BerandaTafsir TematikPilihan Tidak Memiliki Anak Meningkat, Namun Begini Pentingnya Anak dalam Al-Quran

Pilihan Tidak Memiliki Anak Meningkat, Namun Begini Pentingnya Anak dalam Al-Quran

Anak terlahir dari sebuah ikatan, akan tetapi pilihan memiliki anak tidak harus ada sebuah ikatan. Karena untuk memiliki anak kita bisa saja meminjam rahim orang lain atau mengadopsi dari orang lain. Tomas Frejka, seorang peneliti dalam risetnya yang berjudul Childlessness in the United States menyatakan bahwa dibanding dekade 1970-an, pilihan untuk tidak memiliki anak meningkat dari 10 persen menjadi 20 persen di tahun 2000-an. Alasannya beragam, mulai dari latar belakang permasalahan keluarga sampai dengan pertimbangan pengasuhan anak di masa depan.

Faktor lain juga bisa karena pasangan suami istri yang sedang sibuk menggaungkan gagasan ideologis mereka, atau bisa karena pasangan suami istri sedang mengabdi pada masyarakat sosial, yang mana peran mereka ternyata sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Lalu, apakah keputusan pasangan suami istri yang memilih tidak memiliki anak adalah tidak sesuai dengan ajaran Islam? dan apakah perkawinan mereka akan tidak bermakna?

Baca juga: Quranic Immunity: Kajian Ayat-Ayat Syifa dalam Al-Quran

Perkawinan dalam Ajaran Islam

Islam memberi perhatian yang besar terhadap perkawinan. Perhatian itu disebabkan karena dalam persoalan manusia atau hubungan suami istri, selain itu kesucian keturunan merupakan hal yang perlu dipelihara kejelasannya. Menurut Islam hal tersebut adalah penting, sehingga persoalan perkawinan telah terselesaikan dan tidak ada tuntutan agama yang perlu banyak lagi untuk diijtihadkan atau perlu adanya pemikiran serius dari para ulama dan pakar.

Masih membahas tentang konteks perkawinan dalam Islam, bahwa pada FirmanNya dalam surat ar-rum ayat 21, sekilas menjelaskan tentang alasan Allah Swt menciptakan sebuah perkawinan dengan tujuan agar lelaki dan perempuan mampu meraih ketenangan. Berikut surat ar-rum ayat 21:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-rum 21)

Penafsiran Surat Ar-rum Ayat 21

Pada Jami’ al-Bayan an-Ta’wil Ay al-Qur’an karya imam At-Thabary, menjelaskan surat ar-rum ayat 21 dikatakan bahwa, karena adanya hubungan tali pernikahan, Allah menghadirkan kasih yang bisa membuat kalian saling mengasihi wanita (istri kalian). Semuanya terdapat ibrah dan nasihat untuk kaumNya yang mau berfikir akan dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaanNya. Dengan begitu, mereka akan memahami bahwa Dialah Tuhan yang Maha Kuasa.

Hal penting yang menjadi highlight tafsir at-Thabari dalam menafsirkan surat ar-rum ayat 21 yakni adanya sebab diciptakannya pasangan yang diikat oleh ikatan tali pernikahan. Kemudian ikatan tersebut memunculkan rasa kasih sayang di antara mereka. Hal ini merupakan salah satu tanda dari kebesaran Allah Swt.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 19: Perempuan Adalah Sosok Istimewa

Memang, tidak ada larangan keputusan untuk tidak memiliki anak, akan tetapi dalam Al-Qur’an banyak disebutkan doa-doa untuk keturunan yang baik, dari sini kita mampu berfikir bahwa al-Quran telah memberikan perhatian khusus untuk ikatan pasangan yang sedang memperjuangkan keturunan mereka. Di antara ayat-ayat doa untuk keturunan misalnya adalah QS. As-Saffat [37] ayat 100, QS. Ibrahim [14] ayat 40-41, QS Al-Baqarah [2] ayat 128, Q.S al-Anbiya [21]: 89-90, dan QS.Al-Furqan ayat 74, berikut ayatnya:

رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan [25]: 74).

Dalam Tafsir Muqatil ibn Sulaiman, jilid 3, hal. 242, ulama tafsir menyebutkan, maksud qurrata a’yun dalam ayat di atas adalah anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama lingkungannya. Maka, tidak heran jika anak yang memiliki perangai ini menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa, menjadi kebanggaan dan pembela bagi para orang tua di dunia dan akhirat.

Gus Baha’ Ketika Berbicara Tentang Keturunan dalam Surat An-Nisa Ayat 71

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha’ salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur’an. Ia mengatakan dalam sebuah channel You Tube yang sedang mengaji Tafsir surat An-Nisa ayat 71, sebagaimana terlansir berikut https://youtu.be/oN7DvTlBF-k. Pada zaman Rasulullah SAW, beliau menganjurkan umat muslim untuk memiliki keturunan yang banyak, hal ini dianjurkan Nabi, karena Nabi Saw bangga ketika memiliki pasukan penganut Islam menjadi mayoritas, bukan lagi sebuah minoritas.

Baca juga: Tafsir Ayat Poligami yang Tidak Pernah Usai dan Kisah Imam Abu Hanifah Membela Perempuan

Selain Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan, Al-Quran juga banyak berbicara tentang usaha menjadikan anak menjadi soleh, baik itu keturunan biologis dengan keturunan tidak biologis juga sangat dibutuhkan. Meskipun tentu keduanya sangat berbeda, yaitu dalam konteks pengaruh menyuarakan pemikiran ideologis. Misalnya saja pada masa Nabi Muhammad Saw, Aisyah sebagai istri Nabi, ternyata memiliki riwayat hadis yang banyak, hal ini terjadi karena Aisyah lebih sering bersama dengan Nabi. Begitu pula anak atau keturunannya, pasti lebih sering dimintai pendapat tentang hukum Islam selain karena dianggap keturunannya yang memiliki sifat dan karakter hampri sama, mereka juga lebih sering bersama dengan Nabi.

Fenomena tersebut juga masih relevan dengan keluarga Abdurahman Wahid atau yang lebih sering disapa dengan Gus Dur. Banyak yang mengatakan bahwa jasad Gus Dur telah tiada, namun, jiwa Gus Dur masih hidup. Hal ini terjadi karena keturunan Gus Dur terus berani menggaungkan pemikiran Gus Dur pada masyarakat. Sehingga, meskipun Gus Dur telah tiada, suara Gus Dur masih hadir di tengah-tengah kita.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa bagi kita atau yang lainnya yang memiliki gerakan sosial, yang mana perannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat serta mampu memberi pengaruh yang lebih bermartabat, tidak ada salahnya kita tetap menjaga keturunan kita demi apa yang kita suarakan tetap juga terpelihara. Selain memasukkan keturunan pada lingkungan kita, juga tidak putus-putusnya kita mendoakan keturunan kami agar memiliki peran yang baik serta mampu pengaruh masyarakat sekitar agar lebih bermaslahat dan bermartabat. Wallahu a’lam[]

Norma Azmi Farida
Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mufasir Indonesia

Mengulas Naskah Tempo 1984 “Fatwa Kecil dari Kudus”

0
"Fatwa Kecil dari Kudus" merupakan judul artikel dalam Majalah Tempo, 4 Agustus 1984. Majalah ini didapat dari arsip Perpustakaan Medayu, Surabaya. Artikel yang dimuat...