BerandaKisah Al QuranMakna Sujud para Malaikat kepada Nabi Adam

Makna Sujud para Malaikat kepada Nabi Adam

Nabi Adam a.s. merupakan nabi pertama sekaligus menjadi salah satu sosok paling banyak diceritakan di dalam Alquran. Kisah beliau tersebar pada sejumlah ayat dan surah. Namun, kisah Nabi Adam a.s. secara komprehensif dapat dijumpai dalam dua surah saja, yakni Q.S. al-Baqarah [2]: 30-38 dan Q.S. al-A’rāf [7]: 11-25.

Kiranya dua surah tersebut sudah dapat mewakili seluruh kisah Nabi Adam a.s. dalam Alquran. Bagian pertama mengisahkan proses penciptaan awal Nabi Adam a.s. hingga Allah mengusirnya dari surga bersama Hawa. Bagian kedua menceritakan perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. dan keengganan Iblis bersujud kepada Nabi Adam a.s.

Pada tulisan ini, penulis secara khusus menarik salah satu poin kisah Nabi Adam a.s., yang dilatarbelakangi oleh seorang anak berusia tujuh tahun yang pada suatu hari bertanya kepada penulis, “Mengapa para malaikat bersujud kepada Nabi Adam a.s.? Bukankah bersujud hanya kepada Allah?” Yakni, berkenaan dengan bagaimana posisi sebenarnya sujud para malaikat kepada Nabi Adam a.s.? Apakah sama seperti posisi sujud ketika salat? Serta apa makna di balik itu?

Sebelum dijawab, simak salah satu ayat yang menyebutkan perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. pada surah al-Baqarah ayat 34 berikut.

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.

Tentang perintah sujud kepada Nabi Adam a.s. ini terdapat dua pendapat ahlu takwil yang dikutip oleh al-Mawardi dalam al-Nukat wa al-’Uyūn (1/101-102). Pertama, perintah sujud tersebut adalah sebagai bentuk memuliakan dan mengagungkan. Kedua, menjadikan Nabi Adam a.s. sebagai kiblat, sehingga Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada kiblatnya sebagai bentuk pengagungan.

Sujud kepada Nabi Adam Adalah Wujud Pemuliaan dan Penghormatan

Berkenaan dengan ayat terkait, al-Shabuni dalam Muhktaṣar Tafsīr Ibnu Kaṡīr (2/432) memaknai bahwa sujud para malaikat kepada Nabi Adam a.s. adalah wujud penghormatan (tasyrīf), memuliakan (takrīm), dan mengagungkan (ta’ẓīm). Adapun al-Baghawi menuturkan pendapat paling kuat berkenaan dengan ayat perintah sujud ini adalah bentuk ketaatan kepada Allah, dalam wujud penghormatan kepada Nabi Adam a.s. Bukan sujud ibadah [Tafsīr al-Baghawī, 1/81].

Lantas, jika tidak sama seperti sujud ibadah kepada Allah, bagaimana posisi sujudnya? Dalam Tafsīr al-Jalālayn (hal. 9) disebutkan bahwa sujud penghormatan tersebut adalah bi al-inḥinā, yakni dengan posisi badan membungkuk. Senada dengan al-Wahidi dalam al-Wajīz li al-Waḥidī (hal. 100), bahwa sujud dalam rangka mengagungkan dan menghormati adalah dalam kondisi membungkukkan badan yang menunjukkan kerendahan diri, bukan meletakkan dahi di atas bumi. Dengan demikian, tidak seperti halnya sujud ketika ibadah salat, menyembah kepada-Nya.

Baca juga: Iblis Termasuk Golongan Malaikat atau Bukan? Ini Kata Ulama

Hal ini kiranya dapat digambarkan sebagaimana dalam film-film atau animasi yang memperlihatkan adegan kedatangan raja, maka disambut oleh penduduk istana dengan badan membungkuk menghadap ke bawah sebagai wujud penghormatan. Kurang lebih seperti itulah penggambaran posisi sujud para malaikat kepada Nabi Adam a.s.

Sebagaimana halnya ungkapan Ibnu Asyur dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (1/422), esensi sujud adalah merendahkan tubuh atau menjatuhkan tubuh di atas bumi dengan niat untuk menghormati objek yang tampak di depan mata, seperti sujud kepada raja atau penguasa.

Sujud kepada Nabi Adam a.s. sebagai Kiblat

Sebagian mufasir memaknai sujud kepada Nabi Adam a.s. kala itu adalah menjadikannya sebagai arah kiblat. Sebagaimana pengutipan al-Baghawi dalam Tafsīr al-Baghawī (1/81) yang mengungkapkan bahwa sujud kepada Nabi Adam a.s. adalah sebagai arah kiblat, dengan meniatkan sujud itu ditujukan kepada Allah. Seperti halnya kedudukan Kakbah sebagai kiblat salat, yang mana salat itu sendiri ditujukan semata-mata untuk menyembah Allah.

Baca juga: Esensi Sujud dan Fungsi Masjid yang Sebenarnya

Pendapat ini mengarahkan pemahaman bahwa sujud yang dimaksud ditujukan kepada Allah atas kebesaran-Nya menciptakan manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan sehingga dipercayakan menjadi khalifah di muka bumi. Oleh karenanya, pandangan ini mengatakan bahwa hakikat sujud ini diperuntukkan kepada Allah melalui kiblat Nabi Adam a.s.

Perintah Sujud kepada Nabi Adam a.s. Mengajarkan untuk Memuliakan Orang Berilmu

Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa diperintahkannya sujud kepada Nabi Adam a.s. kala itu adalah bentuk penghormatan, mengagungkan, dan memuliakan. Dan pastilah ini memiliki alasan tersendiri. Salah satunya adalah keunggulan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Shadiq Ahmad Khan mengutip ungkapan Imam al-Biqa’i dalam tafsirnya yang menjelaskan bahwasanya secara konteks, Allah mengajarkan nama-nama segala sesuatu kepada Nabi Adam a.s. terlebih dahulu. Baru kemudian setelah itu, terjadilah perintah sujud kepada Nabi Adam a.s., disusul dengan penempatan ia di surga, dikeluarkan dari sana, hingga kemudian ditempatkan di bumi beserta anak keturunannya [Fatḥ al-Bayān fī Maqāṣid al-Qur’ān, 1/131].

Dengan begitu, dapat ditemukan poin tersembunyi yang mampu dijadikan pelajaran, yakni pentingnya mengagungkan ilmu pengetahuan dan kelayakan para orang berilmu untuk dihormati dan dimuliakan. Sebab, tatkala Allah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada Nabi Adam a.s. yang tidak dimiliki oleh para malaikat, Dia menjadikan Nabi Adam a.s. sebagai contoh penemu dan pengembang ilmu pengetahuan yang telah dimunculkan dalam diri manusia dimulai sejak terciptanya Nabi Adam a.s. hingga anak keturunannya sampai hari kiamat kelak [al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 1/422].

Baca juga: Menyoal Letak Jannah Tempat Tinggal Nabi Adam

Maka, dapat ditemukan jawaban bagi pertanyaan yang telah penulis paparkan di permulaan tulisan ini, bahwa perintah sujud kepada Nabi Adam a.s. kala itu adalah sebagai bentuk memuliakan, mengagungkan, dan menghormati, dengan cara merendahkan badan. Bukan sujud sama halnya posisi salat dengan menempelkan dahi di atas bumi. Dapat pula dikatakan bahwa sujud tersebut ditujukan kepada Allah dengan menjadikan Nabi Adam a.s. sebagai kiblatnya, sebagaimana Kakbah sebagai kiblat salat saat ini.

Akhir kata, bukan tanpa alasan sujud kala itu diperintahkan-Nya. Makna tersembunyi di balik itu ialah, betapa ilmu pengetahuan amat dimuliakan oleh Allah. Siapapun yang berilmu, layak dan patut dihargai dan dihormati. Sebab dengannya, bumi mampu dikembangkan sebagaimana mestinya, serta mengantarkan manusia mempersiapkan amal untuk kehidupan kekal setelah di dunia. Wallāhu a’lamu.

Fatia Salma Fiddaroyni
Fatia Salma Fiddaroyni
Alumni jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri; santri PP. Al-Amien, Ngasinan, Kediri.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Hikmah Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar dalam Surah Al-Fajr

Hikmah Allah Bersumpah dengan Waktu Fajar dalam Surah Al-Fajr

0
Surah al-Fajr merupakan satu di antara beberapa surah dalam Alquran yang diawali dengan rangkaian sumpah Allah dengan makhluk-Nya. Di ayat pertama surah tersebut Allah...