BerandaTokoh TafsirPandangan W. Montgomery Watt Tentang Pengumpulan Al-Quran dan Kritik Atasnya

Pandangan W. Montgomery Watt Tentang Pengumpulan Al-Quran dan Kritik Atasnya

Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai salah satu mukjizatnya dan kitab suci umat Islam sepanjang zaman. Al-Quran selalu mempunyai daya tarik untuk dikaji lebih lanjut. Pengkajian terhadap al-Quran pun terus dilakukan sampai sekarang ini, baik dari kalangan sarjanawan muslim ataupun sarjanawan Barat, yang biasa dikenal dengan sebutan orientalis. Para orientalis mengkaji beragam aspek dari Al-Quran. Salah satu aspek yang dikaji adalah tentang pengumpulan teks al-Quran yang salah satunya dilakukan oleh W. Montgomery Watt.

Sekilas pandang tentang W. Montgomery Watt

Montgomery Watt lahir di Ceres, Edinburgh pada 14 Maret 1909. Ia menempuh pendidikan di Universitas Jena dan di Universitas Oxford, dan merupakan salah seorang orientalis dan sejarawan utama tentang Islam di dunia Barat. Selain itu ia juga merupakan seorang professor studi-studi Arab dan Islam pada Universitas Edinburgh sekitar tahun 1964-1979. Ia mulai mempelajari Islam untuk pertama kalinya ketika ia mempelajari bahasa Arab di bawah supervisi Richard Bell.

Montgomery Watt mempunyai banyak karya tulis yang berhubungan dengan sejarah Islam-Al-Quran, maupun yang berhubungan dengan masyarakat Islam-Kristen. Di antara beberapa karyanya yang terkenal dan digemari para tokoh orientalis adalah trilogi sejarah Nabi Muhammad dalam bukunya yang berjudul “Muhammad of Mecca, Muhammad at Madina, dan Muhammad Prophet and Statesman(Alwi, 2010: 95).

Baca juga: Inilah Beberapa Argumentasi Orientalis dalam Mematahkan Autentisitas Al-Quran

Pandangan dan kritik W. Montgomery Watt tentang pengumpulan Al-Quran

Merujuk kepada Tulisan J. Koren dan Y. D. Nevo yang berjudul Methodological Approaches to Islamic Studies dan karya-karya lain yang relevan, Akh. Minhaji menyatakan bahwa terdapat dua aliran besar yang diterapkan secara umum dalam kajian Islam (termasuk studi Al-Quran) dan umat Islam.

Aliran pertama digunakan oleh kelompok tradisionalis yang disebut dengan pendekatan tradisionalis (traditionalist approach). Pendekatan tradisionalis ini dipahami sebagai sebuah pendekatan yang dalam praktiknya membatasi diri hanya pada warisan literatur-Arab dengan pemahaman yang menggunakan premis-premis yang berkembang dalam tradisi umat Islam.

Adapun aliran kedua ialah pendekatan revisionis yang digunakan oleh kelompok revisionis. Pendekatan revisionis menurut Akh. Minhaji bertumpu pada tiga prinsip yaitu: 1) pendekatan kritik sumber terhadap al-Quran dan literatur Islam, 2) perbandingan literatur Islam dengan data di luar tradisi umat Islam terutama data yang semasa dengan peristiwa yang semasa dengan peristiwa yang diteliti, 3) pemanfaatan bukti material (arkeologi, numistik, epigrafi) yang semasa dengan peristiwa yang diteliti (Rofiq: 227).

Pengertian tradisional semacam itulah yang dipahami oleh W. Montgomery Watt ketika secara implisit menjelaskan yang telah meluas di kalangan umat Islam tersebut.

Perihal pengumpulan teks al-Quran menurut W. Montgomery Watt dalam bukunya yang merupakan revisi terhadap pengantar al-Quran karya Richar Bell yang berujudul Bell’s Instroduction to The Quran, disebutkan bahwa pengumpulan mushaf al-Quran sudah dimulai sejak masa khalifah Abu Bakar, dan kemudian dilanjutkan pada masa Ustman bin Affan.

Hal ini bermula karena banyaknya para penghafal al-Quran yang gugur pada peristiwa perang Yamamah. Melihat hal tersebut Khalifah Umar bin Khattab mengusulkan kepada abu Bakar agar segera dilakukan pengumpulan al-Quran karena kekhawatiran akan lebih banyak lagi para penghafal al-Quran yang gugur, sedangkan al-Quran belum dibukukan.

Namun, usulan Umar bin Khattab tersebut tidak diterima begitu saja oleh Abu Bakar. Ia sempat ragu karena tidak ada perintah dari Nabi. Pada akhirnya Abu bakar menyetujui usulan Umar bin Khattab dan menunjuk zaid bin Tsabit sebagai panitia penulisan al-Quran. setelah penulisan al-Quran selesai, Zaid menyerahkannya kepada Abu Bakar, ketika Abu Bakar meninggal diserahkan kepada Umar, dan ketika Umar bin Khattab meninggal diserahkan kepada Hafshah, putri Abu Bakar (Adilan: 4).

Montgomery Watt mengajukan beberapa kritik terhadap perisitiwa pengumpulan al-Quran tersebut, sebagai berikut (Thaufan, 2012: 56):

  1. Tidak ada catatan sah mengenai wahyu sampai Nabi Muhammad wafat. Kemudian ia juga menyebutkan bahwa ada beberapa versi mengenai gagasan pengumpulan al-Quran apakah dimulai sejak masa Abu Bakar ataukah Umar bin Khattab. Tentang peristiwa gugurnya para penghafal al-Quran pada perang Yamamah, W. Montgomery Watt mengutip pendapat Freidrich Schwally bahwasanya para korban yang gugur dalam perang Yamamah adalah orang baru beriman (baru masuk Islam), bukan para huffaz. Kedua,
  2. Ia juga meragukan bahwa mushaf yang berada ditangan Hafshah merupakan hasil pengumpulan Zaid. Karena jika demikian, hal ini mustahil bila mushaf tersebut berpindah ke tangan orang lain di luar kepemilikan resmi, walaupun Hafshah merupakan putri khalifah.

Kritik Sarjana Muslim terhadap Pandangan W. Montgomery Watt

Kritik yang diajukan W. Montgomery Watt di atas tidak bisa diterima begitu saja, mengingat terdapat banyak perbedaan pendapat tentang hal tersebut. Seperti M.M. al-A’zami yang berpandangan bahwa pasca pengumpulan mushaf selesai, Abu Bakar menyimpan suhuf tersebut sebagai arsip negara di bawah pengawasannya. Ini artinya suhuf tersebut merupakan arsip negara, bukan perorangan.

Lebih lanjut, ia juga berbeda pendapat tentang pengumpulan mushaf pada masa Abu Bakar yang menjadi keraguan W. Montgomery Watt. Menurut M.M al-A’zami, Abu Bakar lah yang memberi instruksi kepada Zaid agar jika ada yang hendak mengumpulkan mushaf, maka ia harus membawa dua saksi, demi menjamin otentitas al-Quran. Maka dari sini jelaslah bahwa kegiatan pengumpulan mushaf sudah dimulai pada masa kekhalifahan Abu Bakar (Thaufan, 2012: 56).

Pandangan dan kritik yang ditawarkan W. Montgomery Watt mengenai pengumpulan al-Quran tersebut tidak terlalu menyimpang dari pendapat mayoritas sarjanawan muslim. Kritik-ktirik yang ia ajukan memberikan wawasan baru bagi para pengkaji ulum al-Quran. Bahkan karya Watt juga mendapat apresiasi oleh Fazlur Rahman, karena tulisan-tulisannya membantu dan berguna khususnya bagi para pengkaji ilmu al-Quran.

Baca juga: Kedudukan Mushaf Utsmani Perspektif Muhammad Mustafa Azami

Shafwatul Insani
Shafwatul Insani
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam al-Quran karya Ibnu al-Faras

Mengenal Tafsir Ahkam al-Qur’an Karya Ibnu al-Faras

0
Tafsir ahkam dari ulama klasik yang jarang tersorot oleh akademisi Nusantara ialah Tafsir Ahkam al-Qur’an karya Ibnu al-Faras. Hal ini dikarenakan minimnya penelitian yang...