Seorang anak menuntut kedua orang tuanya di meja pengadilan. Alasannya, ia tidak pernah meminta dilahirkan oleh keluarga miskin, mengapa mereka berani-beraninya untuk melahirkannya? Kasus ini pernah terjadi di RRC. Belum terjadi di Indonesia. Pertanyaan yang menarik dari pemahaman eksistensial anak tersebut adalah sejak kapan manusia lain selain dirinya diberikan kesempatan memilih untuk dilahirkan oleh siapa dan di mana?
Tetapi, apakah kita sempat memikirkan pertanyaan eksistensial di zaman digital ini? Di zaman ketika segalanya serba cepat datang dan berlalu silih berganti, apa yang kita lihat tak sempat kita resapi maknanya. Mungkin kita tidak lagi memikirkan tentang kesadaran eksistensial, karena yang sedang sibuk dalam otak adalah pilihan-pilihan algoritma yang menyenangkan. Dunia digital menjadi arena tempat kita memilih, sebebasnya, sepuasnya.
Dunia yang Tidak Pernah Kita Pilih
Al-Qur’an mengingatkan bahwa asumsi kita tentang kebebasan memilih sesungguhnya bertentangan dengan hakikat keberadaan manusia. Allah berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ٦٨
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (QS. al-Qaṣaṣ [28]: 68).
Hidup adalah pilihan, seringkali kita dengar demikian. Namun, menurut Al-Qushayrī, dalam Laṭā’if al-Ishārāt, memilih (al-ikhtiyār) merupakan sifat keperkasaan (‘izzah) Allah. Alasannya karena manusia tidak memiliki sedikit pun andil dalam urusan penciptaan. Karena itu, ia mengajukan pertanyaan yang menggugah, “Apa urusan manusia dengan pilihan?” Maksudnya bukan meniadakan ikhtiar manusia, melainkan menempatkan ikhtiar pada proporsinya. Manusia memang bebas memilih, tetapi kebebasan itu selalu berlangsung di dalam ruang keberadaan yang lebih dahulu dipilihkan oleh Allah.
Refleksi al-Qushayrī di atas memiliki resonansi dengan filsafat fenomenologi eksistensial Martin Heidegger. Dalam Being and Time, Heidegger menggambarkan manusia sebagai makhluk yang geworfen (thrown) ke dalam dunia. Ia menulis,
“The expression ‘thrownness’ is meant to suggest the facticity of its being delivered over.”
Baca juga: AI dan Tantangan atas Eksistensi Manusia sebagai Khalifah
Keterlemparan menunjukkan fakta bahwa manusia mendapati dirinya telah berada dalam suatu keberadaan yang tidak pernah dipilihnya. Heidegger juga memperingatkan bahwa keterlemparan ini sering kali membuat manusia tenggelam dalam rutinitas dunia keseharian, sehingga ia menjadi buta terhadap kemungkinan-kemungkinan eksistensialnya:
“This levelling off of Dasein’s possibilities to what is proximally at its everyday disposal… results in a dimming down of the possible as such. The average everydayness of concern becomes blind to its possibilities, and tranquillizes itself with that which is merely ‘actual’.”
Namun, jika Heidegger berhenti pada deskripsi ontologis mengenai kondisi manusia, al-Qushayrī melangkah lebih jauh. Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan bahwa manusia berada di dunia tanpa memilihnya, tetapi juga mengungkapkan mengapa keadaan itu terjadi: karena keberadaan manusia merupakan bagian dari kehendak dan pilihan Allah. Di titik ini dapat kita lihat, fakta eksistensial dengan pemaknaan teologis.
Ketika Kemajuan Teknologi Melahirkan Ilusi
Di era digital ini, fenomena ‘tenggelam dalam rutinitas’ semakin kentara seiring manusia berhasil mengembangkan peradaban teknologi. Revolusi industri dan ilmu pengetahuan memungkinkan manusia memahami seluk beluk semesta dan cara ekstraksi yang masif, mengeruk sumber di kedalaman daratan dan lautan. Akal Imitasi dapat mendiagnosis penyakit, menawarkan resepnya; dan informasi. Ketika semakin banyak persoalan bisa dipecahkan, semakin kuat pula keyakinan bahwa semua hal berada dalam kendali manusia.
Kemajuan seperti ini tentu merupakan karunia yang patut disyukuri. Akan tetapi, Al-Qur’an mengingatkan bahwa di balik setiap kemajuan tersembunyi godaan yang sangat halus: ilusi bahwa manusia telah cukup dengan dirinya sendiri.
Allah berfirman,
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓۙ ٦ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ ٧
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena ia melihat dirinya serba cukup.” (QS. al-‘Alaq [96]: 6–7).
Baca juga: Tadabbur Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28: Menepis Kecemasan Modern ala Said Nursi
Al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa istaghnā bukan sekadar berarti memiliki kekayaan atau kekuasaan. Yang dikritik Al-Qur’an adalah cara pandang manusia yang menganggap seluruh keberhasilannya lahir sepenuhnya dari usahanya sendiri. Ia lupa bahwa kemampuan berpikir, kesehatan, kesempatan, bahkan hukum-hukum alam yang memungkinkan seluruh pencapaiannya merupakan anugerah Allah. Karena itu al-Rāzī katakan, “orang berakal mengetahui bahwa ketika kaya, ia lebih membutuhkan Allah daripada ketika miskin, karena saat miskin ia hanya menginginkan keselamatan dirinya, sedangkan saat kaya ia menginginkan keselamatan dirinya dan hartanya.”
Fenomena yang dibaca al-Rāzī berabad-abad lalu menemukan bentuk baru dalam masyarakat modern. Kita hidup dalam budaya yang hampir selalu mengukur manusia berdasarkan produktivitas, efisiensi, inovasi, dan pencapaian. Pertanyaan yang terus diulang bukan lagi, “Siapakah dirimu?” melainkan, “Apa yang dapat kamu hasilkan?” Akibatnya, akses tak terbatas akan apa yang kita senangi berubah menjadi sumber ilusi, kita kehilangan ‘kebutuhan terhadap Tuhan’.
Brain rot, penyakit kesadaran kronis, menenggelamkan kita pada rutinitas semu. Pencapaian, kesenangan, dan kemenangan fana, Immortal Glory yang justru mati tak berfungsi di hadapan kenyataan hakikat. Apa yang dapat dicapai oleh manusia yang kehilangan makna dirinya dan kesadaran akan Tuhannya?


![Hermeneutika Kecurigaan Terhadap Kekuasaan dalam QS. Al-Mujadalah [58]: 11](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/08/images-49-218x150.jpeg)










