Beranda Kisah Al Quran Mungkinkah Kisah-Kisah Al-Quran Terulang Kembali? Ini Penjelasannya Menurut As-Sya’rawi

Mungkinkah Kisah-Kisah Al-Quran Terulang Kembali? Ini Penjelasannya Menurut As-Sya’rawi

Kisah-kisah yang dimuat Al-Quran, sering kali nama-nama pemerannya disamarkan dengan hanya menyebutkan gelarnya saja. Taruhlah seperti Dzul Qarnain dan Fir’aun. Selain nama tokoh, latar waktu dan tempat kisahnya pun kadang tidak disebutkan. Hal ini karena maksud sesungguhnya dari kisah- kisah Al-Quran adalah untuk menyajikan pelajaran dan hikmah, bukan untuk menampilkan fakta sejarah secara utuh dari kisah yang bersangkutan.

Seseorang yang mengkaji fakta sejarah di balik kisah-kisah Al-Quran tidak akan menemukan kata sepakat, karena sebagian besar dari kisah Al-Quran bernada perumpamaan. Dengan kata lain, bahwa kejadian dari kisah dalam Al-Quran bukan terbatas pada individu tokohnya saja, melainkan bisa terjadi pada setiap orang, pada waktu dan tempat di masa depan. Pandangan ini setidaknya dapat menjadi jalan kontekstualisasi dan juga anti-tesis terhadap sebagian orang yang memandang bahw kisah dalam Al-Quran merupakan peristiwa sejarah yang tidak terjadi di masa sekarang dan tidak akan terulang.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Adakah Tafsir Ayat Tentang Disyariatkanya Zakat Fitrah?

Sudut pandang yang demikian, imam as-Sya’rawi kemudian memformulasikan menjadi dua kaidah; 1) Jika Al-Quran tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka peristiwa serupa dapat terulang. Sebaliknya, 2) Jika Al-Quran menyebut nama tokohnya, maka peristiwa itu tidak akan terulang (lihat Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Quran)

Kisah Al-Quran yang Terulang Kembali

Kaidah pertama dari as-Sya’rawi berbunyi, “Jika Al-Quran tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh, maka peristiwa serupa dapat terulang.” Sebagai contohnya adalah kisah Fir’aun dan bala tentaranya. Dalam kisah itu, Allah tidak menyebutkan siapa diri Fir’aun yang sezaman dengan Nabi Musa itu, pada tahun berapa dan di mana latar tempat kisah itu terjadi. Demikian ini karena tujuan dari kisah itu bukan untuk mengetahui siapa sebenarnya Fir’aun, di mana dan kapan ia hidup.

Sehingga pengkajian kisah Fir’aun dengan mencari data sejarahnya dalam Al-Quran tidaklah penting menurut as-Sya’rawi. Apakah Firaun yang semasa dengan Nabi Musa adalah Ramses II atau Ramses keberapa. Penelitian semacam ini hanya membuang waktu. Karena yang menjadi tujuan dari kisah dalam Al-Quran adalah pelajaran dari kisah tersebut.

Dalam tafsirnya Tafsir Asy-Sya’rawi, sosok Fir’aun oleh as-Sya’rawi digambarkan sebagai orang yang dzalim dan menuhankan dirinya, ia berkata “akulah Tuhanmu yang tertinggi” (QS. An Nazi’at [79]: 24). Kedzalimannya terhadap bani Israil berupa penindasan yang sangat kejam dan membunuh  bayi laki-laki yang terlahir dari kaum mereka (QS. Al Baqarah [2]: 49, QS. Al A’raf 7: 141, QS. Ibrahim [14]: 6), karena ia takut kehilangan kekuasaannya setelah bermimpi akan datang seorang anak dari kalangan bani Israil yang mampu menggulingkan tahtanya. Namun akhirnya Fir’aun dengan para pengikutnya musnah ditenggelamkan oleh Allah dan diberikan balasan siksa di dunia dan akhirat (QS. An Nazi’at [79]: 25).

Kisah Fir’aun tersebut memberi pelajaran bahwa di sepanjang zaman akan ada orang-orang yang menuhankan dirinya, dan orang-orang dikdaktor yang berlaku dzalim sebagimana dilakukan oleh Fir’aun. Orang yang dzalim seperti itu akan berakhir dengan tragis, dan akan mendapat siksa di akhirat kelak. Orang seperti ini bukan hanya Fir’aun, tapi bisa ditemui pada sosok-sosok lain; siapapun, kapan dan di manapun itu.

Baca juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

Mengutip dari Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar, bahwa ada beberapa pemimpin dikdator yang selalu menganggap dirinya benar, tidak mau salah dan disalahkan. Para pengikutnya setia memuja hingga seolah mereka sedang memuja Tuhan. Pemimpin-pemimpin tersebut seperti Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, Stalin di Uni Soviet dan lain-lain. Dengan menyamakan sifat dan perilakunya, orang-orang semacam itu bisa dikatakan sebagai Fir’aun; Fir’aun sosok baru, bukan raja Mesir yang hidup pada masa Nabi Musa As.

Kisah Al-Quran yang Takkan Terulang Kembali

Kaidah kedua adalah ‘Jika Al-Quran menyebut nama tokohnya, maka peristiwa itu tidak akan terulang’. Ketika nama asli tokoh disebutkan secara lengkap dalam kisah Al-Quran, maka kisah tersebut termasuk kisah yang tidak akan terulang lagi di kehidupan mendatang. Penyebutan nama yang seperti ini terdapat pada dua tokoh, yaitu pada kisah Maryam binti Imran dan Isa bin Maryam.

Penyebutan nama tersebut karena Isa dan Maryam dibedakan dari seluruh makhluk lainnya; bahwa tidak akan ada wanita yang dapat mengandung anak tanpa laki-laki kecuali hanya Maryam binti Imran dan tidak akan ada anak yang lahir tanpa ayah kecuali Isa bin Maryam (lihat As-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi).

Maka, kisah ini tidak akan terulang pada masa kapanpun dan di tempat manapun. Apabila ada perempuan mengaku mengandung anak tanpa bantuan seorang laki-laki, atau seorang anak mengaku lahir tanpa ayah yang menggauli ibunya, maka pengakuan seperti ini adalah dusta belaka.

Tidak hanya kisah Isa dan Maryam saja, melainkan kisah tentang peristiwa mukjizat para nabi dan rasul juga mustahil terulang kembali. Selain karena penyebutan nama, juga karena mukjizat adalah keistimewaan khusus yang dimiliki para nabi dan rasul. Seperti kisah Nabi Ibrahim As yang selamat ketika dibakar oleh kaum Namrud (QS. Al Anbiya’ [21]: 68-69), kisah Nabi Musa As membelah lautan ketika dikejar oleh bala tentara Firaun (QS. Taha [20]: 77) dan mengubah tongkat menjadi ular (QS. Al A’raf [7]: 107).

Kisah kemukjizatan para nabi tersebut tidak akan terulang di kehidupan selanjutnya, sehingga yang perlu diperhatikan dalam kisah semacam ini adalah teladan luhur yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Pesan Gus Ghofur Maimoen (2): Bersikap Moderat itu Memerlukan Introspeksi Diri

Tawaran perspektif dari as-Sya’rawi di atas tampaknya ingin mangajak para pembaca, pengkaji, dan seluruh umat Islam secara umum untuk memposisikan suatu kisah Al-Quran menjadi sangat penting dalam kehidupan mereka. Sebab, kisah tersebut bukanlah dongeng atau peristiwa yang berlalu saja, tetapi ia tetap hidup dan nyata di setiap generasi.

Bagaimana seorang yang dikaruniai kekuatan dan kekuasaan seharusnya menjadi seperti Dzul Qarnain sehingga dia bisa selamat dan memberi kemanfaatan bagi lainnya. Dan seharusnya tidak menjadi Fira’un yang dzalim dan penuh kesombongan sehingga dia akan celaka dunia dan akhirat. Pelajaran yang diambil tidak hanya dari kedua kisah tersebut, namun dari semua kisah-kisah dalam Al-Quran dengan pegecualian yang telah disebutkan.

Wallahu a’lam []

Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...