkan bahwa tafsir yang baik adalah tafsir yang mampu menghormati teks sekaligus menjaga koherensi teologis tanpa mengorbankan salah satu demi yang lain.


![Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 17-18: Topeng Bermuka Dua Orang Munafik Topeng Hati Bermuka Dua](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/06/Screenshot-2026-06-19-at-16.07.26-218x150.png)










![Tadabbur Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28: Menepis Kecemasan Modern ala Said Nursi Tadabbur Q.S. Ar-Ra'd [13]: 28: Menepis Kecemasan Modern ala Said Nursi](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/06/Menepis-kecemasan--218x150.jpg)