Beranda Tafsir Tematik Hubungan Akhir Surah Al-Waqi’ah dan Awal Surah Al-Hadid Tentang Perintah Bertasbih

Hubungan Akhir Surah Al-Waqi’ah dan Awal Surah Al-Hadid Tentang Perintah Bertasbih

Al-Qur’an, kitab suci yang terdiri dari 30 bagian/juz, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas menyimpan berbagai macam rahasia. Bukan saja keindahan bahasa dan sastra pada teksnya, namun maknanya yang selalu berubah dan berkembang. Mukjizat Nabi saw. ini bagaikan matahari maknawi yang tiada pernah padam. Begitulah salah satu pendapat Badiuzzaman Said Nursi, cendekiawan Muslim asal Turki.

Salah satu aspek penting dalam kajian studi Al-Qur`an adalah munasabah. Cabang dari disiplin keilmuan Al-Qur`an ini mempelajari tentang hubungan juga korelasi baik antar ayat satu dengan ayat lain serta antar satu surah dengan surah lainnya. Tentu dengan mempelajari cabang ini, seseorang akan memahami keterkaitan antar ayat maupun surah hingga terbukalah rahasia keindahan Al-Qur`an. Berikut salah satu contoh keterkaitan antara akhir surah dengan awal surah berikutnya:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar (Surah Al-Waqi’ah ayat 96).

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana (Surah Al-Hadid ayat 1).

Kedua ayat tersebut memiliki titik temu berupa tasbih. Akan tetapi, bagaimana korelasi antara akhir surah Al-Waqi’ah dan awal surah Al-Hadid? Menurut Imam Ibrahim ibn ‘Umar al-Biqa`I dalam karya monumentalnya, Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar bahwa kedua ayat tersebut saling terkait karena pada akhir surah Al-Waqi’ah terdapat redakis fasabbih yang berarti “Maka bertasbihlah”. Maksud dari tasbih dalam ayat ini berupa perintah terhadap manusia untuk selalu memuji, mengagungkan, dan mensucikan Allah Swt. dari segala hal yang dapat menyekutukan-Nya.

Penutup surah Al-Waqi’ah menegaskan bagi seluruh orang yang mengimani risalah kenabian Muhammad saw. selain yakin akan kebenaran adanya hari kiamat, yang paling utama adalah bertasbih kepada Allah Swt. Yang Mahaagung. Pembuka Surah Al-Hadid menggunakan redaksi sabbaha yang merupakan kata kerja masa lampau (fi’il madhi). Penggunaan kata kerja masa lampau karena hal tersebut bersifat tetap, kekal sepanjang masa.

Ayat ini turut serta menjelaskan konsekuensi dari pernyataan keimanan seseorang kepada Allah Swt. juga Rasul-Nya saw. Yakni dengan mengingat, memuji, juga meninggikan asma Allah Swt. di setiap waktu. Dengan melakukan hal tersebut, maka akan diberikan ganjaran oleh Allah Swt. Jika mengingkari eksistensi-Nya, maka kekufuran manusia akan dibalas pula oleh Allah Taala (al-Biqa`i, Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Juz 19, hal. 248-252).

Baca juga: Menggali Hikmah dari Munasabah Surah Muawwidzatain

Muhammad Tahir ibn ‘Asyur dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir berpendapat bahwa korelasi antara surah Al-Waqi`ah dengan surah Al-Hadid terkait pula dengan aspek keimanan. Jika seseorang telah mencapai tingkat keyakinan kepada Allah yang tinggi, maka ayat terakhir dari surah Al-Waqi’ah memerintahkan untuk senantiasa bertasbih dengan nama Allah Yang Mahaagung.

Surah berikutnya menjelaskan bahwa seluruh makhluk yang ada di alam raya bertabsih kepada-Nya. Tasbih memiliki makna berzikir atau mengingat asma`-Nya Yang Mahaluhur juga bertafakur atas segala ciptaan-Nya. Tapi yang paling utama adalah mensucikan Allah Swt. dari segala sesuatu yang dapat mengotori-Nya.

Ulama besar Tunisia tersebut menjelaskan pula mengenai tujuan adanya masing-masing Surah. Surah Al-Waqi’ah menurutnya menjelaskan mengenai perkara yang wajib diimani oleh setiap muslim, yakni eksistensi hari kiamat. Surah selanjutnya juga menjelaskan keimanan kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. Dijelaskan pula mengenai fungsi ciptaan Allah Swt. yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari seperti besi. Namun, yang paling pokok dari hubungan kedua surah ini adalah keimanan beserta konsekuensinya bagi orang yang mempercayai keesaan Allah (Ibn ‘Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, Juz 27, hal. 351-358).

Sebagai Muslim yang beriman kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. Hendaknya kita gunakan dan curahkan seluruh hidup untuk bersyukur kepada Allah. Salah satu manifestasi syukur adalah syukur dengan lisan yang selalu berzikir dan memuji kebesaran Ilahi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua. Wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga: Pro Kontra Munasabah Al-Quran dan Cara Menyikapinya

Jaka Ghianovan
Dosen di Institut Daarul Qur'an (IDAQU) Tangerang. Aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...