Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tematik Surah Isyarat Ilmiah dalam Peristiwa Mikraj dalam Pembacaan Bisri Musthofa

Isyarat Ilmiah dalam Peristiwa Mikraj dalam Pembacaan Bisri Musthofa

Nabi Muhammad SAW dengan izin Allah SWT telah diperjalankan menembus batas-batas materi alam semesta. Perjalanan istimewa ini dimulai dari Masjidil Haram, menuju ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke langit sampai Sidratul Muntaha dalam waktu yang relatif singkat. Peristiwa agung ini dikenal dengan Isra Mikraj. Hal ini terekam pada QS. Al-Isra’ [17]: 1 dan QS. Al-Najm [53]:18.

Di sisi lain, muncul pertanyaan, mungkinkah bagi selain Nabi Muhammad SAW dapat naik ke langit, atau itu merupakan kekhususan baginya? Tulisan ini merupakan sebuah kajian singkat terkait fenomena naiknya seorang manusia mulia ke langit dalam peristiwa Isra Mikraj menurut KH Bisri Musthofa dalam tafsir al-Ibriz.

Isyarat Ilmiah Dunia Antariksa

Hanya Allah yang mengetahui bagaimana sebenarnya peristiwa agung ini. Namun, ada hal yang menarik kita bahas. Alquran sarat dengan isyarāt ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan oleh manusia. Isyarat-isyarat tersebut ada yang mudah dipahami dan ada juga yang membutuhkan penelitian mendalam. Alquran sebagai sumber ilmu pengetahuan perlu untuk dipelajari oleh manusia, sehingga dapat dirumuskan dalam beberapa teori dan dipraktikkan dalam bentuk teknologi.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan peristiwa luar biasa ini lebih mudah untuk diterima. Apalagi kini banyak wacana terkait kehidupan di luar angkasa. Dikutip dari republika.id, sebagian ilmuwan menemukan unsur kehidupan dalam planet Mars. Sehingga Mars dianggap sebagai planet alternatif masa depan bagi manusia. Mungkinkah itu terealisasi?

Baca juga: Apa Hanya Ruh Nabi Saw yang Melakukan Isra Mikraj? Ini Penjelasan Ulama

Allah SWT berfirman dalam  QS. Arrahman [55]: 33  sebagai berikut:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”

Bisri Mustofa (1967) menggambarkan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan di zamannya. Hal itu terekam dalam tafsirannya atas ayat tersebut. Dia menulis:

Akhir2 iki sakwise ono kabar-kabar yen professor-profesor lagi podo mikir bab keperiye corone biso ono ing rembulan. Malah, wus ono kang den sebut ‘menungso angkasa luar’, mergo jare wus tahu ngiteri bumi bola-bali.”

(Akhir-akhir ini setelah ada kabar-kabar para profesor sedang memikirkan bagaimana caranya ke Bulan. Bahkan, sudah ada yang disebut manusia luar angkasa yang katanya telah mengitari bumi berkali-kali)

“Sak wuse mengkono banjur timbul masalah-masalah, opo mumkin manuso biso munggah langit opo ora? Opo rembulan biso dianggoni wong opo ora? Lan liyo-liyone maneh. Saweneh ono kang jawab: ora mumkin, dalile? ayat nomer 33 iki, sawenih ana kang jawab: mumkin, dalile? iya ayat nomer 33 iki.”

(setelah itu kemudian muncul masalah-masalah. Apakah manusia bisa naik ke langit atau tidak? Apakah bulan bisa dihuni manusia atau tidak? Dan lain sebagainya. Sebagian ada yang jawab: tidak bisa, dalilnya? ayat ke 33 ini. Sebagian ada yang jawab: bisa, dalilnya? juga ayat ke 33 ini).

Baca juga: Memasuki Bulan Rajab, Ini 5 Amalan yang Dianjurkan

Menurut KH. Bisri Musthofa, bisa atau tidaknya itu tidak perlu diperdalam, karena hal ini tidak masuk dalam hal mu’taqad (sesuatu yang perlu diyakini). Bila kita mengatakan bisa, tidak berdosa dan tidak dapat pahala. Bila kita katakan tidak bisa juga tidak berdosa dan tidak dapat pahala.

Lain halnya bila permasalahan ini dikhususkan pada seorang manusia. Dia melanjutkan penjelasannya, bahwa kita yakin Nabi Muhammad SAW Mikraj sampai melewati langit lapis ke tujuh, kita juga yakin bahwa Nabi Isa Alaihis salam diangkat oleh Allah ke langit. Keyakinan kita ini dapat pahala.

Bisri Musthofa mengakhiri pembahasannya dengan menyatakan, bila nanti kenyataannya ada orang bisa naik ke langit, maka itu layak, karena Allah SWT kuasa atas hal tersebut, dan nyatanya juga sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa. Bila sampai hampir kiamat tidak ada yang bisa naik, maka itu juga layak, karena dari dulu hingga tulisan ini ditulis juga belum ada berita manusia bisa naik ke Bulan, dan memang Mikraj itu termasuk mukjizat, pungkasnya demikian.

Baca juga: Bulan Sya’ban Tiba, Begini Peristiwa Penting dan Amalannya dalam Al-Quran

Bagaimanapun kecanggihan teknologi saat ini yang katanya bisa menghantarkan peneliti sampai dan mendarat baik di Bulan, planet Mars ataupun lainnya, hal itu tidak akan bisa menandingi atau menyamai kecanggihan dan kehebatan peristiwa Isra Mikraj. Karena puncak Isra Mikraj adalah Sidratul Muntaha yang tidak terjangkau oleh manusia, jin, dan malaikat sekalipun. Isra Mikraj merupakan mukjizat yang melemahkan manusia dari mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Zat Yang Maha Kuasa.

Sisi kemukjizatan Isra Mikraj tidak hanya dalam hal menembus langit, tapi masih banyak aspek lain yang sudah banyak dikupas oleh para ulama. Selain itu, sikap moderat KH. Bisri Musthofa di atas perlu kita contoh, karena tidak semua hal yang terkait agama bersifat ushuliyyah (masalah pokok) yang harus dibela mati-matian. Banyak juga permasalahan furu’iyyah (masalah cabang) yang mengandung perbedaan pendapat. Dengan kita mengerti keduanya, kita tak mudah menyalahkan, apalagi mengkafirkan sesama muslim. Wallahualam bishawab.

Muhammad Hisyam Wahid
Mahasiswa IAT IAIN Pekalongan dan Mutakhorrijin PP. Nurul Huda, peminat kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...