Beranda Kisah Al Quran Empat Model Pasangan Keluarga dalam Alquran

Empat Model Pasangan Keluarga dalam Alquran

Hamzah Ya’qub dalam bukunya, Etika Islam (hal. 146), menyebut bahwa keluarga adalah persekutuan hidup yang didasarkan dari perkawinan yang sah. Suami dan istri berperan sebagai orang tua dari anak-anak yang mereka lahirkan.

Di dalam Alquran, istilah “keluarga” menurut Ahmad al-Shawi al-Maliki dalam Hasyiah Al-Alamat Al-Shawi disebutkan dengan tiga lafaz, yakni; اَهْل (ahl) yang bisa bermakna keluarga senasab atau keluarga seagama, قُرْبَى (qurba) yang bermakna hubungan kekerabatan, baik yang termasuk ahli waris maupun tidak, dan عَشِيْرَة (‘asyirah) yang bermakna keluarga seketurunan yang berjumlah banyak.

Sebagai pedoman hidup sepanjang zaman bagi seluruh umat, Alquran sudah memberi gambaran mengenai model-model keluarga yang mungkin terbentuk dalam pernikahan. Berikut keempat model tersebut:

  1. Suami-istri sama-sama baik

Keluarga model pertama ini merupakan keluarga yang suami dan istrinya merupakan manusia yang sama-sama taat kepada Allah Swt. Keluarga yang termasuk dalam model ini adalah keluarga Nabi Ibrahim.

Disebutkan dalam Tafsir Al-Misbah (I/hal. 317) bahwa Nabi Ibrahim diberi gelar khalilullah (kekasih Allah Swt). Ia menikah dengan istri-istri salihah; Siti Hajar, Siti Sarah, dan Qanthura’. Dari keluarga inilah yang nantinya melahirkan para nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. yang lahir dari keturunan Nabi Ismail (anak Nabi Ibrahim).

Mengenai ketaatan keluarga Nabi Ibrahim, Allah Swt. berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Q.S. Assaffat [37]: 102).

Ketaatan Nabi Ismail kepada perintah Allah Swt. tentu tidak lepas dari peran pendidikan yang dilakukan oleh ibunya. Sebab, bagaimana pun juga, peran ibu sangat penting dalam pendidikan keluarga. Berkaitan dengan pentingnya peran ibu, dalam sebuah hadis riwayat Aisyah, Nabi Muhammad saw. bersabda; “Pilihlah (rahim) untuk sperma kalian, sebab kaum wanita akan melahirkan (anak) seperti saudara laki-laki atau saudara perempuan mereka (H.R. Ibnu Asakir).

  1. Suami taat, istri durhaka

Model kedua dari keluarga ini merupakan gambaran dari keluarga Nabi Nuh. Walaupun Nabi Nuh berstatus sebagai utusan Allah Swt., namun tidak menjamin dia terhindar dari perilaku membangkang istrinya.

Menurut Tafsir Al-Baghawi (7/122), istri Nabi Nuh bernama Wailah. Dia adalah sosok yang selalu menggagalkan pergerakan dakwah suaminya. Dia juga meyakinkan kaum kafir bahwa apa yang dikatakan suaminya hanyalah bualan belaka. Bahkan, Wailah adalah manusia yang pertama kali berpaling dari dakwah Nabi Nuh. Allah Swt. berfirman:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Artinya: Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir; istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dikatakan (kepada kedua istri itu); “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (Q.S. Attahrim [66]: 10).

Kisah ini bukan berarti menggambarkan kegagalan pendidikan keluarga yang dilakukan oleh Nabi Nuh. Tetapi ditujukan sebagai pembelajaran bagi setiap muslim bahwa perkara hidayah merupakan urusan Allah Swt.

Baca juga: Tafsir Surah Hud Ayat 27: Konflik Sosial di Balik Pendustaan Dakwah Nabi Nuh

  1. Suami durhaka, istri taat

Model keluarga ketiga ini dimiliki oleh keluarga Fir’aun. Menurut M. Nasrulloh dalam bukunya, Kisah-kisah dalam Hadis Nabi (hal. 22), Fir’aun adalah gelar bagi raja Mesir Kuno. Dia adalah manusia yang sangat sombong, sampai-sampai mengklaim dirinya sebagai tuhan. Bahkan, dalam Tuhfatul Ahwadzi (8/416) karya Abul ‘Ala al-Mubarakfuri dikatakan bahwa Fir’aun merupakan sosok yang paling jahat dan buruk di muka bumi.

Di tengah kehidupannya yang sombong dan arogan, Fir’aun ternyata memiliki salah satu istri yang taat kepada Allah Swt. Namanya adalah Asiyah binti Muhazim. Asiyah beriman pada risalah yang dibawa oleh Nabi Musa saat itu.

Disebutkan di dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa Asiyah ikut menyaksikan pertarungan antara tukang sihir Fir’aun dan Nabi Musa. Di saat itu, dia beriman dan berada di pihak Nabi Musa. Disebutkan pula dalam al-Jami’ li Ahkamil Quran (7/179) bahwa Asiyah pernah disiksa dibawah terik matahari oleh anak buah Fir’aun. Namun, karena keimanannya, malaikat kemudian menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

Ketaatan istri Fir’aun ini diabadikan oleh Allah Swt. dalam Alquran sebagai berikut:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Artinya: Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman; istri Fir‘aun, ketika dia berkata; “Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (Q.S. Attahrim [66]: 11).

  1. Suami-istri sama-sama durhaka

Model keempat dari model kelurga yang ada dalam Alquran adalah keluarga Abu Lahab. Abu Lahab dan istrinya, Arwa binti Harb, memiliki visi dan misi yang sama; menggagalkan dakwah Nabi Muhammad saw.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (30/371) disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. menyeru seluruh kaum untuk menyembah Allah Swt, di saat itu pula Abu Lahab berkata bahwa Nabi Muhammad saw. telah melakukan perbuatan bid’ah dan sesat. Begitu pula dengan istri Abu Lahab.

Pernah di suatu malam, istri Abu Lahab membuat jebakan untuk membunuh Rasulullah saw. Dia membuat lubang yang penuh dengan duri-duri yang tajam. Dia menginginkan Rasulullah saw. terjerembap ke dalamnya (40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah, hal. 115). Kisah mereka kemudian diabadikan di dalam Alquran, yakni dalam surah Allahab.

Itulah empat model keluarga yang digambarkan dalam Alquran sebagai pembelajaran bagi kita semua tentang model mana yang akan kita jadikan teladan. Semoga dengan tulisan ini dapat memotivasi kita untuk membina diri pribadi dan membangun keluarga yang dapat mengantarkan ke surgaNya kelak. Amin ya rabbal ‘alamin.

Baca juga: Tipe-Tipe Suami Dalam Al-Quran

Ahmad Riyadh Maulidi
Mahasiswa S2 UIN Antasari Banjarmasin
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...