Beranda Tafsir Tematik Matahari Juga Sebagai Sumber Energi Cahaya, Berikut Penjelasan Tafsirnya

Matahari Juga Sebagai Sumber Energi Cahaya, Berikut Penjelasan Tafsirnya

Di antara fungsi matahari ialah sebagai sumber energi cahaya. Matahari dengan segala keutamaan dan kemanfaatannya telah memberi kehidupan di muka bumi ini. Sinar matahari sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Vitamin D sebagai salah satu produk dari sinar matahati terbukti mampu memberi kemanfaatkan kepada manusia yaitu menguatkan tulang-tulang manusia dan terhindar dari keropos tulang.

Bahkan Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimension of Islam, melukiskan betapa cahaya sebagai sesuatu yang terang atau tampak (dzahir) pada dirinya dan bisa membuat yang lain tampak terang (al-mudzhir). Tentu inspirasi Schimmel bersumber dari fungsi matahari sebagai sumber energi cahaya. Fungsi matahari sebagai sumber cahaya sejatinya telah termaktub dalam Q.S. Yunus [10]: 5,

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, (Q.S. Yunus [10]: 5)

Baca Juga: Inilah Enam Fungsi Energi Matahari Menurut Tafsir

Tafsir tentang Energi Matahari

Dalam Jami’ al-Bayan, al-Tabari menafsirkan matahari sebagai cahaya adalah bahwa sesungguhnya Allah swt menciptakan langit dan bumi termasuk pula menjadikan matahari sebagai dhiya’ (bersinar). Dhiya’ di sini dimaknai al-Tabari dengan bin nahar (bersinar di siang hari). Dan bulan yang bercahaya (nur). Al-Tabari memaknai nur rembulan dengan bil lail (bercahaya di malam hari). Jadi, maknanya adalah Dia menjadikan matahari bersinar di siang hari dan bercahaya di malam hari (huwal ladzi adha-a al-syamsi wa ana-a al-qamari).

Sedangkan al-Qurtubi menjelaskan makna ayat tersebut ada dua (maf’ulani), yaitu mudhi-ah (مضيئة) artinya bersinar, memancar, terang dan muniran (منيراً) artinya yang menerangi. Al-Qurtubi membedakan kedua term ini yaitu

فالضِّيَاءُ ما يَضِيءُ الْأشياءَ، وَالنّورُ ما يبين فيخفى، لِأنه من النارِ من أصلٍ واحدٍ. والضِّياءُ جَمْعُ ضَوْءٍ كالسِّياطِ والحياض جمع سَوط وحَوض

“Adapun kata dhiya’ adalah apa-apa yang memancarkan sesuatu, sedangkan an-nur yaitu apa yang tampak dan tersembunyi, sebab nur adalah cahaya dalam bentuk tunggal.  Sementara kata dhiya’ adalah bentuk jama’ dari dhau’ seperti halnya kata al-siyath dan hiyadh adalah bentuk jamak dari sauth dan haudh.

Lebih dari itu, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan ayat matahari sebagai sumber energi cahaya memiliki beberapa penafsiran di antaranya. Pertama,

المسألة الأولى: اعْلم أنه تعالى لما ذَكَرَ الدَّلَائلَ الدَّالةَ عَلَى الْإِلَهِيَةِ، ثم فرع عليها صحة القول بالحشر والنشر، عاد مرة أخرى إلى ذكر الدلائل الدالة على الإلهية. واعْلَمْ أن الدلائل المتقدِّمةَ فِي إثْبَاتِ التَّوْحِيدِ والإلهية هي التَّمَسُّك بِخَلْقِ السَّموَاتِ وَالأرض، وهذا النوع إشارة إلى التمسك بأحوال الشمس والقمر، وهذا النوع الأخيرُ إشارةٌ إلى ما يؤكد الدليل الدال على صحة الحشر والنشر

“Ketahuilah tatkala Allah swt menyebut bukti empirik tentang ketuhanan-Nya dengan kesahihan firman-Nya, lalu menyebut kembali bukti-bukti ketuhanannya, maka sesungguhnya Ia menunjukkan bahwa dalil di atas teraktualisasi dan tervalidasi dengan kepatuhan langit dan bumi, matahari dan bulan serta makna akan validnya kejadian yaum al-ba’ats (hari kebangkitan) nanti.

Baca Juga: Tafsir Surah Luqman Ayat 29, Matahari Sebagai Sumber Kehidupan

Kedua, al-Razi berkata,

المسألة الثانية: الاِسْتِدْلالُ بأحوال الشَّمْسِ والقمر على وجودِ الصَّانع المقدر هو أن يقال: الأجسامُ في ذواتها مُتَماثلةٌ، وفي ماهياتها متساوية، ومتَى كانَ الْأَمْرُ كذلك كان اختصاصُ جسمِ الشَّمسِ بِضَوْئهِ الباهرِ وشعاعِه القاهر، واختصاصُ جسم القمر بنوره المخصوصِ لأجلِ اْلفاعلِ الْحكيمِ المختارِ، أَمَّا بيانُ أنَّ الأجسامَ متماثلة في ذواتِها وماهياتِها

”Kedua, kesimpulan dari keadaan matahari dan bulan adalah bukti adanya pencipta. Dikatakan kedua fisik benda itu (matahari dan bulan) adalah ciri khas tersendiri (mutamatsilah), sedangkan esensinya adalah sama (mutasawiyah). Matahari dengan pancaran sinarnya amat menyilaukan. Begitupula bulan dengan keelokan cahayanya amat mengindahkan, semua mempunyai keunikan dan distingsinya masing-masing baik secara dzatiyah (fisik) maupun mahiyah (substansi)”.

Lebih jauh dari tafsir di atas, Sayyid Muhammad Tantawi dalam Tafsir al-Wasith yang juga mengutip Tafsir al-Alusi bahwa kedua ayat di atas menunjukkan eksistensi-Nya, keesaan-Nya, kekuasaan-Nya dan hikmah-Nya.  

والمعنى: الله- تعالى- وحده هو الذي جعل لكم الشمس ذات ضياء، وجعل لكم القمر ذَا نورٍ، لِكَيْ تنتفعُوْا بِهِما في مُخْتَلِفِ شُئونِكم.قال الجمل: «وخصَّ الشمسُ بالضِّياءِ لأنه أقوى وأكملُ من النُّور، وخُصَّ القمر بالنور لأنه أضعفُ من الضياء ولأنهما إذا تساوَيا لم يعرف الليلُ من النهار، فدلَّ ذلك على أنَّ الضياءَ المُخْتَصَّ بالشمسِ أكملُ وأقوى من النور المختص بالقمر

“Allah swt menjadikan matahari sebagai dzat bersinar (dzata dhiya-an) dan menjadikan bulan bercahaya (dza an-nur) yang saling memberi kemanfaatan bagi seluruh kepentingan manusia”

Lebih lanjut, al-Jamal dalam Hasyiah al-Jamal mengatakan bahwa Allah swt mendesain matahari secara khusus dengan dhiya’-nya karena kekuatan dan kekohohan sinarnya melebihi an-nur. Begitu pula bulan dengan nur-nya, karena cahayanya yang lebih lemah daripada sinar matahari. Sebab jika mereka sama (tidak ada bedanya) justru tidak diketahui kekhasannya. Maka ini menjadi dalil (bukti) bahwa sesungguhnya sinar matahari lebih sempurna dan lebih kokoh daripada cahaya rembulan”.

Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran

Matahari sebagai Sumber Energi Cahaya

Matahari adalah sumber energi terbesar di muka bumi. Sumber energi itu berupa pancaran sinar panasnya sehingga mampu menerangi, menyinari dan membantu proses penyerbukan fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan segala proses lainnya yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta.

Arthur C. Giese dalam risetnya, Living with Our Sun’s Ultraviolet Rays mengatakan bahwa sinar matahari merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Matahari adalah sumber kehangatan dan cahaya bagi manusia (our source of warmth). Energi matahari, kata Arthur, adalah energi yang tidak pernah habis alias energi terbarukan yang selalu ada. Energi ini bermanfaat untuk fotosintesis, dan produk fotosintesis merupakan makanan kita, bahan bangunan, dan bahan bakar.

Menguatkan riset Arthur, Ted Underwood dalam The Work of the Sun menuturkan bahwa sumber dari semua pekerjaan adalah matahari (the source of all labour is the sun). Bahkan Jurnal Chambers yang dikutip John Tyndall dalam Heat Considered as a Mode of Motion, dalam satu bab khusus berjudul, “The Source of Labour,” ia mengatakan “semua pekerjaan yang dilakukan di bawah matahari benar-benar dilakukan olehnya (matahari)” (all the labour done under the sun is really done by it).

Sebagai penutup, John Tyndall dalam pernyataannya, ia berujar, “setiap tindakan mekanik di permukaan bumi ini, setiap manifestasi kekuatan baik organik dan anorganik, bersifat vital maupun non vital, semuanya dihasilkan oleh matahari” (every mechanical action on the earths surface, every manifestation of power, organic and inorganic, vital and physical, is produced by the sun). Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...