BerandaKisah Al QuranKewafatan Nabi Sulaiman as. Dan Ketidaktahuan Jin tentang Hal Gaib

Kewafatan Nabi Sulaiman as. Dan Ketidaktahuan Jin tentang Hal Gaib

Di antara deretan kisah para nabi dan rasul yang diceritakan dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman as. termasuk yang diceritakan dengan porsi cukup banyak, tersebar di beberapa surah dalam Alquran. Di samping itu, terdapat banyak hal menarik seputar kisah hidup Nabi Sulaiman as. mulai dari kebijaksanaannya, mukjizat-mukjizatnya, kerajaan dan kekuasaannya dan masih banyak lagi.

Salah satu ‘episode’ cerita Nabi Sulaiman as. yang dikisahkan dalam Alquran adalah terkait kewafatannya yang tidak seorang pun mengetahuinya, termasuk bangsa jin yang mengabdi kepada beliau. Hal ini terekam dalam firman Allah swt. dalam Q.S. Saba’ ayat 14,

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ [سبأ: 14]

“Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” Q.S. Saba’ [34]: 14

Sebagaimana dimaklumi bahwa salah satu mukjizat Nabi Sulaiman as. adalah kerajaannya yang menguasai bukan hanya dunia manusia tetapi juga bangsa hewan dan jin. Beliau kerap kali memerintahkan para jin untuk membangun istana, masjid dan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Kondisi ini terus berlangsung sampai beliau wafat.

Ayat di atas mengisahkan bahwa kewafatan Nabi Sulaiman as. tidak terdeteksi oleh siapapun termasuk pengikutnya dari kalangan jin. Sampai pada akhirnya tongkat yang menyangga tubuh beliau dimakan rayap dan patah sehingga kemudian membuat tubuh beliau tersungkur. Pada saat itulah, mereka akhirnya mengetahui bahwa Nabi Sulaiman as. telah wafat.

Baca Juga: Kisah Pengembala, Pemilik Kebun, dan Kebijaksanaan Nabi Sulaiman

Beberapa penafsiran tentang kewafatan Nabi Sulaiman

Dalam kitab tafsirnya, Imam al-Baidhawi mengisahkan bahwa Masjid al-Aqsa mulai dibangun pertama kali oleh Nabi Dawud as., akan tetapi beliau wafat sebelum sempat menyelesaikannya. Di akhir hayatnya, beliau berwasiat kepada putranya, Nabi Sulaiman as., untuk merampungkan proyek pembangunan Masjid al-Aqsa tersebut. Dengan mukjizat yang dimilikinya, Nabi Sulaiman akhirnya memerintahkan para jin yang bekerja di bawah komandonya untuk menyelesaikan pembangunan masjid tersebut.

Namun, ajal Nabi Sulaiman sudah hampir tiba di saat proses pembangunan Masjid al-Aqsa belum selesai. Akhirnya, beliau memohon kepada Allah supaya kewafatannya disembunyikan agar para jin yang bekerja di bawah perintahnya terus melakukan pekerjaannya sampai selesai. Sebab, kalau mereka mengetahu bahwa Nabi Sulaiman as. sudah wafat, mereka pasti akan meninggalkan pekerjaan berat yang selama ini diperintahkan oleh Nabi Sulaiman as.

Permohonan Nabi Sulaiman as. dikabulkan Allah swt. Beliau wafat ketika sedang beribadah di sebuah mihrab tertutup dalam keadaan bertumpu pada sebatang tongkat. Tidak ada yang mengetahui kewafatan beliau sampai pada akhirnya tongkat tempat beliau bersandar dimakan rayap yang menyebabkan beliau tersungkur. Setelah sekian lama, barulah para jin dan pengikut Nabi Sulaiman tahu bahwa beliau telah wafat [Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, juz 4, hal. 224].

Kisah serupa juga dapat dijumpai di berbagai kitab tafsir lainnya dengan versi yang lebih lengkap dan bahkan alur yang berbeda antara satu riwayat dengan riwayat lain, akan tetapi, sebagian ulama tafsir mewanti-wanti untuk tidak mempercayai riwayat-riwayat tersebut karena validitasnya belum dapat dibuktikan.

Dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengutip berbagai riwayat yang menceritakan detail kisah tersebut dan jarak waktu antara kewafatan Nabi Sulaiman as. dengan tahunya para jin tentang kabar tersebut, akan tetapi, beliau menegaskan bahwa selain riwayat tersebut gharib, validitasnya juga masih belum bisa dipastikan. Disamping itu, terselip sebagian riwayat yang diyakini bersumber dari penuturan para ahli kitab. [Tafsir Ibn Katsir, juz 6, hal. 443-444].

Hal serupa juga ditegaskan oleh beberapa mufasir kontemporer seperti Musthafa al-Maraghi, Izzat Darwazah, Wahbah al-Zuhaili dan lain-lain. Al-Maraghi menegaskan bahwa Alquran tidak menyebutkan jarak waktu antara kewafatan Nabi Sulaiman as. dengan tersiarnya kabar tersebut ke bangsa jin.

Menurutnya, riwayat yang mengatakan bahwa jarak antara kewafatan Nabi Sulaiman as. dengan tersiarnya informasi kewafatannya adalah satu tahun, merupakan riwayat yang tidak masuk akal. Sebab, bagaimana mungkin para pelayan Nabi Sulaiman as. luput untuk melayani beliau selama satu tahun. Dan, ketika mereka sedang melayani Nabi Sulaiman, mereka pasti sadar kalau Nabi Sulaiman sudah wafat.

Oleh karena itu, menurut al-Maraghi, rayap tersebut sudah sejak awal menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman dan beliau tidak menyadari itu. Kemudian ketika beliau telah wafat, rayap tadi terus menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman sampai tongkat tersebut patah dan membuat tubuh Nabi Sulaiman jatuh tersungkur. [Tafsir al-Maraghi, juz 22, hal. 69]

Yang jelas, para jin yang sedang bekerja untuk Nabi Sulaiman as. memang tidak langsung mengetahui kabar tentang wafatnya Nabi Sulaiman. Mereka baru menyadarinya setelah tubuh Nabi Sulaiman terjatuh karena tongkat yang beliau pegang lapuk dan patah dimakan rayap.

Baca Juga: Mencontoh Spirit dan Doa Nabi Sulaiman dalam Mensyukuri Nikmat

Terlepas dari berbagai riwayat dan pendapat para ulama di atas, Allah swt. ingin menunjukkan bahwa tidak ada makhluk yang dapat menjangkau hal-hal gaib, seperti kejadian di masa mendatang atau hal-hal yang tersembunyi dari pengelihatan. Terkait hal ini, Allah swt. berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ…. [الجن: 26، 27]

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya,” Q.S. Al-Jin [72]: 26-27

Dengan peristiwa tersebut, manusia jadi tahu bahwa jin yang selama ini mendakwa dirinya mengetahui hal-hal gaib telah berbohong. Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk menjangkau dan mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh manusia pada umumnya, hal itu tidak berarti mereka mengetahui perkara gaib. Sebab, jika mereka mengetahuinya, tentu mereka akan langsung sadar terhadap kewafatan Nabi Sulaiman sehingga mereka tidak perlu lagi melakukan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman. Dengan demikian, ayat di atas menegaskan bahwa sejatinya bangsa jin tidak dapat menjangkau perkara gaib. Wallah a’lam

Muhammad Zainul Mujahid
Muhammad Zainul Mujahid
Mahasantri Mahad Aly Situbondo
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...