Beranda Tafsir Tematik Perbuatan yang Menyebabkan Istri Menjadi Durhaka: Tafsir Surat At-Tahrim Ayat 10

Perbuatan yang Menyebabkan Istri Menjadi Durhaka: Tafsir Surat At-Tahrim Ayat 10

Al-Qur’an merupakan wahyu illahi sekaligus menjadi pedoman umat Islam dalam semua aspek kehidupan manusia. Disamping itu, al-Qur’an juga tidak luput membahas hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Hal ini sungguh terlihat di dalam beberapa kosakata yang digunakan untuk mengungkapkan perempuan, seperti an-Nisa, yang diulang sebanyak 47 kali, Imra’ah, diulang 25 kali,banat, diulang sebanyak 13 kali, dan al-Zawj, azwaj, dan al-Zawaj yang diulang sebanyak 76 kali. Hal tersebut menunjukkan betapa besar apresiasi al-Qur’an melalui syari’at Islam terhadap kaum perempuan. Namun, kali ini tulisan ini akan terfokus membahas tentang perbuatan yang menyebabkan istri menjadi durhaka menurut tafsir surat at-tahrim ayat 10.

Dalam kitab Mu’jam Ma’ani al-Qur’an, Bassam Rusydi membagi karakteristik perempuan menjadi tiga kategori; 1. Al-Mar’ah as-Sholihah, yaitu perempuan yang baik, 2. al-Mar’ah as-Sayyi’ah,yaitu perempuan yang durhaka, 3. al-Mar’ah wa musharokatuha fi al-Ijtima’iyyah, yaitu perempuan yang mempunyai peranan social dalam masyarakat. Dua dari tipikal di atas bisa dijumpai, salah satunya dalam surah al-Tarhim: 10-12. Dalam ayat ini dijelaskan setidaknya ada 4 tokoh perempuan yang harus dijadikan role model dalam kebaikan dan yang tidak layak untuk dijadikan role model khususnya bagi perempuan saat ini.

Baca juga: Menilik Konsep Energi dan Klasifikasinya dalam Al-Quran

Berdasarkan itu penulis tertarik untuk mengkaji dua tipikal perempuan yang disebutkan dalam Q.S. Al-Tahrim: 10-12. Akan tetapi, pada kesempatan ini penulis hanya mengkaji tipikal al-Mar’ah as-Sayyia’ah  terlebih dahulu, untuk tipikal al-Mar’ah as-Shalihah yang akan dikaji di artikel episode selanjutnya.

Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth sebagai Role Model Perempuan Durhaka dalam Q.S al-Tahrim [66]: 10

Jika dilihat secara umum, ayat ini berisi tentang peringatan keras bagi orang kafir, bahwasannya istri Nabi sendiri yang tidak beriman kepada Allah tetap akan mendapat siksaan di akhirat nanti dan ditempatkan di neraka. Sedangkan nabi itu sendiri tidak bisa membela keluarganya, sekalipun dia adalah istri seorang Nabi. Adapaun tokoh perempuan yang dimaksud dalam ayat ini adalah istri Nabi Nuh As. dan Nabi Luth As. Keduanya merupakan perempuan yang sama-sama berkhianat terhadap imam dan agamanya serta  tidak mengakui kebenaran risalah kenabian yang dibawa suaminya. Allah pun menjanjikan bagi mereka berdua itu neraka sebagai tempatnya.

Adapun ayat yang menjelaskan perihal tersebut adalah sebagai berikut:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”

Baca juga: Tafsir Ahkam: Kewajiban Melaksanakan Rukuk dan Sujud dalam Shalat

Nama istri  Nabi Nuh As. itu ada dua pendapat yang pertama bernama Wali’ah atau juga Wa’ilah dan nama istri Nabi Luth adalah walihah. Adapun perihal kehidupan kedua istri Nabi ini belum diketahui, kecuali hanya nama mereka. Dalam kitab Rijal wa Nisa’ Anzallallahu Fihim Qur’anan, Abdurrahman menjelaskan tentang istri Nabi Luth :

Belum ditemukan dalam sunnah tentang kehidupannya, siapa dia, Namanya siapa, dimana tinggal dan hidupnya serta kapan menikah dengan Nabi Luth apakahsebelum risalah atau setelah risalah, semua pertanyaaan tentang ini masih menyisakan tanda tanya sampai saat ini.

Dalam kitab Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, ibnu Ashur mengemukakan bahwa redaksi “daraballahu mathalan lilladhina kafaru imra’ata Nuh wa imra’ata Lut”, mengingatkan orang-orang kafir bahwa Allah tidak akan berpaling dari ancaman-Nya sehingga mereka tidak bisa beranggapan bahwa mereka akan mendapatkan syafa’at di sisi Allah dan Allah juga tidak akan berpaling dari kemarahan-Nya meskipun posisi mereka di samping rumah-Nya. Serta apapun ikatan baik darah maupun persahabatan terhadap nabi selama ia  tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, sekalipun yang berusaha menolongnya merupakan seorang nabi dan hamba sholeh.

Ibnu Ashur menambahkan yang dimaksud dengan “abdaini” dari potongan ayat “kanataa tahta ‘abdaini min ‘ibadinas salihin” adalah Nabi Nuh dan Nabi Luth As., dan khusus mensifati keduanya dengan kesalehan dan bukan dengan sifat kenabian, padahal sifat kenabian lebih tinggi dibanding dengan sifat keshalehan. Ayat ini juga mengandung pelajaran yang ditujukan kepada perempuan-perempuan muslim untuk berbaik-baik terhadap pasangannya selama dia telah memiliki sifat keshalehan. Seadainya dalam al-Qur’an nabi disifati dengan kenabian bukan dengan keshalehan, maka contoh ini tidak berlaku dan tidak relevan lagi karena kenabian telah berakhir dengan meninggalnya Nabi Muhammad Saw.

Baca juga: Memahami Kemunculan dan Ragam Metode Tafsir Kontekstual

Tipologi Istri Menjadi Durhaka dalam Q.S. Al-Tahrim [66]:10

Dua perempuan yang disebutkan dalam ayat 10 ini layak disebut sebagai perempuan durhaka karena beberapa sifat yang terdapat dalam diri mereka berdua, diantaranya:

  1. Melanggar perintah Allah

Bentuk pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh kedua istri Nabi ini adalah tidak beriman terhadap Allah serta tidak menjalankan perintah-Nya, hingga ia meninggal dalam kekafirannya. Ia tidak mengikuti dakwah yang disampaikan oleh suaminya, sehingga mereka masuk neraka bersama kaum Nabi Nuh dan Luth yang kafir.

  1. Berkhianat terhadap suami

Tipologi yang ini bisa terlihat dari teks ayat “fakhanatahuma”, yang mana keduanya mengkhianati suami mereka. Bentuk penghianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Nuh adalah dengan mengatakan kepada banyak orang bahwa suaminya gila. Perbuatan yang dilakukan ini adalah perbuatan yang tidak mencerminkan bentuk ketaatan kepada suami. Sedangkan istri Nabi Luth bentuk pengkhianatannya dengan memberitahukan kedatangan tamu-tamu Nabi Luth dalam hal ini adalah para malaikat kepada kaumnya. Seharusnya seorang istri itu menjaga rahasia suaminya, bukan malah membocorkannya.

Dalam  kehidupan berumah tangga layaknya soerang istri adalah kepercayaan bagi suaminya yang akan menjaga hartanya, anak-anaknya, dan menjaga semua hal apapun yang terjadi dengan suaminya. Istri adalah tempat berbagi cerita bagi suaminya, istri juga akan menjadi penguat baginya di saat ia dalam masalah.

  1. Tidak patuh terhadap Suami

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam redaksi teks ayat di atas, kedua istri Nabi tersebut diketahui tidak menjalankan perintah suaminya, tidak membenarkan risalah kenabiannya dan juga dakwahnya. Padahal sudah menjadi kewajiban bagi seorang perempuan setelah menikah untuk patuh kepada suaminya selama suaminya menyuruhnya kepada kebenaran.

Demikian penjelasan mengenai tipologi al-Mar’ah as-Sayyi’ah dalam Q.S al-Tahrim [66]:10. Untuk penjelasan tipologi al-Mar’ah as-Shalihah akan dijelaskan di artikel berikutnya. Wallahu a’lam bishshowab

Muhammad Siroj Judin
Santri di PP. Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...