Tren tafsir anak di Indonesia mulai populer pada tahun 2000-an, dimulai dengan karya Dr. Afif Muhammad berjudul Tafsir Al-Qur’an untuk Anak-Anak yang terbit pada tahun 2001, dilanjut Komik Tafsir Al-Qur’an Anak Saleh yang ditulis oleh Dr. Sabaruddin terbit tahun 2003, sampai nama-nama besar seperti Tafsir Juz ’Amma for Kids karya Prof. Dr. Abdul Mustaqim dan Tafsir Kontemporer Juz ’Amma karya Dr. Aam Amirudin.
Sebagian besar tafsir anak berkolaborasi dengan ilustrator untuk mendukung penjelasan tafsir lewat animasi-animasi yang menarik. Tapi ada satu masalah yang sering luput, yakni animasinya menarik tetapi bahasanya belum tentu bisa nyambung ke cara anak berpikir. Makna-makna abstrak dalam Al-Qur’an sering kali tidak tuntas tersampaikan kepada anak-anak.
Celah inilah yang kemudian dilihat oleh Dr. Roni Nugraha, yakni tafsir anak yang benar-benar bicara dalam bahasa anak. Roni adalah akademisi asal Garut yang latar belakang pendidikannya adalah studi tafsir Al-Qur’an dan Pendidikan Islam. Latar belakang inilah yang membuat pendekatannya unik, ia tidak hanya memahami Al-Qur’an secara keilmuan, tapi juga mengerti bagaimana cara kerja berpikir anak dalam belajar.
Baca juga: Tafsir Juz ‘Amma for Kids: Tafsir Ilustrasi untuk Anak-Anak
Bukan hanya soal gelar akademik, karya-karya Roni pun mencerminkan kepribadiannya sebagai penulis. Buku-bukunya seperti “Bahtera”, “Lalangse”, dan “Bertasbih bersama Alam” menunjukkan bahwa ia terbiasa menulis dengan bahasa yang reflektif, tidak kaku, dan dekat dengan pembaca.
Dalam Tafsir Juz ’Amma untuk Anak, Roni mengajak anak-anak berdialog lewat analogi atau perumpamaan yang diambil dari hal-hal yang sudah mereka kenal. Ini bukan kebetulan. Menurut teori perkembangan Jean Piaget, anak usia 7-12 tahun (tahap operasional konkret) memang baru bisa berpikir logis jika berhadapan dengan benda atau situasi yang pernah mereka lihat langsung (Rubi Babullah, “Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Penerapannya dalam Pembelajaran: Jean Piaget’s Theory of Cognitive Development and Its Application in Learning.” Epistemic: Jurnal Ilmiah Pendidikan 1.2).
Dalam hal ini Dr. Roni Nugraha juga membuat dialog analogi berdasarkan benda fisik yang cenderung pernah dilihat oleh anak. Salah satu contoh adalah saat ia menjelaskan kata “ahad” dalam QS. Al-Ikhlas. Ia tidak langsung berkata “Allah itu Esa.” Alih-alih, ia mengajak anak berpikir: “Kalau satu prajurit dipimpin dua komandan sekaligus, apa yang terjadi? Prajurit itu pasti bingung. Makanya komandan harus satu, tidak bisa dua.” Dari sana, barulah ia bawa ke pemahaman yang lebih besar; “Begitu pula Tuhan, hanya satu, tidak bisa dua.” (Roni Nugraha, Tafsir Juz ’Amma untuk Anak). Di sini, anak-anak tidak dipaksa menerima ayat secara tekstual, tetapi mereka diajak memverifikasinya lewat nalar yang sudah mereka punya.
Baca juga: Menghidupkan Juz ‘Amma melalui Gerakan Tafsir Naratif
Contoh lain yang tidak kalah menarik ada pada penjelasan kata “Malik” dalam QS. An-Nas ayat 2. Sebelum masuk ke analogi, Roni mengawali dengan pertanyaan sederhana: Mengapa Allah disebut Raja manusia? Karena manusia adalah milik Allah. Dari situ barulah ia membangun analoginya selapis demi selapis. Ia mengajak anak membayangkan perahu kertas buatannya sendiri.“Kalau kita yang bikin perahu kertas, bukankah perahu itu milik kita?”
Lalu analogi diperluas ke kelinci peliharaan; “Jika kita memiliki kelinci, siapa yang harus nurut, apa kita nurut sama kelinci atau kelinci nurut sama kita sebagai pemiliknya? Tentu kelinci. Dan kalau kelinci nurut, kita makin sayang ke dia. Begitu pula seharusnya hubungan manusia dengan Allah, karena manusia milik-Nya, manusia seharusnya taat kepada-Nya.”
Tapi Roni tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan pertanyaan susulan: “Kalau manusia itu milik Allah, lalu apa yang dimiliki manusia?” Untuk menjawabnya, ia menganalogikan dengan kucing yang melahirkan anak: “Jika manusia milik Allah, apa yang dimiliki manusia? Kalau kita punya kucing dan kucing itu melahirkan anak, milik siapakah anak kucing itu? Milik kita juga, karena induknya saja sudah milik kita. Begitulah manusia, jika manusia milik Allah, maka apapun yang dimiliki manusia pada hakikatnya juga milik Allah. Manusia hanyalah yang dititipi, sampai batas waktu yang sudah ditentukan.” Lewat rantai analogi yang mengalir seperti percakapan sehari-hari inilah, konsep teologis yang berat berhasil mendarat dengan ringan di benak anak-anak.
Baca juga: Mengenal Mushaf Juz ‘Amma Kementerian Agama
Pendekatan dialog analogi ini menjadi formulasi yang segar dalam dunia tafsir anak. Roni menjembatani makna-makna abstrak Al-Qur’an agar bisa mendarat di kepala anak dengan cara yang alami, bukan dihafal tetapi dipahami. Anak-anak pun terbiasa berpikir kontekstual, bukan sekadar menerima teks mentah-mentah.
Satu hal yang perlu dicatat, buku ini tetap butuh pendampingan orang tua ataupun guru. Pendekatan analogi yang terbuka bisa memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Di situlah peran orang dewasa sangat penting, agar pemahaman anak tumbuh ke arah yang tepat, tidak terjebak pada pemaknaan yang terlalu liberal atau antropomorfisme yang berlebihan.

![Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-22-at-10.29.15-218x150.png)










