Beranda Tafsir Tematik Kelebihan Maryam as dalam Al-Quran dan Perdebatan Ulama tentang Kedudukannya

Kelebihan Maryam as dalam Al-Quran dan Perdebatan Ulama tentang Kedudukannya

Keberadaan perempuan tidak bisa dianggap remeh. Tidak terhitung berapa banyak perempuan yang telah tampil dalam panggung sejarah dengan peran dan keahliannya masing-masing. Bahkan ada salah satu nama perempuan yang dijadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an, yaitu Maryam as. Artikel ini akan mengulas secara singkat tentang Kelebihan Maryam as dan perdebatan kedudukannya sebagai nabi.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Âli ‘Imrân [3]: 42

وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ

(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam (pada masa itu).

Dalam Tafsir al-Mishbah (jilid 2, hlm. 89), M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam ayat ini Maryam as. dua kali dipilih Allah. Pilihan pertama dikemukakan tanpa menggunakan kata ‘ala (innallahashthafaki)  yang mengisyaratkan adanya kesamaaan Maryam as. dengan manusia lainnya. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Maryam as. juga dimiliki oleh orang-orang lain yang telah dipilih sebelumnya oleh Allah swt.

Baca Juga: Rasulullah Adalah Karunia Ilahi, Maka Berbahagialah atas Kelahirannya!

Adapun pilihan kedua  yang menggunakan kata ‘ala  (innallahashthafaki ‘ala) mengandung makna pengkhususan. Pilihan ini sifatnya khusus di antara wanita-wanita lainnya, karena  kepemilikan keistimewaan yang tidak dapat diraih oleh wanita-wanita lain, yaitu melahirkan anak tanpa berhubungan seks. M. Quraish Shihab mengatakan tidak menutup kemungkinan bahwa pilihan khusus yang dimaksud adalah dipilihnya Maryam as. sebagai satu-satunya nabi dari kalangan wanita. Hal ini didasarkan bahwa malaikat menyampaikan wahyu-wahyu Ilahi kepada Maryam as. sehingga menimbulkan adanya potensi menjadi Nabi.

Pembahasan tentang kemungkinannya adanya Nabi dari kaum perempuan bukanlah perkara baru. Ibnu Ḥazm al-Andalûsî sebagaimana yang dikutip Buya Hamka berpendapat bahwa Hawa, kedua istri Nabi Ibrahim yakni Sarah dan Hajar, Ibu Nabi Musa, Asiyah istri Fir’aun dan Maryam, mereka semua merupakan nabi (Tafsir al-Azhar, jilid 2, hlm. 768), Selain itu, dalam Tafsîr al-Qurthubî (jilid 4, hlm. 126-127) dijelaskan bahwa anggapan bahwa Maryam as. adalah seorang nabi didasarkan pada  hadis berikut:

كَمُلَ من الرجالِ كثيرٌ، ولم يَكْمُلْ من النساءِ إلا ثلاثٌ: مريمُ بنتُ عمرانَ، وآسيةُ امرأةُ فرعونَ، وخديجةُ بنتُ خويلدَ، وفضلُ عائشةَ على النساءِ كفضلِ الثريدِ على سائرِ الطعامِ

“Banyak dari manusia yang sempurna dari kalangan laki-laki dan tidak ada manusia yang sempurna dari kalangan wanita kecuali Asiyah, istrinya Fir’aun dan Maryam binti ‘Imran. Dan keistimewaan ‘Aisyah radliallahu ‘anhu dibandingkan wanita-wanita lain adalah bagaikan keistimewaan makanan tsarid (roti daging) terhadap makanan yang lain”. (HR. Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa kesempurnaan yang disebutkan pada hadis di atas adalah kenabian. Jika demikian, maka Asiyah dan Maryam as. adalah nabi. Meski begitu, menurut al-Qurthubî hanya Maryam as. yang diangkat sebagai seorang Nabi karena hanya ia yang menerima wahyu melalui perantara seorang malaikat seperti halnya para Nabi yang lainnya. Adapun Asiyah, oleh al-Qurthubi dianggap bukan seorang nabi karena tidak ada dalil yang jelas yang menunjukkan kenabiannya, hanya didapati dalil tentang kesalehan dan keutamaannya.

Sementara itu, ada sebagian ulama yang tidak sependapat tentang kenabian Maryam as. Mereka menjadikan QS. Yûsuf [12]: 109 sebagai landasan dalil pendapatnya bahwa tidak ada rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. kecuali laki-laki.

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰىۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اتَّقَوْاۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti?”

Baca Juga: Surah Yunus Ayat 57-58: Bergembira atas Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Meski ada pendapat yang menyatakan bahwa Maryam adalah seorang nabi namun Buya Hamka menegaskan bahwa statusnya hanya sebagai nabi bukan sebagai rasul, karena nabi dan rasul adalah dua hal yang berbeda, baik dari segi orang yang dipilih dan tugasnya yang diembannya. Seorang rasul sebagaimana yang disebutkan dalam QS. al-Naḥl [16]: 45 adalah seorang laki-laki dan memiliki kewajiban untuk menyampaikan syariat (tablîgh) (Tafsir Al-Azhar, jilid 2, hlm.769).

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ  فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan418) jika kamu tidak mengetahui.”

(An-Naḥl [16]:43)

Demikianlah ulasan singkat tentang Maryam as. dan kelebihannya hingga ia dianggap oleh sebagian ulama sebagai nabi. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa perempuan juga memiliki keistimewaan sebagai makhluk Tuhan layaknya laki-laki. Al-Qur’an telah membuktikan  di antaranya melalui kisah keutamaan Maryam as.

Rijal Ali
Mahasiswa UIN Antasari, minat kajian Isu-isu keislaman kontemporer,
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sidik jari dalam Alquran

Sidik Jari dalam Alquran

0
Sidik jari tidak ada yang sama antara satu dengan lainnya, bahkan pada mereka yang kembar identik sekalipun. Ia pun tidak akan berubah seiring waktu...