Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (1): Embriologi dan Perkembangannya

Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (1): Embriologi dan Perkembangannya

Dalam ranah kajian Al-Quran dan tafsir, istilah Tafsir Tarbawi (al-Tafsir al-Tarbawi) bisa dikatakan cukup baru. Kalau merujuk pada karya-karya berbahasa Arab, penamaan Tafsir Tarbawi untuk pertamakalinya digunakan oleh Anwar al-Baz dalam karyanya al-Tafsir al-Tarbawi li al-Qur’an al-Karim yang terbit tahun 2007. Diskursus Tafsir Tarbawi sebagai bagian dari studi Al-Quran telah menjadi trend tersendiri lebih-lebih bagi mereka yang menggeluti dunia pendidikan Islam.

Tanpa terkecuali di Indonesia, sejarah dan perkembangan Tafsir Tarbawi tampak belum mendapat perhatian lebih. Tulisan ringan ini mencoba memberikan rekaman historis bagaimana dinamika kajian tafsir Al-Quran serial Tafsir Tarbawi ‘menemukan tempatnya’ dalam ruang khazanah tafsir Al-Quran Indonesia. Dua sub bahasan yang akan dihadirkan adalah seputar embriologi perkembangan Tafsir Tarbawi dan beberapa karya tentangnya.

Baca Juga: Mengenal Al-Tafsir Al-Tarbawi li Al-Qur’an Al-Karim: Tafsir Tarbawi Pertama Lengkap 30 Juz

Awal Kemunculan

Tidak diketahui persis sejak kapan terminologi Tafsir Tarbawi ini muncul di Indonesia. Namun diduga kuat istilah Tafsir Tarbawi ini mulai terdengar di tengah-tengah publik sejak menjadi salah satu nama mata kuliah pada program studi atau jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Institus Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN). Mata kuliah Tafsir Tarbawi ini juga bisa ditemukan pada beberapa sekolah tinggi swasta.

Cucu Surahman dalam bukunya, Tafsir Tarbawi di Indonesia menyebutkan bahwa karya pertama yang berjudul atau menggunakan istilah ‘Tafsir Tarbawi’—walaupun sebagai sub judul—adalah buku milik Abuddin Nata, seorang pakar pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku tersebut berjudul Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy) diterbitkan tahun 2002. Buku ini merupakan bahan ajar untuk mata kuliah Tafsir Tarbawi.

Cucu Surahman juga menjelaskan bahwa kemunculan Tafsir Tarbawi di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemikiran khususnya dalam konteks pendidikan Islam yang berkembang di Timur Tengah dan negara-negara muslim lain. Mengingat karya-karya tentang pendidikan Islam berbahasa Arab sudah ada sebelum karya-karya Tafsir Tarbawi mulai populer. Selain itu, rekomendasi konferensi pendidikan di dunia Islam yang diselenggarakan di Makkah tahun 1977 terkait pengembangan konsep pendidikan Islam berdasarkan Al-Quran sangat mungkin telah mendorong kemunculan Tafsir Tarbawi ini.

Setelah karya milik Nata tersebut belakangan muncul buku-buku yang terkait—atau dengan jelas—menggunakan istilah Tafsir Tarbawi atau Tafsir Pendidikan. Dari kisaran tahun 2002 itulah kajian-kajian seputar Tafsir Tarbawi di Indonesia mulai digandrungi dan peminatnya silih berganti berdatangan. Hingga saat ini, kajian-kajian atau tulisan tentang Tafsir Tarbawi terus bermunculan, baik dalam bentuk buku terbitan atau artikel-artikel ilmiah dan sebagainya.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Keharusan Berpikir Kritis Bagi Pendidik dan Peserta Didik

Beberapa Literatur Tafsir Tarbawi di Indonesia

Dalam rentang kurun waktu antara tahun 2002-sekarang, telah lahir karya-karya Tafsir Tarbawi dari tangan-tangan intelektual muslim Indonesia. Karya-karya tersebut antara lain Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy) karya Abuddin Nata (2002), Tafsir Ayat-ayat Pendidikan: Hati yang Selamat hingga Kisah Luqman karya Nurwajdah Ahmad E.Q (2007), Tafsir Tarbawi: Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan karya Ahmad Munir (2008), Epistemologi Pendidikan Islam: Integrasi al-Tarbiyyah dan al-Ta’lim dalam Al-Qur’an karya Rosidin (2010), Tafsir Tarbawi: Pengantar ke Tafsir Tarbawi karya Suteja (2012).

Kemudian Tafsir Pendidikan karya Ahmad Izzan dan Saehuddin (2012), Tafsir Ayat-ayat Pendidikan: Meretas Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an karya Muh. Anis (2012), Tafsir Tarbawi: Nilai-nilai Pendidikan dalam Al-Qur’an karya Salman Harun (2013), Tafsir & Hadits tentang Pendidikan karya Nanang Gojali (2013), Konsep Andragogi dalam Al-Qur’an: Sentuhan Islami pada Teori dan Praktek Pendidikan Orang Dewasa karya Rosidin (2013), Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan karya Kadar M. Yusuf (2013)

Disusul Tafsir Pendidikan Islam karya Mahmud Arif (2015), Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an karya Abuddin Nata (2016), Tafsir Ayat-ayat Pembelajaran dalam Al-Qur’an karya Syukri (2016), Al-Islam Studi Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tarbawi) karya Arief Hidayat Afendi (2016), Tafsir Ayat-ayat Pendidikan karya Listiawati (2017), Pembelajaran dalam Islam (Konsep Ta’lim dalam Al-Qur’an) karya Aam Abdussalam (2017), Tafsir Tarbawi (Kajian Ayat-ayat Al-Qur’an dengan Tafsir Pendidikan karya Mahyudin (2018).

Selain karya-karya di atas, masih ada beberapa karya lain dalam bentuk karya bersama (kolektif), seperti Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an karya kolektif yang dieditori oleh Asikin Nor dan Sahriansyah (2012), dan Tafsir Tarbawi yang dieditori oleh Asnil Aidah Ritonga dan Irwan (2013). Meski begitu penting dicatat bahwa tidak menutup kemungkinan ditemukannya karya-karya lain yang belum penulis sebutkan sebagaimana di atas. Wallahu a’lam

Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...