BerandaTokoh TafsirMengenal Sosok Muhammad Irsyad, Mufasir Modernis Asal Madura

Mengenal Sosok Muhammad Irsyad, Mufasir Modernis Asal Madura

Salah satu tokoh tafsir yang keberadaannya tidak banyak diketahui orang—terutama oleh para pemerhati tafsir Nusantara—dan sejarahnya nyaris ditelan zaman adalah Muhammad Irsyad. Sosok yang memiliki etos tinggi terhadap ilmu pengetahuan ini lahir di kampung Lebak, desa Pangeranan, Bangkalan Madura, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1934 M.

Irsyad dianugerahi talenta cukup komplit dan kecerdasan di atas rata-rata. Ia dikenal sebagai seorang seniman pencipta lagu, budayawan, penulis naskah cerita, guru bahasa Ingris, dan ahli kemiliteran di bidang pemeliharan dan penyimpanan peluru kendali. Yang terakhir ini merupakan hasil penimbaan ilmunya selama kurang lebih satu tahun di Yugoslavia. Dalam beberapa kesempatan, terkadang Irsyad diminta menjadi sutradara untuk sebuah pertunjukan kesenian. Produktifitas karangan lagu-lagu madura dan bahasa lainnya yang ia hasilkan berjumlah sekitar 190-an. Beberapa lagu yang cukup populer bagi para penikmat lagu-lagu Madura seperti Pangesto, Bā’-ambā’ān, Ti’-tuti’, Sataon Apesa, dan Tapangghi Pole.

Baca juga: Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

Torehan prestasi Irsyad dalam dunia perlombaan kesenian pun patut diacungi jempol. Irsyad pernah memenangkan lomba cipta lagu Mars Ganefo (Jawa Timur) dan Juara III sayembara penulisan naskah musik diatonis tahun 1978-1979 yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian Dep. P&K Jakarta dengan judul lagu Tanah Pujaan.

Karya lagu yang lain diciptakan seperti lagu hiburan dalam acara pameran lagu-lagu di RRI Studio Surabaya tahun 1960, lagu Mars Siswa Bidan Bangkalan, lagu Mars SKP Bangkalan, dan lagu-lagu berbahasa Yugoslavia seperti Nije Poslednja Noc (bukan malam terakhir).

Irsyad juga pernah menjuarai ajang lomba cipta lagu anak-anak tingkat Nasional tahun 1987-1988 dengan judul lagu “Bersih Lingkungan”. Tokoh yang menguasai enam bahasa (Arab, Ingris, Yugoslavia, Jerman, Perancis dan Belanda) ini tutup usia bertepatan dengan bulan Februari 1994 dan dimakamkan di pemakaman Mlajah, Bangkalan. Masyarakat setempat merasa kehilangan sosok guru dan panutan, juga inspirator ulung yang santun ini. Murid-muridnya pun turut merasakan duka yang mendalam atas kepergian sang guru tercinta.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Hasbi Ash-Shiddieqy, Pelopor Khazanah Kitab Tafsir Kontemporer di Indonesia

Mufasir berpemikiran modern

Muhammad Irsyad memang sosok modernis yang sangat menghargai kekuatan akal. Akal, menurutnya, adalah suatu daya yang hanya dimiliki oleb manusia dan inilah pembeda antara manusia dan mahkluk lainnya. Akal merupakan tonggak kehidupan manusia dan merupakan dasar bagikelanjutan wujudnya. Tidaklah mengherankan jika Irsyad selalu menegaskan bahwa Al-Quran telah berbicara tentang pentingnya akal jauh sebelum hari. Di dalam diri seorang Irsyad menonjol pemikiran yang sangat rasional bahkan berwawasan modern. Ini dapat dilihat ketika ia berhujjah bahwa Al-Quran tidaklah bertentangan dengan akal ataupun ilmu pengetahuan.

Menurut catatan penulis dalam Tafsir Alquran Bahasa Madura: Mengenal Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā) Karya Muhammad Irsyad, sekitar tahun 1985-an, Irsyad menulis sebuah tafsir tematik surah Yasin. Tafsir yang ia namai dengan Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā) rampung pada tahun 1988. Mengingat penekanan Irsyad pada sisi keilmiahan Al-Quran begitu kuat, maka menjadi wajar jika pola dan corak tafsirnya lebih ke arah tafsir saintifik. Jiwa Irsyad seolah-oleh telah dikuasai oleh paradigma ilmu pengetahuan. Karena itu, melalui tafsir ini, Irsyad berusaha menampilkan aspek keilmuan Al-Quran. Tujuannya adalah dalam rangka konsentrasi pada segi petunjuk Al-Quran tentang ilmu pengetahuan.

Dalam Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā), ketika memberikan kata pengantar, terlihat jelas apa yang selama ini menjadi kegelisahan Irsyad. Perhatian Irsyad yang begitu besar terhadap sisi keilmiahan Al-Quran tampaknya dilandasi oleh keyakinan bahwa kelemahan dan kemunduran umat Islam—khususnya Indonesia—serta hilangnya semangat keilmuan mereka adalah karena mereka berpaling dari petunjuk Al-Quran. Padahal, Al-Quran tidak saja menyeru manusia untuk mengembangkan potensi pengetahuannya, tetapi bahkan juga di dalamnya dimuat banyak sekali informasi-informasi seputar sains dan teknologi.

Baca juga: Mengenal Muhammad Abduh Pabbajah, Mufasir Nusantara Asal Sulawesi

Untuk kembali memperoleh semangat keilmuan dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat, menurut pandangan Irsyad, jalan yang harus ditempuh adalah dengan kembali pada petunjuk Al-Quran dan berpegang teguh padanya. Tanpa berpedoman pada Al-Quran, umat Islam Indonesia tidak akan memperoleh kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegelisahan-kegelisahan Muhammad Irsyad—seperti keberadaan Al-Quran yang hanya dijadikan bacaan semata, disakralkan dalam fanatisme buta, hingga pesan-pesan keilmiahannya diabaikan—adalah sebuah sikap prihatin melihat keterpurukan Indonesia. Lebih-lebih soal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang jauh bila dibandingkan negara-negara lain. Maka, dengan segala keterbatasannya, ia pun memberanikan diri untuk ikut menyumbangkan gagasan dan pemikirannya. Dengan harapan, gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan dalam tafsirnya mampu membangunkan kesadaran masyarakat perihal kondisi buruk yang sedang dialami bersama. Itulah sebabnya, Muhammad Irsyad berkeinginan begitu mendalam, melalui tafsirnya ini, Al-Quran—sekurang-kurangnya surah Yasin—tidak hanya dijadikan sebagai bacaan saja, melainkan juga dipahami maksud dan kandungannya. Wallahu a’lam.

Fawaidur Ramdhani
Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mufasir Indonesia

Mengulas Naskah Tempo 1984 “Fatwa Kecil dari Kudus”

0
"Fatwa Kecil dari Kudus" merupakan judul artikel dalam Majalah Tempo, 4 Agustus 1984. Majalah ini didapat dari arsip Perpustakaan Medayu, Surabaya. Artikel yang dimuat...