BerandaTafsir TematikPembukaan Awal Tafsir Surah al-Kahfi: Kisah dan Keutamaan Membaca Surah al-Kahfi

Pembukaan Awal Tafsir Surah al-Kahfi: Kisah dan Keutamaan Membaca Surah al-Kahfi

Belum lengkap rasanya jika kita membahas tentang tafsir surah al-kahfi tanpa memahami pengetahuan tentang kisah dan keutamaan membaca surah al-kahfi. Turunnya surat ini begitu menarik dan beda dengan surah yang lainnya, karena surat al-Kahfi ini turun setelah surat al-Ghasyiyah dan surat al-Syura dalam satu paket. Artinya, menurut Ibnu Asyur, surah al-kahfi ini turun secara sekaligus, jadi tidak berangsur-angsur atau ayat per ayat. Selain menurut Ibnu Asyur, ternyata juga diriwayatkan dari Anas bin Malik yang menyampaikan bahwa surah al-Kahfi itu turun secara sekaligus, dan diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat.

Surah al-Kahfi ini memiliki banyak penjelasan tentang kisah keteladanan, mulai dari kisah diturunnya surah al-Kahfi, kisah ashabul Kahfi dan seekor anjing, jika kisah Ashabul Kahfi ini diawali dari ayat ke-9 sampai ayat ke 26. Kisah tentang sekumpulan pemuda muslim yang hidup di negeri kafir. Kemudian mereka bertekad hijrah untuk mempertahankan agama. Mereka  melakukan hijrah setelah mereka mendakwahi kaumnya lalu mendapatkan penolakan, tekanan, dan intimidasi. Selanjutnya kisah pemuda tersebut juga sempat tertidur selama ratusan tahun.

Baca juga: 3 Macam Nun Sukun yang Dibaca Idzhar dalam Ilmu Tajwid

Kemudian ada juga kisah tentang raja Zukainain, seorang raja mulia yang menguasai ilmu dan kekuatan, ia mengelilingi dunia dan menebarkan kebaikan di muka bumi. Ia menolong manusia di atasnya. Ia mampu membendung kejahatan Ya’juj dan Ma’juj dengan membangun tembok raksasa (benteng), dengan tujuan untuk mengurung makhluk perusak dunia tersebut. Kemudian datang juga dari kisah Nabi Khidir mencekik anak kecil ketika bersama Nabi Musa, kisah Ashabul Kahfi di dalam goa serta masih lebih luas lagi.

Selain memahami makna cerita yang terdapat pada surah al-Kahfi, kita juga perlu mengetahui keutamaan ketika kita membaca surat al-Kahfi, ada beberapa riwayat hadis yang menceritakan tentang kisah seseorang yang mengalami sesuatu setelah membaca surah al-Kahfi.

Riwayat Tentang Kisah Orang yang Membaca Surat al-Kahfi

Hadis riwayat dari Imam Bukhory dan Imam Muslim:

وَجَعَلَ فَرَسُهُ يَنْفِرُ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Dari al-Bara’ bin ‘Aazib r.a beliau berkata: Ada seorang laki-laki yang membaca surat al-Kahfi, di sampingnya ada kuda yang terikat pada dua tali yang panjang. Tiba-tiba ia dinaungi awan yang terus mendekap, maka kuda itupun lari (terlepas dari ikatan). Pada pagi harinya,  orang tersebut mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menceritakan hal itu. Nabi bersabda: Itu adalah as-Sakiinah (ketenangan) yang turun dengan al-Quran (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Makna Kata Hidayah dalam Al-Quran dan Macamnya Menurut Al-Maraghi

Kemudian pada kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-asqolani, makna as-Sakinah adalah suatu makhluk yang padanya terdapat ketenangan dan rahmat, bersamanya (turun) Malaikat. Menurut al-Jurjani, sakinah adalah adanya ketenteraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak diduga, dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan ketenteraman pada yang menyaksikannya, dan merupakan keyakinan berdasarkan penglihatan (ain al-yaqin). Ada pula yang menyamakan sakinah dengan kata rahmah dan thuma’ninah, artinya tenang dan tidak gundah dalam melaksanakan ibadah.

Selajutnya dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, hadis riwayat Imam Ad-Darimi, Imam an-Nasai dan Al-Hakim, pada Shahih al-Jami’, nabi  Muhammad SAW bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Siapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘Atiq.” (HR. Imam Al-Darimi dan Imam an-Nasai).

Baca juga: Kisah Al-Quran: Beberapa Gelar Yang Disandang Nabi Ibrahim a.s.

Dengan begitu, ulama sepakat bahwa surat al-kafi memberikan keutamaan berupa cahaya sakinah dan bisa diamalkan secara istiqomah setiap hari jumat. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum’at dan siangnya. Wallahu a’lam[]

Norma Azmi Farida
Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

pandangan imam al-Ghazali tentang musik dan nyanyian

Pandangan Imam al-Ghazali Mengenai Musik dan Nyanyian

0
Akhir-akhir ini, tengah ramai diperbincangkan mengenai halal-haramnya musik. Hal ini bermula dari penjelasan ust. Adi Hidayat mengenai asy-Syu’ara yang dimaknai sebagai para pemusik, yang...