Beranda Ulumul Quran Ilmu Isytiqaq dan Diskursus Klasik Pelacakan Makna Term Al-Qur'an

Ilmu Isytiqaq dan Diskursus Klasik Pelacakan Makna Term Al-Qur’an

Bagi Muslim, al-Qur`an merupakan kitab suci yang dijadikan sebagai teks-teks keagamaan selain Hadis. Menurut Abū Audah dalam Al-Tathawwur al-Dala`il baina Lughat Al-Syi’r wa Lughat al-Qur`an, masyarakat pra-Arab tidak mengenal kata “al-Qur`an” maupun kata “qara’a”. Maka pada artikel ini, akan mengulas diskursus klasik pelacak makna term al-Qur’an.

Karenanya, terjadi proses panjang perjalanan pendefinisian al-Qur`an, yang oleh Fadhli Lukman, dalam buku Menyingkap Jati Diri Al-Qur`an: Sejarah Perjuangan Identitas Melalui Teori Asma` al-Qur`an disebutkan mengalami dua fase: al-Qur`an sebagai sebagai musytaq, dan al-Qur`an sebagai ism ‘alam.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Seputar Aturan Waqaf dalam Surah Al-Fatihah Ketika Salat

Fase I Pelacakan Self Identity: “Qur`an” sebagai Musytaq

Fase pertama diisi dengan perdebatan mengenai penamaan al-Qur`an yang bersifat etimologis. Pembacaan mengenai kata “al-Qur`an” pada fase ini sangat dilandasakan pada ilmu istyqaq.

Pemaknaan pertama dimulai oleh Ibn ‘Abbas dan Qatādah yang mengasalkan kata isi dalam bentuk maḥmūz, yakni  qara`a (قرأ)  yang artinya bacaan (qirā`ah). Hal ini sebagaimana paparan Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Thabari dalam kitab Jami’ al-Bayan ‘an Ta`wil Ay al-Qur`an.

Sedikit berbeda, al-Asy’arī menyebutkan bahwa kata “al-Qur`an” merupakan bentuk maṣdar, yang artinya kumpulan atau himpunan (al-jam’ wa al-ḍamm). Dinamakan demikian karena ia mengumpulkan huruf, kata, ayat, dan surat yang di dalamnya terhimpun intisari kitab-kitab terdahulu, bahkan mencakup semua aspek ilmu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad ibn Ali al-Syaukani dalam Irsyad al-Fuhul Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, juga Manna’ Khalil al-Qattan dalam kitab Mabahis fi Ulum al-Qur`an-nya.

Baca juga: Dinamika Penerjemahan Al-Quran di Indonesia: dari Perdebatan Awal hingga Revisi Terjemahan Secara Berkala

Sementara itu al-Farrā` menganggap bahwa ia derivasi dari kata al-qarā`in (bentuk plural dari kata qarīnah), yang artinya ialah bukti. Ada juga yang mengasalkannya langsung pada kata qarana (:memperhubungkan) atau qarā`in (:saling menghubungkan). Dinamakan demikian karena sisi internalnya saling terhubung.

Fase II Pelacakan Self Identity: “Qur`an” Sebagai Non-Musytaq

Berbeda dengan pendapat para ulama di atas, sebagaimana dilansir oleh Ibn Kaṡīr, al-Syafi’ī berpendapat bahwa kata al-Qur`an tidak berbentuk musytaq, melainkan ism ‘alam (proper name). Bagi al-Syafi`ī, penamaan al-Qur`an merupakan pemberian langsung dari Allah sebagai kitab yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana Injīl pada Nabi ‘Isā dan Taurat pada Nabi Mūsā.

Pendangan al-Syafi’ī yang berbeda ini menjadi menarik. Ia menjadi pendobrak untuk memasuki fase kedua pencarian jati diri al-Qur`an. Fase ini diisi dengan diskusi penamaan al-Qur`an yang bersifat paradigmatik, dengan menghadirkan term lain yang asosiatif, seperti term al-kitāb, al-zikr, dan al-furqān sebagai perbandingannya.

Pemaknaan mengenai term al-kitāb mempunyai kaitan erat ketika ditulis dan dikumpulkan, merujuk pada pernyataan Raghib al-Aṣfahānī dan Ibn Manẓūr.

Kemudian term al-dzikr berkaitan erat dengan signifikansi al-Qur`an terhadap sisi psikologi manusia, baik sebagai nasihat (mau’iẓah), peringatan (taḥdzīr), dan sebagainya. Bisa dibilang kalau term al-dzikr berkaitan dengan ḥikam (wisdom, kebijaksanaan),

Sedangkan term al-furqān berkaitan erat dengan aḥkām (hukum). Dengannya, dapat diketahui mana yang benar dan yang salah, karena al-furqān merupakan representasi dari infiṣāl (keterpisahan).

Baca juga: Annabel Gallop, Pakar Mushaf Kuno Nusantara dari Inggris

Pembacaan “al-Qur`an” dari sudut Internal

Diskursus mengenai pembacaan sebelumnya kemudian berlanjut pada pembacaan term “al-Qur`an” melalui teks internalnya. Dalam Al-Burhan fi Ulum al-Qur`an karya Badr al-Din Muhammad Al-Zarkasyi tertulis bahwa Abū al-Ma’ālī al-‘Uzāizī menyebutkan ada 55 nama al-Qur`an, di antaranya ialah ia menyebut dirinya sebagai kitāb karīm (QS. [56]:77), kitāb ‘aẓīm (QS. [15]: 87), kitab azīz (QS. [41]:41), kitāb mubīn (QS.[5]:15), kitāb ḥakīm (QS. [36]: 2), dan lain sebagainya.

Menurut Ali Romdhoni sendiri, dalam buku Al-Qur`an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman, nama-nama al-Qur`an di atas selalu identik dengan suatu hal yang dibaca, ditulis dan sumber pengetahuan dan kebenaran. Pengertian ini mencerminkan gagasan besar al-Qur`an untuk membudayakan membaca sebagai titik awal pengetahuan. Dan menulis ialah proses untuk mengabadikan ilmu pengetahuan yang sudah berhasil dipelajari manusia. Wallahu a’lam[].

Salman Al Farisi
Mahasiswa pasca (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Aktif kajian Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...