Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ahkam Alasan dan Cara Memperingati Maulid Nabi

Alasan dan Cara Memperingati Maulid Nabi

Bulan Rabiulawal sebentar lagi datang. Itu berarti masyarakat Muslim Indonesia akan memperingati maulid Nabi dengan kekhasan budaya masing-masing. Budaya Indonesia yang majemuk menghadirkan berbagi peringatan maulid Nabi sesuai tradisi warga setempat. Masyarakat Minang misalnya, ketika maulid Nabi memiliki tradisi Bungo Lado. Orang Madura memiliki tradisi Muludhen. Warga Kudus mempunyai tradisi Kirap Ampyang. Dan lain sebagainya.

Tradisi tersebut merupakan pewujudan syukur mereka kepada Allah Swt. atas kelahiran manusia paling mulia di muka bumi ini. Entah apapun masyarakat menyebut tradisi maulid Nabi, namun ada tata cara yang sudah ditentukan oleh ulama dalam memperingatinya. Ketentuan tersebut bertujuan agar umat Islam tidak sampai melewati batas, sehingga tidak sampai melakukan perbuatan makruh atau haram.

Maulid Nabi bukan perbuatan sesat

Sebelum kita bahas lebih lanjut soal tata cara maulid Nabi, penulis ingin paparkan bahwa maulid Nabi adalah perbuatan yang baik dan dibenarkan oleh agama.   Meskipun tidak dapat dipungkiri, sebagian golongan berpendapat bahwa maulid Nabi termasuk bid’ah yang tidak memiliki dasar dalam nas.

Pernyataan tersebut bisa terbantahkan oleh dalil-dalil para ulama ahlusunnah waljamaah. Majlis Ulama Indonesia (MUI) sudah memfatwakan, maulid Nabi adalah perbuatan yang baik, boleh dilakukan, tidak termasuk bidah dhalalah (mengada-ada yang bernilai negatif) namun bid’ah hasanah (mengada-ada yang bernilai positif).

Banyak dalil yang menjadi dasar peringatan maulid Nabi, baik dari Alquran maupun hadis. Mislanya dalam Q.S. Ibrahim [14] ayat 5. Allah Swt. berfirman:

‌ وَذَكِّرۡهُمۡ بِاَيّٰٮمِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لّـِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوۡرٍ

“Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

Menurut Sayyid Quthb, yang dimaksud “hari-hari Allah” di sini adalah hari Allah menurukan nikmat yang agung dan siksaan-siksaannya yang ditimpakan kepada umat terdahulu. Salah satu nikmat yang agung adalah kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Dalam hadis riwayat Muslim, Abu Qatadah al-Anshari pernah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. ditanyai mengenai kebiasaan berpuasa di hari Senin. Rasulullah Saw. pun bersabda “Di hari Senin-lah aku dilahirkan dan di hari Senin-lah Alquran diturunkan kepadaku.”

Baca juga: Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

Sejarah mencatat bahwa maulid Nabi dirayakan secara meriah sudah dilakukan sejak zaman Dinasti Abbasyiah. Menurut Quraish Shihab, maulid Nabi dirayakan tepatnya pada masa Khalifah Hakim Billah, dengan tujuan untuk memperkenalkan Nabi Muhammad Saw. kepada setiap generasi. Alasan mereka “kenal adalah pintu untuk mencintai.” Sehingga dengan adanya maulid Nabi, Umat Islam bisa mengenal lebih dekat siapa Muhammad Saw. dan bisa mencintainya. Maka tidak ada sanggahan sesat secara logis soal memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Jadi sah-sah saja tujuan memperingati maulid Nabi dengan memeriahkanya meskipun disesuaikan dengan tradisi masing-masing. Sebab tujuanya bagus yakni syukur kepada Allah serta memperkenalkan Nabinya kepada seluruh umat.

Namun, terdapat batasan-batasan tertentu dalam peringatan tersebut. Jangan sampai saking meriahnya maulid Nabi sehingga lalai tujuan utama. Bahkan, sampai melanggar ketentuan syariat yang dibawa Rasulullah Saw.

Cara memperingati maulid Nabi

Imam al-Suyuti dalam al-Hawi li al-Fatawi, mengutip penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwa memperingati maulid Nabi bisa dilakukan dengan berbagi cara sebagai ekspresi kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Menurut Ibnu Hajar, diantara ekspresi kebahagiaan atas kelahiran Nabi adalah dengan membaca Alquran, memberi makan, memperbanyak sedekah, dan membaca selawat sebagai pujian kepada Rasulullah Saw.

Kegiatan-kegiatan tersebut disinyalir dapat mendorong hati untuk lebih giat melakukan kebaikan sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya tokoh perubah peradaban. Memperbanyak membaca Alquran merupakan tanda pelestarian wahyu yang dibawa baginda Nabi. Memberi makan kepada fakir miskin merupakan bentuk kebiasaan Nabi yang cinta kepada fakir miskin. Sedekah juga merupakan anjuran yang ditekankan Nabi, serta membaca selawat menjadi implementasi ungkapan rasa cinta kepadanya.

Baca juga: Ketika Allah Menyeru Rasulullah di dalam Al-Qur’an

Lebih lanjut, bagian dari ekspresi kebahagiaan atas kelahiran Nabi adalah dengan pesta makanan dan gurauan sekadarnya, selama tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Di lain sisi, kita tidak diperkenankan mengekspresikan maulid Nabi dengan cara berlebihan, yakni melakukan perbuatan makruh, khilaful aula (sebaiknya tidak dilakukan), bahkan haram. Ibnu Hajar al-Atsqalani berkata “Perbuatan yang haram atau makruh dalam maulid Nabi, hendaknya dicegah. Demikian pula perbuatan khilaful aula (sebaiknya tidak dilakukan) atau yang tidak sesuai dengan kenyataan. (Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 1, hal. 282). ‘

Alasan maulid harus diperingati

Meskipun sebagian golongan Muslim anti maulid Nabi dengan alasan tidak ada dalil yang riil dalam Alquran maupun hadis, kita sebagai umat yang merayakan maulid Nabi tidak kurang bukti atau dalil untuk memperingatinya.

Menurut Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitabnya Syarh Maulid al-Dibai ada beberapa argumentasi yang menjadi landasan mengapa kita harus merayakan maulid Nabi. Pertama ada kemanfaatan baik dunia maupun akhirat bagi mereka yang merayakan maulid Nabi. Menurut al-Maliki, Abu Lahab, seorang yang tidak tidak beriman kepada Nabi saja diringankan siksaannya di neraka setiap hari Senin, sebab pernah bergembira atas kelahiran Nabi Saw., dengan memerdekakan budaknya yang beranama Tsuwaibah. Lalu bagaiamana bisa, kita selaku umat yang beriman kepadanya tidak ikut gembira atas kelahiran baginda Nabi.

Kedua, Nabi Muhammad memperbanyak puasa Senin sebagai bentuk rasa syukur atas hari kelahirannya. Tentu kita sebagai umatnya harus merasa gembira dan syukur atas kelahiranya.

Ketiga, Allah memerintahkan untuk bahagia karena rahmat dan pertolongan yang Allah berikan. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Yunus [10] ayat 58, yang berarti Katakanlah Muhammad, dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah mereka gembira. Rahmat terbesar yang Allah berikan kepada hambaNya adalah kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Memahami Istilah Bidah dalam Diskursus Para Ulama Tafsir Masa Lalu

Keempat, dalam peringatan maulid Nabi, tidak terlepas dari membaca selawat serta mengenalkan kisah-kisah Nabi Muhammad kepada para hadirin. Hal tersebut merupakan anjuran Allah yang tertuang dalam Q.S. Al-Ahzab [33] ayat 56.

Kelima, maulid Nabi adalah bid’ah hasanah (bidah positif), yang telah diajarkan turun temurun oleh umat Islam. Para ulama melandasi bid’ah hasanah lewat nasihat Abdullah bin Mas’ud:

“Perakara yang dilihat Umat Islam sebagai perkara yang baik maka perkara tersebut dinilai baik di sisi Allah, dan perkara yang dilihat Umat Islam sebagai perkara yang buruk maka perkara tersebut buruk disisi Allah.” (H.R. Ahmad)

Selamat merayakan maulid Nabi Saw. 1443 H! Semoga kita mendapat syafaatnya kelak di akhirat. Amin.

Abdullah Rafi
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Zikir bagi pelajar

Tafsir Tarbawi: Tiga Zikir yang Harus Diamalkan oleh Pelajar

0
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati,” demikianlah sabda...