Al-Jawāhir al-Ḥisān karya al-Tsaʿlabī al-Jazāʾirī bukan sekadar tafsir tahlīlī biasa. Tafsir ini merupakan perpaduan antara warisan Ibn ʿAṭiyyah dengan nuansa taṣawwuf dan kepekaan terhadap persoalan sosial. Karena itu, al-Tsaʿlabī tidak hanya menjelaskan makna ayat, tetapi juga mengolahnya dalam kerangka spiritual dan kehidupan masyarakat. Di balik bahasa yang sederhana, terdapat pertemuan menarik antara ortodoksi Sunni dan kecenderungan sufistik.
Profil al-Tsaʿlabī: Mufasir Maliki dari Jantung Maghrib
Abū Zayd ʿAbd al-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Makhlūf al-Tsaʿlabī al-Jazāʾirī (786–875 H) lahir di Wadi Yasar, Aljazair, dan wafat di ibu kota negara itu.(Al-Tsaʿlabī, 1997: 12) Ia ulama bermazhab Maliki dengan dahaga intelektual yang tidak biasa — terlihat dari pengembaraan ilmiahnya sampai ke Tunis lalu Mesir. (Al-Jazāʾirī, Aʿlām al-Jazāʾir fī al-Qarn al-Tāsiʿ, 2010: 45) Di Mesir inilah ia menimba berbagai cabang keilmuan Islam dari para pakar zamannya, termasuk mendalami hadis di bawah bimbingan Walī al-Dīn al-ʿIrāqī, salah satu ulama besar pada masanya.(Al-Sakhāwī, 1992: 210)
Karya terbesarnya di ranah eksegetis, al-Jawāhir al-Ḥisān fī Tafsīr al-Qurʾān, disusun dalam lima jilid.(Al-Tsaʿlabī, 1997: 5) Kitab ini telah melalui berbagai tahap pencetakan dan kajian akademis, termasuk edisi kritis yang disunting oleh ʿAlī Muḥammad Muʿawwaḍ dan ʿĀdil Aḥmad ʿAbd al-Mawjūd.(Muʿawwaḍ, ʿA. M., & ʿAbd al-Mawjūd, Taqdīm wa Taḥqīq Tafsīr al-Jawāhir al-Ḥisān fī Tafsīr al-Qurʾān, 1997) Berkat karya inilah al-Tsaʿlabī dikenal sebagai salah satu pilar rujukan paling berpengaruh dalam tradisi tafsir Sunni di kawasan Maghribi.(Al-Dhahabī, 2000: 188)
Baca Juga: Al Qur’an Maghribi, Mushaf Unik yang Huruf Qaf-nya Bertitik Satu
Karakteristik Tafsir: Sederhana, Seimbang, dan Berorientasi Sosial
Yang paling menonjol dari al-Jawāhir al-Ḥisān adalah keseimbangannya. Metode taḥlīlī yang dipakainya sangat terukur — tidak ada penekanan berlebihan pada satu aspek tertentu, karena setiap problematika keilmuan dibahas secara proporsional.(Suryani, Sistematika Taḥlīlī dan Keseimbangan Aspek dalam Tafsīr Maghribī, 2018: 34) Sistematikanya rapi, bahasanya jernih, dan yang penting: bebas dari rumitnya terminologi skolastik.(Amal, Metodologi Tafsīr Maghribī…, 2021: 67) Kombinasi ini membuatnya komunikatif dan mudah dicerna, entah oleh penuntut ilmu maupun masyarakat umum.
Para peneliti biasa mengategorikannya sebagai corak tafsir atharī, tapi diperkaya dengan sentuhan sufistik, petuah spiritual, dan kepedulian yang kental pada realitas sosial.(Rahman, 2019: 102) Al-Tsaʿlabī sendiri, dalam muqaddimahnya, cukup terbuka soal orientasi metodologisnya: mengambil intisari dari karya monumental Ibn ʿAṭiyyah, lalu memperkayanya dengan faedah-faedah dari sumber tepercaya lain.(Al-Tsaʿlabī, 1997: 3) Prinsip ini ia jalankan berlandaskan kaidah “laisa alkhabaru ka alʿiyān” — “berita tidak sama dengan penglihatan langsung” — semacam pengingat bahwa verifikasi ilmiah dan pengalaman intelektual langsung tidak bisa digantikan begitu saja.(Al-Tsaʿlabī, 1997: 4)
Baca Juga: Mengenal Tafsir Ilmi, Tafsir Jawahir Karangan Thanthawi Jauhari
Hubungan dengan Ibn ʿAṭiyyah: Penyerapan dan Penyaringan Kritis
Kalau ditelusuri lebih jauh, al-Tsaʿlabī memang menyerap struktur dan substansi al-Muḥarrar al-Wajīz karya Ibn ʿAṭiyyah sebagai pijakan utama.(Hidayat, Dialog Iṣlāḥ dan Kritik…, 2020: 55) Tapi ia tidak sekadar menyalin—ia aktif menyaring keragaman pendapat yang ada, lalu mengarahkan pilihan penafsirannya ke makna yang paling selaras dengan keterbukaan dan prinsip toleransi Al-Qur’an.(Rahman, Tafsīr Atharī Berpengaruh Sufistik…, 2019: 108)
Lebih dari itu, ia juga cukup berani menunjukkan independensi intelektualnya lewat sejumlah koreksi kritis terhadap Ibn ʿAṭiyyah sendiri.(Hidayat, 2020: 62) Beberapa isu krusial ia bantah secara eksplisit, misalnya soal kedudukan agung para nabi dan konsep ʿiṣmah (kemaksuman) mereka dari dosa.(Rahman, 2019: 115) Pada sejumlah ayat, ia bahkan menetapkan tarjīḥ — penilaian pendapat yang lebih kuat — yang berbeda dari gurunya itu. Ini bukti bahwa karya ini bukan salinan pasif, melainkan lahir dari ruang dialog ilmiah yang hidup.(Suryani, 2018: 41)
Baca Juga: Ibnu Athiyyah, Mufasir Al-Quran dari Granada Spanyol
Isu Israiliyyat: Penilaian Ulama dan Posisi alTsaʿlabī
Salah satu perdebatan paling krusial soal al-Jawāhir al-Ḥisān berputar di sekitar riwayat-riwayat isrāʾīliyyāt yang termuat di dalamnya.(Fadhil, Kritik Ḥadīth dalam Tafsīr Abad Pertengahan, 2017: 89) Ibn Taymiyyah, misalnya, menilai al-Tsaʿlabī kurang cermat membedakan riwayat sahih dari yang cacat — sehingga tafsirnya dianggap menampung sejumlah riwayat ḍaʿīf hingga mawḍūʿ.(Ibn Taymiyyah, 1980: 42) Al-Suyūṭī memperkuat kritik ini dengan mencatat ketergantungan al-Tsaʿlabī pada jalur periwayatan al-Kalbī dari Abī Ṣāliḥ dari Ibn ʿAbbās — jalur yang memang bermasalah dalam ilmu hadis.(Al-Suyūṭī, 1998: 156)
Tapi kritik ini perlu dilihat dengan proporsi yang tepat. Penelitian mutakhir justru menunjukkan gambaran yang lebih berimbang: intensitas isrāʾīliyyāt dalam karya ini sebenarnya relatif minim dan sama sekali tidak dijadikan fondasi utama penafsiran. (Zulkifli, Studi Re-evaluasi Isrāʾīliyyāt dalam Tafsīr al-Jawāhir al-Ḥisān, 2022: 77)Jadi kritik tajam para ulama klasik itu lebih tepat dibaca sebagai kehati-hatian metodologis — bukan penolakan total atas bobot keilmuan dan kontribusi positif karya ini.
Baca Juga: Mengenal Dua Tafsir Karya Al-Ghazali, Jawahir al-Qur’an dan Al-Arba‘in fi Ushul al-Din
Kesimpulan: Keindahan yang Menuntut Kewaspadaan
Al-Jawāhir al-Ḥisān merupakan permata tafsir Maghribi yang memadukan tradisi klasik dan nuansa sufistik.(Al-Dhahabī, 2000: 190) Bahasanya jernih, sistematikanya tertata, dan penafsirannya mudah diikuti. Warisan tafsir klasik berpadu dengan perhatian pada dimensi spiritual ayat. Namun, tidak semua riwayat di dalamnya memiliki kekuatan yang sama. Karena itu, tafsir ini tetap membutuhkan pembacaan yang kritis.
Membaca Al-Jawāhir al-Ḥisān tidak cukup dengan menikmati keindahan tafsirnya. Riwayat yang digunakan perlu diseleksi dan ditelusuri sumbernya. Sikap kritis membantu pembaca memahami kekayaan tafsir tanpa menerimanya mentah-mentah. (Ibn Taymiyyah, 1980: 45)Keindahan penafsiran dan kelemahan riwayat menjadi dua sisi yang perlu diperhatikan. Wallāhu aʿlam bi al-ṣawāb.



![Mengurai Problem Makrifat dalam QS. al-Nūr [24]: 35 : Sebuah Pembacaan Tasawuf Misykat Al-Anwar](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2021/05/Misykat-Al-Anwar-218x150.jpg)








