Beranda Khazanah Al-Quran Tradisi Al-Quran Alquran di Mata Orientalis Abad Renaisans

Alquran di Mata Orientalis Abad Renaisans

Sejarah awal pemahaman Islam di Eropa dapat dilacak melalui kajian Alquran di abad Renaisans, yaitu suatu periode yang ditandai dengan adanya perkembangan yang sangat pesat dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Abad Renaisans juga merupakan periode ketika Eropa mulai terbuka terhadap dunia luar, termasuk dunia Islam. Para orientalis mulai mempelajari dan menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa-bahasa Eropa.

Pada awalnya, orientalis Eropa memiliki pandangan yang sangat negatif tentang Islam dan Alquran (Yusuf Hanafi, Qur’anic Studies dalam Lintasan Sejarah Orientalisme dan Islamologi Barat, 240). Mereka melihat Islam sebagai agama yang primitif dan Alquran sebagai kitab suci yang tidak memiliki nilai historis dan filsafat.

Orientalisme juga memandang Timur (termasuk Islam) sebagai sesuatu yang eksotis dan inferior dibandingkan dengan Barat. Namun, pandangan ini mulai berubah pada abad ke-16, ketika orientalis seperti Theodor Bibliander mulai mempelajari dan menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Latin dan Inggris pada tahun 1543 Masehi.

Baca Juga: Rekomendasi Terjemah Alquran dalam Bahasa Inggris

Terjemahan Alquran tersebut diberi judul “Machumetis, Saracenorum Principis, Eiusque Successorum Vitae, ac Doctrina, Ipseque Alcoran, Que Valent Ausentico Legum Divinarum Codice Agareni et Turcae,” yang berarti “Kehidupan, ajaran, dan Alquran dari Muhammad, pemimpin orang Arab dan para penggantinya, yang memegang Alquran sebagai naskah otentik dari hukum-hukum ilahi orang Arab dan Turki.” Karya tersebut juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1560-an oleh John Calvin dengan judul “The Koran of Muhammad from the Arabic, with Notes, and a Preliminary Discourse.”

Bibliander bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kehidupan dan ajaran dari Nabi Muhammad saw. dan para penggantinya. (Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Alquran, 30) Dalam judul tersebut, Bibliander menyebut Nabi Muhammad saw. sebagai “Saracenorum Principis” yang berarti “pemimpin orang Arab” dan para penggantinya sebagai “Eiusque Successorum” yang berarti “pengganti-penggantinya”.

Hal ini menunjukkan bahwa Bibliander mengakui pentingnya peran Nabi Muhammad dan para penggantinya dalam sejarah Islam dan ia memahami bahwa Alquran adalah naskah otentik dari hukum-hukum ilahi orang Arab dan Turki.

Selain itu, dengan menyebut Alquran sebagai “Ausentico Legum Divinarum Codice Agareni et Turcae” yang berarti “naskah otentik dari hukum-hukum ilahi orang Arab dan Turki”, Bibliander juga menunjukkan penghargaannya terhadap pentingnya Alquran dalam ajaran Islam dan kehidupan umat Muslim. Bibliander menyebut “Arab dan Turki,” karena pada masa itu, wilayah yang saat ini dikenal sebagai Timur Tengah dan beberapa bagian Eropa, Asia Tengah, dan Afrika Utara dikuasai oleh Kekaisaran Utsmaniyah (Turki Utsmani). Turki Utsmani adalah salah satu kekuatan besar pada masa itu dan memimpin dunia Muslim.

Judul tersebut memberikan gambaran yang cukup jelas tentang tujuan dari terjemahan Alquran yang dilakukan oleh Bibliander, yaitu untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan, ajaran, dan naskah otentik dari hukum-hukum Tuhan yang termaktub dalam kitab suci Alquran.

Dengan demikian, karya tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam pemahaman Islam di Barat dan menjadi sumber rujukan bagi para sarjana Barat selama berabad-abad dan membuka jalan bagi para sarjana Barat untuk memahami agama dan budaya Islam secara lebih akurat dan obyektif. Perkembangan ini juga membuka jalan bagi dialog antara Islam dan Eropa.

Pada awal abad ke-17, seorang sarjana Inggris bernama George Sale juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris (Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Alquran, 417). Terjemahan Alquran yang dilakukannya diterbitkan pada tahun 1734 dengan judul “The Koran, Commonly Called the Alcoran of Mohammed.” Terjemahan ini juga disertai dengan catatan dan penjelasan yang membantu memperjelas makna dan konteks dari ayat-ayat Alquran.

Pada masa itu, terjemahan Alquran oleh George Sale menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Barat dan banyak digunakan sebagai sumber referensi dalam mempelajari ajaran Islam. Terjemahan ini juga membantu meningkatkan pemahaman tentang Islam di kalangan masyarakat Barat pada masa itu.

Karya Sale juga menjadi terkenal karena keterangannya yang lengkap dan terperinci mengenai konteks sejarah dan budaya di balik setiap ayat Alquran. Namun, karyanya tersebut oleh sebagian ilmuan dianggap mengandung pandangan negatif tentang Islam yang berkembang pada masa itu. Dia menganggap bahwa Islam dan Alquran adalah agama yang berbahaya, karena di dalamnya mengandung ajaran tentang kekerasan, seperti perintah jihad, perang dan sebagainya.

Meskipun demikian, kita harus memahami bahwa pandangan Sale harus dilihat dalam konteks sejarah dan budaya pada masa itu. Pandangan negatif terhadap Islam dan Alquran pada masa itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti persaingan politik dan agama antara Barat dan Timur, Perang Salib, dan sebagainya. Persaingan politik dan agama antara Barat dan Timur tersebut menjadi faktor penting dalam pembentukan pandangan negatif tentang Islam dan Alquran. Persaingan ini sering kali mengarah pada konflik dengan negara-negara Muslim di Timur.

Namun, meskipun faktor-faktor ini mempengaruhi pandangan negatif tentang Islam dan Alquran pada masa Renaisans, kajian Alquran pada masa itu tetap memberikan kontribusi besar dalam pemahaman Islam di Barat. Bagi para sarjana Barat, Alquran tidak hanya menjadi kitab suci umat Islam, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan tentang agama dan budaya Islam.

Baca Juga: Perdebatan Orientalis tentang Historisitas Alquran

Kesimpulan

Dari artikel ini dapat disimpulkan bahwa pada abad Renaisans, terjadi perubahan dalam cara pandang masyarakat Eropa terhadap Islam. Awalnya, Islam dianggap sebagai agama yang menakutkan oleh masyarakat Eropa. Namun, pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, muncul upaya untuk mempelajari dan memahami ajaran Islam secara lebih mendalam.

Selain itu, sebagai peneliti dan cendekiawan Muslim, kita juga memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki pemahaman orang lain tentang Islam dan Alquran. Kita dapat melakukan ini dengan memberikan penjelasan yang akurat dan obyektif tentang agama dan budaya Islam, serta memperkenalkan nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Dengan cara ini, kita dapat memperkuat relasi dan dialog antara Islam dan Barat.

ARTIKEL TERKAIT

- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Flexing Culture

Sikap Alquran Terhadap Flexing Culture

0
Di tengah kenyataan sosial media kita hari ini muncul kosa kata “flexing” sebagai subkultur baru yang tumbuh di era media informasi digital. Menurut later.com,...