Beranda Ulumul Quran "Plagiarisme" Alquran (Bagian 2): dari Waraqah Hingga Abrahah

“Plagiarisme” Alquran (Bagian 2): dari Waraqah Hingga Abrahah

Dalam artikel kedua ini Pembaca menyambung uraian sebelumnya tentang klaim plagiarisme Alquran dengan berfokus pada aspek historis.

Fazlur Rahman dalam publikasinya di tahun 1977 menyebutkan dua kubu pengusung teori plagiarisme Alquran. Kubu pertama berpendapat, Alquran meminjam dari tradisi Kristen. Kubu kedua berpendapat Alquran menyadur dari tradisi Yudaisme.

Fazlur Rahman sejatinya sudah mendeteksi falasi dari klaim plagiarisme dua kubu tersebut. Hipotesis Montgomery Watt misalnya, dia memandang tradisi Judeo-Christian sudah ada di Jazirah Arab, termasuk di Kota Mekah. Beranjak dari situlah penerus Watt kemudian mengembangkan hipotesis ini.

Senada dengan Philip K. Hitti, Richard Bell menulis dalam The Origin of Islam in Its Christian Environment, halaman 100.

Baca juga: Mengenal ‘Ideal Text’ dalam Teks Alquran

There was a great deal of direct influence exerted upon him by Judaism and Christianity, and that much of the Quran is directly dependent upon the Bible.

“Banyak pengaruh langsung yang diberikan kepada Muhammad dari tradisi Yudaisme dan Kristen, dan banyak dari isi Alquran bergantung langsung kepada Bibel.”

Sayangnya, pijakan Montgomery Watt yang dikembangkan oleh para penerusnya ini minim bukti. Meminjam frasa Fazlur Rahman, klaim itu without adducing specific evidence for his view (tanpa menyajikan bukti spesifik terkait pandangan-nya).

Di antara celah yang digunakan untuk menerapkan hipotesis ini adalah sosok sahabat Waraqah bin Naufal.

Waraqah sudah tiada

Dalam sebuah situs apologetika, dikatakan bahwa Nabi setidaknya “berdiskusi” tentang perkara agama dengan Waraqah selama 15 tahun sebelum wahyu pertama turun. Bahkan, Ummul Mukminin Khadijah juga disebut turut andil dalam memberikan pengetahuan tentang tradisi ahli kitab kepada Nabi.

Biasanya, “teori Waraqah” ini mengikutsertakan sejumlah kutipan hadis Nabi. Di antaranya adalah hadis dari Ummul Mukminin A’isyah, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 3392, bahwa profil Waraqah itu:

وَكَانَ رَجُلاً تَنَصَّرَ يَقْرَأُ الإِنْجِيلَ بِالْعَرَبِيَّةِ

“Seorang laki-laki yang memeluk Nasrani, dia membaca Injil berbahasa Arab.”

Dalam riwayat lainnya, masih dalam Sahih al-Bukhari disebutkan:

وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ

“Seorang yang menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan menulis Injil dalam bahasa Ibrani.”

Tanpa bukti memadai, upaya menyusun kepingan puzzle berupa rangkaian penggalan hadis di atas dengan kesimpulan plagiarisme hanya berujung pada asumsi. Bukti merupakan elemen sentral dalam argumentasi. Kualitas sebuah klaim tergantung pada kualitas argumentasi.

Sebab, hal itu bukan saja karakter Qur’ani tetapi bagian dari poros “nalar akademik” itu sendiri. Di sejumlah tempat dalam Alquran, Allah berfirman: qul hātụ bur-hānakum in kuntum ṣādiqīn (Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”).

Baca juga: Plagiarisme dan Relevansinya dalam Al-Quran: Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 188

Terlepas dari itu, pertemuan antara Waraqah dengan Nabi sangatlah singkat. Selepas Waraqah wafat, Rasulullah terus menerima wahyu selama lebih dari dua dekade. Dengan kekayaan informasi yang terkandung di dalam Alquran, lumrah jika muncul pertanyaan, sebenarnya bagaimana dan siapa yang “mengajari” Rasulullah selama kurun waktu panjang tersebut?

Sebagaimana diketahui, banyak ayat-ayat Alquran yang turun berkenaan suatu peristiwa yang bukan saja spesifik namun juga peristiwa yang belum pernah terjadi di saat Waraqah masih hidup.

Lagipula, terkadang wahyu turun berkenaan pertanyaan-pertanyaan spontan dari audiens dakwah Nabi. Terkadang pula wahyu turun ketika beliau berada di tengah sementara sahabat.

Selama 23 tahun dakwah Rasulullah SAW, mengapa tidak ada para sahabat yang “memergoki” beliau “berguru” kepada sang “guru misterius”?

Hieroglif dan masyarakat ummiy

Tidak sedikit dari ayat-ayat Makkiyah yang yang mengisahkan umat-umat terdahulu, termasuk nama-nama tokoh yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh masyarakat Mekah dan sekitarnya.

Penyebutan Nabi Nuh, Nabi Ishaq, Nabi Luth, Nabi Musa, Nabi Ayub, hingga Nabi Isa Putra Maryam adalah sebagian contoh nama-nama yang terdapat dalam surah-surah Makkiyah. Sementara itu, cendekiawan ahli kitab golongan Yahudi berada di Madinah. Saat itu Rasulullah belum hijrah.

Bahkan, dalam Surah Yusuf yang oleh para ulama digolongkan sebagai Makkiyah, mengandung banyak informasi historis yang mustahil diperoleh dari hasil improvisasi atau plagiarisme. Salah satunya adalah tidak digunakannya sebutan Fir’aun dalam konteks kisah Nabi Yusuf. Sebutan bagi raja dan pembesar dalam kisah Nabi Yusuf adalah al Malik dan al Aziz. Barulah ketika sampai pada kisah Nabi Musa, penyebutan Firaun muncul.

Sementara itu, bibel memukul rata bahwa seluruh raja Mesir baik dalam kisah Joseph dan Moses menyandang gelar Fir’aun. Di kemudian hari, pakar Egyptologist menetapkan bahwa gelar Pharaoh baru muncul selepas era Nabi Yusuf. Tentu ini bentuk anakronisme.

Aspek spesifik mengenai kajian mesirologi ini tentu sulit diketahui oleh masyarakat ummiy, terlebih terhadap literatur hieroglif.

Addas pun heran

Kemudian kisah Addas. Ibnu Hisyam menyebutkan dalam sirahnya, budak Nasrani bernama Addas berkata saat Nabi bertanya perihal dirinya. Kemudian Addas berujar: “Aku seorang Kristen dan berasal dari negeri Ninawa.” Lalu Nabi berkata kepadanya bahwa itu tempat asal Yunus bin Matta. Demikian dari Ibnu Hisyam

Terkejut, Addas sontak berkata: “Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Lalu Nabi bersabda:

ذلك أخي كان نبياً وأنا نبى

“Beliau saudaraku, ia seorang nabi aku pun seorang nabi.”

Kisah Addas di atas menunjukkan bahwa pada umumnya, masyarakat Hijaz tidak mengetahui berita-berita umat terdahulu meskipun berita tersebut begitu masyhur di negeri Syam, Mesopotamia, Persia, Romawi, Yunani, atau di Mesir.

Menariknya, kisah Addas ini justru digunakan sebagai salah satu “bukti” plagiarisme Alquran. Hitti misalnya, dalam karyanya Islam and the West: A Historical Cultural Survey menyebutkan bahwa budak-budak Nasrani menjadi salah satu sumber plagiarisme Alquran. Hitti jelas mengenyampingkan bahwa Addas sendiri terkejut ketika terucap nama Yunus dari lisan Baginda Nabi, hingga budak Nasrani itu berkata; wa ma yudrika ma Yunus?  “Apa yang Engkau ketahui tentang Yunus?”

Baca juga: Pandangan W. Montgomery Watt Tentang Pengumpulan Al-Quran dan Kritik Atasnya

Praktek semisal ini lazim kita temukan dalam rangkaian argumentasi sementara orientalis; mentakwil teks yang sarih kepada makna yang seringkali jauh bertolak-belakang.

Begitu pula tatkala kita menyimak pertanyaan al-Nadhr bin al-Harith dan Uqbah bin Mu’ath kepada Nabi. Keduanya “berguru” kepada kaum Yahudi di Madinah untuk mengambil tiga buah pertanyaan. Salah satu pertanyaan itu adalah tentang Dzulqarnain. Hal ini mengindikasikan bahwa kaum Yahudi Madinah adalah crème on top dalam tatanan sosial masyarakat Arab di Jazirah saat itu.

Adapun masyarakat Mekah bukanlah sentra intelektual ahli kitab sebagaimana Yathrib, melainkan destinasi ziarah sekaligus kota transit dagang, mengingat letaknya di antara Jalur Dupa Kuno yang membentang dari Syam ke Yaman.

Para Hanif dan Abrahah

Kemudian, perginya empat orang hanif dari Mekah; di antaranya Zaid bin ‘Amr dan Waraqah bin Naufal, menunjukkan bahwa Mekah kala itu telah terjerembap ke kubangan paganisme yang teramat kronis. Tentu, jika terdapat komunitas ahli kitab di Mekah, keempatnya tidak akan bersusah-payah melakukan perjalanan untuk menimba ilmu “perbandingan agama”.

Aspek historis lainnya adalah ekspedisi militer komandan militer beragama Nasrani bernama Abrahah ke kota Mekah. Pasukan Gajah pimpinan Abrahah itu menunjukkan bahwa kota Mekah bukanlah kota yang dekat dengan tradisi Nasrani atau Yudaisme. Terlebih salah satu tujuan Abrahah adalah untuk menegakkan dominasi dan hegemoni Kristen. Tidaklah mengherankan, New Catholic Encyclopedia Vol. I (hlm. 620) menulis bahwa sebelum masa kenabian; the Hijaz had not been touched by Christian preaching (Hijaz sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh dakwah agama Nasrani).

Dua paragraf penutup di atas membawa pada kesimpulan aksiomatis; Mekah tidak akomodatif terhadap teori plagiarisme Alquran.

Bersambung, insyaallah. Wallahu a’lam.

Wisnu Tanggap Prabowo
Dosen STEI Tazkia, Pengajar LBPP LIA Pajajaran, Trainer Pusdiklat Mahkamah Agung, dan Peneliti IHKAM
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Isyari dalam Karya KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi

Tafsir Isyari Lafaz Basmalah Menurut KH. Achmad Asrori al-Ishaqi

0
Sebagai salah satu jenis pendekatan dalam menguak makna Alquran, pendekatan sufistik saat ini semakin banyak digemari oleh para sarjana dan peneliti Alquran. Meskipun pada...