Beranda Tafsir Al Quran Mengenal Al-Quran Berwajah Puisi Karya H.B. Jassin

Mengenal Al-Quran Berwajah Puisi Karya H.B. Jassin

H.B. Jassin mencatatkan namanya dalam list tokoh pengkaji Alquran di Indonesia. Karya yang membuatnya terkenal dan kontroversial itu berjudul Al-Quran Berwajah Puisi setelah edisi sebelumnya berjudul Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia. Seperti apa model Alquran yang ‘berbeda’ itu, dan apa saja hal-hal yang mengitari penyusunannya? Mari kita kenali melalui tulisan ini.

Kita mengenal Tafsir al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab sebagai Tafsir yang bercorak adabi ijtima’i, dan tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Mustafa yang terkombinasi dari corak fiqih, sosial-masyarakat dan sufi. Selain dua kitab tafsir karya orang Indonesia tersebut, terdapat terobosan baru tafsir al-Qur’an -lebih tepatnya terjemah Alquran- oleh seorang sastrawan Indonesia yang mendapat julukan “Empu Sastra Indonesia” yakni Hans Bague Jassin, atau dikenal dengan H.B. Jassin.

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (1)

Sedari kecil H.B. Jassin gemar membaca buku-buku yang dimiliki ayahnya sehingga membawanya mengenal M.A Duisterhof orang Belanda sekaligus kepala sekolah Jassin belajar. Riwayat pendidikan beliau bermula dari menamatkan sekolah di Gouverment H.I.S Gorontalo pada tahun 1932, kemudian melanjutkan ke H.B.S Medan dan lulus pada tahun 1939. Di Medan beliau banyak berkenalan dengan seniman-seniman, diantaranya adalah Chairil Anwar dan Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan yang begitu terkenal dan terkenang hingga sekarang.

Pada tahun 1957 H.B. Jassin kembali menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia fakultas Sastra. Ia menekuni bidang sastra dengan memproduktifkan waktunya untuk menulis berbagai hal terutama dalam bidang kritik sosial. Tidak aneh jika akhirnya beliau memperoleh julukan Empu Sastra Indonesia dan almamaternya memberikan beliau gelar Doctor Honoris Causa.

Tentang belajar Alquran, H.B. Jassin berguru ke ayah dan neneknya. Sedang untuk bahasa Arab, ia mengakui tidak pernah mempelajari Bahasa Arab secara intensif, beliau hanya belajar saat menjadi mahasiswa di fakultas Sastra. Di tempat ini pula ia juga belajar terjemah Alquran sekaligus menerjemahkannya di samping juga belajar tulisan Arab melayu.

Pada 12 Maret 1962, Arsiti, istri H.B. Jassin dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Selama tujuh malam digelar pembacaan Alquran sampai kahatam di rumahnya.  Selama sepuluh tahun hingga ia mulai menulis terjemahan Alqurannya, ia tidak pernah lepas dari membaca Alquran dan merasa menemukan banyak hikmah dari rutinitasnya itu.

Pada 7 oktober 1972 H.B Jassin mulai menerjemahkan Alquran secara mandiri. Terjemahan secara puitis yang ia garap itu terinspirasi dari terjemahan Abdullah Yusuf Ali, The Holy Quran yang ia peroleh dari temannya, Haji Kasim Mansur pada tahun 1969. Terjemahan Alquran tersebut diberi judul Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia. Pada tahun 1974 edisi pertama karya terjemahan ini terbit.

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (2)

Namun, sayang sekali terjemahan Alquran model puisi ini menuai kontroversi. Bagi muslim Indonesia yang pro memandang Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia ini sebagai suatu karya yang patut diapresiasi karena telah memberikan sumbangsih kepada khazanah keislaman di Indonesia. Sedangkan pihak yang kontra memandang karya H.B Jassin tersebut merupakan sesuatu yang bid’ah dan dianggap mempermainkan agama. Lalu pada tahun 1993 H.B Jassin hadir dengan karyanya “Al-Qur’an Berwajah Puisi” yang merupakan perbaikan dari Al-Qur’an Bacaan Mulia.

Sebelum mengetahui model Al-Qur’an Berwajah Puisi muslim Indonesia pada saat itu telah terjebak pada isu Alquran yang dipuisikan, sehingga muncullah prasangka yang tidak sehat. Seperti K.H Hassan Basri, Ketua MUI yang menolak diterbitkannya Al-Qur’an Berwajah Puisi karena dianggapnya mempermainkan kitab suci Al-Qur’an, begitu juga dengan K.H Ma’ruf Amin yang beralasan bahwa penulisan Alquran merupakan petunjuk langsung dari Tuhan (Tauqifi).

Berbeda dengan yang lainnya BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid justru memberi dukungan penuh terhadap idenya Jassin menyusun Al-Qur’an Berwajah Puisi bahkan B.J Habibie memberikan sumbangan dana pribadinya sebesar 150 juta. Lalu apa keistimewaan dari Al-Qur’an Berwajah Puisi ini? Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui sistematikanya, baik dari segi penulisan maupun modelnya, karena terjemahan ini berbeda dengan yang lainnya.

  1. B Jassin menyertakan teks Arab pada terjemahannya yang disusun berdampingan, teks Arab ditempatkan di sebelah kanan, dan terjemahannya di sebelah kiri. Model ini juga digunakan oleh terjemahan standar Indonesia sebelumnya, hanya saja pembedanya versi H.B Jassin untuk teks Arab maupun terjemahannya disusun simetris dengan pola rata tengah yang mengikuti pola penulisan pada puisi.
  2. Pada mushaf standar Indonesia, dalam satu ruang halaman terdiri dari 18 baris, sedangkan pada mushaf Al-Qur’an Berwajah Puisi menggunakan banyak bidang halaman. Sebab penulisan setiap baris bukan ditentukan bidang ruang di setiap halaman, tetapi ditentukan oleh isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis.
  3. Tidak ada harakat sukun untuk huruf waw dan ya’ yang berfungsi sebagai pemanjang bunyi u dan i. Untuk hal ini Jassin mengikuti mushaf al-Qur’an yang diterbitkan Arab.
  4. Dalam segi penulisan, Al-Qur’an Berwajah Puisi ditulis dengan khath berdasarkan kaidah nahwiyyah sharfiyyah. Sedangkan mushaf standar Indonesia pada kasus tertentu masih mengikuti mushaf standar Arab

Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin
Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin

Sedang model puitisasi terjemahan Alquran, bisa dilihat dalam contoh berikut: surat ke-26 (asy-Syu’araa) ayat 36 yang mengisahkan Fir’aun meminta pertimbangan kepada para pembesarnya apa yang harus dilakukan untuk melawan Musa:
“Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya, dan kirim ke kota-kota para bentara.”
Menurut Jassin, terjemahan ayat tersebut akan terasa lebih bertenaga dan penuh ancaman jika baris terakhir disusun ulang sebagai berikut:
“Dan kirim para bentara ke kota-kota.”

Contoh lain yang menurutnya akan menimbulkan penghayatan estetis yang lebih dalam secara audiovisual adalah perbedaan pilihan kata dari terjemahan Alquran pada umumnya. Ia mengambil contoh surat ke-61 (ash-Shaff) ayat 2:

“Mengapa kamu tidak mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?

bisa dipuitisasi dengan

‘Mengapa kamu katakan apa yang tiada kamu lakukan?”

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (3)

Terlepas dari kontroversi yang ada, al-Qur’an Berwajah Puisi telah memberi sumbangsih besar terhadap khazanah tafsir abad modern ini, khususnya perkembangan tafsir di Indonesia.

Wallahu A’lam

Dhur Anni
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto. Aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Q.S. Albaqarah: 261: Belajar Berpikir Kritis dari Nabi Ibrahim

Tafsir Q.S. Albaqarah: 261: Belajar Berpikir Kritis dari Nabi Ibrahim

0
Dalam dunia pendidikan, tiap peserta didik berupaya dengan beragam cara dan metode bagaimana dia bisa meraih pemahaman yang utuh dari apa yang dipelajari. Terutama...