Beranda Kisah Al Quran Kisah Rasulullah Saw. Bermuka Masam dalam Surah 'Abasa

Kisah Rasulullah Saw. Bermuka Masam dalam Surah ‘Abasa

Kisah Rasulullah bermuka masam, sepatutnya harus dipahami secara menyeluruh. Hal tersebut bertujuan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dibalik sikap Rasulullah Saw.yang mendapat teguran dari Allah Swt. Sebab, jika dikaji lebih lanjut, kisah ini justru semakin memunculkan kemuliaan akhlak yang terpatri dalam kepribadian Rasulullah Saw. Beliau tak segan menyampaikan kisah ini kepada umatnya meski dalam keadaan beliau ditegur oleh Allah Swt.

Di sisi lain, hikmah surah ‘Abasa menunjukan sisi manusia biasa yang ada pada diri Rasulullah Saw. yang bisa keliru, namun kekeliruannya tentu tidak akan dibiarkan dan senantiasa ditegur oleh Allah Swt. Meski pada hakikatnya, Rasululllah adalah seorang yang maksum. Namun, adakalanya ijtihad beliau bisa keliru, sehingga turunlah wahyu yang meluruskan ijtihad beliau tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surah Abasa Ayat 1-10: Kesamaan dalam Islam Menurut Wahbah Al-Zuhaili

Kronologi Rasulullah Saw. Bermuka Masam

Kisah ini tidak sepatutnya didengar secara sepintas, bahwa Rasulullah pernah bermuka masam, sama seperti manusia pada umumnya, yang menunjukan bahwa beliau adalah manusia biasa, dan setelah itu selesai. Pemahaman semacam ini perlu diberi tambahan pengetahuan, sebab baru melihat kisah dari luar dan cangkangnya, belum sampai menelusuri aspek historisnya dengan baik.

Yang menjadi alasan mengapa Rasulullah Saw. bermuka masam adalah sebagaimana dikatakan dalam surah ‘Abasa [80]: 2;

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى

Karena seorang buta telah datang (kepadanya)

Para mufasir sepakat bahwa kisah ini berkenaan dengan seorang yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Di dalam Tafsir ath-Thabari diceritakan bahwa ketika itu Rasulullah Saw. sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Mengambil langkah dengan cari mendakwahi para pemuka kaum adalah sebagai bagian dari strategi dakwah, karena mereka adalah kuncinya. Bila mereka sampai masuk Islam, maka para pengikutnya pun akan melakukan hal yang sama.

Saat Rasulullah Saw. sedang fokus berdakwah itulah, Abdullah bin Ummi Maktum memotong pembicaraan seraya berkata “arsyidni”. Ia meminta agar Rasulullah Saw. memberinya petunjuk. Konsentrasi Rasulullah Saw. yang dipotong itulah yang membuat beliau bermuka masam dan berpaling. (Ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, 24/102).

Baca Juga: Haruskah Selalu Bersikap Kasar dan Keras Terhadap Orang Kafir dan Munafik? Tafsir Surah At-Taubah Ayat 73

Jika harus digambarkan, Rasulullah Saw. sedang berada di situasi momentum emas untuk mendakwahi pembesar Quraisy. Jika Langkah tersebut berhasil, maka akan berdampak pada banyaknya yang akan masuk Islam. Namun, momentum itu harus terganggu dengan kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum, sehingga Rasulullah Saw. pun merasa kesal.

Mengajari Abdullah bin Ummi Maktum dapat dilakukan di lain waktu, sebab yang menjadi prioritas Rasulullah Saw. saat itu adalah para pembesar Quraisy. Rupanya, ijtihad beliau keliru. Kemudian, turunlah surah ‘Abasa yang menyampaikan teguran sekaligus pencerahan, bahwasanya seorang buta itulah yang justru lebih berhak mendapatkan ilmu dari pada para pembesar Quraisy yang sombong. Ekspektasi Rasul terhadap pembesar Quraisy pada akhirnya mendapat teguran dari Allah, bahwa tidaklah berdosa jika mendakwahi mereka, namun mereka tetap kafir, karena hidayah adalah urusan Allah Swt. Allah pun memberi tahu Rasulullah Saw. bahwa tidak perlu melakukan pendekatan pada kaum kafir yang sombong dan angkuh.

Justru Abdullah bin Ummi Maktum perlu dijadikan perhatian Rasul, dengan sebab wa amma man jaaka yas’a, yakni kedatangannya dengan usaha dan semangat menuntut ilmu serta wa huwa yakhsa, yakni penuh rasa takut kepada Allah. Sifat-sifat mulia ini dimiliki Abdullah bin Ummi Maktum, hingga Rasul pun diberi teguran oleh Allah karena tidak memperhatikannya.

Di sisi lain, Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan buta, sehingga menjadi sebuah permakluman ketika ia tidak mengetahui bahwa Rasulullah sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah memotong pembicaraan.

Baca Juga: Prinsip Humanisme dan Wacana Disabilitas dalam al-Quran

Rasulullah Saw. Memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum

Semenjak kejadian itu, di dalam Tafsir al-Baghawi diceritakan bahwa setiap kali Rasul berjumpa dengan Abdullah bin Ummi Maktum, maka Rasul senantiasa memyambutnya seraya mengatakan:

مَرْحَبًا بِمَنْ عَاتَبَنِي فِيهِ رَبِّي

Selamat datang wahai orang yang Rabbku menegurku karenanya

Tak lupa Rasul pun senantiasa menanyakan keperluannya. (Tafsir al-Baghawi, 8/332).

Dalam konteks ketika ditegur, itu artinya memang Rasulullah keliru, sehingga Allah meluruskannya. Allah berfirman:

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan”

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini untuk menyamakan antara pembesar maupun yang miskin dalam hal penyampaian ilmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/322). Dengan kata lain, hikmah dari kisah ini adalah agar tidak pandang bulu dalam hal objek dakwah.

Tersampaikannya ayat ini menunjukan betapa Rasulullah Saw. adalah seorang yang amanah. Surah ‘Abasa yang hanya turun di hadapan Rasul seorang, dan seseorang membuatnya ditegur adalah seorang yang buta sehingga tidak mengetahui jika Rasul bermuka masam, sangat mungkin bagi Rasulullah untuk menyembunyikan ini. Namun, yang dilakukan Rasul adalah tetap amanah menyampaikan wahyu, meski berisi teguran untuknya.

Sejarah mencatat betapa Rasulullah amat sangat memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Di antaranya sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Abdullah bin Ummi Maktum dipercaya Rasul menjadi kepala Madinah selama Rasulullah Saw. meninggalkan kota tersebut karena ada dua kali peperangan, padahal ia dalam keadaan buta. Sebab inilah yang menjadi salah satu bentuk penghargaan dan pemuliaan Rasul Saw. kepadanya. (Tafsir al-Baghawi, 8/332)

Itulah yang menyebabkan pentingnya memahami kisah ini secara utuh, agar tidak hanya fokus pada diksi manusia biasa yang disematkan kepada Rasul, serta memahami motif bermuka masam yang bukan karena keburukan akhlak beliau, melainkan karena ijtihadnya yang keliru. Tidak cukup sampai di situ, Rasul pun tetap amanah menyampaikan wahyu meski menyangkut teguran untuk dirinya, bahkan Rasulullah justru senantiasa memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum dan senantiasa memperhatikannya, meski seorang buta tersebut pernah menjadi alasan Allah menegurnya.

Hal yang juga perlu dicatat adalah agar tidak pandang bulu dalam berdakwah. Sebab kisah ini bisa memberikan pelajaran, bahwa yang kaya terkadang tidak menerima dakwah karena kesombongannya, dan yang miskin justru yang semangat menerima dakwah. Sehingga, dapat menjadi perantara pahala yang mengalir karena ilmu disampaikan bermanfaat dan diamalkan.

Wallahu a’lam.

Shopiah Syafaatunnisa
Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Jalaluddin Rumi: seni mengatasi patah hati

Jalaluddin Rumi: Seni Mengatasi Patah Hati

0
Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar abad ke-13 dan juga seorang darwis yang namanya sangat terkenal bukan hanya di kalangan umat muslim, namun juga...