BerandaUlumul QuranAda Ayat yang Menegur Nabi Muhammad Bukti Keautentikan Alquran

Ada Ayat yang Menegur Nabi Muhammad Bukti Keautentikan Alquran

Berbicara tentang keautentikan Alquran memang tidak akan ada habisnya. Berbagai macam riwayat hingga kajian ilmiah telah membuktikan bahwa kitab yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. merupakan kitab yang memang asli dan terlepas dari unsur karangan Nabi Muhammad saw. sendiri. Salah satu bukti keautentikan Alquran ialah banyak ditemukan di dalam Alquran ayat-ayat yang mengandung unsur teguran kepada Nabi Muhammad saw.

Beberapa Keraguan Terhadap Alquran

Pada awal-awal dakwah Islam, Nabi Muhammad saw. dituduh oleh kaum kafir Quraisy sebagai penyair. Mereka menganggap bahwa Alquran merupakan karya Nabi Muhammad saw. sendiri (Firdaus Zainal, Alquran dan Manusia Melawan, h. 20). Bahkan tidak hanya sampai di situ, di sekitar abad-17 hingga sekarang masih banyak yang meragukan keautentikan Alquran.

Penelitian Saifullah dalam Jurnal Mudarrisuna yang berjudul Orientalisme dan Implikasi kepada Dunia Islam (h. 180) menyatakan bahwa seorang orientalis bernama George Sale (1697-1736) mengatakan bahwa tidak ada yang bisa membantah jika Alquran adalah produk dan karangan Muhammad. Begitu juga dengan tuduhan Richard Bell yang menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. dalam menyusun Alquran menggunakan sumber yang diambil dari Perjanjian Lama Yahudi.

Teguran Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. dalam Alquran

Secara psikologis, jika Nabi Muhammad saw. merupakan seorang pendusta, maka ia akan cenderung suka menceritakan dan membangga-banggakan dirinya di dalam Alquran. Melalui Alquran itulah kesempatan beliau untuk mengeksplorasi, menceritakan, dan membangga-banggakan diri sebanyak-banyaknya. Namun, secara fakta justru sebaliknya. Berikut akan diuraikan beberapa teguran dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. yang termuat dalam Alquran:

Pertama, saat peristiwa perang Uhud. Teguran Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. berkenaan dengan peristiwa perang Uhud termaktub dalam firman Allah Swt.:

لَيۡسَ لَكَ مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٌ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ أَوۡ يُعَذِّبَهُمۡ فَإِنَّهُمۡ ظَٰلِمُونَ  ١٢٨

Artinya: “Hal itu sama sekali bukan menjadi urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya karena sesungguhnya mereka orang zalim (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 128).

Menurut Jalaluddin al-Suyuti dalam Lubab al-Nuqul fii Asbab al-Nuzul (h. 62), asbabunnuzul ayat ini berkenaan dengan peristiwa perang Uhud. Saat itu umat muslim tergoda untuk mengambil harta rampasan perang dan turun meninggalkan bukti. Alhasil, bukit pun dikuasai oleh kaum kafir dan mereka menyerang umat muslim dari arah belakang.

Baca juga: Alquran di Mata Orientalis Abad Renaisans

Syekh Ramadhan al-Buthi dalam Fiqhus Sirah Nabawiyah ma’a Mujazin li Tarikhil Khilafah ar-Rasyidah (h. 171) mengatakan bahwa setelah umat Islam berhasil dihancurkan, maka kaum kafir mendekati tempat Rasulullah. Mereka melempari Rasulullah saw. dengan batu hingga gigi serinya tanggal dan kepalanya terluka. Darah pun mengucur deras dari wajah beliau. Saat itu gigi Nabi Muhammad saw. patah, wajah beliau terluka hingga darah mengalur di wajah beliau. Lalu, Nabi Muhammad saw. bersabda: “Bagaimana suatu kaum akan memperoleh keberuntungan jika mereka memperlakukan nabi mereka seperti ini. Sedangkan nabi mereka menyeru mereka kepada Tuhan mereka.” Sehingga turunlah ayat ini.

Dalam ayat tersebut terlihat bagaimana geramnya Rasulullah saw. terhadap umat Islam. Bahkan dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib (Juz 8/h. 355) dikatakan bahwa kejadian itu membuat Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah Swt. agar membumihanguskan musuh Islam yang ada dalam perang Uhud. Namun, tiba-tiba Allah Swt. memberikan peringatan bahwa semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt.

Baca juga: “Plagiarisme” Alquran (Bagian 1): dari Hammurabi hingga Hitti

Kedua, sikap Nabi terhadap tawanan perang Badar. Hal ini termuat dalam firman Alah Swt.:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُۥٓ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ يُثۡخِنَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيم  ٦٧

Artinya: “Tidaklah (sepatutnya) bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. al-Anfal [8]: 67).

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan teguran dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. terkait sikap beliau kepada tawanan. Saat itu Nabi Muhammad saw. sedang bermusyawarah kepada para sahabat mengenai tindakan apa yang diambil terhadap tawanan tersebut. Umar bin Khattab mengusulkan untuk membunuh mereka. Nabi Muhammad saw. langsung berpaling dari Umar. Kemudian, sahabat Abu Bakar juga mengusulkan agar tawanan tersebut dimaafkan dan umat Islam bisa mengambil uang tebusan. Dan pada akhirnya Nabi saw. setuju dengan pendapat Abu Bakar, sehingga turunlah ayat ini.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (Jilid 5/h. 502) menyebut bahwa teguran Allah Swt. dalam ayat ini terkait dengan perintah Allah Swt. agar bersikap tegas terhadap tawanan perang. Bahkan setelah kejadian itu Nabi Muhammad saw. mendatangi Umar dan berkata “Hampir saja kami ditimpa musibah karena menyelisihi pendapatmu wahai Umar.”

Baca juga: Kisah Rasulullah Saw. Bermuka Masam dalam Surah ‘Abasa

Ketiga, saat Nabi saw. bermuka masam. Allah Swt. berfirman:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ  ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ  ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ  ٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ  ٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ  ٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ  ٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ  ٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ  ٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ  ٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ  ١٠ كَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَة  ١١ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ  ١٢

Artinya: Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran Allah) itu suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya (Q.S. ‘Abasa [80]: 1-12)

Dalam Mu’jizatul Qur’an karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa suatu ketika Nabi sedang menjelaskan Islam kepada pemuka Quraisy datanglah seorang buta yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum sambil bersuara keras, “Muhammad, Muhammad, ajarkan aku sebagian yang diajarkan Tuhanmu.” Karena merasa terganggu dan tidak sopan, akhirnya muka Nabi menjadi masam dan nampak tidak menghiraukan orang buta tersebut. Sehingga turunlah ayat ini.

Penutup

Demikian sedikit ulasan tentang bukti keautentikan Alquran melalui teguran Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. Ayat-ayat teguran di atas merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad saw. bukanlah pengarang Alquran. Karena akan sangat aneh dan tidak masuk akal jika seorang pembuat karya mengkritik dirinya sendiri dalam karya yang ia buat. Wallahu a’lam.

Ahmad Riyadh Maulidi
Ahmad Riyadh Maulidi
Mahasiswa S2 UIN Antasari Banjarmasin
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Kepemimpinan Berdasarkan Sila Kelima Pancasila

0
Dalam Pancasila terdapat nilai-nilai yang dapat menginspirasi terkait konsep kepemimpinan yang sesuai dengan semestinya, yakni sila yang kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat  Indonesia”....