Beranda Tafsir Tematik Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

Tulisan kali ini akan membahas makna khauf dalam al-Quran dengan menggunakan pendekatan semantik. Dalam semantik al-Quran, terdapat tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra-quranik, masa quranik, dan pasca-quranik.

Semantik sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang arti atau makna tanda pada suatu bahasa. Pendekatan semantik juga digunakan dalam memahami al-Quran, yakni disebut dengan semantik al-Quran. Istilah tersebut menjadi populer setelah diperkenalkan oleh Thosihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul “God  and  Man  in  the  Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung”.

Dalam buku tersebut, Izutsu menjelaskan semantik al-Quran sebagai kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci yang terdapat di dalam al-Quran dengan menggunakan bahasa al-Quran agar diketahui weltanschauung al-Quran, yaitu visi-misi qurani tentang alam semesta.

Baca Juga: Empat Makna Kata Khasyah dalam Al-Quran menurut Mufasir

Makna kata khauf masa pra-Quranik, Quranik dan pasca-Quranik

  1. Pra-Quranik

Pada periode ini, ditemukan beberapa syair yang memuat kata khauf. Syair-syair jahiliyah sendiri di masa ini, merupakan muara dalam memahami arti sebuah kosakata. Salah satunya adalah syair karya Abi al-Faraj al-Asfahani dalam kitabnya yang berjudul Al-Aghani. Bunyi syair tersebut yakni: “Akan  tetapi  jika  hidup  dengan  hati  yang  takut,  maka  hidup  bagiku tidak bahagia  matipun  tidak  dekat.  Aku  belajar  bahwasanya  sebab-sebabnya  ridho adalah  takut  meninggalkan,  dan  cintaku  mengajarkan  padanya  bagaimana  dia melumpuhkan.”

Dari penggalan syair tersebut, dapat diketahui makna kata khauf yang dimaksud adalah takut atas sesuatu yang menjadi penyebab tidak bahagia dan takut akan kehilangan sesuatu berharga yang dimilikinya.

  1. Masa Quranik

Pada periode ini, makna kata khauf disesuaikan dengan konteksnya, yakni tempat diturunkannya ayat-ayat tentang khauf. Kata khauf dalam ayat Makkiyah cenderung menunjukkan rasa takut atas sesuatu yang dapat membuat orang merasa tidak bahagia, seperti yang terdapat dalam QS. Ghafir: 30,

وَقَالَ الَّذِىۡۤ اٰمَنَ يٰقَوۡمِ اِنِّىۡۤ اَخَافُ عَلَيۡكُمۡ مِّثۡلَ يَوۡمِ الۡاَحۡزَابِۙ

Artinya: “Dan orang  yang beriman itu berkata, “Wahai kaum-ku!  Sesungguhnya  aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan yang bersekutu.”

Khauf pada ayat di atas menunjukkan rasa takut Nabi Nuh terhadap kaumnya yang akan ditenggelamkan dengan air bah oleh Allah sebab mengingkari ajaran Allah dan enggan bertaubat.

Sementara itu, pada ayat Madaniyah, khauf memiliki makna takut akan siksaan Allah Swt apabila mengingkari ajaran-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 38,

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Pada ayat ini makna khauf ditujukan pada rasa takut apabila tidak mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya, bagi seluruh keturunan Adam yang senantiasa patuh pada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, maka akan terhindar dari rasa khauf (takut) karena tersesat ataupun siksaan bagi mereka yang mengingkari-Nya.

  1. Pasca-Quranik

Pada periode ini terjadi perkembangan pemikiran oleh umat Islam yang kemudian lahir disiplin kajian filsafat, tasawuf, dan teologi. Sehingga, pada periode ini kata khauf -pun mengalami perkembangan makna. Kata khauf pada periode ini termasuk ke dalam bagian tasawuf. Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, mendefinisikan khauf yakni rasa sakit dalam hati akan takut terjadinya sesuatu yang tidak disukai. Selain itu, ia juga membagi khauf menjadi beberapa derajat (qasir,mufrith, dan mu’tadil) dan tingkatan (al-awam, al-khasah, dan al-khasah al-khasah).

Baca Juga: 12 Golongan yang Terhindar dari Keresahan Hati: Telaah Makna Khauf dalam Al-Quran (1)

Tafsir dan makna kata khauf  dalam Al-Quran

Adapun pengertian khauf secara bahasa berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan  (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا)yang berarti takut. Menurut Al-Asfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat Alfaz al-Quran, kata khauf berarti ketakutan akan suatu hal atau takut karena lemahnya seseorang itu. Selain digunakan dalam urusan ukhrawiyah, khauf juga dapat digunakan dalam hal duniawiyah.

Di dalam al-Quran, setidaknya terdapat 3 makna kata khauf, yakni taqwa (QS. An-Nisa: 9), berkurang (QS. An-Nahl: 47), dan al-‘ilmu (QS. Al-Baqarah: 182).

  1. Taqwa

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

(QS. An-Nisa: 9) Artinya:“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan taqwa sebagai rasa takut atas adzab Allah sebab melanggar apa yang telah diperitahkan dan dilarang oleh-Nya. Selain itu, dalam Ensiklopedia Al-Quran: Kajian Kosakata, M. Quraish Shihab juga menerangkan taqwa sebagai cara agar terhindar dari adzab Allah dengan mengikuti pentujuk-Nya dan menjauhi larangan-Nya seperti melaksanakan sholat lima waktu, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.

  1. Berkurang

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

(QS. An-Nahl: 47) Artinya: “Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Menurut M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah, kata takhawwuf berarti berkekurangan, misalnya diberikannya kemarau panjang, berlanjut dengan paceklik, wabah penyakit, terjadinya bencana alam, hingga rasa aman pun hilang dari mereka.  Begitu pula dengan Sayyidina Umar juga menyetujui makna takhawwuf ini, yang pada saat itu disampaikan oleh seorang tokoh kabilah Hudzail. Intinya, ayat ini berbicara tentahg adzab yang diberikan Allah dengan berkekurangan secara terus menerus hingga binasa.

  1. Al-’ilmu

فَمَنْ خَافَ مِن مُّوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(QS. Al-Baqarah: 182) Artinya: “(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kata fala itsma  (فَلَآ إِثْمَ) dan khafa (خَافَ) makna sebenarnya adalah takut. Akan tetapi, terdapat beberapa ulama yang mengartikannya sebagai mengetahui. Mengacu pada Tafsir Al-Muyassar, ayat di atas menjelaskan rasa takut seseorang karena mengetahui pemberi wasiatnya akan melakukan penyimpangan dan ketidakadilan.

Baca Juga: Tafsir Surat Yunus Ayat 62: Tak Ada Rasa Takut dan Sedih bagi Wali Allah

Namun, ketakutan tersebut dapat teratasi dengan cara menasihati sang pembuat wasiat serta mendamaikan orang-orang yang bersengketa atas wasiat tersebut. Dengan usaha memperbaiki kekeliruan tersebut, maka orang itu akan mendapat pahala dan tidak ada dosa baginya.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kajian semantik al-Quran memiliki tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra quranik, quranik, dan pasca quranik. Pada ketiga periode tersebut, maksud dari sebuah kata pun berbeda, misalnya pembahasan kata khauf pada tulisan ini.

Selain itu, dalam kajian semantik al-Quran, perlunya digali makna dasar dan makna relasional dari sebuah kata yang dimaksud, misalnya kata khauf  berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا) yang berarti takut, dan makna relasionalnya adalah taqwa, berkurang, dan al-‘ilmu.

Wallahu a’lam

Yasmin Karima Fadilla Suwandi
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogykarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...