Beranda Berita Pengaruh Kesarjanaan Barat Terhadap Transformasi Kajian Akademik Al-Quran dan Tafsir di Indonesia

Pengaruh Kesarjanaan Barat Terhadap Transformasi Kajian Akademik Al-Quran dan Tafsir di Indonesia

Sabtu, 28 Agustus 2021, tafsiralquran.id bekerja sama dengan prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut Pesantren KH. Abdul Chalim, Mojokerto kembali menyelenggarakan Serial Diskusi Tafsir. Kali ini mengusung tema ‘Pengaruh Kesarjanaan Barat dalam Kajian Tafsir di Indonesia’. Bertindak sebagai pembicara adalah Dr. Yusuf Rahman, MA., Dosen senior, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan juga peneliti yang produktif.

Salah satu konsentrasi penelitiannya hingga sekarang, yaitu tentang kesarjanaan Barat dalam kajian Al-Quran dan tafsir, mulai dari respon dan resepsi terhadapnya hingga pengaruhnya terhadap transformasi kajian akademik Al-Quran dan tafsir. Hasil peneitian ini sudah terbit dan bisa diakses di beberapa jurnal nasional maupun internasional dan buku, namun ada pula yang masih proses penulisan, yang membahas tentang ‘Western Quranic Studies in the Indonesian Islamic Universities’, sebuah penelitian bersama Dr. Ervan Nurtawab yang meneliti tentang pengaruh kesarjanaan barat dalam kajian Al-Quran dan tafsir di beberapa perguruan tinggi Islam Negeri di Indonesia.

Baca Juga: Kajian Barat atas Timur: Dari Edward Said Sampai Angelika Neuwirth

Respon teologis-polemis dan resepsi akademis-reformis

Mengenai respon dan resepsi terhadap karya kesarjanaan non-muslim Barat tentang Al-Quran dan tafsir misalnya, pak Yusuf (sapaan beliau) telah mengulasnya dalam tulisannya yang berjudul Theological and Polemical Reception on Western Scholarship in Al-Qur’an and Tafsir Studies in Indonesia. Di sini Yusuf Rahman mengkalsifikasi respon sarjana muslim Indonesia menjadi dua, positif dan negatif. Respon negatif setidaknya diwakili oleh nama-nama sarjana muslim seperti Hamid Fahmi Zarkasyi, Adnin Armas, Syamsuddin Arif, dan Adian Husaini. Respon mereka mengerucut pada satu tesis bahwa karya kesarjanaan Barat itu tidak dapat diterima, karena akan membahayakan umat Islam.

Kelompok ini juga beralasan pada Al-Quran, surah Al-Baqarah ayat 120 ‘wa lan tardha ‘anka al-yahudu wa lan nashara hatta ttabi’a millatahum’ yang dikawatirkan akan terjadi melalui penerimaan karya-karya Sarjana non-muslim Barat. Oleh karena alasan inilah, Yusuf Rahman mengkategorikan respon ini dengan respon teologis dan polemis.

Sedang untuk respon yang positif dapat ditemui dalam beberapa karya sarjana muslim lainnya, seperti Nur Kholis Setiawan, Sahiron Syamsuddin, Almakin dan Mun’im Sirry. Positif di sini berarti menerima, namun tidak berarti mengiyakan dan menyetujui langsung semua isi dan klaim dari para sarjana non muslim Barat tersebut. Mereka melakukan pemetaan terhadap karya-karya Kesarjanaan Barat secara akademik, dan menghasilkan kesimpulan bahwa motif, pandangan, pendekatan dan tujuan para sarjana non-muslim Barat dalam kajian Al-Quran dan tafsir itu berbeda-beda, dalam istilah Mun’im Sirry kita kenal revisionis dan tradisionalis, dalam tesis Sahiron Syamsuddin kita kenal the historical critical approaches, the interpretive approaches, descriptive anthropological and sociological approaches. Untuk respon yang kedua ini, Yusuf Rahman menyebutnya dengan resepsi akademis dan reformis.

Baca Juga: Studi Al-Quran di Barat, Antara Iman dan Objektifitas Akademik

Transformasi kajian akademik Al-Quran dan tafsir

Kehadiran karya-karya kesarjanaan non-muslim Barat di tengah pengkaji Al-Quran dan tafsir di Indonesia khusunya, tentu berpengaruh pada model kajian Al-Quran dan tafsir. Jika sebelumnya kajian Al-Quran masih normatif, motivasinya adalah dakwah Islam, bukan akademik, mau melakukan kajian kritis masih ada kekawatiran dianggap menghancurkan Al-Quran dan Islam, maka tesis dan kesimpulan para Sarjana non-muslim Barat ini mengubah kajian Al-Quran dan tafsir menjadi kajian akademik.

“sisi positif dari kesarjanaan Barat mengajarkan kita untuk bisa mengkaji secara akademik terhadap kajian Al-Quran dan tafsir” komentar pak Yusuf Rahman.

Salah satu ciri dari kajian akademik menurutnya adalah ‘Thesis-Driven’, maksudnya adalah sebuah kajian harus didasarkan pada beberapa klaim dan juga harus menawarkan klaim yang lain, dan ini juga berlaku untuk kajian Al-Quran dan tafsir “kajian atau sebuah karya harus didasarkan pada perdebatan masyarakat akademik, perdebatan teoritis masyarakat akademik, perdebatan kesimpulan masyarakat akademik, harus punya musuh dalam kesimpulan, bukan musuh dalam agama” demikian pak Yusuf Rahman memberi catatan.

Bagaimana bentuk transformasi tersebut? Stay tune di tafsiralquran.id!

Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

0
Salah satu diksi yang sering digunakan Alquran untuk menyampaikan informasi adalah diksi tanya jawab. Dalam kajian asbabunnuzul, disebutkan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi...