Parenting Teladan dalam Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

0
11
Parenting Teladan dalam Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Iliustrasi

Di era modern yang serba digital dan pergaulan bebas ini, pengawasan dan penanaman nilai-nilai akhlak serta spiritualitas anak semakin terkikis. Salah satu bentuk kurangnya pengawasan dan penanaman moral anak adalah diberikannya kebebasan dalam penggunaan gadget dan bergaul yang mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam hal-hal negatif seperti halnya judi online, menjadi produsen konten yang tidak layak, hingga narkoba.

Asumsi di atas diperkuat dengan pernyataan Arifah Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang mengatakan bahwa paparan judi online pada anak Indonesia semakin meningkat. Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, sebanyak 200 ribu anak Indonesia telah terpapar praktik judi online (Arif Ikhsanudin, 2023).

Selain pengaruh gadget, pergaulan bebas juga mengakibatkan nilai-nilai moral anak menurun drastis. Pernyataan ini dibuktikan dengan data dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan HAM yang mengidentifikasi sejumlah 2.304 kasus tindakan kriminal anak sejak tahun 2020-2022. Tindakan kriminal tersebut meliputi narkoba sebanyak 341 kasus, pencurian sejumlah 838 kasus, pelecehan seksual sebanyak 26 kasus, hingga pembunuhan sejumlah 48 kasus (Fuad Nur, 2025, hlm. 208).

Melihat maraknya kriminalitas anak di Indonesia, Nahar selaku Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA mengatakan bahwa penyimpangan tingkah laku anak yang melanggar hukum dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, salah satunya adalah pola asuh orang tua. Menurutnya, pola asuh yang salah dan tidak adanya kedekatan antara anak dengan orang tua akan mengakibatkan anak terjerumus pergaulan bebas dan kriminalitas (Arif Ikhsanudin, 2023).

Kisah Nabi Ibrahim diperintah menyembelih anaknya

Merespons fenomena di atas, sangat penting untuk menginternalisasikan kembali nilai-nilai Islam dalam mendidik anak. Salah satunya adalah keteladanan Nabi Ibrahim dalam mendidik putranya yang tercermin dari perintah menyembelih pada Q.S al-Saffat [37]: 102-107. Ayat ini mengisahkan peristiwa disembelihnya salah satu anak Nabi Ibrahim yang kemudian digantikan dengan domba yang gemuk.

Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh, perlu diketahui terlebih dahulu bahwasanya ulama berbeda pendapat perihal siapa yang disembelih, apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishak? Menurut pendapat azhar (lebih jelas) yang dikutip Imam Baidawi (w. 691 H) dan Muhammad Amin al-Shinqiti (w. 1393 H) mengatakan bahwa anak yang disembelih adalah Nabi Ismail, bukan Nabi Ishak (al-Zuhaili, 1991, hlm. 118).

Baca juga: Parenting Demokratis ala Nabi Ibrahim dalam Q.S. As-Saffat: 102

Pendapat azhar di atas, setidaknya didasarkan pada dua argumentasi. Pertama, Allah telah mensifati Nabi Ismail dengan kesabaran saat akan disembelih dalam firmannya;”(Ingatlah pula) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang sabar.” Q.S al-Anbiya’ [21]: 85. Kedua, dalam Q.S Maryam [19]: 54 “Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang benar janjinya, rasul, dan Nabi.” Allah juga menyifati Nabi Ismail dengan kejujurannya menepati janji kepada ayahnya untuk sabar dalam perintah penyembelihan (al-Qurtubi, t.t., hlm. 101).

Menurut riwayat, mimpi Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih anaknya terjadi sebanyak tiga kali. Mimpi pertama di malam tarwiyah, Nabi Ibrahim mendengar ada seseorang yang berkata;”Allah memerintahmu untuk menyembelih anakmu.” Lalu Nabi Ibrahim bangun dan berpikir apakah mimpi ini bersumber dari Allah atau setan? Mimpi yang serupa juga terjadi di malam kedua, yang kemudian dikatakan bahwa mimpi itu adalah janji. Memasuki pagi hari, Nabi Ibrahim meyakini mimpi itu datang dari Allah. Di malam ketiga, Nabi Ibrahim menerima mimpi yang sama, lalu bertekad untuk menyembelih anaknya (al-Qurtubi, t.t., hlm. 102).

Di saat Nabi Ismail menginjak usia 7 atau 13 tahun menurut berbagai versi, Nabi Ibrahim bermusyawarah terhadap putranya mengenai perintah tersebut. Tanpa rasa keberatan, Nabi Ismail menerima perintah itu. Setelah ada persetujuan, Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail sembari meletakkan keningnya ke tempat penyembelihan di sekitar tanah Mina. Ketika Nabi Ibrahim melintaskan pisaunya ke leher Nabi Ismail, tiba-tiba pisau tersebut tidak bisa memotong. Melihat fenomena ini, akhirnya Nabi Ibrahim kagum seraya mendapatkan seruan bahwa ia telah membenarkan perintah tersebut, kemudian Nabi Ibrahim menoleh, dan ternyata Nabi Ismail tergantikan dengan domba putih yang bertanduk (al-Zuhaili, 1991, hlm. 120–121; al-Qushairi, t.t., hlm. 239).

Refleksi dan internalisasi keteladanan Nabi Ibrahim dan putranya

Menurut Wahbah al-Zuhaili, hikmah di balik Nabi Ibrahim bermusyawarah dengan putranya di atas adalah untuk menjelaskan perintah Allah agar Nabi Ismail sabar dalam ketaatan kepadanya, mendapatkan pahala besar di akhirat, dan pujian baik di dunia. Selain itu, melaksanakan perintah Allah tersebut juga menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail berada dalam satu derajat yang sama, yakni kepatuhan terhadap perintah Allah (al-Zuhaili, 1991, hlm. 126).

Dari kisah di atas, setidaknya dapat diambil dua benang merah utama dalam proses mendidik anak. Pertama, keteladanan orang tua. Secara tabiat, anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar. Nabi Ibrahim tidak hanya memerintah, tetapi memberi contoh langsung bagaimana berserah diri kepada Allah. Nabi Ismail menyaksikan langsung keseriusan ayahnya dalam menjalankan perintah Allah.

Baca juga: Deskripsi Alquran tentang Nabi Ibrahim di Beberapa Surah

Begitu pula orang tua, mereka perlu menjadi teladan bagi anaknya. Misalnya, tidak malu membersihkan rumah dan mencontohkan pembatasan penggunaan gadget, yang secara tidak langsung hati anak akan terketuk untuk membantu dan mencontohnya. Sehingga Keteladanan seperti ini menciptakan lingkungan keluarga yang harmoni dan penuh rasa hormat tanpa paksaan (Fuad Nur, 2025, hlm. 210; Hadinoto & Hanifiyah, 2025, hlm. 24).

Kedua, komunikasi yang terbuka. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ketika bermusyawarah terlebih dahulu sebelum menjalankan perintah Allah. Contoh ini mengajarkan pentingnya melibatkan anak dalam mengambil keputusan, mendengarkan pandangan anak, dan membangun hubungan dua arah.

Baca juga: Penafsiran Ulama tentang Siapa Anak Nabi Ibrahim yang Dikurbankan

Demikian juga orang tua yang perlu dialog interaktif dengan anaknya perihal bersama siapa ia bergaul dan kemana ia pergi, membahas topik-topik sensitif seperti pendidikan seksual, membangun kepercayaan sejak dini, hingga menciptakan ikatan rasa aman guna mencegah kekerasan. Tujuannya agar terbentuk kedekatan emosional antara anak dengan orang tua (Fuad Nur, 2025, hlm. 27).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa refleksi kisah Nabi Ibrahim dalam mendidik anaknya berupa keteladanan orang tua serta komunikasi terbuka perlu diinternalisasikan ke dalam pendidikan anak di lingkup keluarga. Harapannya, penerapan tersebut mampu mengurangi tindak kriminalitas anak yang salah satu penyebabnya adalah pola asuh yang kurang baik. Wallahu a’lam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini