Beranda Tafsir Tematik Beginilah Seharusnya Memaknai Bacaan Bismillah

Beginilah Seharusnya Memaknai Bacaan Bismillah

Sebagai ayat pertama dari Surat Al-Fatihah, bismillah adalah ayat Al-Quran yang bisa jadi yang paling sering dibaca oleh setiap orang muslim. Bagaimana tidak, bismillah adalah bacaan yang diajarkan kepada umat muslim untuk dibaca setiap hendak melakukan hal baik. Hal ini diketahui secara umum. Maka mulai sejak masih usia balita bahkan, tradisi mengajari anak untuk membaca basmallah sebelum makan maupun minum, sudah ada.

Sayangnya, menjadikan bismillah sebagai bagian rutinitas sehari-hari, seakan mendangkalkan perhatian pembacanya terhadap makna basmalah. Bismillah hanya difahami sekedar sesuatu yang penting dibaca saja. Bukan dihadirkan maknanya dalam setiap hal yang diawali bacaan basmalah.

Adapula yang hanya sekedar mengerti bahwa makna dari bismillah adalah “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Namun dengan mengetahui makna tersebut, ia kebingungan apa tindak lanjutnya terhadap makna itu. Misalnya, bukankah makna “dengan menyebut” menunjukkan kata tersebut dalam tata bahasa adalah kata keterangan, atau lebih tepatnya keterangan alat. Lalu bagaimanakah seharusnya kita memaknai bacaan bismillah?

Baca juga: Mengaji ‘Bismillah’ [1], tuntunan Allah yang mentradisi di kalangan para Nabi

Membangun Komunikasi dengan Allah

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, dalam bismillah ada kata kerja yang disamarkan. Kata kerja ini berbeda-beda bergantung dengan pekerjaan yang hendak dilakukan dengan diawali basmallah. Minum dengan bismillah berarti menunjukkan makna basmalahnya adalah: “Aku minum dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bekerja dengan basmallah berarti menunjukkan makna bismillahnya adalah: “Aku bekerja dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Tafsir Ibn Katsir/1/121).

Makna-makna ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang hendak dilakukan dan disertai basmallah di depannya, dikaitkan dengan nama Allah. Keterkaitan ini, menurut Ibn Katsir, berbentuk tabaruk (berharap memperoleh kebaikan) serta isti’anah (meminta pertolongan kepada allah) agar perkerjaan yang dilakukan dapat sempurna dan diterima oleh Allah (Tafsir Ibn Katsir/1/121).

Baca juga: Tafsir Bismillah (2): Permulaan dari Banyak Doa

Memandang keterkaitan ini, minum dengan basmallah semisal, menunjukkan makna basmalahnya adalah: “Aku minum dan berharap bertambahnya kebaikan dalam minumanku atau tindakan minumku. Atau, aku minum dan berharap semoga air yang aku minum atau tindakan minumku memperoleh kesempurnaan berupa memberi kesegaran serta kesehatan pada tubuh, serta diterima Allah sebagai amal ibadah. Semuanya berkat kekuasaan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Menyadari Segala Sifat Allah dalam Setiap Tindakan

Keberadaan tabaruk dan isti’anah di sini bila difahami secara mendalam, berarti hendak membangun komunikasi antara apa yang kita kerjakan dengan Allah sebagai tuhan. Komunikasi tersebut berupa menghadirkan keberadaan Tuhan dalam hati, diantara berjubalnya pikiran dengan apa yang hendak ia lakukan. Semisal hendak makan, maka basmallah menghadirkan Allah diantara pikiran-pikiran semacam hendak beli bahan makanan dimana? hendak memasak apa? hendak makan dengan siapa? serta ide-ide lain yang biasa terlintas di pikiran manusia tatkala makan.

Baca juga: Mengapa Surat At-Taubah Tanpa Basmalah? Begini Penjelasannya Dalam Tafsir Al-Mishbah

Imam Ar-Razi menjelaskan, memperdengarkan basmallah pada diri menghadirkan kesadaran pada akal, bahwa manusia dalam menjauhi larangan Allah serta melaksanakan perintah-Nya semuanya memperoleh kekuatan dari Allah (Tafsir Mafatihul Ghaib/1/185). Artinya, manusia menjadi sadar bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kemampuan apa. Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki manusia adalah pemberian dari Allah. Ini sama saja menghadirkan adanya sifat Allah dalam pekerjaan yang dilakukan. Kesadaran tersebut dapat dibagi dalam beberapa tahap.

Di tahap pertama, Allah bersifat kuasa dan Maha Memberi Rizki dalam memberi kita kesempatan melakukan  pekerjaan  minum semisal, disaat ada orang lain yang tidak bisa minum sebab tidak memiliki air, atau sakit sehingga tidak bisa menggerakkan bibir atau tangan untuk minum. Di tahap kedua Allah bersifat kuasa dalam memberi kita kesempatan menyelesaikan pekerjaan kita, di saat ada orang yang diberi kesempatan mengolahnya sawahnya semisal, tapi harus berhenti di tengah-tengah sebab ia jatuh sakit. Di tahap ketiga, Allah bersifat kuasa dalam menentukan apakah pekerjaan kita membuahkan hasil atau tidak.

Kesadaran-kesadaran tersebut mendorong kita untuk bersyukur kepada Allah pada setiap detail kesempatan yang diberikan Allah kepada kita. Di sisi lain, karena berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan bergantung kehendak Allah, hal ini mengajarkan untuk tidak putus asa atau bahkan frustasi terhadap setiap kegagalan. Terlebih saat menyadari bahwa Allah maha memberi rizki dan jalan rizki-Nya tidak hanya lewat pekerjaan yang saat itu ia lakukan saja. Namun bisa lewat jalan lain, atau rupa lain yang berbeda dari yang sebelumnya kita bayangkan. Wallahu A’lam

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...