“Apabila kelak datang suatu masa di mana ilmu (agama) telah menghilang maka masa itu adalah sekarang.” Kurang lebih demikian dhawuh Kiai Maimoen Zubair dalam salah satu tulisannya berjudul Syikayah al-Qur’an ila Rabbih dalam bukunya Al-‘Ulama’ al-Mujaddidun wa Majal Tajdidihim wa Ijtihadihim.
Al-‘Ulama’ al-Mujaddidun adalah buku Kiai Maimoen yang membicarakan tentang tajdid (pembaruan) dan segala hal yang berkaitan dengannya. Turut diulas Kiai Maimoen dalam bukunya tersebut sejarah pembaruan dalam Islam, beberapa contoh aplikasi pembaruan, dan tantangan serta peringatan bagi mereka yang mengaku sebagai pembaru.
Syikayah al-Qur’an sendiri berada di antara ulasan-ulasan ini. Mengutip beberapa ayat Alquran dan hadis secara langsung maupun iqtibas, Kiai Maimoen hendak memberikan kritik sekaligus peringatan kepada umat Islam atas rendahnya tingkat pemahaman dan pendalaman kitab suci mereka sendiri, Alquran. Menurut beliau, sekarang ini (fi zamanina al-hadlir) adalah saat ketika Alquran dikisahkan telah mengadu (syikayah) kepada Tuhannya dan berharap dikembalikan ke asalnya.
Menjadi relevan untuk membicarakan aduan Alquran dalam konteks pembahasan tajdid karena tajdid berisi upaya penyelarasan ajaran agama yang dikandung dalam Alquran (dan hadis Nabi saw.) terhadap fenomena zaman yang terus menerus mengalami perubahan. Alquran sendiri, sebagaimana disebut Kiai Maimoen, merupakan mukjizat yang kekal dan selalu selaras dengan perkembangan zaman. Ironisnya, kedahsyatan Alquran ini tidak diimbangi dengan pembacaan kritis oleh umat pemiliknya.
Di antara hadis yang di-iqtibas oleh Kiai Maimoen dalam melakukan kritik internal ini adalah,
وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ
“dan mereka membaca Alquran namun tidak sampai ke tenggorokan”
Hadis yang diriwayatkan oleh Malik (179 H.) (10), Ahmad (241 H.) (7060), dan Al-Bukhari (256 H.) (3344 dan 5058) ini mulanya ditujukan untuk menjelaskan ciri-ciri kelompok yang ‘dikutuk’ oleh Nabi saw. karena menyebut Nabi saw. sebagai seorang yang tidak adil (i‘dil ya rasullallah!) dan tidak bertakwa (ittaqillah ya Muhammad!). Ibn Hajar (852 H.) sendiri dalam Fath al-Bariy menjelaskan bahwa salah satu kemungkinan maksud dari kalimat ini adalah kurang atau bahkan tidak mengakarnya keimanan seseorang di dalam hatinya.
Baca juga: Hafalan Alquran dan Kesalehan Penghafalnya
Akan tetapi, terlepas dari sabab wurud atau maksud dari hadis ini, dapat dilihat betapa kritik berbalut sindiran Kiai Maimoen ini cukup menohok. Pasalnya, secara tidak langsung, beliau telah menyamakan umat Alquran yang tidak memahami isi dan kandungannya dengan kelompok yang dalam riwayat Ahmad disebut khawarij, kelompok penumpah darah yang lebih tepat disebut musuh umat Islam.
Hadis lain yang dinukil oleh Kiai Maimoen dan barangkali menjadi inspirasi judul tulisan beliau adalah
لا تقوم الساعة حتى يرجع القرآن من حيث جاء له دوي حول العرش كدوي النحل فيقول الله عز وجل: ما لك؟ فيقول منك خرجت وإليك أعود أتلى ولا يعمل بي
Tidak akan terjadi hari kiamat sampai Alquran kembali ke tempat asalnya. Ia (Alquran) mengeluarkan suara dengungan—seperti dengungan lebah— di sekeliling ‘Arsy, lalu Allah—Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung—bertanya: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Aku berasal dari-Mu dan aku kembali kepada-Mu; aku dibaca tapi tidak diamalkan.”
Al-Alusiy (1270 H.) dalam tafsirnya, Ruh al-Ma‘aniy, menempatkan hadis ini dalam penjelasannya terhadap QS. Al-Isra’ [17] ayat 86. Hal yang sama yang juga dilakukan oleh Al-Suyuthiy (911 H.) dalam tafsirnya, Al-Durr al-Mantsur.
وَلَئِنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا
“Sungguh, jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan (apa) yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) dan engkau tidak akan mendapatkan untuk dirimu seorang pembela pun terhadap Kami.” (17: 86)
Terkait ayat ini, Wahbah al-Zuhailiy menjelaskan bahwa jika Allah menghendaki niscaya Alquran (wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw.) akan diangkat dari hati umat Islam. Dan tidak akan ada yang tertinggal darinya satu huruf pun dalam lembaran-lembaran mushaf.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Tafsir Juz ‘Amma Karya KH. Masruhan Ihsan
Sama menohoknya dengan hadis di atas adalah bagaimana Kiai Maimoen meng-iqtibas QS. Al-Baqarah [2] ayat 78 tatkala menyifati mereka yang hanya menghafal Alquran tanpa memahami isi dan kandungan di dalamnya,
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لا يَعْلَمُونَ الْكِتابَ إِلاَّ أَمانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ
“Di antara mereka ada yang umi (buta huruf), tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.”
Padahal, merujuk tafsir yang diberikan Wahbah al-Zuhailiy, rangkaian ayat 75-78 dari QS. Al-Baqarah ini sejatinya tengah membicarakan kelompok Yahudi dan perilakunya yang dianggap jauh dari keimanan.
Oleh karenanya, jika umat Islam benar-benar percaya (iman) akan kebenaran Nabi saw. yang dalam sabdanya menyebutkan barang siapa yang berpegang (al-tamassuk) pada Alquran niscaya tidak akan tersesat, sudah seharusnya mereka bersungguh-sungguh dalam upaya memahami isi dan kandungan Alquran. Bagaimana mungkin seseorang bisa berpegang jika ia tidak mengetahui dan memahami apa yang ia jadikan pegangan? Wallahu a‘lam bi al-shawab. []












