BerandaKhazanah Al-QuranMenjadi Sehat dengan Berpuasa di Bulan Ramadan

Menjadi Sehat dengan Berpuasa di Bulan Ramadan

Kesehatan merupakan suatu hal yang amat penting dalam menjaga keberlangsungan hidup setiap manusia. Tidak hanya berefek pada jalannya segala aktifitas duniawi, manfaat badan yang sehat dalam segi spiritualitas tentu memberikan dampak pada maksimalnya beribadah kepada-Nya. Begitu pula sebaliknya, ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya tentu mengandung hikmah, salah satunya berdampak bagi kesehatan manusia adalah puasa.

Pokok terpenting kewajiban berpuasa bagi setiap muslim di bulan Ramadan adalah menahan diri dari makan dan minum, atau memasukkan sesuatu ke dalam salah satu jauf atau lubang tubuh. Maka ini akan terjadi pengosongan lambung dari segala sesuatu, baik makanan maupun minuman. Poin penting inilah yang menjadi perbincangan para peneliti untuk mengungkap rahasia puasa bagi kesehatan.

Baca Juga: Inilah Lima Hakikat Puasa Ramadan menurut Al-Ghazali

Ramadan Adalah Bulan Kesehatan

Selain disebut-sebut sebagai bulan ibadah, kebahagiaan, Alquran, dan lain sebagainya, bulan Ramadan juga disebut pula sebagai bulan kesehatan. Mengapa demikian? Kosongnya lambung untuk beristirahat mengoyak makanan dan minuman, ternyata menyimpan rahasia kesehatan yang jarang disadari oleh sebagian orang.

Mengenai pembahasan ini, penulis mengulas dari Muhammad bin Ibrahim al-Hamd [Durūs Ramaḍān, 53-57]. Menurutnya, puasa memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh, apalagi jika mengikuti cara yang benar dalam menjalankan puasanya, yaitu dengan tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Pengaruh luar biasa dari puasa adalah melindungi tubuh dari zat-zat berbahaya yang mampu merusak tubuh jika dikuasai oleh komponen jahat tersebut.

Menyehatkan Sistem Pencernaan

Mayoritas dokter sering menyebutkan manfaat puasa yang luar biasa bagi tubuh. Salah satu yang mereka sampaikan mengenai hal ini adalah mengeluarkan sisa-sisa busuk dari lambung dan usus, serta mengistirahatkan sistem pencernaan dari beban kerja. Perlu diketahui bahwa asal mula munculnya penyakit, sebagian besar adalah disebabkan oleh pola makan. Bahkan, di samping diet, penderita radang usus kronis dan kolitis kronis memeroleh manfaat besar dari puasa.

Seseorang yang menderita gagal hati juga mendapat manfaat puasa apabila berbuka dalam jumlah yang sedang, tidak berlebihan. Ini juga berlaku dalam meminimalisisr pada beberapa kasus alergi. Mengistirahatkan sistem pecernaan sangat penting untuk menghilangkan gatal yang timbul akibat makanan tertentu. [Durūs Ramaḍān, 53-57]

Baca Juga: Keistimewaan Puasa Ramadan dan Manifestasi Kasih Sayang Tuhan

Menenangkan Sistem Saraf

Selain menahan makan dan minum, untuk mendapatkan keutamaan puasa dan kemuliaan Ramadan, menahannya seluruh indra lainnya dari segala hal yang berasal dari keinginan nafsu dan syahwat juga berimbas pada kesehatan mental manusia, yang mana sangat erat kaitannya dengan pemeliharaan kesehatan sistem saraf. Allah befirman dalam Q.S. Albaqarah [2]: 183 berikut.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Terkait ayat ini, az-Zuhaili mengatakan bahwa puasa merupakan upaya penyucian jiwa sebagai jalan takwa kepada-Nya. Mengajarkan kesabaran, yakni sabar menghadapi kepayahan atau kesulitan, kesukaran pengendalian diri, dan meninggalkan hawa nafsu. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ : al-ṣaumu niṣfu al-ṣabri (Puasa adalah separuh dari kesabaran). [Tafsīr al-Munīr, 2/130]

Buah dari sabar adalah tenang. Jiwa yang tenang, tentu akan berdampak pada kesehatan sistem saraf. Sebagaimana Muhammad Abu Shouk dalam artikelnya berjudul Puasa dan Sistem Saraf, beliau mengatakan bahwa spritualitas puasa seperti menyucikan dan menghaluskan jiwa, yaitu dengan melatih kesabaran, berbelas kasih terhadap fakir miskin, menjauhi keburukan hawa nafsu dan hal-hal yang mampu meminimalisir celaka atau dampak buruk yang ditimbulkan dari hawa nafsu. [Durūs Ramaḍān, 53-57] Ini sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya Q.S. Yusuf [12]: 53 berikut.

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ  بِالسُّوْءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Az-Zuhaili mengomentari ayat ini, bahwa sebagian besar nafsu mendorong setiap insan kepada timbulnya syahwat, dan berkemungkinan besar memengaruhi untuk bertindak kejahatan. Maka sangat perlu sekali bagi diri sendiri untuk terus berjuang mengawasi, menahan, dan memeringati hawa nafsu. [Tafsīr al-Munīr, 13/7]

Abu Ja’far sependapat pula, bahwa sesungguhnya hawa nafsu yang terkumpul dalam diri, tidak segan-segan mampu menuruti segala keinginan hawa nafsu apapun, meski yang tidak diridhai Allah sekalipun. [Tafsīr al-Ṭabari Jāmi’ al-Bayān, 16/142] Maka dengan berpuasa, adalah cara jitu menjinakkan hawa nafsu agar tidak liar dan mampu dikelola dengan baik.

Baca Juga: 3 Hikmah Puasa Bagi Seorang Muslim

Adapun menyucikan jiwa dengan akhlak yang luhur, seperti berkata jujur, menjauhi amarah, dendam, kebencian, iri hati, dan segala bentuk kebencian terhadap manusia lainnya. Semua itu mengilhami jiwa manusia untuk membentuk kedamaian, kasih sayang, dan ketenangan, yang pada gilirannya mampu memengaruhi sistem saraf manusia, yang mana upaya-upaya tersebut adalah bentuk dari ‘menenangkan’ diri. Karena, ketika sistem saraf meletus, sistem-sistem lain yang menjaga fungsi tubuh pun ikut meletus.

Pada akhir tulisannya, Muhammad Abu Shouk mengungkapkan bahwa orang-orang yang sering mengunjungi dokter demi mendapatkan obat meredakan ketegangan saraf, kelelahan saraf, susah tidur, depresi, dan penyakit lain yang berhubungan dengan saraf, maka Ramadan adalah bagian dari obatnya, bagi siapapun yang turut memuasakan jiwanya.

Manfaat puasa bagi kesehatan bahkan telah terbukti oleh kalangan non-muslim Eropa, Amerika, dan wilayah lainnya. Di antara dari mereka meluncurkan buku terkait hal ini dan mendirikan sanotarium yang merawat pasien mereka dengan puasa, dan mereka mencapai hasil luar biasa di mana penyakit yang sulit disembuhkan oleh apapun kecuali dengan puasa. [Durūs Ramaḍān, 53-57]

Penutup

Dari pemaparan yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa terdapat beragam manfaat puasa bagi kesehatan menurut ahli medis, bahkan non-muslim sekalipun. Hal ini merupakan tanda kebesaran Allah, penggalian ilmu dan pengetahuan inilah selain menjadi pedoman kehidupan, juga menjadi sarana untuk bertasbih memuji kebesaran-Nya, serta semakin taqarrub kepada-Nya.

Fatia Salma Fiddaroyni
Fatia Salma Fiddaroyni
Alumni jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri; santri PP. Al-Amien, Ngasinan, Kediri.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

penamaan surah Alquran

Penamaan Surah Alquran: Proses Penamaan Nonarbitrer

0
Penamaan merupakan proses yang selalu terjadi dalam masyarakat. Dalam buku berjudul “Names in focus: an introduction to Finnish onomastics” Sjöblom dkk (2012) menegaskan, nama...