Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ekologi Kemuliaan Bekerja Sebagai Petani, Tafsir Surah Yasin Ayat 34-35

Kemuliaan Bekerja Sebagai Petani, Tafsir Surah Yasin Ayat 34-35

Dengan semakin sempitnya lapangan kerja, mau tidak mau sebagian dari kita harus mencari atau setidaknya mampu menciptakan sumber mata pencarian lain agar bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan seperti sekarang ini. Tentunya dengan catatan harus dengan cara yang baik dan halal. Ada banyak macam pekerjaan alternatif yang dapat kita lakukan, di antaranya adalah bekerja sebagai petani.

Umumnya, petani bekerja mengolah tanah untuk ditanami berbagai macam tumbuhan seperti gandum, padi, singkong, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Kemudian, hasil panen yang didapat biasanya dijual atau juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pekerjaan ini jarang dilirik orang banyak. Ini membuat Presiden Joko Widodo pada 6 Agustus 2021 memberikan semacam dorongan kepada orang-orang yang bekerja di sektor pertanian. Ia mengatakan, “Petani harus menjadi profesi yang menjanjikan, profesi yang menyejahterakan, dan kita harus membuat generasi muda lebih berminat menjadi petani.”

Pernyataan tersebut merupakan motivasi yang membangun semangat para petani dari penilaian segelintir orang, bahwa petani adalah profesi yang strata sosialnya berada di kelas paling bawah, padahal tidak seperti itu. Kalau kita cermati lebih jauh, al-Qur’an sempat menyinggung beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan bertani, salah satunya dapat kita temukan pada firman Allah Swt dalam surah Yasin, yang berbunyi;

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ (34) لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ (35)

Dan kami telah jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka apakah mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin: 34-35).

Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 33-35: Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt di Muka Bumi

Tafsir Surah Yasin Ayat 34-45

Menurut penjelasan dalam Tafsir Kemenag, pada ayat ini Allah menerangkan tentang penciptaan kebun, ladang, dan sawah di bumi sebagai tempat yang dapat ditanami bermacam-macam tanaman yang menghasilkan bahan makanan bagi manusia, seperti kurma dan anggur yang menjadi bahan makanan bangsa Arab. Demikian pula padi, gandum, dan jagung yang menjadi makanan pokok bagi bangsa-bangsa lainnya.

Di samping itu, Allah juga menciptakan sumber-sumber air yang kemudian mengalir menjadi sungai-sungai yang sangat diperlukan bagi kehidupan di bumi. Allah menciptakan dan menganugerahkan semuanya itu kepada manusia, agar mereka memperoleh makanan dari buah dan hasilnya. Begitupula dari hasil usaha kerajinan tangan mereka seperti hasil-hasil pertanian dan industri yang hampir tak terhitung jumlahnya.

Bahkan menurut Hamka dalam tafsirnya, pada ayat 34, manusia diberi petunjuk oleh Allah untuk mendirikan kebun-kebun yang dapat dipergunakan sebagai lahan menanam bahan makanannya. Adapun kurma  menjadi buah yang disebutkan pertama dalam susunan redaksi ayat, karena mula-mula turunnya ayat ini bertempat di tanah Arab yang makanan pokok masyarakat pada saat itu adalah kurma.

Lalu kemudian ajaran Islam meluas ke seluruh dunia termasuk ke negara-negara di Asia Tenggara seperti Burma, Siam, Malaysia, Philipina, Jepang, dan Indonesia, di mana makanan pokok negara-negara tersebut ialah beras. Karenanya, orang Indonesia menggarap tanah dan membuat lahan sawah yang ditanami padi untuk mencukupi makanan pokok mereka sebagaimana halnya tanah di Arab yang ditanami kurma dan di negeri lain yang ditanami gandum.

Quraish Shihab menjelaskan, bahwa kata (ما) ma pada firman-Nya, wa ma ‘amilathu aidihim (وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِم) dapat berarti apa saja, seperti bunyi terjemah di atas, dan dapat juga berarti bukan. Berdasarkan hal tersebut, ayat di atas bagaikan menyatakan: Semua itu bukanlah hasil usaha tangan mereka.

Selain itu, Ia dapat juga berarti yang. Jika makna ini dipilih maka penggalan ayat di atas bagai menyatakan: Supaya mereka dapat makan dari buahnya, yang diusahakan oleh tangan mereka. Makna yang ketiga ini mengandung isyarat tentang perlunya memberi perhatian dan usaha sungguh-sungguh agar hasil pertanian terus bertambah dan baik, sebagai akibat keterlibatan manusia dalam mengelolanya.

Baca juga: Kewajiban Merawat Bumi dan Larangan Merusaknya dalam Al-Quran

Beberapa ulama ada yang berpendapat bahwa bertani adalah salah satu pekerjaan yang terbaik. Alasannya karena dengan bertani itulah seseorang dianggap makan dari hasil tangannya sendiri. Pendapat ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ, وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَعَلَيْهِالسَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ (رواه البخاري عن المقدم)

Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari apa yang dihasilkan oleh tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari apa yang dihasilkan oleh tangannya sendiri. (Riwayat al-Bukhari dari al-Miqdam).

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa hasil dari pertanian yang dimakan oleh manusia ataupun hewan akan menjadi nilai sedekah bagi pekerjanya. Beliau bersabda;

فَلَا يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غُرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَآبَّةٌ وَلَا طَيْرٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)

Tidakkah seorang muslim menanam tanaman apapun atau bertani dengan tumbuhan apapun, lalu tanaman tersebut dimakan oleh manusia, atau binatang melata atau sesuatu yang lain, kecuali hal itu akan bernilai sedekah baginya. (HR. Muslim).

Penutup

Berdasarkan informasi di atas, ini menandakan bahwa baik al-Qur’an maupun hadis ternyata sama-sama menganjurkan umat Islam untuk bercocok tanam atau dalam bahasa lainnya ialah bertani. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa bekerja sebagai petani adalah suatu pekerjaan mulia yang tidak semua orang mau melakukannya.

Sangat sedikit generasi muda hari ini yang mau bekerja di ladang dengan balutan lumpur dan terik panas matahari. Maka bisa dibayangkan jika seandainya mereka, para petani ini tidak punya generasi yang meneruskan perjuangannya, Apakah makanan pokok kita sebagai orang Indonesia yang setiap hari harus makan nasi akan tercukupi? Wallahu ‘alam.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 107: Memaknai Rahmatan Lil Alamin Menuju Alam yang Lestari

Harfin
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, aktif di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...