Beranda blog Halaman 558

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 28-29

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 28

Kaum Muslimin dilarang menjadikan orang kafir sebagai kawan yang akrab, pemimpin atau penolong, karena yang demikian ini akan merugikan mereka sendiri baik dalam urusan agama maupun dalam kepentingan umat, apalagi jika dalam hal ini kepentingan orang kafir lebih didahulukan daripada kepentingan kaum Muslimin sendiri, hal itu akan membantu tersebarluasnya kekafiran. Ini sangat dilarang oleh agama.

Orang mukmin dilarang mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir, baik disebabkan oleh kekerabatan, kawan lama waktu zaman jahiliah, atau pun karena bertetangga. Larangan itu tidak lain hanyalah untuk menjaga dan memelihara kemaslahatan agama, serta agar kaum Muslimin tidak terganggu dalam usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh agamanya.

Adapun bentuk-bentuk persahabatan dan persetujuan kerja sama, yang kiranya dapat menjamin kemaslahatan orang-orang Islam tidaklah terlarang. Nabi sendiri pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Khuza’ah sedang mereka itu masih dalam kemusyrikan.

Kemudian dinyatakan bahwa barang siapa menjadikan orang kafir sebagai penolongnya, dengan meninggalkan orang mukmin, dalam hal-hal yang memberi mudarat kepada agama, berarti dia telah melepaskan diri dari perwalian Allah, tidak taat kepada Allah dan tidak menolong agamanya. Ini berarti pula bahwa imannya kepada Allah telah terputus, dan dia telah termasuk golongan orang-orang kafir.

وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ

… Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka…(al-Ma′idah/5: 51)

Orang mukmin boleh mengadakan hubungan akrab dengan orang kafir, dalam keadaan takut mendapat kemudaratan atau untuk memberikan kemanfaatan bagi Muslimin. Tidak terlarang bagi suatu pemerintahan Islam, untuk mengadakan perjanjian persahabatan dengan pemerintahan yarg bukan Islam; dengan maksud untuk menolak kemudaratan, atau untuk mendapatkan kemanfaatan. Kebolehan mengadakan persahabatan ini tidak khusus hanya dalam keadaan lemah saja tetapi boleh juga dalam sembarang waktu, sesuai dengan kaidah:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan ke-maslahatan

Berdasarkan kaidah ini, para ulama membolehkan “taqiyah”, yaitu mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran untuk menolak bencana dari musuh atau untuk keselamatan jiwa atau untuk memelihara kehormatan dan harta benda.

Maka barang siapa mengucapkan kata-kata kufur karena dipaksa, sedang hati (jiwanya) tetap beriman, karena untuk memelihara diri dari kebinasaan, maka dia tidak menjadi kafir. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh ‘Ammar bin Yasir yang dipaksa oleh Quraisy untuk menjadi kafir, sedang hatinya tetap beriman. Allah berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ  

Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar. (an-Nahl/16: 106)

Sebagaimana telah terjadi pada seorang sahabat yang terdesak ketika menjawab pertanyaan Musailamah, “Apakah engkau mengakui bahwa aku ini rasul Allah? Jawabnya, “Ya”. Karena itu sahabat tadi dibiarkan dan tidak dibunuh. Kemudian seorang sahabat lainnya sewaktu ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia menjawab, “Saya ini tuli” (tiga kali), maka sahabat tersebut ditangkap dan dibunuh.

Setelah berita ini sampai kepada Rasulullah saw beliau bersabda: “Orang yang telah dibunuh itu kembali kepada Allah dengan keyakinan dan kejujurannya, adapun yang lainnya, maka dia telah mempergunakan kelonggaran yang diberikan Allah, sebab itu tidak ada tuntutan atasnya”.

Kelonggaran itu disebabkan keadaan darurat yang dihadapi, dan bukan menyangkut pokok-pokok agama yang harus selalu ditaati. Dalam hal ini diwajibkan bagi Muslim hijrah dari tempat ia tidak dapat menjalankan perintah agama dan terpaksa di tempat itu melakukan “taqiyyah”. Adalah termasuk tanda kesempurnaan iman bila seseorang tidak merasa takut kepada cercaan di dalam menjalankan agama Allah. Allah berfirman:

فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ  

…..karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman… (Ali ‘Imran/3: 175);Allah berfirman:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

… Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. …. (al-Ma′idah/5: 44)

Termasuk dalam “taqiyah”, berlaku baik, lemah lembut kepada orang kafir, orang zalim, orang fasik, dan memberi harta kepada mereka untuk menolak gangguan mereka. Hal ini bukan persahabatan akrab yang dilarang, melainkan cara itu sesuai dengan tuntunan peraturan:

مَا وَقَى بِهِ الْمُؤْمِنُ عِرْضَهُ فَهُوَ صَدَقَةٌ

(رواه الطبراني)

“Suatu tindakan yang dapat memelihara kehormatan seorang mukmin, adalah termasuk sedekah”. (Riwayat at-Tabrani)

Dalam hadis lain dari Aisyah r.a.:

اِسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَنَا عِنْدَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  بِئْسَ ابْنُ الْعَشِيْرَةِ اَوْ اَخُو الْعَشِيْرَةِ  ثُمَّ أَذِنَ لَهُ فََلاَنَ لَهُ الْقَوْلَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ اِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ مَنْ يَتْرُكُهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فَحْشِهِ

(رواه البخاري)

Seseorang datang meminta izin menemui Rasulullah dan ketika itu aku berada di sampingnya. Lalu Rasulullah berkata, “(Dia adalah) seburuk-buruk warga kaum ini”. Kemudian Rasulullah mengizinkannya untuk menghadap, lalu beliau berbicara dengan orang tersebut dengan ramah- tamah dan lemah-lembut. Rasulullah berkata, “Hai, ‘Aisyah sesungguhnya di antara orang yang paling buruk adalah orang yang ditinggalkan oleh orang lain karena takut kepada kejahatannya.” (Riwayat al-Bukhari)

Terhadap mereka yang melanggar larangan Allah di atas, Allah memperingatkan mereka dengan siksaan yang langsung dari sisi-Nya dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Akhirnya kepada Allah tempat kembali segala makhluk. Semua akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Ayat 29

Allah mengetahui segala apa yang terkandung di dalam hati seorang Muslim ketika ia mengadakan hubungan yang akrab dengan orang kafir. Apakah karena mereka suka kepada orang kafir itu, atau itu dilakukan karena maksud untuk menyelamatkan diri. Kalau seorang Muslim berbuat demikian karena memang cenderung kepada kekufuran, tentu Allah akan menyiksa mereka.

Sedang kalau mereka melakukan itu untuk memelihara diri dan hati mereka tetap dalam iman, Allah akan mengampuni mereka dan tidak akan mengazab mereka atas pekerjaan yang tidak merusakkan agama dan umat. Allah memberi balasan kepada mereka menurut ilmu-Nya sendiri yang meliputi semua isi langit dan bumi.

Pada akhir ayat ini Allah mengatakan bahwa: “Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. Sebab itu, janganlah kamu kaum Muslimin berani mendurhakai-Nya dan janganlah mengadakan kerja sama dengan musuh-musuh-Nya. Semua bentuk maksiat, baik yang tersembunyi maupun yang tampak senantiasa diketahui Allah dan Dia berkuasa memberi pembalasan atasnya.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 27

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Bagian malam dimasukkan kepada siang, sehingga waktu malam menjadi lebih pendek dibanding dengan waktu siang. Allah memasukkan bagian siang ke dalam malam, yang menyebabkan waktu malam menjadi panjang dan waktu siang menjadi pendek. Hal ini biasa terjadi di negara-negara yang mempunyai empat musim, sehingga malam lebih panjang daripada siang pada musim dingin.

Tidaklah mengherankan bahwa sesudah adanya kenyataan tersebut, Allah Yang Maha Bijaksana memberikan kenabian atau kerajaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, atau mencabut kenabian dan kerajaan itu dari siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah yang mengurus segala urusan manusia, sebagaimana halnya Dia mengurus perubahan siang dan malam.

Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati seperti mengeluarkan batang kelapa dari bijinya, mengeluarkan manusia dari nutfah, atau mengeluarkan unggas dari telur. Demikian Allah mengeluarkan yang mati dari yang hidup seperti mengeluarkan anak yang bodoh dari orang yang alim, orang kafir dari orang yang mukmin.

Kodrat Allah dijelaskan pula dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan contoh-contoh yang bisa disaksikan oleh manusia, di dalam kejadian sehari-hari. Malam dimasukkan ke dalam siang, siang dimasukkan ke dalam malam, tumbuhan yang hidup dikeluarkan dari tanah yang merupakan benda mati, telur yang merupakan benda mati, dari ayam yang merupakan makhluk hidup.

Ayat di atas berbicara mengenai biji tumbuhan dan tentang “dikeluarkan yang hidup dari yang mati dan dikeluarkan yang mati dari yang hidup”. Ayat lain yang mirip dan bahkan lebih jelas adalah Surah al-An’am/6: 95, yang artinya sebagai berikut:

“Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”. (al-An’am/6: 95)

Dari sudut ilmu pengetahuan, hal-hal tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

  1. Ayat ini mengandung pesan bahwa penciptaan bukanlah suatu kebetulan, sebab apabila ini suatu kebetulan, maka dia tidak dapat berkesinambungan. Penciptaan terjadi dalam dua hal yang bertolak belakang. Siapa yang dapat melakukan yang demikian pastilah yang Mahakuasa. Perkataan “mengeluarkan yang hidup dari yang mati” menyatakan kekuasaan Allah membangkitkan orang-orang mati di hari kemudian. Tetapi pembangkitan yang mati menjadi hidup dan sebaliknya juga terlihat pada kejadian sehari-hari dalam proses perkembangan benih tumbuhan.
  2. Interpretasi kedua, bahwa biji dijadikan contoh dalam pengaturan siklus antara hidup dan mati yang terus bergulir.

Bagaimana biji mencontohkan siklus tersebut adalah demikian. Bagi tumbuhan, biji merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena biji mengandung calon tumbuhan baru yang disebut lembaga atau embryo. Dengan biji inilah tumbuhan dapat mempertahankan keturunan jenisnya dan dapat menyebarkannya ke lain tempat. Dalam morfologi tumbuhan dikenal ada biji tertutup yang disebut Angiospermae, dan biji telanjang/terbuka yang disebut Gymnospermae. Biji memiliki keanekaan dalam ukuran, bentuk dengan kulit biji yang berlapis-lapis, dan kekerasan (dari mulai yang lunak sampai dengan yang keras seperti batu).

Ketika biji sampai pada kondisi yang diperlukan, maka biji tersebut akan tumbuh dan kulit biji yang menjadi pelindung bagian biji yang ada di dalam akan ditembus oleh lembaga. Bahkan lapisan kulit biji yang sekeras batupun dapat dipecahkannya.

Siklus kehidupan dan kematian merupakan rahasia keajaiban alam dan rahasia kehidupan. Ciri utama siklus itu adalah bahwa zat-zat hidrogen, karbondioksida, nitrogen,dan garam yang non organik di bumi, berubah menjadi zat-zat organik yang merupakan bahan kehidupan bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan berkat bantuan sinar matahari.

Selanjutnya zat-zat tersebut kembali mati dalam bentuk kotoran makhluk hidup dan dalam bentuk tubuh yang aus karena faktor disolusi bakteri dan kimia, yang mengubahnya menjadi zat non organik untuk memasuki siklus kehidupan yang baru. Begitulah Sang Pencipta mengeluarkan kehidupan dari kematian dan mengeluarkan kematian dari kehidupan di setiap saat. Siklus ini terus berputar dan hanya terjadi pada makhluk yang diberi kehidupan.

Alquran mempergunakan pula kata “mati” untuk pengertian “kafir”, dan kata “hidup” untuk pengertian “iman” seperti:

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ  كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ  

Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. (al-An’am/6: 122)

Lafaz “yang hidup” dipergunakan dalam arti lawan “yang mati”, baik yang hidup itu ḥissiyyah seperti hidup hewan dan tumbuh-tumbuhan atau pun maknawiyyah seperti ilmu dan iman. “Yang hidup dikeluarkan dari yang mati” dan seterusnya adalah suatu kenyataan, bahwa Allah yang memiliki kekuasaan yang Dia berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Allah mengeluarkan seorang penghulu para rasul dari bangsa Arab yang buta huruf. Rasul itu, Muhammad saw, yang menyiapkan mereka dengan kekuatan dan kemauan untuk menjadi umat yang terkuat, yang dapat menghancurkan benteng perbudakaan dan menegakkan kemerdekaan. Sementara itu orang-orang Yahudi (Bani Israil) bergelimang di dalam taqlid, perbudakan dan penindasan raja-raja atau para penguasa.

Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, lalu mencabut pemberian-Nya dari siapa saja yang Dia kehendaki, hanyalah berdasarkan sunah dan hukum-Nya. Segala urusan ada di tangan Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menilai dan memperkirakan perhitungan-Nya. Dialah yang berkuasa mencabut kekuasan dari siapa yang dikehendaki-Nya serta menghinakannya, dan hanya Dia pulalah yang kuasa memberikan kekuasaan itu kepada suatu bangsa serta memuliakannya. Yang demikian itu, amat mudah bagi Allah. Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa balasan.

(Tafsir Kemenag)

Kata Birr dan Sinonimnya

0
www.iico.org

Sinonim dalam istilah kebahasaan adalah kata-kata yang mempunyai kemiripan makna dengan kata yang lain. Tidaka ada satu kapa pun di dalam Bahasa yang memiliki makna yang sama parsis dengan kata yang bersinonim dengannya. Seperti kata جَلَسَ, yang sinonimnya adalah kata قَعَدَ. Kedua-duanya sama-sama berarti “duduk.” Akan tetapi kata جَلَسَ menunjukkan arti “duduk” dari posisi berdiri. Kata اجْلِسْ (duduklah), menunjukkan arti bahwa Anda mempersilahkan seseorang yang sedang berdiri agar dia duduk. Kata اُقْعُدْ menunjukkan arti bahwa Anda mempersilahkan seseorang yang sedang berbaring agar dia duduk.

Demikian pula halnya makna kata Birr (بِرٌّ) dengan kata-kata lain yang sinonim dengannya. Masing-masing memiliki makna yang berbeda, meskipun makna asalahnya, atau maknanya yang umum adalah sama. Mari kita simak 14 kata yang merupakan sinonim dari kata Birr (بِرٌّ) dalam Bahasa Arab, sebagai berikut:

  1. Kata إِحْسَانٌ artinya “kebaikan yang berlebih” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya atau yang diberikan oleh manusia kepada sesamanya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَحْسَنَ (memberikan kebaikan yang berlebih).
  2. Kata إِنَالَةٌ artinya “kebaikan yang diberikan” oleh seseorang sesamanya atau yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَنَالَ (memberikan kebaikan kepada seseorang).
  3. Kata إِنْعَامٌ artinya “kebaikan yang menyenangkan dalam bentuk nikmat” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَنْعَمَ (memberikan kebaikan dalam bentuk nikmat).
  4. Kata إِرْفَادٌ artinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk pertolongan” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya atau yang diberikan oleh seseorang kepada sesamanya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَرْفَدَ (memberikan kebaikan dalam bentuk pertolongan, bantuan).
  5. Kata إِعْطَاءٌartinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk hadiah atau penghargaan” baik oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya maupun oleh seseorang kepada sesamanya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَعْطَى (memberikan kebaikan dalam bentuk pemberian atau hadiah).
  6. Kata إِفْضَالٌ artinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk kelebihan” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَفْضَلَ (memberikan kelebihan).
  7. Kata اِمْتِنَانٌ artinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk nikmat” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja اِمْتَنَّ (memberikan kebaikan dalam bentuk nikmat).
  8. Kata حَبْوٌ artinya “kebaikan dalam bentuk anugerah atau hadiah” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya atau oleh seseorang kepada sesamanya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja أَحْسَنَ (memberikan kebaikan yang berlebih).
  9. Kata فَضْلٌ aratinya “kebaikan dalam bentuk kelebihan” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja فَضَلَ (memberikan kebaikan dalam bentuk kelebihan).
  10. Kata كَرَامَةٌ artinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk kemuliaan, kehoramatan” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja كَرُمَ (memberikan kebaikan dalam bentuk kemuliaan).
  11. Kata مَنٌّ artinya “kebaikan dalam bentuk karunia” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja مَنَّ (memberikan kebaikan dalam bentuk karunia atau anugerah).
  12. Kata مَنْحٌ artinya “kebaikan dalam bentuk pemberian hadiah” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya atau oleh seseorang kepada sesamanya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja مَنَحَ (memberikan kebaikan dalam bentuk anugerah, hadiah).
  13. Kata مِنَّةٌ artinya “sebuah kebaikan dalam nikmat, karunia” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dasar (masdar) dari kata kerja مَنَّ (memberikan kebaikan dalam bentuk nikmat).
  14. Kata نَعْمَاءٌ artinya “kebaikan yang diberikan dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan” yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kata ini adalah bentuk dari kata kerja أَنْعَمَ (memberikan kebaikan dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan).

Demikian sinonim kata kerja “birrun” (بِرٌّ) di dalam Bahasa Arab. Makna asal atau umumnya adalah “kebaikan,” tetapi makna khususnya berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Semoga uraian ini dapat menambah wawasan kita. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab.

Menyingkap Isyarat Ilmiah dalam Al-Quran

0
asal usul amin

Sebagai mukjizat Islam yang abadi, Alquran selalu relevan untuk dikaji dan dikaitkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Isyarat-isyarat yang terkandung selalu memancarkan pesan-pesan ilmiahnya kepada nurani, sehingga hiduplah semua unsur perkembangan dan kemajuan pada sisi keilmiahannya.

Memahami isyarat ilmiah yang termuat dalam Al-Quran, sudah pasti harus mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa diturunkannya Al-Quran. Jika menengok kembali pada masa diturunkannya Al-Quran, tidak banyak isyarat ilmiah yang diketahui oleh umat manusia kala itu. misalnya ketika mengisyaratkan tentang cikal bakal manusia dalam surah an-Najm: 45-46;

 وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ(35) مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ(36)

Menurut penafsiran Quraish Shihab kata nuthfah dalam bahasa Arab memiliki arti “setetes yang dapat membasahi”. Dari informasi yang disampaikan oleh Al-Quran, lahirlah penemuan ilmiah pada abad ke-20 yang menginformasikan bahwa cairan mani atau sperma yang menyembur dari alat vital laki-laki mengandung dua ratus juta benih manusia, namun hanya satu benih yang mampu menembus dinding ovum, hanya satu. Inilah yang dimaksud Al-Quran yakni nutfah dari mani yang memancar.

Isyarat-isyarat serupa lainnya disebutkan dalam konteks petunjuk, yang mendorong akal manusia untuk meneliti dan memahami percikan pesan-pesan Al-Quran tersebut. Sayyid Quthb menjelaskan terkait penafsiran firman Allah dalam surah al-Baqarah: 189,

۞ يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَا ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Ia mengatakan, bahwa hikmah ayat ini tertuju pada realita kehidupan ilmiah, bukan sekedar mengarah pada ilmu teori. Al-Quran menjelaskan tentang bagaimana fungsi hilal dalan realita kehidupan manusia. Betapa Al-Quran lebih dulu mengisyaratkan sebuah informasi yang jauh lebih besar dari informasi-informasi kecil lainnya.

Dan masih banyak lagi, ayat-ayat yang menyinggung isyarat ilmiah. Sebagaimana menurut penjelasan Thantawi Jauhari dalam kitabnya al-Jawahir, bahwa di dalam Al-Quran terdapat 750 ayat yang mengulas ilmu pengetahuan, dan hanya 150 yang mengulas mengenai fiqh.

Tidak dapat dipungkiri, Al-Quran hingga saat ini terus mengajak manusia untuk mengeksploitasi ayat-ayat Nya yang berdimensi ilmiah, pun menggugah sense of knowledge dalam diri manusia untuk terus berpikir dan memahami ciptaan-Nya dilangit dan di bumi. Sebagaimana firman Allah dalam al-Baqarah: 219, bahwa

كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (Q.S. al-baqarah [2]: 219)

Melalui isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan, Al-Quran menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan wahyu ilahi merupakan dua aspek kebenaran yang tidak ada pertentangan di antara keduanya. Di sisi lain, merupakan pertanda bahwa Allah menekankan pentingnya arti belajar dan dalam kehidupan, karena Allah sendiri tidak pernah menutup kesempatan kepada manusia untuk  berupaya menginterpretasikan isi Al-Quran.

Dalam memahami isyarat ilmiah pada Al-Quran, hal yang perlu ditekankan adalah tujuan utama menggali dalamnya ilmu pengetahuan yang dikandung oleh Al-Quran tidak hanya untuk meningkatkan kualitas kecerdasan akal semata, melainkan untuk menambah keimanan dan keyakinan kepada Allah pun sebagai ladang amal saleh dalam menebar kebaikan kepada sesama makhluk-Nya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 26

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi untuk menyatakan bahwa Allah Yang Mahasuci yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan Mahabijaksana dengan tindakan-Nya yang sempurna di dalam menyusun, mengurus, dan merampungkan segala perkara dan yang menegakkan neraca undang-undang di alam ini. Maka Allah yang memberikan urusan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Ada kalanya Allah memberikan kekuasaan itu bersamaan dengan pangkat kenabian seperti keluarga Ibrahim, dan ada kalanya hanya memberikan kekuasaan memerintah saja menurut hukum kemasyarakatan yaitu dengan mengatur kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa. Allah juga yang mencabut kekuasaan dari orang-orang yang Dia kehendaki, disebabkan mereka berpaling dari jalan yang lurus, yaitu jalan yang dapat memelihara kekuasaan karena meninggalkan keadilan dan berlaku curang dalam pemerintahan. Demikianlah hal itu telah berlaku pula terhadap Bani Israil dan bangsa lain disebabkan kezaliman dan kerusakan budi mereka.

Allah juga memberi kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Orang yang diberi kekuasaan ialah orang yang didengar tutur katanya, banyak penolongnya, mempengaruhi jiwa manusia dengan wibawa dan ilmunya, mempunyai keluasan rezeki dan berbuat baik kepada segenap manusia.

Adapun orang yang mendapat kehinaan, ialah orang yang rendah akhlaknya, merasa lemah semangat membela kehormatan, tidak mampu mengusir musuhnya yang menyerbu dan tidak mampu mempersatukan pengikutnya. Padahal tidak ada satu kemuliaan pun dapat dicapai tanpa persatuan untuk menegakkan kebenaran dan menentang kezaliman.

Apabila masyarakat telah bersatu dan berjalan menurut sunatullah, berarti mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala kemungkinan. Banyak sedikitnya bilangan suatu umat tidaklah menjamin untuk dapat mewujudkan kekuasaan dan menghimpun kekuatan. Orang musyrik Mekah, orang Yahudi dan orang munafik Arab telah tertipu oleh banyaknya pengikut dibanding dengan pengikut Rasulullah saw, padahal yang demikian itu tidak mendatangkan faedah bagi mereka sedikit pun. Sebagaimana firman Allah:

يَقُوْلُوْنَ لَىِٕنْ رَّجَعْنَآ اِلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْاَعَزُّ مِنْهَا الْاَذَلَّ ۗوَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ࣖ  

Mereka berkata, ”Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui. (al Munafiqun/63: 8)

Fakta-fakta sejarah menjadi bukti bahwa jumlah yang banyak saja tidaklah menunjukkan kekuatan. Lihatlah bangsa-bangsa Timur, mereka berjumlah banyak tetapi dapat dikuasai oleh bangsa-bangsa Barat yang berjumlah lebih sedikit, disebabkan merajalelanya kebodohan dan permusuhan, atau perpecahan yang terjadi di antara sesama mereka.

Dalam ayat ini diterangkan pula bahwa segala kebajikan terletak di tangan-Nya baik kenabian, kekuasaan atau pun kekayaan. Ini menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang memberikannya menurut kemauan-Nya. Tidak ada seorang pun yang memiliki kebajikan selain Allah. Dalam ayat ini hanya disebutkan kebajikan saja. Sebenarnya segala yang buruk dan jahat juga ada di bawah kekuasaan Allah. Hal ini dipahami dari pernyataan Allah bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dalam ayat ini disebutkan kebajikan saja karena disesuaikan dengan keadaan. Keadaan yang mendorong orang-orang kafir menentang dan meremehkan dakwah Nabi Muhammad saw ialah kemiskinan beliau, kelemahan pengikut-pengikutnya serta kecilnya bilangan mereka. Oleh sebab itu Allah menyuruh Nabi untuk berlindung kepada yang memiliki segala kerajaan. Yang ditangan-Nya segala kekuasaan dan kemuliaan. Allah mengingatkan Rasulullah bahwa seluruh kebaikan dan kekayaan ada ditangan-Nya. Maka tidak ada yang dapat menghalangi-Nya apabila Allah memberikan kemiskinan dan kekayaan kepada Nabi-Nya atau kepada orang-orang mukmin yang dikehendaki-Nya, sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ۙ 

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (al-Qasas/28: 5)

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 21- 25

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 21

Dalam ayat ini Allah mencela sikap orang Yahudi di zaman para rasul sebelum Nabi Muhammad, yang dengan taklid buta mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Padahal sesungguhnya mereka sudah mengetahui kesalahan dan kejahatan nenek moyang mereka.

Dengan keterangan ayat ini, bertambah jelaslah keburukan orang Yahudi. Sukar bagi mereka mencari alasan untuk membersihkan diri dengan menyatakan beriman. Kejahatan mereka yang terbukti dalam sejarah, menyebabkan mereka mendapat celaan dan kutukan.

Orang Yahudi di zaman Rasulullah saw dianggap ikut bersalah, karena mereka tidak menunjukkan sikap tidak setuju terhadap kejahatan nenek moyang mereka. Di samping membunuh para nabi, orang Yahudi zaman dahulu juga telah membunuh para hukama′ (orang-orang bijaksana), yaitu yang disebut dalam ayat ini sebagai “orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil”. Mereka terdiri dari cerdik pandai, yang menjadikan keadilan itu sebagai tiang keutamaan.

Martabat para hukama′ di dalam memberikan petunjuk di bawah martabat para nabi dan demikian pula pengaruh mereka. Membunuh hukama′ berarti membunuh akal dan menghancurkan keadilan. Hal ini merupakan dosa besar dan sangat merugikan. Karena itu Allah memberikan peringatan kepada orang Yahudi bahwa mereka akan menerima azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Siapakah yang lebih berhak menerima azab yang pedih itu kalau bukan mereka yang kejam lagi melampaui batas dalam berbuat kejahatan, seperti membunuh para nabi dan para cerdik pandai?

Ayat 22

Dalam ayat ini, ditegaskan bahwa orang yang melakukan kejahatan maka segala amal yang mereka lakukan di dunia dibatalkan. Di dunia mereka tidak akan mendapatkan pujian manusia, sebab mereka berada dalam kesesatan dan kebatilan. Allah mengutuk mereka, serta membongkar kejahatan-kejahatan yang mereka tutup-tutupi itu melalui para nabi dan rasul-rasul-Nya. Demikianlah arti dari pembatalan amal perbuatan mereka di dunia.

Adapun di akhirat, mereka tidak akan mendapatkan pahala atas segala amal mereka, bahkan mereka akan dijerumuskan ke dalam azab yang pedih. Mereka kelak menempati neraka. Tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka dari tekanan azab Allah.

Allah telah menghapuskan pahala para pembunuh nabi-nabi dan para hukama yang menegakkan keadilan, dan meniadakan bagi mereka pertolongan dari siapa pun. Para pembunuh itu akan dibalas dengan azab yang tidak terhingga dan tak seorang pun dapat menolong mereka.

Allah telah menyediakan tiga macam azab bagi mereka:

  1. Segala kepedihan dan kesengsaraan terkumpul pada mereka. Inilah azab yang pedih.
  2. Segala macam nikmat yang mereka harapkan lenyap, dengan terhapusnya pahala amalan yang mereka lakukan di dunia. Di dunia mereka dikutuk dan dicela, dan di akhirat mereka menderita.
  3. Terus-menerus menderita azab tersebut, karena tidak seorang pun yang akan menolong melepaskan mereka dari azab. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam ayat yang artinya “dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”.

Ayat 23

Mereka memalingkan diri dari mengamalkan kitab yang mereka imani sendiri bilamana kitab itu tidak sesuai dengan keinginan mereka. Inilah tingkah laku penganut agama Yahudi pada masa Rasulullah saw. Orang Yahudi datang kepada Rasulullah dengan kemauan mereka yang kuat untuk menerima suatu keputusan.

Tetapi apabila keputusan yang diberikan itu tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, mereka menolak melaksanakannya. Mereka hanya menghafal sebagian dari isi Taurat, sedang yang lainnya mereka lupakan. Bagian yang mereka hafal itu tidak mereka pahami dengan baik dan tidak pula mereka amalkan.

Ayat 24

Ayat ini menerangkan alasan atau sebab yang mendorong orang Yahudi menentang dan berpaling dari kebenaran. Mereka mempunyai paham yang sudah melekat dalam iktikad mereka bahwa mereka tidak akan diazab api neraka kecuali beberapa hari tertentu saja.

Anggapan yang sudah melekat kuat ini meresap dalam jiwa mereka, dan akhirnya membentuk sikap mental mereka. Sehingga mereka menganggap enteng hukuman yang akan menimpa mereka. Ini disebabkan oleh karena mereka merasa ada hubungan darah dengan para nabi, dan menganggap bahwa mereka akan selamat dari siksa api neraka asal mereka tetap beragama Yahudi. Jadi menurut paham mereka hubungan keturunan dengan nabi, serta tetap tercatat sebagai penganut agama Yahudi sudah menjamin untuk dapat masuk surga.

Barang siapa yang menganggap enteng ancaman Allah, karena percaya bahwa azab itu tidak akan turun menimpanya, berarti mereka telah meremehkan perintah Allah serta larangan-Nya.

Demikianlah keadaan suatu umat, ketika mereka mulai meninggalkan agamanya, mereka sudah tidak segan lagi untuk melakukan kejahatan. Gejala membelakangi agama sedemikian ini tampak pada orang-orang Yahudi, Nasrani dan juga di kalangan orang Muslim.

Orang Yahudi mengira bahwa mereka jika masuk neraka hanya diazab dalam “beberapa hari yang dapat dihitung” ialah 40 hari; sejumlah hari yang mereka gunakan untuk menyembah anak sapi. Sebenarnya tidak ada keterangan yang dapat dipercaya untuk menegaskan kapan hari yang dimaksud, kecuali anggapan kosong dari orang Yahudi.

Segala kebohongan yang telah mereka adakan telah menipu mereka dalam agama, misalnya ucapan mereka, “Kami adalah anak-anak Tuhan dan kekasih-Nya” dan kata-kata mereka, “Sesungguhnya nenek moyang kami para nabi yang akan memberikan syafaat kepada kami” dan “Sesungguhnya Allah telah berjanji kepada Yakub tidak akan mengazab anak-anak keturunannya, kecuali hanya dalam tempo yang pendek.”

Ayat 25

Ayat ini membantah dan membatalkan apa yang dikatakan oleh orang Yahudi pada ayat yang lalu. Ayat ini tersusun dalam bentuk kalimat pertanyaan bagaimanakah keadaan orang Yahudi bilamana hari Kiamat yang tidak diragukan lagi itu telah datang.

Bentuk kalimat seperti itu menggambarkan bagaimana kehebatan huru-hara yang terjadi di hari itu, dan tentang siksa besar yang akan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi. Mereka akan jatuh kepada jurang penderitaan, tak akan ada jalan untuk menyelamatkan diri. Sesungguhnya anggapan orang Yahudi bahwa dirinya akan dapat lepas dengan mudah dari azab itu adalah angan-angan kosong.

Pada hari yang dahsyat itu orang akan melihat dengan jelas apa yang telah dikerjakannya, baik atau buruk akan dihadapkan kepada mereka. Kemudian segala amal perbuatan akan dibalas dengan kebahagiaan jika amal itu baik atau dengan kesengsaraan jika amal itu buruk. Tidak ada hak istimewa yang dapat diberikan kepada pemeluk suatu agama tertentu dan golongan tertentu.

Tidak pula suatu bangsa mendapat keistimewaan atas bangsa-bangsa lainnya sekalipun mereka menamakan dirinya dengan syabullah al-mukhtar (rakyat Allah yang terpilih) atau anak Allah. Pembalasan pada hari kiamat itu sesuai dengan baik buruknya iktikad yang terkandung dalam hati dan sesuai pula dengan baik buruknya amal perbuatan yang telah dilakukan.

Pada hari itu akan terdapat keadilan yang sempurna. Tidak akan dikurangi sedikit pun balasan terhadap suatu perbuatan dan tidak pula akan ditambah. Yang menjadi pertimbangan pada hari itu ialah keimanan seseorang dan pengaruh iman itu terhadap amal perbuatannya sewaktu di dunia. Kalau dia tidak beriman, maka dia akan masuk ke dalam neraka, karena amal-amalnya yang buruk. Jika imannya tidak sampai rusak, karena diimbangi dengan amal saleh atau seimbang antara yang baik dengan yang buruk, maka dia mendapat balasan sesuai dengan derajat dan kadarnya masing-masing.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Kepada Siapa Nikmat Itu Diberikan?

0
Polemik Doa setelah Surah Alfatihah dalam Salat
Surah Alfatihah

Surat Al-Fatihah yang berisikan tujuh ayat, surat yang mengandung pujian kepada Allah SWT dan menyebutkan asma-asmaNya yang terbaik. Selain itu, pada surat Al-Fatihah telah terangkum tujuan dari Al Quran, serta mengantarkan umat muslim sampai pada surga yang penuh kenikmatan.

Hal tersebut tertera pada ayat keenam dan ketujuh, Allah memberikan kenikmatan kepada hambanya. Lantas, kepada siapa Allah akan memberikan kenikmatan tersebut? Berikut penjelasannya.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukkan jalan yang lurus, jalan orang yang Kauberi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurka, dan bukan (jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah ayat 7).

Tafsir Ayat

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa, ada golongan yang dimurkai. Mereka merupakan orang yang berilmu, akan tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Ada pula golongan orang yang sesat. Mereka adalah ahli ibadah, akan tetapi tidak mempunyai ilmu. Maksudnya kehidupan mereka hanya terfokus dengan ibadah dan sangat mengabaikan keilmuan, dan bahkan menganggap dengan belajar ilmu akan mengurangi waktu ibadah.

Selain itu, Allah juga menyebut golongan yang mendapatkan nikmat. Mereka adalah yang mempuyai karakter berilmu dan beribadah, hal ini selaras dengan pendapat Ibnu Katsir pada kitab tafsirnya. Bahwa golongan yang mendapatkan nikmat, dijelaskan pada surat An-Nisa’ ayat 69-70.

Menurut tafsir Ibnu Katsir kedudukan menafsirkan makna siratal mustaqim mempunyai makna bahwa orang-orang yang memperoleh anugrah nikmat adalah yang disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 69-70:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

  ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا 

“Dan barang siapa taat kepada Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orangorang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yanh demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui” (QS. An-Nisa’ ayat 69-70).

Kemudian, mengupas makna “para nabi” juga ada beberapa pendapat, bahwa yang dianugrahi nikmat oleh Allah yaitu para Nabi. Ibnu Juraij meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud “para nabi” ialah mereka orang-orang yang beriman. Sedangkan Pendapat dari Waki’, ia mengatakan bahwa “para Nabi” yang dimaksud pada ayat tersebut ialah orang-orang muslim. Selanjutnya, dari pendapat Abdur rahman bin Zaid bin Aslam, bahwa orang yang mendapatkan nikmat adalah orang yang mengikuti para Nabi.

Pendapat dari Az-Zamakhasyari mengatkan bahwa makna ayat “tunjukkanlah kami jalan yang lurus” yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka yang telah disebutkan ciri-cirinya. Mereka ialah orang-orang yang ahli hidayah, dalam artian taat kepada Allah, istiqomah dalam mengerjakan ibadah, menjahi segenap larangan Allah.

Selanjutnya pendapat Az-Zamakhasyari dikuatkan lagi pada ayat wa lad dhaalliin., Di situ ada kata wa yang menunjukkan ada dua jalan yang tidak baik, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dan menurut ulama Nahwu ada sebuah pengecualian pada kalimat ghairil karena berkedudukan menjadi munqati’. Oleh Karena itu maksudnya dikecualikan dari orang-orang yang menapatkan nikmat.

Kenapa ada pengecualian pada dua golongan tersebut?, sebab, orang-orang Yahudi telah hilang pengamalan ibadahnya, sedang orang-orang Nasrani telah kehilangan ilmunya. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi yang mengetahui ilmu, akan tetapi tidak mengamalkannya, maka mereka termasuk durhaka. Sedangkan orang-orang Nasrani mengarah pada tujuan, akan tetapi tidak mengetahui jalan.

Dua Bentuk Nikmat dari Allah

Nikmat terbagi menjadi dua, yaitu nikmat wahbi (nikmat atau anugrah yang diberikan Allah begitu saja) hal ini berupa nikmat rohani dan jasmani. kategori rohani ialah berupa roh, akal pikiran, proses daya berfikir dan lain sebagainya. Dan kategori jasmani ialah berupa kesehatan fisik dan kesempurnaan anggota badan.

kemudian yang kedua ialah nikmat kasbi (sebuah nikmat yang diupayakan). Maksudnya ialah dengan cara berusaha membersihkan atau menghindari batin dari sifat-sifat tercela, memperhias batin dengan menjalankan segala perintahNya serta menjauhi laranganNya.

Maka dari itu setelah ada yang melantumkan lafadz Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil magdhuubi alaihim wa lad dhaalliin, dianjurkan untuk mengucapkan amin. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang mengamini sama halnya seperti berdoa untuk dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan pada saat sholat berjama’ah, sebenarnya makmun hanya mengatakan amin sudah seperti membaca Al-Fatihah.

Semoga kita semua salah satu bagian yang mendapatkan nikmat Allah SWT. Amin.  Wallahu’alam.

 

Tafsir Tarbawi: Spirit Integrasi-Interkoneksi Keilmuan dalam Pendidikan Islam

0
spirit integrasi interkoneksi dalam keilmuan islam
spirit integrasi interkoneksi (Lektur.ID)

Spirit integrasiinterkoneksi keilmuan sejatinya telah ada dalam Islam. Dalam tradisi keilmuan Islam, tidak mengenal istilah dikotomi keilmuan. Namun, seiring perkembangan zaman Islam terkesan “dijauhkan” dari salah satu keilmuan. Pendidikan Islam sebagai ujung tombak dalam menyemai nilai-nilai Islam dituntut harus mampu – oleh Amin Abdullah diistilahkan – mengintegrasi-interkoneksikan keilmuan (ilmu keagamaan dan sains).

Kita tahu bahwa barat mengunggulkan tradisi keilmuan sainsnya. Padahal pendidikan Islam memiliki nilai plus, yaitu ilmu agama. Itu artinya, bagi pendidikan Islam tidak berlaku istilah dikotomi keilmuan ilmu agama dan sains. Semuanya harus terintegrasi-terinterkoneksi. Sebab keduanya saling bertegur sapa, saling menyahuti satu sama lain. Spirit integrasiinterkoneksi keilmuan dalam pendidikan Islam telah disitir dalam firman-Nya surat al-Baqarah ayat 3-4,

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. (Q.S. al-Baqarah [2]: 3-4)

Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 3-4

Integrasiinterkoneksi dalam pendidikan Islam tercermin dalam empat hal berdasarkan ayat ini sebagaimana yang disampaikan oleh Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir, yaitu Pertama, mereka yang mempercayai adanya hal gaib, kita mengenalnya sebagai metafisis (kebangkitan, surga, neraka, dan hal gaib lainnya). Metafisis tidak terhenti pada benda material semata dan hal-hal empiris yang terjangkau oleh akal pikiran. Lebih dari itu, menjangkau yang ada dibaliknya (wujud), seperti keesaan Allah, ruh, jin, malaikat.

Kedua, menunaikan shalat dengan sempurna, yaitu memenuhi syarat, rukun, sunnah, dan kekhusyukannya. Tanpa khusyuk, kata az-Zuhaily bak raga tanpa nyawa, artinya tong kosong tanpa isi. Dalam konteks pendidikan Islam, menunaikan shalat dengan sempurna merupakan pendidikan spiritual yang harus ditempuh oleh pendidik maupun peserta didik guna tidak hanya saleh keilmuan, tapi juga saleh ritual atau saleh spiritual.

Ketiga, menginfakkan harta-Nya di jalan Allah swt. Pasca melakoni pendidikan spiritual, tak kalah pentingya seorang hamba dalam hal ini baik pendidik, dosen, kiai maupun peserta didik, santri, dan mahasiswa harus melaksanakan tridarma pendidikan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan dan pengabdian masyarakat).

Titik tekannya berada pada pengabdian masyarakat atau pendidikan sosial. Meminjam istilah Gus Mus, tidak hanya saleh ritual tapi juga saleh sosial. Saleh sosial juga tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, ia harus memperhatikan prosedur kebaikan di tiap jenjangnya, misalnya melalui zakat, sedekah, infak, wakaf, bukan sebaliknya sogok-menyogok, tindakan KKN, dan sebagainya sehingga terhindar dari hal-hal yang bersifat syubhat dan haram.

Keempat, tasawuf (wushul ilallah). Setelah melakukan ketiga tahapan di atas, tahapan akhir yang harus dilalui adalah tasawuf. Sebagaimana disitir pada ayat ke-4, “mereka yakin adanya akhirat”. Ibnu Abbas sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa makna ayat ini adalah mereka percaya kepada apa yang engkau datangkan dari Allah, juga percaya atas hal-hal yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelummu, tanpa membeda-bedakan di antara mereka, dan tidak mengingkari apa yang didatangkan oleh para rasul itu dari Tuhan mereka. Mereka yakin adanya kehidupan di akhirat, yakni hari kebangkitan, hari kiamat, surga, neraka, hisab dan mizan (timbangan amal).

Dalam tafsir Ibnu Katsir juga dikatakan bahwa orang-orang mukmin tidak hanya sekadar percaya, namun juga yakin baik secara pengetahuan maupun kepercayaan. Kata yuqinun dalam Tafsir al-Qurthuby berasal dari kata al-yaqin. Ia mendefinisikan al-yaqin dengan al-‘ilmu duuna syakk, yaitu pengetahuan tanpa keraguan.

Sedangkan Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir mendefinisikan kata al-yaqin dengan pengetahuan tentang sesuatu hal yang diperoleh atas penalaran dan penarikan kesimpulan atau setelah muncul keraguan sebelumnya sehingga menghasilkan kebenaran di mana tidak terjadi keraguan dalam memahami suatu perkara, itu bagian dari bentuk keimanan dan keilmuan.

Spirit Integrasi-Interkoneksi Keilmuan dalam Pendidikan Islam

Ayat di atas menyiratkan pesan bahwa implementasi integrasiinterkoneksi dalam pendidikan Islam dapat dilakukan melalui empat hal yaitu dari segi metafisis, pendidikan spiritual, pendidikan sosial atau dalam bahasa filsafat disebut aksiologis, dan tasawuf.

Kesemuanya itu harus dilakukan secara bertahap. Sederhananya praktik integrasi-interkoneksi dalam pendidikan Islam tercermin dalam penggunaan akal atau ilmu pengetahuan (sains) dalam beragama. Kewajiban mendayagunakan akal (sains) dalam beragama sama halnya dengan menjalankan kewajiban dalam beragama seperti mengamalkan rukun Islam dan rukun Iman.

Karena beragama tanpa akal (sains) ibarat orang lumpuh, sementara akal (sains) tanpa agama bak seperti orang buta yang berjalan tanpa arah dan tujuan. Artinya integrasi-interkoneksi dalam pendidikan Islam mutlak harus dilakukan mulai dari tingkat hulu hingga hilir. Tentu bukan hal yang mudah, akan tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan.

Akhirnya, sebagai closing statement, saya ingin mengajak pembaca bahwa penting untuk mengintegrasi-interkoneksikan keilmuan dalam pendidikan Islam sebagaimana yang diwariskan oleh peradaban Islam masa lalu.

Hal ini juga menjadi respons dari perubahan zaman yang serba dinamis, terlebih di era disrupsi teknologi. Yang berprofesi sebagai pendidik, dosen, kiai, atau yang tengah belajar, bahkan decision maker (pembuat dan pemutus kebijakan), kesemuanya menjadi eksponen (penentu) penting dalam menggalakkan integrasi-interkoneksi keilmuan dalam pendidikan Islam. Wallahu A’lam.

Musibah Ledakan di Beirut, Ingat Tafsir Surat At Taghabun Ayat 11

0
cnn.com

Pandemi Covid 19 hingga detik ini belum berakhir, saat semua pihak sibuk mengatasi musibah ini, dunia kembali digemparkan oleh berita ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon 4 Agustus lalu. Sontak semua media meliput dan mengabarkan peristiwa tersebut, lengkap dengan analisis penyebabnya. Selain itu, tentu saja doa dari berbagai pihak dan kalangan terus mengalir untuk keselamatan rakyat Beirut khususnya dan juga rakyat Lebanon semuanya.

Beirut, nama kota itu tidak asing bagi warga Indonesia, khususnya bagi santri dan para pengkaji studi keislaman. Kitab kuning yang sering dibaca di pesantren, juga referensi-referensi studi keislaman yang ada di sekolah maupun perguruan tinggi seperti kitab tafsir, hadis, fiqih, tasawuf dan lainnya kebanyakan terbitan Beirut. Secara tidak disadari, terjalin ikatan emosional antara para penikmat kitab-kitab tersebut dengan kota tempat terbitnya, yaitu Beirut.

Untuk saudara kita di Beirut, tidak ada satu orang pun yang senang atas terjadinya suatu musibah. Musibah di Beirut adalah kesedihan bagi kita semua. Namun, ketika itu sudah terjadi, bagaimana kita menyikapinya? Sambil terus memberi dukungan moral dan doa untuk mereka, untuk korban meninggal semoga diampuni dosanya dan diterima amalnya; yang korban luka semoga segera diberi kesembuhan dan kembali sehat; semoga yang lainnya sabar dan kuat menghadapinya; mari sejenak kita renungkan Qur’an surat at-Taghabun ayat 11

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah membahasakan terjemah tasfiriyah ayat ini seperti berikut, ‘Tidak menimpa seseorang satu musibah pun berkaitan urusan dunia atau agama kecuali atas izin Allah melalui sistem yang telah ditetapkan dan selalu di bawah kontrol pengawasanNya. Siapa yang kufur kepada Allah, maka Dia akan membiarkan hatinya dalam kesesatan, dan siapa yang beriman kepada Allah, dan percaya bahwa tidak ada yang terjadi kecuali atas izinNya niscaya Dia akan memberi petunjuk hatinya, sehingga dari saat ke saat ia akan semakin percaya, serta tavah dan rela atas musibah yang menimpanya sambil mencari sebab-sebabnya dan semakin meningkat pula amal baiknya. Allah menyangkut segala sesuatu Maha Kuasa dan Allah menyangkut segala sesuatu Maha Mengetahui.’

Berdasar tafsir tersebut, ada beberapa hal yang dapat kita ambil poinnya.

Pertama, segal hal yang terjadi pada diri manusia, yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah, atau lebih tepatnya atas izin Allah. Kita harus sabar dan ridha, menerima dengan setulus hati atas ketetapan itu. Namun bukan berarti diam saja. Sabar dan ridha atas ketetapan Allah itu berbeda dengan pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Kedua, yaitu beriman kepada Allah. Ini yang harus kita lakukan. Pada saat seperti ini iman kita diuji, masih yakin atas kasih sayang Allah atau berpaling menghinanya? Jika kita percaya musibah itu dari Allah, maka kita juga harus percaya bahwa ada pesan kasih sayang dan pelajaran yang berharga yang coba disampaikan oleh Allah di balik peristiwa itu. Untuk itu, renungkanlah! hanya orang yang beriman yang Allah akan membukakan mata sekaligus memantapkan hatinya.

Dalam ayat di atas, ada redaksi idzn Allah yang berarti musibah itu terjadi atas izin Allah. Nah, tentang ‘izin’ di sini, Quraish shihab memberi penjelasan lebih lanjut bahwa maksudnya adalah penciptaan sebab dan faktor-faktor bagi terjadinya sesuatu. Ini adalah sistem dan hukum-hukum alam yang diciptakan Allah bagi terjadinya segala sesuatu. Dia yang menciptakan sistem dan hukum-hukum alam itu. Sementara manusia dapat memanfaatkan untuk kepentingan dirinya, dan jika ia tidak mengindahkannya maka itu dapat merugikan dirinya sendiri.

Dalam konteks musibah ledakan di Beirut, berarti sembari menyadari bahwa terjadinya peristiwa tersebut sudah ketentuan dan atas izin Allah, kita juga harus intropeksi, karena hal tersebut tidak tiba-tiba terjadi, ada faktor atau penyebab di baliknya. Dari sini kemudian muncul inisiatif untuk mengadakan investigasi tentang penyebabnya dan juga evaluasi untuk perbaikan selanjutnya agar hal yang serupa tidak terjadi lagi. Pesan ini saya kira tidak berlaku hanya untuk peristiwa ledakan di Beirut, melainkan juga untuk yang lainnya, siapa saja, dimana saja, kapan saja dan dan peristiwa apa saja.

Faktor kelalaian manusia tersebut yang sering dilupakan dalam peristiwa bencana seperti ini. Pantas saja, pesan Allah di ayat yang lain, surat an-Nisa’ ayat 79 menyatakan bahwa ‘Kebajikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’

Masih tentang persoalan izin, Quraish Shihab memberi catatan lagi seperti berikut. Tidak semua yang diizinkan terjadi oleh Allah berarti menandakan restu dan ridhaNya. Ada izin yang bersifat syar’i dalam arti direstui terjadi tanpa ada tanggungan sanksi atau semacamnya; ada pula yang bersifat takwini, yaitu mengizinkan terjadi karena merupakan bagian dari sistem yang diberlakukanNya bagi semua pihak. Oleh karena itu, bisa jadi ada musibah atau bencana yang menimpa seseorang tentu atas izinNya, tapi tidak dibarengi dengan restunya; musibah atau bencana tersebut dituntut oleh Allah untuk diatasi dan diselesaikan melalui sistem yang Dia tetapkan.

Catatan di atas semakin memperkuat bahwa manusia juga ikut berperan atas terjadinya suatu musibah atau bencana dan untuk itu manusia harus bertanggung jawab untuk mengatasi dan menyelesaikannya. Dan kembali lagi, hanya orang yang beriman yang menyadari tanggung jawab ini.

Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu, yang dhalim dan yang ‘alim; yang iman dan yang ‘ishyan!

Wallahu A’lam.

Salah Paham tentang Khayr Ummah, Awal Lahirnya Sikap Superioritas

0
Khayr Ummah
Khayr Ummah

Al-Quran memberikan gelar “khayr ummah” (umat terbaik) kepada umat muslim. Ini terekam dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran [3]: 110

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Teks ayat tersebut secara jelas menyebut umat muslim sebagai “khayr ummah” (umat terbaik). Artinya, secara tekstual umat-umat lain di luar umat Islam bukanlah umat terbaik. Ketika hal tersebut dipahami dengan tepat, tentunya tidak akan menimbulkan polemik, karena menyugesti umat muslim untuk berbuat baik demi kebaikan semua manusia.

Sayangnya, dalam sebagian mindset umat muslim hal tersebut secara tidak langsung melegalisasi superioritas atas umat lain, dan bahkan melegalisasi kekerasan terhadap non-muslim.

Dalam kajian psikologi, superioritas adalah sebuah sikap yang mendaku diri sebagai sosok yang lebih baik dari orang lain terkait hal-hal penting. Perasaan ini mendorong seseorang untuk bersikap narsis dan meremehkan orang lain karena merasa spesial. Ini bisa terjadi di level individu maupun kelompok.

Baca Juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [1]: Mempertahankan Agama Tidak Selalu Harus dengan Kekerasan

Gelar khayr ummah yang diberikan Alquran dalam kacamata psikologi, dapat dipadankan dengan dukungan dari pihak lain yang berpengaruh dalam mengembangkan penilaian positif seseorang pada dirinya (self esteem) yang selanjutnya dapat menumbuhkan kepercayaan diri (self confident).. Kepercayaan diri adalah kondisi psikologis yang membantu manusia untuk survive. Meski tidak sepenuhnya dapat menyelamatkan seseorang, tapi kepercayaan diri adalah payung yang membantu seseorang untuk bertahan di tengah hujan deras.

Demikian juga dukungan psikologis yang diberikan al-Qur’an kepada umat muslim dalam bentuk pernyataan “khayr ummah” adalah nilai yang dapat digunakan untuk menumbuhkan estimasi baik pada diri kelompok muslim. Tumbuhnya estimasi baik tersebut penting untuk memunculkan kepercayaan diri untuk menjaga dan menjalankan agama “baru” di tengah masyarakat Arab saat itu. Kepercayaan diri bukanlah kejiwaan “bawaan” manusia.

Dalam “dosis tepat” kepercayaan diri berguna bagi manusia dan kemanusiaan, namun kepercayaan diri yang berlebihan dapat berubah menjadi narsisme. Sebuah penyimpangan psikologis dalam diri seseorang yang menimbulkan superioritas. Dalam interaksi sesama manusia, superioritas tidak jarang bermuara pada dehumanisasi orang ataupun kelompok lain.

Superioritas kerap ditemukan dalam pemikiran kelompok (groupthink). Sayangnya, groupthink  seringkali menarik  sebuah  kelompok  kepada bahaya. Di antara bahaya yang ditimbulkan adalah hilangnya sikap kritis atau menurunnya kemampuan individu dalam grup dalam memberikan penilaian realistis yang mendasari pemilihan reaksi yang dibutuhkan ketika berinteraksi dengan grup lain.

Dalam proses pemaknaan ayat “khayr ummah”, groupthink (dengan narsisme berlebihan) akan melemahkan kemampuan untuk melihat realitas keseharian yang heterogen dan tidak selalu tunggal. Fakta bahwa setiap manusia diciptakan secara unik dan berbeda menuntut kita untuk memposisikan groupthink sebagai hal yang patut diwaspadai.

Dalam konteks beragama dan berkeyakinan di Indonesia, umat muslim bukanlah satu-satunya kelompok yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal tersebut meniscayakan keberadaan kelompok-kelompok lain yang memeluk agama dan kepercayaan berbeda. Perbedaan antara kelompok agama tidak dapat dibenarkan sebagai alasan untuk menganggap kelompok lain sebagai bukan manusia (inhuman), atau berkurang identitas kemanusiaannya serta lebih mirip binatang (less human and more animal-like).

Tidak dapat dipungkiri bahwa di antara ayat Alquran, terdapat bagian yang menyebut kalangan non-muslim sebagai manusia yang serupa dengan binatang ternak bahkan mereka lebih sesat, sebagaimana tertulis dalam QS. al-Furqān [25]: 44. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa konteks ayat tersebut bukan lantaran semata- mata perbedaan agama dan keyakinan, akan tetapi karena keengganan kelompok tersebut untuk mengaktivasi akal guna mencerna informasi yang didapatkan.

Hal itu dapat dicermati pada konteks ayat yang dapat dipahami dari keberadaan kata “yasma‘ūn” (mendengar [informasi]) dan “ya‘qilūn” (menggunakan akal untuk berpikir). Siapapun yang tidak menganalisis informasi dengan menggunakan akal sehatnya, dapat disamakan dengan binatang ternak.

Muslim atau non-muslim memiliki hak yang sama untuk bebas menentukan hidup dan keyakinannya. Memaksa seluruh non-muslim menjadi sama dengan umat muslim dalam berkeyakinan dan beragama menjadi hal yang tidak bisa dibenarkan. Hal yang sama juga tidak dapat ditolerir ketika ada non-muslim yang menekan seorang muslim untuk meninggalkan ajaran-ajaran khusus agamanya.

Ajaran Alquran secara eksplisit tidak membenarkan seorang muslim untuk memaksakan agama dan keyakinannya kepada orang lain. Lā ikrāh fī ad-dīn yang disebutkan dalam al-Qur’an memiliki makna luas dan mendalam terkait hal itu. Kebenaran tidak perlu memaksakan dirinya kepada yang lain, karena kebenaran akan tetap tegak tanpa mengharuskan seseorang untuk membuatnya tegak.

Baca Juga: Baca Ayat Ini untuk Menghilangkan Rasa Takut dan Menjaga Kesehatan Mental

Pada tahap selanjutnya, superioritas yang muncul akibat kesalahpahaman terhadap QS. Ali Imran [3]: 110 dapat berpotensi untuk memunculkan perasaan ketidakadilan (injustice). Albert Ellis menegaskan bahwa tuntutan berlebihan (demandingness) atau harapan absolut tentang sesuatu dalam banyak kasus mengakibatkan munculnya irrational belief (keyakinan yang tidak rasional).

Dalam praktiknya, tuntutan berlebih yang telah disebutkan sebelumnya dapat memunculkan tiga hal lain yang juga menjadi pencetus irrational belief. Ketiga hal tersebut adalah menganggap sesuatu sebagai bencana mengerikan (awfulizing), rasa frustasi yang tidak dapat ditolerir (frustration intolerance), dan menyimpulkan evaluasi global yang mengacu pada merendahkan diri sendiri (global evaluation and self downing).

Ketiga faktor penyebab tersebut akan menjadikan seseorang atau sebuah kelompok sulit membayangkan atau mengkonstruk dalam alam ide tentang rasa aman di masa depan. Dirinya akan selalu merasa terancam, sehingga mengusahakan segala sesuatu untuk “melindungi diri” secara irrational. Perasaan tidak aman yang berlebihan secara sadar atau tidak dapat mendorong sebuah kelompok pada vulnerability (kerentanan).

Kerentanan mewakili keyakinan individu atau kelompok bahwa dirinya terus-menerus menjadi objek pihak lain, sehingga hidup dengan cara yang sulit. Dunia yang mereka hadapi adalah dunia yang kejam dan secara terus-menerus menjadikan mereka sebagai korban.

Efek buruk dari perasaan tersebut adalah munculnya keinginan untuk “membersihkan” kelompok lain yang diduga sebagai dalang dari setiap kemalangan yang terjadi. Kecurigaan berlebihan dan tidak rasional tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk ketidakpercayaan (distrust) yang merupakan salah satu kelainan dalam kejiwaan manusia.

Analisis di atas menunjukkan bahwa pembacaan atas khayr ummah tidak cukup jika hanya berpegang pada pemahaman redaksional, karena akan melahirkan sikap sombong dan superior sebagai kelompok mayoritas.

Hal ini tentu akan berimbas pada pemahaman diksi selanjutnya, yaitu ta’murun bi al-ma’ruf wa tanhawn ‘an al-munkar (memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran). Salah paham terhadap status khayr ummah kemungkinan besar salah paham pula mempraktikkan amr ma’ruf nahy munkar. Mari kita intropeksi!

Wallahu A’lam