Makna Ayyām Ma‘lūmāt dan Ayyām Ma‘dūdāt di Bulan Zulhijah

0
12

Setiap kali bulan Zulhijah tiba, ada dua frase Arab yang sering muncul dalam ceramah, tulisan populer, dan unggahan media sosial, yaitu ayyām ma’lūmāt dan ayyām ma’dūdāt. Keduanya memang berasal dari Alquran dan sama-sama berkaitan dengan bulan Zulhijah. Namun, banyak orang yang memahaminya sebagai istilah yang sama, padahal keduanya mengacu pada konteks dan waktu yang berbeda.

Bulan Zulhijah memiliki posisi yang sangat istimewa dalam agama Islam. Di bulan ini, umat Islam melakukan ibadah haji, melakukan wukuf di Arafah, merayakan Iduladha, dan melakukan penyembelihan kurban. Oleh karena itu, pembahasan mengenai hari-hari tertentu di bulan Zulhijah selalu menarik perhatian banyak orang. Di titik inilah istilah ayyām ma’lūmāt dan ayyām ma’dūdāt sering disebut, meskipun penggunaannya masih sering bercampur satu sama lain.

Baca Juga:  Hikmah dan Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah

Dua Ayat, Dua Konteks

Frasa Ayyām ma’lūmāt (أَيَّامُ مَّعْلُومَاتِ) disebut dalam Q.S. Al-Hajj [22]: 28. Allah Swt. berfirman:

 لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ ٢٨

Artinya: (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir (Q.S. Al-Hajj [22]: 28).

Adapun frasa ayyām ma’dūdāt (أَيَّاميً مَّعْدُودَاتْ) terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 203. Allah Swt. berfirman:

وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۚوَمَنْ تَاَخَّرَ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِۙ لِمَنِ اتَّقٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٠٣

Artinya: Berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Siapa yang mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, tidak ada dosa baginya. Siapa yang mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya, (yakni) bagi orang yang bertakwa. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 203).

Sepintas kedua ayat ini tampak berbicara tentang hal yang serupa: hari-hari tertentu di bulan Zulhijah yang diisi dengan zikir dan ibadah. Namun jika ditelaah lebih dalam, masing-masing ayat hadir dalam konteks hukum, ritual, dan seruan yang berbeda.

Perbedaan Makna Menurut Mufassir

Kata ma‘lūmāt berasal dari akar kata ع ل م yang berkaitan dengan makna “mengetahui” atau “sesuatu yang diketahui”. Dalam konteks ini, ayyām ma’lūmāt merujuk pada hari-hari yang telah dikenal dan ditetapkan keutamaannya sejak lama. Mayoritas ulama tafsir, di antaranya Ibnu Katsir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm juz 5 (1998, hlm. 364), menafsirkan ayyām ma’lūmāt sebagai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, yaitu tanggal 1–10 Zulhijah. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan dipegang oleh Imam asy-Syafi‘i. Konteks ayatnya sendiri berkaitan dengan ibadah haji, penyembelihan kurban, dan zikir kepada Allah.

Ada pula pendapat lain yang menyebut Ayyām ma’lūmāt hanya merujuk pada hari Nahar (10 Zulhijah) dan dua hari sesudahnya saja. Namun pendapat yang lebih kuat dan dipegang oleh jumhur ulama tetaplah sepuluh hari pertama Zulhijah, sebagaimana dikuatkan oleh hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu ’Abbas r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Tiada hari yang amal saleh padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini“, yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Termasuk jihad fi sabilillah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan diri dan hartanya lalu tidak ada yang dibawa kembali sedikit pun.” (H.R. Abu Dawud, no. 2438).

Sementara itu, kata ma’dudat berasal dari ‘adda-ya‘uddu yang berarti “menghitung” atau “terbilang”. Makna ini mengisyaratkan hari-hari yang sedikit jumlahnya dan bisa dihitung dengan jari. Wahbah Az-Zuhaili dalam Terjemah Tafsir Al Munir aqidah, syaria’ah, manhaj jilid 01 (2013, hlm. 447-454) menjelaskan bahwa ayyām ma’dūdāt merujuk pada hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah yaitu hari-hari setelah Iduladha ketika jamaah haji masih berada di Mina dan melanjutkan ritual melempar jumrah. Pada hari-hari ini pula diharamkan berpuasa dan dianjurkan banyak berzikir.

Baca Juga: Ibadah Kurban dan Permasalahan Kontemporer

Mengapa Keduanya Sering Tertukar?

Kerancuan ini bisa dipahami dari beberapa sudut. Pertama, dari sisi linguistik: kedua kata tersebut memiliki kesamaan pola morfologi, sama-sama berupa ism maf’ul (kata benda) dan berbentuk jamak muannats salim. Secara sepintas, keduanya terdengar mirip saat diucapkan, terutama bagi pendengar yang belum terbiasa dengan kosakata Arab.

Kedua, dari sisi konteks: keduanya sama-sama merujuk pada hari-hari di bulan Zulhijah, bulan yang sama, musim yang sama. Ketiga, dari sisi penyebutan: dalam banyak ceramah dan tulisan populer, kedua frasa ini digunakan secara bergantian tanpa penjelasan memadai, seolah keduanya adalah dua sebutan berbeda untuk satu realitas yang sama. Padahal, dari sudut pandang tafsir, perbedaan keduanya sangat penting dan berdampak pada praktik ibadah.

Ayyām ma’lūmāt adalah konteks penyembelihan kurban dan pengagungan nama Allah di hari-hari awal Zulhijah, sementara ayyām ma’dūdāt adalah konteks zikir dan pelemparan jumrah setelah Iduladha. Mencampur keduanya berarti mengaburkan konteks ibadah yang secara fikih berbeda hukum dan anjurannya.

Presisi Bahasa Alquran sebagai Cermin Kecermatan Ibadah

Al-Quran dikenal dengan i‘jaz lughawi-nya, yakni keistimewaan bahasa yang tidak dapat ditiru. Setiap pilihan kata dalam Alquran mengandung nuansa makna yang tepat, terencana, dan tidak bisa digantikan dengan kata lain meskipun tampak serupa. Penggunaan ma’lumat untuk konteks sepuluh hari pertama Zulhijah sangat tepat, sebab hari-hari itu sudah “terkenal” dan “diketahui” secara turun-temurun sejak zaman Nabi Ibrahim a.s. sebagai puncak waktu ibadah haji dan kurban. Keutamaan hari-hari tersebut sudah begitu dikenal sehingga Alquran cukup menyebutnya sebagai hari-hari yang “telah diketahui” tanpa penjelasan panjang lagi.

Sebaliknya, penggunaan ma’dudat untuk hari-hari Tasyrik mengisyaratkan bahwa hari-hari tersebut “terbatas” dan “sedikit” jumlahnya  (hanya tiga hari) sebuah pengingat agar tidak menyia-nyiakan waktu yang singkat nan mulia itu. Fakhr ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib juz 5 (1999, hlm. 340) menyebutkan bahwa pilihan kata ini sekaligus memberikan motivasi agar manusia memperbanyak zikir justru karena hari-hari itu pendek dan segera berlalu.

Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Alquran juz 3 (1964, hlm. 1-3) memberikan catatan menarik: kata ma’dudat dalam konteks Q.S. Al-Baqarah [2]: 203 ini datang setelah perintah menyelesaikan manasik haji, sehingga ia secara tematis berkaitan langsung dengan ritual akhir haji, bukan awalnya. Ini makin mempertegas bahwa ayyām ma’dūdāt adalah fase penutup ibadah haji, sementara Ayyām ma’lūmāt adalah fase pembukaannya.

Baca Juga: Konteks Penyebutan asy-Syahr al-Harām atau al-Asyhur al-Hurm dalam Alquran

Penutup

Di era media sosial yang serba cepat, konten-konten keislaman kerap disederhanakan demi kemudahan konsumsi. Akibatnya, detail-detail penting seperti perbedaan antara Ayyām ma’lūmāt dan ayyām ma’dūdāt mudah tergerus. Padahal, ketepatan dalam memahami istilah Alquran bukan sekadar soal akademis, ia berdampak pada cara kita mengisi hari-hari Zulhijah dengan amal yang sesuai.

Seseorang yang memahami Ayyām ma’lūmāt dengan benar akan tahu bahwa sepuluh hari pertama Zulhijah adalah waktu terbaik untuk memperbanyak takbir, tahlil, tahmid, dan sedekah, bahkan bagi yang tidak menjalankan ibadah haji. Sementara mereka yang mengenali konteks ayyām ma’dūdāt akan memahami keistimewaan hari-hari Tasyrik sebagai waktu bersyukur, makan, minum, dan berzikir, sekaligus larangan berpuasa pada hari-hari tersebut.

Memasuki Zulhijah, sudah semestinya kita tidak sekadar larut dalam semangat ibadah, tetapi juga memahami landasan tekstual Alquran yang menjadi pijaknya. Ayyām ma’lūmāt adalah sepuluh hari penuh keistimewaan di awal bulan,  hari-hari yang sudah dikenal dan diagungkan. Sementara ayyām ma’dūdāt adalah hari-hari Tasyrik yang singkat namun sarat dengan ritual pelengkap ibadah haji.

Membedakan keduanya bukan sekadar urusan bahasa Arab atau terminologi tafsir. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap presisi firman Allah Swt. yang memilih setiap kata dengan penuh hikmah. Ketika kita memahami perbedaan ini, kita tidak hanya menjadi pembaca Alquran yang lebih cermat, tetapi juga seorang Muslim yang dapat menjalani momentum bulan Zulhijah ini dengan amal yang lebih banyak, lebih bermakna, dan lebih sesuai dengan tuntunan ibadah yang diajarkan Alquran. Wallāhu a‘lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini