Beranda Ilmu Tajwid Mengenal 8 Huruf HijaiyahTambahan dalam Ilmu Tajwid

Mengenal 8 Huruf HijaiyahTambahan dalam Ilmu Tajwid

Setelah mengetahui jumlah Huruf Hijaiyah yang berjumlah 29 huruf dan perdebatan di dalamnya, maka perlu juga mempelajari 8 huruf-Huruf Hijaiyah tambahan yang muncul sebab hukum-hukum atau kaidah-kaidah yang terdapat dalam ilmu Tajwid.

Artikel ini memaparkan 8 Huruf Hijaiyah tambahan dalam ilmu Tajwid yang bersumber dari kitab Ghayat al-Murid fi Ilm at-Tajwid. Sesuai namanya, huruf-huruf hijaiyah tambahan ini bukan termasuk hijaiyah asli namun perlu diperhatikan terkait pengucapannya.

8 Huruf HijaiyahTambahan

Huruf-Huruf Hijaiyah terbagi menjadi dua macam yaitu asli dan tambahan. Huruf asli ialah huruf yang keluar dari 1 makhraj khusus dan berjumlah 29 huruf dari alif hingga ya. Misalnya huruf jim keluar dari tengah lidah atau kha keluar dari tenggorokan bagian atas.

Sedangkan huruf tambahan adalah huruf yang keluar dari dua makhraj atau muncul sebab pertemuan dua huruf atau dua sifat. Huruf-huruf tambahan ini berjumlah 8 huruf saja dan akan diuraikan satu per satu berikut ini.

Dari kedelapan huruf-huruf hijaiyah tambahan ini tersebar dalam berbagai qiraat. Tidak semua huruf tambahan itu muncul dalam riwayat Hafsh qiraat Ashim. Setidaknya ada 6 (enam) huruf tambahan saja yang dikenali dalam qiraat Ashim riwayat Hafsh.

Pertama, nun yang dibaca samar (ikhfa`). Nun ini berbeda dengan nun asli yang sempurna pengucapannya baik dari segi makhraj maupun sifatnya. Pengucapan nun ikhfa` bercampur dengan huruf setelahnya. Nun ikhfa ini terdapat dalam hukum bacaan Ikhfa Haqiqi.

Kedua, mim yang dibaca samar (ikhfa). Sama seperti huruf sebelumnya, yang dimaksud mim di sini berbeda dengan mim huruf asli. Bunyi mim samar tidak hanya terdapat dalam hukum bacaan Ikhfa Syafawi, melainkan juga nun sukun yang terbalik ketika bertemu huruf ba (Iqlab).

Ketiga, lam yang dibaca tebal (tafkhim). Pada dasarnya, huruf lam memiliki sifat istifal sehingga ia selalu dibaca dalam keadaan tipis (tarqiq). Namun ada satu kondisi yang membuat lam dibaca tebal yaitu lam dalam lafadz Allah yang sebelumnya terdapat harakat fathah atau dhammah.

Keempat, alif yang dibaca tebal (tafkhim). Sama dengan huruf sebelumnya, alif dikenal sebagai huruf yang memiliki sifat istifal yang membuatnya terbaca tipis atau tarqiq (terlepas dari dikursus terkait huruf alif). Alif dibaca tebal apabila sebelumnya terdapat huruf tebal.

Kelima, alif yang dibaca miring (imalah). Yang dimaksud dengan alif imalah ialah pengucapan alif yang miring atau condong ke huruf ya, baik itu imalah sughra maupun kubra. Dalam riwayat Hafsh, alif imalah hanya terdapat di satu tempat saja yaitu kata majreehaa dalam Q.S.  Hud [11]: 41.

Keenam, hamzah yang dibaca ringan (tashil). Berbeda dengan huruf hamzah yang diucapkan dengan tegas, hamzah tashil adalah hamzah yang dibaca mudah (tashil) dan ringan. Disebut juga tashil bayna bayna yang berarti pengucapannya diantara huruf hamzah dan alif. Salah satu contohnya pada kata aa’jamiy dalam Q.S. Fushshilat [41]: 44.

Ketujuh, shad yang bercampur dengan zay (isymam). Yang dimaksud dengan shad isymam di sini adalah huruf shad yang pengucapannya bercampur dengan huruf zay, seperti membaca kata as-shirath. Huruf ini tidak dikenal di riwayat Hafsh dan terdapat dalam qiraah Hamzah.

Kedelapan, ya yang bercampur dengan wawu (isymam). Hampir mirip dengan huruf sebelumnya, huruf ya yang dimaksud di sini ialah huruf ya yang pengucapannya bercampur dengan huruf wawu. Bacaan atau huruf ini tidak dikenal di riwayat Hafsh dan hanya ada di qiraat al-Kisa’i serta riwayat Hisyam.

Demikianlah penjelasan tentang huruf hijaiyah ‘tambahan’ yang dikenal dalam ilmu tajwid. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Ahmad Yahya
Alumni Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Pengajar di Griya Al-Quran Surabaya. Minat kajian pada Tajwid, Ulumul Quran, Tafsir Tematik, Kitab Tafsir.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...