Beranda blog Halaman 560

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 69-73

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 69

Usaha segolongan Ahli Kitab akan sia-sia belaka, dan tipu daya mereka akan menimpa mereka sendiri, karena perbuatan mereka selalu diarahkan pada tujuan untuk menyesatkan orang mukmin. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memperhatikan cara mendapatkan petunjuk.

Pandangan mereka akan tertutup sehingga tidak dapat melihat kebenaran ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang memberikan penjelasan tentang kebenaran dari kenabiannya. Boleh dikatakan bahwa mereka tidak berpikir sebagaimana mestinya, bahkan mereka menyia-nyiakan akal, juga mereka telah merusak fitrah mereka sendiri sehingga tidak bisa menjangkau kebenaran.

Sikap dan perbuatan segolongan Ahli Kitab dicela, karena mereka tidak menyadari keadaan mereka yang buruk. Mereka akhirnya jatuh dalam lembah kesesatan dan tidak dapat melihat lagi adanya kebenaran yang menuntun ke jalan yang lurus.

وَدَّ كَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًاۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ

Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, …. (al-Baqarah/2: 109)

وَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ كَمَا كَفَرُوْا فَتَكُوْنُوْنَ سَوَاۤءً

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). … (an-Nisa′/4: 89)

Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan Ahli Kitab menimbulkan persoalan yang meragukan di kalangan kaum Muslimin, tiada lain hanyalah untuk menyesatkan orang-orang mukmin dari agama yang benar, sehingga mengingkari ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw.

Ayat 70

Allah mencela para Ahli Kitab yang mengingkari ayat-ayat Allah; padahal mereka mengetahui dalam kitab mereka sendiri kedatangan Nabi Muhammad saw. Kemudian Allah swt menandaskan bahwa mereka sendiri tidak saja telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw akan datang bahkan sifat-sifatnya pun telah mereka ketahui. Mereka seharusnya mengakui kenabian Muhammad, tetapi karena sifat dengki yang mencekam jiwa mereka, mereka terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Mereka tidak dapat lagi melihat pancaran kebenaran, sehingga mereka terombang ambing dalam kesesatan.

Ayat 71

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ibnu ‘Abbas ia berkata bahwa ‘Abdullah bin as-Saif, ‘Adi bin Zaid dan Haris bin ‘Auf bercakap-cakap sesama mereka. “Marilah kita mempercayai kitab yang diturunkan kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya di waktu pagi hari. Kemudian kita mengingkarinya di waktu petang hari, sehingga kita dapat mengacaukan mereka, semoga mereka berbuat sebagaimana yang kita lakukan, sehingga mereka kembali kepada agama mereka semula.” Kemudian turunlah ayat 71-73 ini.

Allah mencela Ahli Kitab karena mereka mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Yang dimaksud dengan kebenaran dalam ayat ini ialah kebenaran yang dibawa oleh para nabi yang termuat dalam kitab mereka yaitu tauhid, serta berita gembira akan datangnya Nabi Muhammad yang bertugas seperti nabi-nabi sebelumnya yang akan mengajarkan Kitab dan hikmah kepada seluruh manusia.

Sedang yang dimaksud dengan kebatilan ialah segala tipu daya yang dibuat oleh para pendeta dan pemimpin terkemuka Ahli Kitab dengan jalan menakwilkan ayat-ayat Tuhan dengan takwilan yang batil dan yang jauh dari kebenaran. Penakwilan yang begitulah yang dianggap mereka sebagai agama yang wajib diikuti. Perbuatan mereka itu juga dicela.

وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ 

…. Dan mereka berkata, ”Itu dari Allah,” padahal bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Ali ‘Imran/3: 78)

Jelas bahwa yang dimaksud dengan mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil ialah: tipu daya Ahli Kitab yang menakwilkan ayat-ayat Allah dan mengatakan bahwa penakwilan itu datang dari Allah. Sementara berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad, mereka sembunyikan.

Semua ini menunjukkan bahwa mereka melakukan perbuatan itu bukan karena kealpaan atau karena tidak tahu, tetapi karena ingkar, dan hasad yang telah bersarang di dalam dada mereka.

Ayat 72

Ada golongan dari Ahli Kitab yang mengajak kawan-kawannya agar pura-pura beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad di pagi hari, kemudian mengingkarinya pada waktu sore. Mereka bersikap demikian untuk menimbulkan kesan di hati umat Islam, kalau agama Islam itu benar tentulah orang-orang Yahudi yang baru masuk Islam tadi tidak akan murtad lagi. Sikap serupa ini tiada lain hanya tipu daya mereka untuk mempengaruhi orang-orang Islam agar kembali kepada kekafirannya.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Imam Mujahid, ia berkata bahwa, segolongan orang Yahudi salat subuh bersama Nabi. Kemudian mereka kafir pada petang harinya. Apabila mereka melakukan tipu daya serupa itu, bukanlah hal yang aneh, karena mengetahui bahwa di antara tanda-tanda kebenaran itu ialah, apabila seseorang telah mengetahui sesuatu itu benar, tentu dia tidak akan meninggalkannya.

Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Heraklius, Kaisar Rumawi kepada Abu Sufyan ketika dia menanyakan kepadanya tentang keadaan Muhammad, yaitu ketika Nabi Muhammad saw menyeru Heraklius dengan suratnya untuk masuk Islam, “Adakah orang yang keluar dari agamanya setelah ia memeluknya?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak ada.”

Ayat ini memperingatkan Nabi Muhammad akan tipu daya Ahli Kitab dan memberitahukan siasat mereka, agar tipu daya itu tidak mempengaruhi hati orang mukmin yang masih lemah. Peringatan ini berguna untuk menggagalkan usaha mereka; sebab apabila latar belakang dari tipu daya mereka telah diketahui, tentulah usaha mereka tidak akan berhasil. Ayat ini sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad saw, karena mengandung berita gaib yang membukakan rahasia niat busuk orang Yahudi.

Ayat 73

Allah mengungkapkan adanya perkataan pemimpin-pemimpin Yahudi yang melarang kaumnya menyatakan kepercayaan mereka kepada orang lain yang bukan Yahudi, bahwa kenabian itu boleh saja diberi oleh Allah kepada orang lain, selain orang-orang Yahudi. Sebab jika hal itu dikatakan kepada umat Islam tentu umat Islam akan menjadikannya alasan untuk menguatkan kerasulan Muhammad, yang diutus oleh Allah dari kalangan orang Arab, bukan dari kalangan orang Yahudi.

Sikap semacam itu timbul karena orang-orang Yahudi itu memang mengetahui bahwa Allah dapat mengutus seorang rasul, biarpun tidak dari kalangan bangsa Yahudi, tetapi mereka mengingkari kenabian Muhammad adalah karena kesombongan dan kedengkian mereka.

Sesungguhnya petunjuk yang baru diikuti itu ialah petunjuk Allah. Maksudnya bahwa petunjuk itu tidak hanya untuk satu bangsa tertentu di antara hamba-hamba-Nya. Petunjuk itu disampaikan melalui nabi-nabi yang diangkat oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu orang yang diberi petunjuk oleh Allah swt, ia tidak akan sesat dan tidak ada seorang pun yang sanggup menyesatkannya. Maka tipu daya Ahli Kitab tidak akan memberi pengaruh sedikit pun kepada orang Muslim dan tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah terhadap nabi-nabi-Nya.

Kerasulan itu adalah karunia dari Tuhan yang berada di dalam kekuasaan-Nya secara mutlak. Allah Maha Pemberi dan Maha Mengetahui, siapa saja yang berhak mendapatkan karunia-Nya. Maka Allah akan memberikan karunia-Nya kepada orang yang berhak menerimanya. Dalam pernyataan ini terdapat peringatan bahwa orang-orang Yahudi. telah mempersempit pengertian tentang karunia Tuhan Yang Mahaluas.

Karunia Allah sangat luas dan rahmat-Nya diberikan secara merata menurut kehendak-Nya. Ini merupakan bantahan terhadap tuduhan Ahli Kitab yang mengatakan bahwa kenabian dan kerasulan itu hanya bagi orang-orang Bani Israil saja.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah mempunyai hak mutlak untuk mengutus nabi dan rasul sesuai dengan keadilan dan rahmat-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Ayat-ayat Spesial itu Dikenal dengan Huruf Muqattaah

0

Di antara ayat-ayat Alquran yang menurut pendapat paling kuat berjumlah 6.236. Ada ayat-ayat spesial, berada di awal beberapa surat dan sangat berbeda dari ayat yang lain. Mulai dari bentuknya yang berupa kumpulan huruf-huruf, cara membacanya yang unik, hingga maknanya yang masih menjadi perdebatan. Di sini, kita akan mengenal lebih dekat ayat Alquran yang paling misterius tersebut yang dikenal dengan huruf muqattaah.

Huruf muqattaah atau al-ahruf al-muqatta’ah dalam bahasa Indonesia berarti huruf-huruf yang terputus-putus. Dinamai demikian karena ia terdiri dari beberapa huruf dalam ejaan bahasa Arab yang dibaca secara terpisah-pisah, meski disambung layaknya satu kata. Selain itu, ia juga dinamai fawatih al-suwar, yakni bacaan pembuka surat.

Kata الم misalnya, tidak dibaca “alama” dan sebagainya. Akan tetapi masing-masing huruf dibaca secara terpisah berdasarkan ejaan huruf hijaiyyahnya. Dalam bahasa Arab, “ا” dibaca اَلِفْ (Alif), “ل” dibaca لَامْ (Laam) dan م dibaca مِيْمْ (Miim). Apabila disambung akan terjadi idgham pada huruf mim dan mad lazim di huruf lam dan mim, sehingga menjadi “Aliflaaammiiim”.

Terdapat 29 surat dalam Alquran yang diawali dengan huruf muqattaah, di antaranya surat Al-Baqarah [2], surat Ali ‘Imran [3], surat Al-‘Ankabut [29], Surat Al-A’raf [7] dan surat Luqman [31] dan 24 surat lainnya.

Sementara huruf muqatta’ah sendiri berjumlah sebanyak 14 huruf. Supaya mudah dihafalkan, ulama mengumpulkannya dalam ungkapan shahhi thariqaka bi al-sunnah (benarkanlah jalanmu dengan sunnah) atau shirat ‘Ali haq (jalan Ali itu benar)

Dari 14 huruf tersebut membentuk 14 pola kata pula yang dapat dikategorikan berdasarkan jumlah hurufnya menjadi lima macam. Pertama, kata yang terdiri dari satu huruf; ص ,ق  dan ن. Kedua, kata yang terdiri dari dua huruf; حم ,يس ,طه dan طس. Ketiga, kata yang terdiri dari tiga huruf; الم ,الر dan طسم. Keempat, kata yang terdiri dari empat huruf; المص dan المر. Dan kelima, kata yang terdiri dari lima huruf; حم عسق dan كهيعص.

Terkait status huruf muqattaah, sebenarnya terdapat perbedaan di kalangan ulama, apakah ia termasuk ayat Alquran atau bukan. Az-Zarkasyi dalam kitabnya, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa ada dua pendapat mengenai hal ini.

Yang pertama, ulama Basrah yang menganggap semua huruf muqattaah bukan termasuk ayat Alquran. Sementara pendapat yang kedua, ulama Kufah yang berpandangan bahwa sebagian huruf muqattaah adalah ayat dan sebagian lainnya bukan. Namun demikian, az-Zarkasyi tidak memaparkan argumentasi kedua pendapat ini.

Adapun terkait pemaknaannya, ulama terpecah pula ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama menganggapnya sebagai bagian dari ayat mutasyabihat (ayat yang masih samar, mebutuhkan penjelasan yang lebih) maka mereka memasrahkan maknanya hanya kepada Allah. Bagi mereka, tidak seorangpun yang mengetahui makna huruf muqattaah kecuali Allah semata. Ini berdasarkan pada firman Allah dalam QS. Ali Imran: 7 berikut.

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (baca tafsir surat Ali Imran ayat 7)

Pendapat pertama ini seperti tercermin dari ungkapan pengarang Tasir al-Jalalain ketika tiap kali sampai pada pembahasan huruf muqatta’ah, ia menuliskan:

اللَّه أَعْلَم بِمُرَادِهِ بِذَلِكَ

Allah yang lebih mengetahui akan maksudnya.

Sedangkan pendapat kedua menganggap huruf muqatta’ah sebagaimana ayat Alquran lain yang memiliki kandungan makna yang dapat diungkap. Mufassir yang mampu mengungkap kandungan makna dari huruf muqattaah adalah mereka yang dijuluki ulul albab, yaitu yang mendalam keilmuannya dan tinggi spiritualitasnya sehingga mendapatkan pancaran ilham dari Allah Swt.

Argumentasi yang dikemukakan kelompok kedua sebagaimana yang dinyatakan ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib  ialah bahwa mustahil Allah menurunkan ayat-ayat Alquran yang tidak dapat dipahami maknanya, sedangkan ia adalah pedoman bagi umat Islam.

Selain itu, mereka juga merujuk pada QS. Ali Imran: 7 di atas, sama seperti yang dilakukan kelompok pertama. Hanya saja kelompok kedua ini memandang bahwa huruf wau pada kalimat “wa al-rasikhun fi al-‘ilm” bukan berfaedah ibtida’, melainkan ‘atf pada kata “Allah” sebelumnya. Sehingga apabila diterjemahkan menjadi, “tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya…”.

Demikian ‘dialog’ seputar pemaknaan huruf muqatta’ah di kalangan ulama tafsir. Adapun beberapa penafsiran atas huruf muqatta’ah dari kelompok yang meyakininya akan dipaparkan lebih lanjut di artikel berikutnya.

Penjelasan Al Quran tentang Musibah dan Pandemi

0
thediplomat.com

Pada akhir tahun 2019 di kota Wuhan provinsi Hubei China muncul sebuah virus Corona baru. Virus ini menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia, dan menjadi sebuah pandemi yang dikenal dengan Covid-19. Pandemi ini telah membuat dunia kalang kabut, baik dari aspek medis, sosial, ekonomi maupun lainnya, yang tentu saja menyita perhatian semua pihak termasuk agamawan.

Sikap sebagian agamawan di negeri kita amat disayangkan dalam hal ini, karena alih-alih muhasabah (introspeksi), mereka malah menggulirkan isu yang membingungkan umat dengan mengatakan bahwa Covid-19 adalah tentara Allah, jelang kiamat sampai dengan azab untuk orang kafir dan ahli maksiat, seakan tidak punya empati terhadap mereka yang sedang tertimpa sakit.

Padahal jika mereka mau sedikit berfikir, mereka mestinya tahu, jika Corona adalah tentara Allah, maka konsekuensi maknanya adalah, dokter dan tenaga medis sedang memerangi Allah, padahal mereka adalah pelestari kehidupan (QS al-Maidah [5]: 32). Jika Covid-19 menunjukkan dekatnya kiamat, maka sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan kepastian datangnya kiamat. Dan jika Covid-19 adalah azab untuk yang kafir dan maksiat, maka sejarah membuktikan orang-orang saleh pun banyak yang terenggut nyawa saat datang wabah.

Bagaimana Alquran menjelaskan ini semua? Pertama, Allah akan terus menciptakan sesuatu yang tidak kita ketahui, termasuk penyakit (Q.S al-Nahl [16]: 8). Kedua, Covid-19 bukanlah azab tetapi bala’ yang berarti ujian atau cobaan, karena menimpa ahli ta’at dan ahli maksiat, muslim dan non-muslim (Q.S al-Anfal [8]: 25). Berbeda dengan azab yang hanya menimpa mereka yang zalim (Q.S Hud [11]: 26-27 & 65).

Ketiga, ujian dalam hidup adalah sunnatullah dan merupakan sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Allah Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun.” (Q.S al-Mulk [67]: 2).

Dalam firman-Nya yang lain:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Q.S Muhammad [47: 31).

Keempat, ujian terberat dialami oleh para Nabi kemudian sahabat, kemudian derajat di bawahnya dan seterusnya. Ini banyak tercatat dalam Alquran, di antaranya sebagai pengingat:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S al-Baqarah [2]: 214).

Bagi para nabi dan kekasih Allah, ujian adalah tangga menuju kenaikan derajat, kedekatan dengan Allah dan buah penghormatan kepada mereka. Tidak harus dalam bentuk yang menyakitkan, terkadang berupa anugerah, baik harta maupun keluarga atau lainnya.

Kelima, masing-masing manusia diuji sesuai dengan kemampuannya. Semua manusia mengalami musibah, dan Allah sudah memberi kekuatan untuk memikulnya. Tidak ada ujian yang di luar batas kemampuan. Semua ujian pasti mendatangkan kebaikan jika diterima dengan legawa dan sabar. Di sisi lain, bersedih tidak lah dilarang, Nabi bahkan menangis tatkala ditinggal pergi oleh putranya, Ibrahim. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebuah ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS al-Baqarah [2]: 155).

Keenam, tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS al-Taubah [9]: 51).

Ketujuh, dalam setiap hal kita diperintahkan untuk mengikuti anjuran mereka yang memiliki keahlian di bidangnya. Dan dalam hal Covid-19 saran dokter lah yang harus kita ikuti, tetap dengan keyakinan terhadap kuasa Allah, sebagaimana ungkapan Nabi Ibrahim:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS al-Syu’ara [26: 80).

Demikian beberapa poin global penjelasan Alquran tentang musibah, yang simpulannya adalah bahwa pandemi datang dari Allah, bukan merupakan azab. Ia merupakan sebuah keniscayaan yang menimpa semua manusia, dengan ukuran kemampuannya masing-masing, termasuk para nabi. Semua terjadi atas kehendak-Nya, dan kita diminta untuk berikhtiar mengikuti mereka para tenaga medis yang ahli di bidang ini, sembari terus berdoa dan tetap meyakini kuasa-Nya, agar ‘badai’ Covid-19 ini cepat berlalu, insya Allah.

Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (3)

0
manuskrip tafsir alquran di nusantara

Sejak awal abad ke-20, baru muncul tafsir Indonesia modern yang ditulis oleh Mahmud Yunus dalam karya tafsirnya yang diberi nama Tafsir Qur’an Karim. Ada tiga elemen modern yang diperkenalkannya sebagai pola baru yang memberi ciri bagi penulisan karya tafsir Indonesia modern, yaitu pemakaian huruf Latin menggantikan huruf Arab-Melayu, gaya penulisan model karya tafsir yang ringkas, serta elemen-elemen modernitas dengan memunculkan kecenderungan penafsiran yang bercorak ilmiah.

Kemudian, diikuti oleh penulis tafsir sesudahnya di antaranya, A. Hasan, T.M Hasbi Ash-Shiddiqy, Hamka, Jaluludin Rahmat, Quraish Shihab dan yang lainnya. Bahkan di abad ke-20 M mulai bermunculan karya-karya tafsir sosial, yang secara kondisional memberikan kritik sosial, politik dan kemanusiaan.

Dan, semenjak akhir tahun 1920-an dan seterusnya, sejumlah terjemahan Alquran sudah dalam bentuk juz per-juz, bahkan seluruh isi Alquran mulai bermunculan. Kondisi penerjemahan Alquran semakin kondusif setelah terjadinya sumpah pemuda pada tahun 1928 yang menyatakan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Tafsir al-Furqan misalnya adalah tafsir pertama yang diterbitkan pada tahun 1928. Dalam kisaran awal tahun abad 20 hingga 1960, beberapa tafsir yang sudah dihasilkan sebagai berikut:

  1. Muhammad Nur Idris, Tafsir Alquranul Karim, Surat al-Fatihah, Jakarta: Widjaja, 1955. Corak pembahasan surat tertentu.
  2. Bahri, Rahasia Ulumul Quran/ Tafsir Surat al-Fatihah. Jakarta: Institute Indonesia, 1956. Corak pembahasan surat tertentu.
  3. Bahroem Rangkuti, Kandungan al-Fatihah. Jakarta: Pustaka Islam, 1960. Corak pembahasan surat tertentu.
  4. Hasri, Tafsir Surat al-Fatihah. Cirebon: Toko Mesir, 1969. Corak pembahasan surat tertentu.
  5. Hamka, Al-Burhan: Tafsir Juz ‘Amma. Padang: al-Munir, 1922. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  6. Hasan, Al-Hidayah Tafsir Juz ‘Amma. Bandung: al-Ma’arif, 1930. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  7. Adnan Yahya Lubis, Tafsir Djuz ‘Amma. Medan: Islamiyah, 1954. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  8. Zuber Usman, Tafsir al-Qur’anul Karim; Djuz ‘Amma. Jakarta: Wijaya, 1955. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  9. Iskandar Idris, Tafsir Juz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia. Bandung: al-Ma’arif, 1958. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  10. Mustafa Baisa, Tafsir Djuz ‘Amma. Surabaya: Usaha Keluarga, 1960. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  11. Said, Tafsir Djuz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia. Bandung: al-Ma’rif, 1960. Corak pembahasan Juz ‘Amma.
  12. Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim. Jakarta: Pustaka Mamudiya, 1957. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.
  13. Bisri Mustafa, Tafsir al-Ibriz. Rembang, 1960. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.
  14. Ahmad Hassan, Al-Furqan: Tafsir al-Qur’an. Jakarta: Timtamas, 1962. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.
  15. A. Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas, Abdurrahman Haitami, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Medan: Firma Islamiyah, 1956, Ed. 9. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.
  16. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs, Tafsir al-Qur’an. Jakarta: Wijaya, 1959. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.
  17. M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir al-Bayan. Bandung: al-Ma’arif, 1966. Corak pembahasan Tafsir Alquran 30 Juz lengkap.

Dalam kurun waktu awal abad ke-20 hingga 1960, sudah cukup banyak karya tafsir yang dihasilkan oleh para ulama atau pun para pengkaji Alquran. Hal ini menandakan bahwa geliat tafsir Indonesia di era klasik ini sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Bermula pada tafsiran surat-surat tertentu, juz 30, hingga lengkap 30 juz Alquran.

Di samping itu, juga tidak sedikit ditemukan bahasa penyampaiannya menggunakan bahasa lokal, semisal bahasa Jawa, Melayu, Sunda, ataupun Bugis. Hal ini tidak lain adalah salah satu bentuk perhatian dari pada Ulamanya, agar tafsiran tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh masyarakat secara awam.

Karena memang masih tergolong awal, tentu karya-karya yang dihasilkan masih sederhana, jika dipandang dari segi metode, corak maupun bentuk tafsirnya. Sekalipun demikian, hal ini tetap dipandang sebagai ‘gerakan’ yang luar biasa dalam dunia tafsir.

Tafsir Tarbawi: Keharusan Bersikap Sabar Bagi Peserta Didik

0
sikap sabar
sikap sabar (wikipedia)

Telah masyhur di antara kita akan syair Imam Syafi’i, “Jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, bersiap-siaplah menelan pahitnya kebodohan”. Syair ini mengindikasikan bahwa peserta didik harus memiliki sikap sabar dan ketekunan dalam belajar.

Ilmu tidak diraih oleh warisan nasab dan kedudukan, tapi hanya diperoleh bagi mereka yang bersabar dan tekun. Keharusan bersikap sabar bagi peserta didik, Allah swt lukiskan dalam firman-Nya Q.S. al-Hujurat [49]: 5,

وَلَوْ اَنَّهُمْ صَبَرُوْا حَتّٰى تَخْرُجَ اِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. al-Hujurat [49]: 5)

Tafsir Surah al-Hujurat Ayat 5

Muhammad ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir menjelaskan bahwa sekiranya mereka mau bersabar untuk menunggu Rasulullah saw keluar menemui mereka menandakan sikap sabar dan itu lebih baik bagi mereka serta paling utama kedudukannya di sisi Allah swt dan manusia. Hal itu juga menunjukkan penghormatan kepada Rasulullah saw yang berkedudukan sebagai Nabi. Dan Allah swt Maha Pengampun atas dosa hamba-Nya dan Maha Penyayang bagi orang-orang mukmin.

Hal senada disampaikan oleh Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir bahwa kata khairan menggunakan bentuk isim tafdhil (isim yang bermakna lebih atau paling). Maksudnya adalah sabar bagi mereka tentu jauh lebih baik dan lebih utama daripada tergesa-gesa. Dan sabar juga antonim dari keburukan. Sabar juga merupakan bagian dari keindahan akhlak.

Baca juga: Beda Derajat Orang yang Berilmu dan Tidak Berilmu

Penafsiran berbeda datang dari Ibnu Katsir, ia menjelaskan munasabah ayat ini terkait ayat sebelumnya (al-Hujurat: 4), di mana kebiasaan orang-orang Arab saat itu memanggil seseorang dengan bersuara keras sebagaimana yang mereka lakukan terhadap baginda Rasulullah saw. Hal itu dicela oleh Allah swt.

Kemudian pada ayat ini menegaskan bentuk etika sopan santun terhadap Rasulullah saw yakni kesabaran. Sabar untuk menunggu Rasulullah saw keluar hingga menemui mereka. Sebab hal itu mengandung kebaikan dan kemanfaatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

Keharusan Bersikap Sabar Bagi Peserta Didik

Bagi seorang peserta didik, sikap sabar adalah keharusan. Tanpa kesabaran, ilmu sulit diraih. Ilmu membutuhkan ketekunan, kesabaran dan ketenangan. Perilaku sabar yang ditunjukkan oleh ayat di atas di antaranya adalah pertama, tidak terburu-buru. Mereka sebagaimana dijelaskan di atas bahwa sabar menunggu Rasulullah saw keluar menemui mereka itu lebih utama daripada memanggilnya dengan suara lantang. Secara tidak langsung, sabar meniscayakan etika atau sopan santun.

Begitu pula halnya peserta didik, ia harus sabar akan penjelasan guru, sabar akan tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh guru, sabar untuk menahan kantuknya lelah belajara, bahkan sabar untuk menahan diri dari hal-hal tercela seperti pacaran, bermain berlebihan, dan sebagainya.

Baca juga: Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 256: Islam Menjunjung Tinggi Kebebasan Beragama

Kedua, mengontrol hawa nafsu. Ayat di atas menyiratkan anjuran untuk tidak bersuara lantang ketika memanggil guru. Artinya, bersabar atas kepungan dahsyatnya hawa nafsu. Seorang manusia tidak akan bisa menanggalkan hawa nafsu, karena sejatinya hawa nafsu adalah fitrah bagi manusia. Maka yang hanya bisa kita lakukan adalah mengendalikannya sehingga tidak liar tak terkendali.

Mengutip dawuh (perkataan) Syaikh Muhammad bin Hasan dalam Ta’lim al-Muta’allim, bahwa tidak akan diperolehnya suatu ilmu kecuali enam perkara, salah satunya adalah kesabaran. Menuntut ilmu memang membutuhkan kesabaran.

Sangat beruntung bagi mereka yang mampu bersabar melewati segala bentuk ujiannya. Segala umpatan, cacian, celaan, godaan, kesenangan sesaat selalu menyelimuti bagi para penuntut ilmu. Dengan demikian, hendaknya peserta didik selalu berdoa dan memohon kepada-Nya untuk diberikan kesabaran dan ketabahan serta kemudahan dalam melewati semua itu, sebab ridha Allah swt sangat menentukan mudah tidaknya perjuangan kita. Wallahu A’lam.

 

Tafsir Surah An-Nisa’ 148-149: Allah Tidak Menyukai Perkataan Buruk

0
bombastis.com

Secara fitrah, manusia tidak akan berkata buruk jika tidak ada pengaruh terhadap lingkungannya atau pengaruh emosional yang sedang dialami. Misalnya, orang akan berkata buruk jika mendapatkan perkataan buruk dari orang lain. Meskipun banyak umat muslim sudah mengetahui bahwa Allah SWT melarang hambanya untuk berkata buruk, tapi sulit untuk di hindari oleh kebanyakan orang. 

Pada  tafsir surah an-Nisa’ ayat 148-149 memberikan penjelasan terkait perkataan buruk yang dilarang oleh Allah SWT, dan bagaimana kita membalas perkataan buruk orang lain terhadap kita, berikut penafsirannya. Firman Allah  Surah an-Nisa’ ayat 148:

َا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizhalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Menurut Ali Shabuny dalam Shafwah at-tafasir, perkataan buruk tidak disenangi oleh Allah swt. Kemudian Menurut  Imam Syuyuti dalam tafsir Jalalain, orang yang berkata buruk akan mendapat siksa dari Allah swt.

Selanjutnya ada pendapat dari Ali al-Shabuny bahwa, mengabarkan kejelekan terhadap orang yang telah mendhalimi orang lain adalah boleh. Kemudian pada kitab Ibnu Katsir juga mengatakan demikian, bahwa boleh orang mengabarkan kejelekan orang yang telah berbuat dhalim terhadap orang lain.

Sikap untuk Menyikapi Perkataan Buruk

Kemudian pendapat hadir dari Ibnu Abbas, bahwa seseorang diperbolehkan mendoakan buruk terhadap orang yang telah mendhaliminya, pendapat ini ia kutip dari Ali Shabuny dan Ibnu Katsir

لا يحب الله أن يدعوَ أحدٌ على أحد، إلا أن يكون مظلومًا

Allah tidak menyukai seseorang berdoa buruk terhadap orang lain kecuali orang yang terdhalimi. 

Namun pendapat Hasan al-Basry tetap tidak membolehkan mendokan buruk terhadapnya. Dalam riwayat lain Hasan Basry berpendapat, orang yang terdhalimi mendapat keringanan berdoa buruk tanpa harus menyerang orang yang mendhalimi.

Selain membalas dengan doa buruk, orang yang terdhalimi diperbolehkan membalas cacian dengan cacian juga, akan tetapi tidak boleh membuat-buat atau mengada-ada meski yang mendhalimi melakukan itu. Ini pendapat ‘Abd al-Karim bin Malik al-Jazary, yang dikutip oleh Ibn Katsir.

Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan dengan hadis riwayat Abu Daud;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِي مِنْهُمَا مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ

Dua orang yang saling mencaci dengan apa yang mereka ucapkan, maka yang menaggung dosanya adalah yang memulai, yaitu selama orang yang terzalimi tidak melampaui batas. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim, Timidzi dan Ahmad.

Dari balasan yang setimpal dan mendoakan terhadap orang dhalim tadi, menurut Ibn Katsir jika orang yang terdhalimi  bersabar  maka akan baik pula baginya.

Atau dengan memaafkan yang mendhaliminya sebagaimana surah al-Nisa’ ayat 149;

إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.

Ayat di atas, dari al-Syuyuti berpendapat bahwa maksud memaafkan adalah memaafkan orang yang mendhaliminya. menurut Ibnu Katsir, sesungguhnya bersikap memaafkan terhadap orang yang mendhalimi kita, dapat mendekatkan diri kepada Allah. Serta Allah akan memberikan pahala yang banyak, karena salah satu dari sifat Allah adalah memaafkan hamba-Nya bersamaan dengan taqdir-Nya atas siksaan hambanya. wallahu a’lam

Dua Ayat Al Quran Yang Turun dari Kekayaan Arasy

0
matsal Al Quran
matsal Al Quran

Kita seringkali membaca dua ayat ini dan bahkan kita menjadikannya sebagai wirid yang selalu kita baca usai kita melaksanakan salat. Dua ayat itu telah dipilih oleh ulama sebagaia bahagian dari zikir. Ini berarti bahwa dua ayat ini adalah ayat-ayat yang paling utama karena keduanya bahagian dari kekayaan Arasy. Hal ini telah diungkapkan oleh Rasulullah saw, dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي أُوتِيتُهُمَا مِنْ كَنْزٍ مِنْ بَيْتٍ تَحْتَ الْعَرْشِ، وَلَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلِي» يَعْنِي: الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ. رواه أحمد

Dari Abu Dzarr al-Ghifary, dia berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Sesungguhnya aku telah diberikan dua ayat yang merupakan bahagian dari kekayaan di bawah Arasy. Keduanya tidak pernah diberikan kepada nabi manapun yang telah diutus sebelum aku. Dua ayat itu adalah dua ayat yang terdapat di akhir surat al-Baqarah. HR. Ahmad.

Dua ayat yang disebutkan oleh Rasulullah itu adalah ayat 285-286, sebagai berikut:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦

285. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Bacalah ayat-ayat ini dan jadikanlah sebagai zikirmu.

Tafsir Surat al-Ma’arij Ayat 19 – 21: Sifat Buruk Manusia

0
Freshservice.com

Artikel ini mengulas soal penciptaan manusia dan karakter dan sifat buruk yang dimiliki manusia. Sebagai makhluk lemah, manusia memiliki banyak kekurangan. Tidak sepatutnya ia menyombongkan diri. Berikut firman Allah Swt dalam Surat al-Ma’arij Ayat 19-21: 

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا () إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا () وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta) ia amat kikir.” (Q.S. Al-Ma’arij: 19-21)

Ayat di atas menegaskan bahwa pada umumnya manusia itu suka mengeluh. Mereka punya sifat buruk berupa keinginan (ambisi) yang berlebihan, sedikit kesabaran, banyak berkeluh kesah. Jika ditimpa kesulitan berupa kemiskinan atau sakit, mereka banyak mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, serta diliputi kesedihan berkepanjangan.

Tetapi sebaliknya, jika diberi kebaikan dan kemudahan berupa kesehatan yang sempurna, kekayaan melimpah, pangkat yang tinggi, jabatan yang prestisius, mereka cenderung bersifat kikir, sombong dan tidak peduli dengan orang lain.

Itulah beberapa sifat buruk manusia pada umumnya. Ketika kesulitan hidup datang mendera. Dia merasa seolah-olah langit akan runtuh, bumi bergoncang dan dunia akan kiamat. Dia kabarkan ke setiap orang yang dijumpainya bahwa dia tengah dalam kesulitan dan kesengsaraan.

Dia ceritakan penderitaannya kepada semua orang. Dia ingin orang lain tahu bahwa dia sedang dalam keadaan susah, dengan harapan setiap orang akan iba dan menaruh belas kasihan kepadanya. Dia tidak pernah berpikir sedikit pun tentang karunia serta nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dia hilangkan semua kebaikan Allah kepadanya.

Di sisi lain, ketika dia tengah diliputi kebaikan dan kemudahan hidup. Lagi-lagi sifat buruknya muncul. Dia menjadi orang yang sangat kikir, tidak mau berbagi sedikit pun kebahagiaan yang dimilikinya kepada orang lain. Dia simpan dan genggam erat-erat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Dia berbangga diri dengan kekayaan melimpah yang dimilikinya. Dia menjadi jumawa dengan jabatan dan kedudukan yang telah berhasil direngkuhnya. Dia menjadi sombong dengan segala yang dimilikinya. Dia lupa bahwa semua yang saat ini ada dalam kehidupannya adalah nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Semua yang dimilikinya sesungguhnya hanyalah titipan Allah semata.

Untuk menyadarkan kita semua akan sifat buruk tersebut, ada baiknya kita menyimak uraian ayat ke-26 dari Q.S. Ali Imran berikut ini: “Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.””

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa segala kekuasaan, kelimpahan harta, kedudukan yang tinggi yang ada pada manusia semua berasal dari Allah Swt. Sebaliknya, segala kehinaan, kerendahan, ketidakberdayaan akan Allah hadirkan kepada mereka yang terlena dan terbuai oleh tipu daya gemerlap dunia.

Betapa banyak kita saksikan dalam kehidupan ini, orang-orang yang Allah karuniai kekuasaan, kelimpahan rezeki, kedudukan dan jabatan yang tinggi, tetapi alih-alih bersyukur justru mereka lalai dan terlena dengan nikmat tersebut. Mereka gunakan kekuasaan, kekayaan yang melimpah, serta kedudukan yang tinggi itu untuk berbuat maksiat kepada Allah.

Mereka banggakan kekuasaan, kekayaan, dan jabatan yang dimilikinya. Mereka menjadi manusia-manusia yang angkuh dan sombong. Mereka juga sangat kikir. Mereka enggan membelanjakan harta dan kekayaannya di jalan Allah. Mereka memilih untuk menempuh hidup dalam kemewahan.

Padahal, Al-Quran mengisahkan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah kemanusiaan. Fir’aun, adalah simbol penguasa zalim, angkuh dan sombong, bahkan menyatakan dirinya sebagai tuhan. Dia dan kekuasaan yang dimilikinya lenyep seketika seiring ditenggelamkannya di laut merah.

Qarun adalah simbol manusia kaya raya yang sombong dengan kekayaan yang dimilikinya, yang akhirnya habis riwayatnya ditelan perut bumi. Haman adalah perlambang pejabat negara yang menghalalkan segala cara untuk melanggengkan jabatan dan kedudukaannya; menjilat penguasa, membodohi rakyat, mementingkan diri sendiri, yang tamat riwayatnya bersama Fir’aun di tenggelamkan Allah di laut merah.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Tafsir Tarbawi: Pentingnya Metode Nasihat dalam Pendidikan Islam

0
metode nasihat
metode nasihat

Nasihat merupakan salah satu metode pendidikan yang cukup efektif dalam membentuk keimanan, akhlak, jiwa dan rasa sosial seseorang. Memberi nasihat juga dapat memberi kemanfaatan dan perubahan besar untuk membuka dan menyadarkan hati seseorang terhadap hakikat sesuatu, mendorongnya untuk berperilaku yang baik dan positive thinking (berpikir positif). Metode nasihat ini telah disebutkan secara eksplisit oleh Allah SWT dalam firman-Nya QS. az-Zariyat ayat 55:

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin”

Tafsir Surah az-Zariyat Ayat 55

Al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul menjelaskan sebab turunnya ayat ini bahwa diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Qatadah bahwa tatkala turun ayat fa tawalla famaa anta bi malum (maka berpalinglah engkau dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela) (Q.S. az-Zariyat ayat 54).

Lantas para sahabat merasa gundah. Mereka mengira bahwa wahyu tidak akan turun lagi. Artinya telah terputus dan azab Allah segera datang. Maka turunlah ayat selanjutnya yakni ayat ini yang menegaskan bahwa peringatan yang diberikan Nabi saw tetap bermanfaat dan relevan sepanjang zaman (shalih li kulli zaman wa makan) bagi orang yang beriman.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Larangan Bullying dalam Pendidikan Islam

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw selaku khatamul anbiya wal mursalin (penutup para nabi) agar tetap memberikan peringatan dan nasihat, karena keduanya akan bermanfaat bagi orang yang mendapat petunjuk-Nya. Ibnu Katsir menambahkan peringatan dan nasehat itu akan tetap bermanfaat selama hati mereka tetap beriman kepada-Nya.

Penafsiran serupa juga disampaikan oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, ia menafsirkan “dan tetaplan selalu memberi peringatan. Sebab peringatan itu dapat memberikan pencerahan baik penglihatan maupun keyakinan orang-orang Mukmin. Al-Qurthuby misalnya menafsirkan adz-dzikra dengan al-idzah (nasihat) sebab nasihat itu akan bermanfaat bagi orang Mukmin. Adapun Qatadah memaknai adz-dzikra dengan Alquran sebab nasihat melalui Alquran itu akan bermanfaat bagi orang Mukmin.

Pentingnya Metode Nasihat dalam Pendidikan Islam

Bagi seorang pendidik memberikan nasehat kepada peserta didiknya merupakan kewajiban baginya. Tentu pemberian nasehat itu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik dan mendidik, bukan menggurui bahkan terlalu overload. Pemberian nasihat di sini dapat berupa verbal maupun non verbal. Apabila ditilik ulama kita dalam memberikan wejangan (baca: nasihat) selalu berimbang. Dalam artian, tidak hanya secara verbal tapi juga non verbal atau keteladanan.

Baca juga: Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 256: Islam Menjunjung Tinggi Kebebasan Beragama

Cara verbal kerap kita jumpai di ceramah-ceramah agama. Sebut saja, Kiai Anwar Zahid, kiai kondang asal Kanor, Bojonegoro, beliau selalu menyampaikan pitutur (baca: nasihat) dengan humoris, santai dan tetap memperhatikan materi keislaman di dalamnya. Beliau mengemasnya dengan diksi bahasa yang sederhana dan dikontekstualisasikan dengan pengalaman hidup audiensnya sehingga dakwahnya diminati dan tenar di mana-mana. Berbeda dengan Kiai Anwar Zahid, Ulama tafsir kita, Quraish Shihab yang hidup di lingkungan akademis, beliau memberikan nasehat berdasarkan keilmuannya, menggunakan bahasa santun, sejuk dan mendamaikan.

Sedang cara non verbal dapat dilakukan dengan pembiasaan kehidupan sehari-hari misalnya dengan keteladanan. Rasulullah saw sering kali memberi contoh (berbuat lebih dulu) sebelum menyuruh (mengatakan). Artinya bagi seorang pendidik, dituntut tidak hanya lihai dan gemar menasihati, namun juga dituntut memberikan teladan sebelum berkata.

Karenanya, metode nasihat sangat penting bagi peserta didik agar ia bisa membedakan mana yang benar dan salah, mana yang tidak sopan dan sopan sehingga itu menjadi bekal bagi dirinya untuk menjadi manusia yang unggul dan berakhlakul karimah. Wallahu A’lam.

Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (2)

0
manuskrip tafsir alquran di nusantara

Teknik Penulisan dan Penyajiannya

Di samping terkait dengan bahasa yang digunakan, teknis penulisan juga menjadi satu pembahasan yang menarik untuk ditilik. Pada tahun 1920-an, telah muncul karya tafsir kolektif yang ditulis oleh Iljas dan Abd Jalil dengan judul Alqoeranoel Hakim Beserta Toedjoean dan Maksoednja (Padang Pandjang, 1925).

Kemudian berlanjut pada tahun 1930-an yakni, A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas, Abdurrahman Haitami yang menulis dengan judul Tafsir al-Qur’an al-Karim (Medan, 1956, ed. 9). Dan, Tafsir al-Qur’an karya dari Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs (Jakarta, 1959). Model dengan kolektif ini kemudian berlanjut pada lembaga formal, yakni Departemen Agama Republik Indonesia dengan karyanya Tafsir Qur’an di tahun 1967.

Pada awal 1930-an, sistematika penafsiran cenderung menggunakan penyajian secara tematik, meskipun dengan penyampaian yang sangat sederhana. Di samping itu, juga muncul beberapa karya tafsir yang lebih memfokuskan kajiannya pada surat-surat terntu, seperti surat al-Fatihah; Tafsir al-Qur’anul Karim, Surat al-Fatihah karya Muhammad Nur Idris (Jakarta, 1955), dan lainnya. Kemudian yang terkonsentrasi pada surat Yasin; Tafsir Surat Yasien dengan Keterangannya karya A. Hassan (Bangil, 1951).

Dan, beberapa karya tafsir yang terkonsentrasi dengan pembahasan pada juz-juz tertentu, semisal; al-Burhan, Tafsir Juz ‘Amma, karya Hamka (Padang, 1922), Tafsir Djuz ‘Amma dalam Bahasa Indonesia, karya Mustafa Baisa (Bandung, 1960). Kajian ini kemudian berkembang pada karya penafsiran utuh hingga 30 juz. Mulai dari karya Mahmud Yunus, Hamka, Tafsir al-Azhar (1967) hingga Prof. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah.

Metode, Corak dan Bentuk Penafsirannya

Menurut Nashruddin Baidan, karya tafsir di era 1900-1950 menunjukkan bahwa metode yang digunakan lebih cenderung pada ijmali, sebab karya tersebut lebih pada terjemahan dari pada tafsir yang luas dan terperinci. Namun, pada ayat-ayat tertentu, penafsiran ditampakkan lebih rinci, semisal pada tafsir karya Mahmud Yunus dalam Q.S. al-Nur [24]: 31,

وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Perempuan itu tidak boleh membukakan perhiasannya atau badannya kepada laki-laki yang bukan familinya selain dari yang terbuka untuk bekerja (berusaha). Dalam mazhab Hanafi yang boleh dibukakan perempuan ialah muka dan telapak tangannya hingga pergelangannya serta kedua telapak kakinya sampai mata kaki. Kata setengah lagi, boleh sampai seperdua lengan tangan dan seperdua betis kaki karena bisa terbuka waktu bekerja.

Menurut Tafsir Ibnu ‘Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu ialah muka dan telapak tangan. Dalam haidts Nabi Muhammad saw ada yang artinya, “Apabila perempuan telah baligh (telah haid) maka tidak patut dilihat tubuhnya selain dari ini dan itu, sambil diisyaratkannya muka dan dua telapak tangannya.”

Bentuk Tafsir

Dalam kajian Alquran, bentuk penafsiran – menurut Baidan – hanya ada dua, yakni al-ma’tsur dan al-ra’yi. Al-ma’tsur berarti karya tafsir tersebut lebih dominan dengan menampilkan riwayat-riwayat dalam penjelasannya. Sedangkan bentuk al-ra’yi lebih mendominankan penafsirannya pada ranah rasionalitas, dengan tetap tidak mengeyampingkan keberadaan riwayat. Dalam keenam tafsir di atas, lebih menunjukkan pada bantuk secara al-ra’yi.

Corak Tafsir

Ditilik dari pemaparan terkait bentuk tafsir di atas, dapat ditarik benang merah terkait corak yang dihasilkan dari karya tafsir tersebut. Menurut Baidan, dari keenam karya tafsir tersebut menunjukkan bahwa corak yang dihasilkan masih bersifat umum, artinya tidak mendominankan satu kekhasan tertentu atau seorang mufassir bersikap netral ketika memberikan penafsiran.

Semisal penafsiran A. Hassan dalam surat al-Anfal lima ayat pertama. Di bagian akhirnya, A. Hassan memberikan sebuah komentar yang bersifat netral dan umum, dengan tidak menampilkan satu kecenderungan tertentu, yakni;

“Maksudnya bahwa rampasan perang itu menjadi hak Allah dan Rasul-Nya yang boleh dibagikan menurut keputusan Rasul-nya, walaupun segolongan dari kaum Islam ada yang tidak suka sebagaimana Tuhanmu telah mengeluarkanmu dari rumahmu ke perang Badar, padahal segolongan dari mereka tidak suka”.