Krisis Ekologi sebagai Krisis terhadap Ayat-Ayat Kauniyyah

0
28
Krisis Ekologi sebagai Krisis terhadap Ayat-Ayat Kauniyyah
Krisis Ekologi sebagai Krisis terhadap Ayat-Ayat Kauniyyah

Kalau kita mau memperhatikan fenomena alam yang terjadi seperti banjir bandang, kebakaran hutan, pencemaran sungai, atau peningkatan suhu bumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Krisis ekologi ini sering dijelaskan melalui fenomena ilmiah seperti perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, lemahnya penegakan hukum atau buruknya tata kelola lingkungan.

Semua penjelasan tersebut benar adanya. Tetapi bagi seorang Muslim, permasalahan lingkungan tidak semata-mata karena aspek teknis, ekonomi, ataupun politik. Ada pertanyaan dasar yang  sering kali jarang disampaikan, yaitu “Mengapa kerusakan lingkungan terjadi di tengah masyarakat mayoritas Muslim yang setiap hari membaca Al-Qur’an?”

Pertanyaan ini bukan semata-mata untuk menyederhanakan permasalahan lingkungan menjadi permasalahan agama. Namun, pertanyaan tersebut mengajak kita untuk melihat bahwa krisis lingkungan yang terjadi juga memiliki dimensi teologi. Kerusakan yang kita saksikan hari ini mungkin merupakan gejala dari gagalnya kita dalam memahami Al-Qur’an terutama tentang bagaimana Al-Qur’an memandang alam semesta ini.

Umat Islam sangat akrab dengan ayat-ayat yang tertulis dalam mushaf Al-Qur’an. Kita membaca, menghafal, bahkan memperlombakan bacaan Al-Qur’an. Tetapi, di lain hal kita juga sering melupakan ayat-ayat Allah yang terlihat nyata di hadapan kita seperti gunung, sungai, tumbuhan, hujan, angin, hewan dan seluruh sistem kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Padahal Al-Qur’an sendiri menyebut seluruh apa yang kita saksikan di alam ini sebagai ayat yaitu ayat (tanda) yang mengantarkan manusia untuk mengenal maha Pencipta. Ayat tadi sering disebut dengan ayat-ayat kauniyyah.

Inilah letak permasalahannya di mana krisis ekologi bukan hanya krisis tentang lingkungan, tetapi juga krisis dalam memahami ayat-ayat kauniyyah. Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Mujiburrahman, seorang guru besar bidang sosiologi agama di UIN Antasari: “Kalau kita takut menginjak-injak ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tanda kita menghormati dan mengsakralkan ayat-ayat itu (ayat qauliyyah). Seharusnya kita juga takut untuk merusak alam, karena itu juga bagian dari ayat-ayat Allah swt. di muka bumi ini (ayat-ayat kauniyyah).”

Baca juga: Keunikan Ayat–Ayat ‘Kauniyah’ dalam Alquran

Alam sebagai Ayat yang terhampar di Muka Bumi

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, di dalam kajian ulumul qur’an dikenal dua jenis ayat. Pertama, ayat qauliyyah yaitu wahyu yang tertulis dalam mushaf Al-Qur’an. Kedua, ayat kauniyyah yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah, tetapi hadir dalam medium yang berbeda. Ayat yang pertama dibaca melalui tilawah dan ayat yang kedua dibaca melalui pengamatan, perenungan dan penelitian.

Ini menunjukkan bahwa membaca alam juga bagian dari beragama. Alam bukan hanya sekadar objek kajian ilmu pengetahuan atau untuk mendapatkan sumber daya ekonomi, tetapi juga media yang menghadirkan pengetahuan tentang Tuhan. Ketika manusia gagal memahami alam sebagai ayat-ayat Tuhan, dia tidak hanya kehilangan kepekaan terhadap alam, tetapi juga kehilangan salah satu jalan untuk mengenal Allah.

Seyyed Hossein Nasr menyebutkan bahwa krisis lingkungan adalah akibat dari krisis spiritual dan hilangnya dimensi kesakralan manusia dalam memandang alam. Menurutnya, hubungan spiritual manusia bisa terputus dengan Tuhan karena menjadikan alam sebagai objek eksploitasi yang bisa merusak lingkungan.

Baca juga: Enam Ayat Kauniyah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 164 dan Hikmahnya

Rabb al-‘Alamin dan Etika Pemeliharaan

Surah pertama dalam Al-Qur’an dimulai dengan pengakuan yang sangat mendasar. Allah swt. berfirman:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-Fatihah/1: 2)

Ayat ini sering kali dipahami sebagai pujian kepada Allah dalam konteks ibadah. Padahal ayat ini mengandung dasar penting bagi etika lingkungan jika ditelaah lebih dalam.

Menurut Ibn Faris dalam Maqâyis al-Lughâh (Ibn Fāris, Maqāyīs al-Lugah, Beirut: Dār al-Fikr, 1979, jil. 2, hlm. 380), kata rabb tidak hanya bermakna Tuhan, tetapi juga bermakna memelihara, mengatur, membimbing dan menyempurnakan sesuatu secara bertahap. Adapun kata al-‘âlamîn mencakup segala sesuatu selain Allah swt. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Allah dengan alam bukan hubungan yang sifatnya eksploitasi, melainkan hubungan pemeliharaan.

Konsep ini memiliki dampak etis yang besar. Jika Allah memelihara seluruh alam, maka manusia sebagai hamba tidak pantas untuk membangun hubungan yang bertolak belakang dengan sifat tersebut. Sebagai khalifah di muka bumi bukan berarti bebas untuk mengeksploitasi tanpa batas, tetapi menjalankan Amanah untuk memelihara alam sebagaimana Allah memelihara ciptaan-Nya. Dengan demikian, ketauhidan itu tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah satu-satunya Tuhan, melainkan juga melahirkan tanggung jawab untuk memelihara bumi yang berada dalam pemeliharaan-Nya.

Baca juga: Membaca Sistem Pangan Al-Qur’an sebagai Struktur Kosmik dan Ayat Kawniyyāt

Alam yang Bertasbih

Allah swt. Berfirman :

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya: “Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hadid/57: 1)

Alam dalam ayat ini bukan kumpulan benda mati yang bebas diperlakukan sekehendak hati, tetapi komunitas makhluk hidup dalam penghambaannya kepada Allah. Sebagian mufassir memahami tasbih seluruh makhluk sebagai pujian yang hakiki, meskipun manusia tidak mampu mendengarnya. Sebagian mufassir yang lain seperti Fakhruddin Ar-Razi dalam At-Tafsîr al-Kabîr, juz 29 menafsirkan sebagai bentuk tunduknya seluruh makhluk terhadap hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta. Matahari beredar sesuai orbitnya, air mengalir sesuai alurnya, tumbuhan berkembang mengikuti siklus kehidupan dan seluruh ekosistem bekerja dalam keteraturan yang sudah ditetapkan Allah swt.

Kesadaran akan adanya dimensi spiritual terhadap alam melahirkan etika yang berbeda. Ketika hutan dibabat tanpa kendali, sungai dicemari dengan limbah, atau hewan dimusnahkan demi kepentingan ekonomi semata, kerusakan yang terjadi bukan hanya lingkungan tetapi juga harmoni kosmik yang sedang bertasbih kepada Allah.

Membaca Alam adalah Aktivitas Intelektual

Al-Qur’an tidak memposisikan agama dan ilmu pengetahuan secara berlawanan, justru mempertemukannya. Dalam Q.S. Al-An’am ayat 99 dan Q.S Abasa ayat 25-32, Allah menjelaskan tentang turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, munculnya biji-bijian, buah-buahan, rerumputan hingga manfaatnya bagi manusia dan hewan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan berlangsung melalui sistem yang saling bergantung. Air melahirkan tumbuhan, tumbuhan menjadi sumber pangan, dan seluruh makhluk hidup memperoleh kehidupan darinya.

Dalam Q.S Al-Baqarah ayat 164 Allah swt. Juga berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti”.

Ayat ini menunjukkan bahwa membaca alam bukan sekadar aktivitas spiritual, tetapi juga aktivitas intelektual. Pada ayat ini diawali dengan menyebut penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, hujan, angin, kapal yang berlayar serta keberagaman makhluk hidup dan diakhiri dengan “…terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti”.

Penelitian ilmiah tentang lingkungan dan fenomena alam bukan sesuatu yang terpisah dari iman. Semua itu justru merupakan bagian dari upaya untuk membaca ayat-ayat Allah yang terhampar di alam semesta. Maka dari itu, ilmu lingkungan tidak sepantasnya dilihat hanya sebagai disiplin ilmu yang sekuler, melainkan sebagai salah satu jalan untuk memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.

Pada titik inilah kita memahami bahwa permasalahan lingkungan bukan semata-mata berakar pada lemahnya regulasi atau kurangnya teknologi. Tetapi persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana cara manusia memaknai alam. Jika alam dipandang sebagai ayat Allah, menebang pohon tanpa alasan yang dibenarkan tidak lagi dipandang sebagai tindakan ekonomi semata, tetapi bentuk pengabaian terhadap tanda kebesaran Allah. Menjaga sungai bukan lagi sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi bagian dari penghambaan kepada Allah.

Krisis ekologis pada hakikatnya merupakan krisis penafsiran, yaitu kegagalan kita dalam membaca alam sebagai bagian dari wahyu Allah. Kita membaca al-Qur’an dengan khusyu’, tetapi lalai dalam membaca alam semesta yang setiap hari memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Baca juga: Saleh Ritual, Saleh Ekologis: Relasi Erat Ri‘āyah al-Bī’ah dengan Maqāṣid al-Syarī‘ah

Penutup

Permasalahan kita hari ini bukan hanya bumi yang kehilangan hutannya atau sungai yang tercemar. Persoalan terbesar kita sebagai Muslim adalah hilangnya cara pandang yang menempatkan alam sebagai bagian dari tanda-tanda Allah. Membaca mushaf al-Qur’an tanpa membaca alam akan melahirkan sifat beragama yang miskin terhadap tanggung jawab ekologis. Demikian pula, membaca alam tanpa bimbingan wahyu akan membuat manusia kehilangan orientasi transendennya.

Dalam perspektif al-Qur’an, merawat bumi adalah bagian dari ketauhidan yang diwujudkan melalui tindakan. Ketika manusia kembali membaca alam sebagai ayat-ayat kauniyyah, kepedulian terhadap alam tidak lagi lahir karena kekhawatiran akan munculnya bencana, tetapi karena kesadaran bahwa setiap jengkal bumi adalah tanda kehadiran Allah yang seyogyanya dihormati dan dipelihara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini